Menjadi Ibu Untuk Anakmu

Menjadi Ibu Untuk Anakmu
Bab 132. Potret nyata sebuah kehidupan


__ADS_3

Bab 132. Potret nyata sebuah kehidupan


.


.


.


...🌺🌺🌺...


Yanti


Ia tak tahan dan langsung melesat masuk meninggalkan kesemua yang ada di halaman kontrakannya, walau kejadian itu masih belum berakhir.


Yanti malu.


Ia tadi pagi sebenarnya sudah menjelaskan, dan telah meminta tempo satu Minggu pada Emi. Itulah sebabnya mengapa ia datang terlambat ke ruang sakit. Namun tabiat manusia yang jahat, rupanya membuat wanita itu berniat dan sengaja ingin mempermalukan dirinya dan Lintang.


Emi pikir, semua orang itu adalah orang yang hendak menagih hutang kepadanya. Menjadikannya aji mumpung. Emi telah salah besar.


Selama ini, ia tak mau memberitahu Lintang maupun Denok jika ia menunggak membayar kontrakan sebab ia masih sanggup menelan kegetiran itu seorang diri. Lagipula, ia tak ingin membuat Lintang tambah berpikiran yang macam-macam.


" Buk!" Lintang rupanya memilih menyusul dirinya kedalam. Wanita itu terlihat turut menangis sambil menggendong Danuja.


Keduanya saling memeluk. Merasa prihatin atas hidup mereka.


" Sudah! Ibu enggak apa-apa!" Yanti mengusap wajahnya menggunakan ujung bajunya. Bersikap tegar seperti yang selama ia ia lakoni.


Rupanya Andhira, Abimanyu, Rania dan Bastian turut memasuki rumah sempit itu, tak lama setelah Lintang masuk. Sejurus kemudian, ia melihat Raka dan Jodhi yang turut mendudukkan kepalanya saat memasuki gawang pintu rumahnya.


Kini, ia menarik napasnya dalam-dalam demi menguasai diri, kala rombongan keluarga Jodhi masuk ke rumahnya yang sempit.


" Selamat datang di gubuk kami Pak, Bu! Yam.. beginilah keadaan kami! Bukanlah siapa-siapa. " Yanti berucap dengan semangat muka tebal. Sama sekali tak mempedulikan kesungkanan , biar sudah orang-orang itu tahu jika dirinya seperti itu. Miskin dan memalukan.


Rumah tanpa kursi mewah yang keadaannya masih sama seperti saat Lintang pertama kali menginjakkan kakinya di tempat itu. Di dinding dari Calsiboard itu, terdapat foto sederhana Danuja sewaktu baru lahir.


Rumah yang sangat panas sebab atapnya terbuat dari esbes. Sebuah karpet merah yang warnanya telah memudar, kini menjadi satu-satunya alas yang bisa digunakan.


Membuat hati keluarga besar itu seketika nyeri. Apalagi Jodhi, ia benar-benar tak kuasa melihat ini semua.


Rania kini beringsut mendekat ke arah Yanti dengan setangkup rasa iba yang teramat sangat. Ibu dari Jodhi itu terlihat meraih tangan hitam yang legam karena tersengat terik matahari itu, penuh kasih.


" Tolong jangan malu Bu!" Rania mengusap punggung tangan kuyu milik Yanti. Membuat Yanti tertunduk layu.


Ia menangis.


" Saya tahu, walau seribu maaf saya haturkan, tidak akan pernah menggantikan apa yang terjadi selama ini. Tapi... perkenankan kami untuk menebus semua kesalahan dengan segenap ketulusan kami!"


Di sela Isak tangis para orang tua wanita itu, Jodhi menatap muram Lintang yang saat ini menunduk seraya mengusap sisa air matanya dengan dada bergetar.


Hati Jodhi begitu sakit dan pedih kala melihat kondisi rumah yang selama ini di huni oleh dua manusia berharga dalam hidupnya itu. " Tolong maafkan aku Tuhan!"


" Lintang, Bu Yanti!" Suara Bastian kini terdengar menggema di ruangan itu.


" Atas nama keluarga, juga atas nama seorang Papa, serta Kakek dari Danuja, izinkan saya mengutarakan maksud dan niat serta tujuan kami semua datang kemari!" Bastian terlihat mengambil alih situasi. Membuat Jodhi menggigit bibirnya penuh harap.


" Kedatangan kami kemari ialah, karena ingin melakukan itikad baik saya kepada Lintang Bu dan Danuja Bu!"

__ADS_1


Lintang yang di sebut namanya kini menunduk. Entah mengapa, keringat dingin mendadak membasahi telapak tangannya. Jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya.


Lintang grogi.


" Saya ingin anak-anak menikah. Dan membuat Danuja mendapatkan apa yang selama ini harusnya dia dapatkan!"


DEG


Jantung Lintang berdegup kencang. Membuatnya reflek menatap Jodhi yang tak ia sangka sudah menatapnya lebih dulu. Dalam situasi mengharukan itu, untuk pertama kalinya Lintang menangkap kilatan kesedihan dalam mata Jodhi. Lintang melihat sorot mata penuh harap dari pria itu.


" Dan hal itu adalah status orang tua yang jelas" Ucap Bastian kemudian. Rania hanya mengangguk sembari terus menyusut air matanya yang banjir. Tiada mau berhenti.


Bu Yanti mengangguk seraya menangis haru. Pun dengan Andhira yang kini di usap punggungnya oleh Abimanyu.


" Benar!", Abimanyu turut menambahi. Menatap Lintang seraya tersenyum.


" Kau tidak perlu khawatir nak, kami semua yang akan menghajar Jodhi jika dia tidak memperlakukan kamu dengan baik!"


Lintang menatap Abimanyu yang begitu berwibawa itu.


" Semua orang pernah berbuat salah, tapi bukankah kesempatan memperbaiki diri juga merupakan hal yang bisa semua orang dapatkan?"


" Menikahlah dengan Jodhi. Cinta akan perlahan tumbuh jika kalian di takdirkan bersama. Benar apa yang dikatakan papa Bastian, semua ini demi Danuja!"


Lintang tergugu. Mendadak pikirannya buntu. Ia menatap Danuja yang terus tertawa tanpa beban itu. Terlihat riang kala di kelilingi oleh orang- orang itu.


Bayi malang itu bahkan lebih cepat mengenali keluarga Jodhi dari pada Lintang sendiri.


Akankah ini benar?


Apakah dia sudah memaafkan Jodhi?


" Jujur Pak, Bu, Saya sangat senang dan lega, apa yang saya takutkan soal ayah dari Danuja rupanya salah," Yanti menangis.


" Kadang saya ngelamun dan nangis sendirian saat memikirkan anak ini" Menunjuk kepada Danuja, " Kok kebangetan banget ini anak punya nasib. Tapi sekarang, saya bisa melihat bahwa doa-doa saya terjawab!" Yanti menatap wajah-wajah bersih itu satu persatu dengan matanya yang basah.


Kini, ia menatap seraya mengusap Lintang yang duduk bersila di sampingnya.


" Ibuk harap kamu menerima lamaran keluarga nak Jodhi. Pikirkan Danuja!" Bu Yanti terus mengusap punggung Lintang yang nampak tercenung.


"Demi Tuhan, jika nak Jodhi tidak menepati janjinya, maka biarkan dia menanggung tulah seumur hidupnya!" Ucap Yanti yang sangat berharap Lintang mau menerima.


.


.


Sementara itu di tempat lain.


" CK, pelan-pelan dong!" Denok mendengus kesal saat merasakan rivanol yang sedikit perih kala mencumbu kulitnya yang koyak akibat cakaran itu.


Ya, Jonathan akhirnya menggelandang Denok pergi demi situasi yang lebih kondusif, dan tidak taunya malah ia yang terseret ke dalam kontrakannya Denok. Benar-benar!


" Ini udah pelan, kalau minta pelan lagi mending enggak usah di obati!" Jonathan terlihat menyerah. Pria itu sederi tadi serba salah.


" Ya udah enggak usah, udah biasa ngapa-ngapain sendiri kok, sini!" Denok dengan cepat menyambar kapas yang basah akibat cairan kuning itu dengan kekesalan yang kentara.


Membuat Jonathan menghela napas.

__ADS_1


Mereka berdua membisu selama beberapa detik. Jonathan masih menatap lekat Denok yang bolak balik meringis saat ia menotolkan cairan antiseptik itu ke lengannya yang lecet.


" Kamu ini makanya jangan suka seperti itu, main serang orang, bahaya!" Ucap Jonathan yang tak tahan dengan kebisuan yang menyiksa.


"Di pinggiran kota, ancaman mati karena perut kosong itu lebih mengerikan, ketimbang mati karena gelut dengan orang!" Jawab Denok yang sebenarnya yang masih sebal dengan Jonathan.


Membuat pria itu kini speechless.


" Aku ini enggak seperti elu ataupun bapaknya si Danuja yang terbaisa hidup enak. Udah sultan dari orok!"


Membuat Jonathan lagi-lagi terdiam.


" Hidup ini keras! Ibarat kata, kalau enggak ikutan edan enggak kebagian! Orang-orang kayak si Emi itu, kalau enggak di hajar, makin kurang ajar nanti mulutnya! Ngomongin dosa, enggak ada manusia manapun yang tahir dari dosa, caranya aja yang beda-beda! Ada yang di umbar ada yang main umpet- umpetan!" Denok tersenyum sumbang. Masih menuangkan cairan yang baru.


" Bagi orang kayak gua, lebih baik mati karena berkelahi dari pada diam di injak-injak mulut bangsat orang lain!"


Jonathan terdiam lagi. Menatap Denok yang kesulitan saat mengobati tangan kirinya yang agak parah akibat sobekan kuku Emi.


" Sini!" Jonathan yang kesal tapi masih tak tega itu kini menyambar kembali kapas dingin itu. Membuat Denok akhirnya menurut.


" Gua juga heran, kenapa si Yanti enggak ada bilang kalau punya utang begitu. Selama ini kau di anggap apa? Tunggak?"


Denok kesal, wanita itu menatap lesu ke arah gorden rayon rumahnya, seraya pasrah saat Jonathan kini menotolkan cairan dingin itu, ke area wajahnya.


Jonathan hanya bisa diam. Ia tahu, saat seorang dikuasai oleh emosi, orang tersebut pasti membutuhkan pelampiasan. Salah satunya dengan nyerocos.


" Awas aja si Emi! Enggak sudi gua tinggal disini lagi!"


Membuat Jonathan mendongak.


" Terus elu mau tinggal dimana?"


" Dimana aja, selama tempe gua masih laku gua bisa nyewa tempat tinggal dimanapun!"


Entah mengapa, Jonathan merasa nyeri kala mendengar hal itu. Ia tahu Denok ini wanita baik,hanya saja sepertinya wanita itu sudah terlalu mengecap kejamnya kehidupan sejak lama. Membuat sifatnya kasar.


" Maaf, tapi...mau sampai kapan kamu kerja kayak gini Nok. Mak- maksud aku ...."


Denok menatap lekat Jonathan yang kini duduk di kursi plastik di hadapannya. Pria itu terlihat berwajah tak enak hati.


" Hidupmu mungkin terlalu enak dan beruntung Jo. Jadi kau tidak akan pernah bisa tahu, alasan seseorang yang bersembunyi di balik sebuah keterpaksaan!"


Denok tersenyum kecut ke arah Jonathan yang kini menelan ludahnya. Untuk pertama kalinya, Jonathan bisa melihat pancaran kesedihan di mata Denok.


Denok seketika berdiri dan entah mengapa, dari ratusan pertanyaan yang sempat terlayangkan untuknya, pertanyaan Jonathan terasa berbeda.


" Pergilah, terimakasih sudah membantuku!"


Denok melesat pergi dan masuk menuju kamarnya. Menyisakan Jonathan yang terbengong-bengong menatap nanar pintu kamar Denok dengan sesal menelusup.


BRAK!


" Apa aku salah bicara?"


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2