Menjadi Ibu Untuk Anakmu

Menjadi Ibu Untuk Anakmu
Bab 153. Dibatas logika


__ADS_3

Bab 153. Dibatas logika


.


.


.


...🌺🌺🌺...


" Pada diri kita bertanya. Cinta yang bagaimana yang bisa mengundang kita menuju nikmat yang sesungguhnya? Jawabnya ialah, cinta bersahaja yang berbalut kamasutra."


.


.


Lintang


Ia yang hendak mengganti bajunya saat Jodhi tengah sibuk membersihkan diri di mandi, kaget manakala kado pemberian dari Denok terjatuh.


Sebuah kotak persegi panjang, yang ia sendiri lupa jika menaruh barang itu di dalam sana, sebab kemarin terburu-buru.


" Aku yakin elu sekarang enggak butuh duit, soalnya bojomu pasti duitnya lebih banyak dari pada gembel macem aku. Tapi aku yakin, beberapa hari kedepan, elu pasti membutuhkan baju dinas kayak gini!"


Isi pesan menggelitik itu, tak pelak membuat Lintang penasaran, dan seketika membuka kado persegi itu dengan sedikit terkejut.


Tak menduga jika Denok benar-benar sekonyol ini. Memberikan dia sebuah pakaian aneh, yang biasanya digunakan para wanita untuk menjerat dan memerangkap hasaraat, kaum pria.


Hah, benar-benar!


Ia merasa kasihan kepada Jodhi. Pria itu sudah banyak berubah. Bahkan bermetamorfosa menjadi pribadi baru yang menghargai perempuan.


Membuat Lintang memutuskan untuk memberikan hak Jodhi pagi itu. Dengan jalan mengenakan hadiah dari Denok yang sebenarnya membuatnya ragu untuk mengenakannya itu.


Ia sengaja menutup semua gorden agar lebih menajamkan suasana hangat.


Dan sejurus kemudian.


Ia terlihat menatap Jodhi yang nampak terkejut, kala ia terus meraba tubuh liat yang benar-benar membuatnya sedikit takut itu. Membuatnya menelan ludah, demi mengingat saat pertama Jodhi merenggut kesuciannya.


" Sayang?"


Aroma mint dari pasta gigi yang di gunakan Jodhi kini menyelinap masuk ke rongga hidungnya. Membuat Lintang seolah terhipnotis.


Jodhi masih tak percaya dengan apa yang ia lihat itu.


Lintang diam seraya terus meraba dada bidang, dengan keharuman maskulin sabun pria yang baru dikenakan oleh Jodhi.

__ADS_1


" Apa kamu serius?" Tanya Jodhi menatap Lintang sendu dengan suara parau. Mencoba mencari jawaban dari sorot mata istrinya itu.


Lintang mengangguk dengan wajah sensual. " Semoga belum terlambat!"


Membuat Jodhi tersenyum penuh arti. " It's never too late to make love!"


Jodhi seketika menarik pinggang Lintang dengan lembut, lalu menempelkan tubuh ramping istrinya itu ke arahnya.


Pria itu terlihat melumaat bibir istrinya dengan lembut dan terarah. Membuat gariaah yang selama ini terpendam, kini bangkit kembali dengan gejolak yang makin luar biasa.


Lintang merasa begitu di cintai kala Jodhi menciumnya dengan lebih kelembutan, di balik kejantanan yang ia tunjukkan Benar-benar berbeda saat pertama kali mereka melakukan hal itu, beberapa tahun silam.


Lengan kekar pria itu mengetat kala meremas bokong Lintang yang kini mulai mengimbangi ciumannya. Tubuh yang benar-benar menggugah keperkasaannya, dan membuat Jodhi tak tahan untuk memakan istirnya itu.


Jodhi merasa lega. Tiada mengira jika Lintang secepat ini dalam membuka hatinya. Kebahagiaan yang tercipta, kini bertambah menjadi sukacita yang tiada terkira, manakala mengetahui jika istrinya telah merobohkan sekat yang semula masih ada.


Pria itu terus meraba tubuh istrinya yang sangat ia cintai itu. Terus dan terus mengusap bagian favoritnya. Memantik api foreeplay, guna membakar gariaah istrinya.


" Eughhh!"


Lintang bahkan tak sadar jika dirinya mengeluarkan lenguhan yang memantik serata menyulut gelora Jodhi lebih dalam lagi.


" Eughhh!!"


Dengan terengah-engah, kedua manusia itu kini saling melepas pagutannya. Membuat mereka menunjukkan sorot mata yang kian menuntut lebih, dari apa yang mereka lakukan barusan.


Dalam suasana pagi yang penuh semangat itu, dua anak manusia tengah tersulut gaiirah yang menggelora. Membuncah dan menuntut untuk saling di lepaskan.


" Aku akan pelan sayang!" Bisik Jodhi yang membuat Lintang makin tak terkendali.


Atas nama pria yang begitu mencintai Lintang, pria itu terlihat memperlakukan istrinya begitu lembut.


Wanita itu terlihat menggelinjaang manakala Jodhi melahap kuncup dada yang nampak transparan dari balik pakaian menerawang itu.


Membuat kelelakian Jodhi seketika bangkit dari persemayamannya. Tangan Lintang yang tak sengaja menyentuh bagian penting suaminya itu, seketika mendelik demi menyadari ukuran yang terbilang wow.


" Ahhhh!"


Lintang mencengkeram erat punggung liat nan kekar itu, manakala merasakan sesuatu yang besar dan keras, kini berjejalan seraya memaksa masuk kedalam miliknya yang telah basah.


Mendesak dan membuat Lintang seketika bagai terbang ke angkasa.


Ia masih ingat betul saat pertama kali Jodhi memasuki dirinya. Dan saat ini, pria itu telah memasuki dirinya kembali untuk kali kedua namun dengan cara yang benar-benar berbeda.


Namun, lihatlah saat ini. Jodhi bahkan benar-benar membuat Lintang merasa begitu berharga saat ini. Lintang merasa begitu di cintai, begitu di kasihi, dan begitu di ayomi.


Handuk dan juga lingerie yang tadi mereka kenakan, kini nampak teronggok tiada berguna di lantai mengkilat hotel itu. Entah sejak kapan dua manusia yang terbakar gairaah itu menanggalkannya.

__ADS_1


Yang jelas, dua insan yang larut dalam asmara intim itu, benar-benar telah polos.


Tubuh Lintang berguncang, selaras dengan gerakan Jodhi yang nampak cepat kala menghujam. Membawa serta kenikmatan bercampur rasa cinta dan sayang, dan merasuk ke dalam kalbu jiwanya.


Tubuh tegap berotot itu, kini nampak mengayun perkasa, diatas tubuh ramping Lintang yang mulai basah karena peluh.


Jodhi terus mencium bibir istrinya, saat ia kini menggagahi tubuh menggiurkan Lintang, dengan perasaan teramat mencintai. Terus dan terus bergerak menghujam, membuat Lintang yang kini bermandikan gelora api asmara itu, tak dapat lagi berpikir rasional.


" Jo..aku..." Lintang mencengkeram seprei kala ia merasakan sesuatu dalam dirinya hendak keluar.


" Keluarkan sayangku!?" Bisik Jodhi dengan napas memburu, berusaha mengganti apa yang wanita itu dulu tidak dapatkan.


" Jo, aku...aargghhh!"


Jodhi mengehentikan hentakannya barang sejenak, demi merasakan tubuh istrinya yang menegang. Ia yakin, istrinya saat ini pasti telah berhasil menggapai puncak tertinggi dari rasa cinta yang teramat nikmat itu.


Lintang merasa tulang belulangnya kini tak berguna. Ia merasa lemas dalam waktu sepersekian detik, usai mengeluarkan sesuatu yang hangat dari dalam tubuh bagian bawahnya.


Jodhi kembali meraup kuncup dada yang masih mengeras itu. Membuat Lintang benar-benar tak bisa membedakan lagi, siang malamnya.


Melihat napas istrinya yang mulai normal, pria itu kembali mengayunkan tubuhnya. Menghujam liang sempit yang terasa makin lezat tiada tara dengan keperkasaan yang ia miliki.


Lama dan semakin panas. Jodhi melakukan semuanya dengan lihai dan profesional. Terlihat kawakan dan begitu ahli.


Ia bisa melihat wajah istrinya yang terus memejamkan matanya, manakala ia menatap sendu di sela-sela kegiatannya dalam menganyun itu. Terlihat begitu menikmati permainan yang mereka lakukan bersama.


Terus,dan terus hingga Jodhi merasakan sesuatu yang mendesak akan segera meledak dari miliknya.


" Ahh!"


Sejurus kemudian, Jodhi seketika melumaat bibir istrinya dengan sedikit serakah, manakala testosteron miliknya mengeluarkan sesuatu yang bakal menjadi asal muasal adik dari Danuja itu.


Keduanya nampak tersengal-sengal akibat aktivitas panasnya di jam sepagi itu. Yeah, mereka benar-benar melebur cinta bersama pagi itu.


" Aku mencintaimu Lin. Sangat mencintaimu!" Ucap Jodhi merekatkan pelukannya, saat bagian bawah mereka masih menyatu satu sama lain.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2