
Bab 97. Penggalan kisah pilu
.
.
.
...πΊπΊπΊ...
Ibu Lintang seketika merasa kepalanya nyut-nyutan. Tubuhnya lemas, dan dadanya sesak dalam waktu bersamaan.
Bagiamana ini?
Bagiamana mereka akan sanggup menghadapi cercaan orang-orang diluar sana setelah ini? Bagiamana mereka akan mampu menelan kenyataan pahit yang dirasakan kedua wanita itu?
Orang hamil diluar nikah saja sudah pasti banyak yang men-judge dengan predikat buruk. Dan hamil tanpa suami, sudah pasti akan membuat hidup mereka lekat dengan stigma tak benar dalam kurun waktu yang lama.
" Aku mau gugurin anak ini Buk! Aku mau gugurin!! Aku enggak mau ngandung anak dari laki-laki brengsek itu!" Ucap Lintang histeris seraya memukul - mukul perutnya yang masih rata.
" Jangan gila kamu!" Hardik Ibu dengan cepat. Membuat Lintang menangis tanpa suara sebab dadanya terlalu nyeri.
Ibu Lintang seketika mendongak dan berteriak. " Berhenti Lintang!" Wanita itu meneriaki Lintang yang hendak memukul perutnya kembali.
Ibu menatap wajah Lintang yang terisak dengan matanya yang basah. Sama sekali tak setuju dengan pemikiran gila yang sudah pasti tanpa dipikir panjang oleh anaknya itu.
" Kamu itu sudah berdosa, mau nambah dosa lagi kamu, hah?" Teriak ibu hingga suaranya serak.
Ibu marah. Bayi itu tidak berdosa, namun apa Ibu tahu perasaan seorang Lintang?
Lintang tak sanggup menjawab lagi, ia hanya terisak dengan dada yang perih dan sesak. Ingatannya akan wajah pria brengsek yang tega menyetubuhi dirinya secara paksa itu, kini makin membuatnya berada di titik nadir hidupnya.
Lintang benar-benar membenci pria itu. Benci sekali. Ia yang harusnya bisa bekerja demi kesehatan ibunya, kini harus menelan kegetiran hidup, sebab jabang bayi tengah bersemayam dalam rahimnya.
" Tapi gimana lagi Buk? Apa kata orang nanti? Bagiamana Lintang bisa hidup dengan anak ini ? Lintang musti kerja biar bisa nebus obat Ibuk!" Ucap Lintang pasrah. Ia benar-benar tak bisa berpikir waras saat ini.
Ibu hanya bisa menangis dengan isakan yang semakin dalam. Wanita pucat itu semakin merasa bersalah karena hanya menambah beban anaknya saja.
Maafkan Ibu nak!
.
.
Hari yang berjalan kian terasa canggung. Baik dirinya maupun ibunya sama-sama jarang berbicara. Lintang juga semakin bingung bagiamana cara mengakali seragam kerjanya yang mulai terasa sesak kala dikenakan.
Ibu yang kondisinya sudah semakin parah itu, bahkan kini sering mengeluhkan sakit di bagian punggungnya itu, membuat Lintang tak memiliki banyak pilihan.
Suatu hari saat Lintang berbelanja sayur di mas- mas penjual sayur di dekat komplek kontrakannya sewaktu ia off , Lintang mendengar suara-suara sumbang dan kasak - kusuk yang menggunjingkan dirinya.
" Dia dari mana sih? Enggak pernah keluar sama sekali. Tapi...kok kayaknya..."
__ADS_1
" Tau tuh, orangnya jarang bersosialisasi!"
" Eh iya Yu, kayaknya hamil tuh!"
" Iya, kayaknya hamil itu...orang tiap hari pakai baju ombor- ombor kalau dirumah. Tuh lihat aja perutnya tuh! Enggak ada laki kok bisa bunting?"
Lintang diam manakala mendengar suara-suara sumbang itu . Ia tak menyahuti apalagi menyergahnya, meskipun itu sangat menyakitkan hatinya. Lagipula, yang dibicarakan oleh ibu-ibu itu memang benar adanya. Ia tengah hamil.
Benar kata pepatah. Berani karena benar, dan takut karena salah.
" Ini berapa cak?" Tanya Lintang kepada kang sayur yang merasa tak enak hati, sebab ibu-ibu di sebelah sana tengah merasai dirinya. Menepikan cibiran dan gunjingan akan dirinya yang memang berbadan dua
" Itu aja? Kalau itu aja 25 rebu mbak!" Jawab kang sayur mencoba biasa saja meski kecanggungan mendadak menyeruak.
Usai menyerahkan nominal pas, Lintang kembali ke kontrakannya. Biarlah ia di hina, biarlah ia di cerca, toh nyatanya kehidupannya juga tetap dia sendiri yang menanggung. Mereka tahu apa soal hidupnya.
Seusai menutup pintu kontrakannya, matanya membuka tatkala mendapati ibu yang terlihat kesakitan seraya memegangi dadanya. Membuatnya melempar semua belanjaan yang baru saja ia beli.
" Ibuk!"
Tak ada uang lagi yang bisa mereka gunakan untuk kontrol. Lintang hanya bisa membelikan obat anti nyeri yang bisa ia jangkau. Biaya kontrakan dan biaya makan mereka selalu mengikis habis upah yang ia terima selama bekerja di swalayan itu.
" Ibuk!" Teriak Lintang kembali saat mendatangi ibunya yang kini terjatuh.
" Pinggang Ibuk sakit Lin, sakit banget!" Keluh Ibu dengan suara lemahnya.
Sekuat tenaga ia membantu wanita yang melahirkannya itu untuk berbaring diatas kasur kecil. Lintang dengan cepat memberikan air hangat yang biasa diminum oleh ibunya seraya menangis.
Lintang terus menangis bahkan kian terisak. Ibunya makin hari makin pucat dan kurus. Luka basah di payu dara ibunya juga semakin parah.
" Ibuk jangan ngomong gitu buk!"
" Apapun yang terjadi, tolong kamu jangan buang anak itu . Tolong ya nak!" Ucap Ibu dengan tatapan mengiba. Dua netranya yang basah dan layu makin membuat Lintang benar-benar sedih.
Lintang semakin terisak manakala ia melihat Ibunya yang meringis kesakitan namun masih teringat dengan bayi tak berdosa di dalam perutnya.
Ia benar-benar tak tahu lagi harus bagaimana. Segala daya dan upaya yang bisa ia lakukan telah ia perjuangkan. Namun tetap saja, semua akan terasa sia-sia manakala uang tak membersamai kita.
" Kenapa Engkau memberiku cobaan yang sebegitu beratnya ya Tuhan?"
Batin Lintang di ujung rasa nelangsanya. Wanita itu lelah dengan hidupnya. Dengan semua kenestapaan yang seolah tiada mau pergi.
.
.
Selain ia bingung bagiamana cara menyembunyikan kehamilannya yang semakin membesar, Lintang kini juga semakin stres karena gajinya bulan lalu habis untuk pengobatan ibu yang kambuh. Selama itu pula, ia tak pernah memeriksa dirinya ke bidan maupun kerumah sakit.
Hingga di suatu waktu, saat ia sibuk memasak sup untuk ibunya, terdengar riuh rendah suara orang yang berkerumun di depan kontrakannya. Membuatnya mengerutkan kening.
" Keluar kamu!"
__ADS_1
" Lon te!!! Wanita enggak bener kamu!"
" Keluar!!!"
Ia segera mematikan kompor manakala mendengar pintu kontrakannya di gedor-gedor oleh seseorang. Ada apa?"
" Lin, ada apa itu?" Ibu yang berjalan seraya meringis kesakitan itu, kini makin pucat sebab takut dengan teriakan yang terdengar kian masiv itu.
Tanpa menunggu lama, ia segera membuka pintu dan betapa terkejutnya ia manakala mendapati puluhan orang yang saat ini menyerbu kontrakannya.
" Nah ini dia pak orangnya, bener kan kalau dia hamil. Usir aja dia pak!" Tunjuk wanita bermulut pedas yang sempat menggunjingnya saat mereka membeli sayur tempo hari.
Lintang tak bisa mengelak, sebab usia kandungannya saat ini telah memasuki bulan ke empat.
" Usir!"
" Usir!"
" Bikin malu aja!"
Tubuh Lintang mendadak tegang. Dadanya bergetar sebab benar-benar takut. Ia bisa melihat tatapan sinis para tetangga kontrakannya yang kini mengerutkan alis penuh kemarahan.
" Tenang Ibu-ibu, tenang dulu!" Hardik seorang pria yang bingung sebab suasana mendadak ricuh akibat ketidaksabaran kaum ibu-ibu yang geram.
Lintang menangis. Ini benar-benar diluar kendalinya.
" Saya yang akan berbicara, jangan main hakim sendiri!" Ucap pria yang menjadi ketua rukun tetangga di wilayah kontrakan Lintang itu. Mencoba menguasai situasi agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.
Sang pemilik kontrakan bahkan kini terlihat datang dengan tergopoh-gopoh, saat ada warga lain yang memanggilnya. Wanita paruh baya itu nampak panik saat melihat banyak sekali masa yang menegaskan jika situasi yang ada tidaklah kondusif.
" Ada apa ini pak?" Tanya Ibu pemilik kontrakan yang terkejut dengan wajah pias yang tak bisa di sembunyikan.
" Sebaiknya kita bicarakan di dalam Bu. Dan untuk ibu - ibu yang lain, mohon untuk membubarkan diri!"
Lintang benar-benar lemas. Jelas kehamilannya itu di pantau oleh warga disana. Ia pasrah, entah apa yang akan terjadi dengan dirinya setelah ini.
.
.
.
.
.
Dear smart readers, beberapa part ini masih menceritakan flashback Lintang sebelum melahirkan Danuja.
Mawar berduri nya Ojo lali Yoπππ
Oh ya, barusan author di ingetin sama salah satu readers yg baik banget soal interval waktu usia Angga dan kelahirannya. Aku makasih banget, udah di bantu koreksi. Intinya, usia anak Galuh itu pas satu tahun waktu Citra ultah.
__ADS_1
Tak ada gading yang tak retak.
Matur nuwun yaπππ€π€