Menjadi Ibu Untuk Anakmu

Menjadi Ibu Untuk Anakmu
Bab 137. Danuja's Grandma


__ADS_3

Bab 137. Danuja's Grandma


.


.


.


...🌺🌺🌺...


Jonathan


"Bhahahahahaha!" Denok tertawa keras hingga mengundang atensi manusia lain yang lewat, sesaat setelah mendengar ucapan Jonathan.


Jonathan mengernyit kala Denok justru ngakak di hadapannya, " Sialan, apa dia meragukanku?"


" Kenapa kau tidak percaya jika aku sanggup membayarmu bahkan selama satu tahun?" Jonathan yang seringnya berpembawaan serius itu, kini menatap Denok dengan lekat.


Ia terpaksa mengatakan hal itu sebab entah mengapa, semakin kesini ia semakin nyeri merasakan keadaan Denok.


Ia tak tahu mengapa hal itu terjadi. Yang jelas, ada rasa nyeri tiap Denok mengutarakan siapa dirinya kepada orang lain, tanpa rasa bersalah.


"Udah lah Jon. Katamu inimu hanya untuk istrimu! Aku udah enggak berani nerjang barikade OrKay ( orang kaya) kayak kamu! " Ucap Denok menyentuh bagian kelelakian Jonathan dan membuat pria itu merinding.


" Udahlah, yok kita kesana, ini kita bawa cardlock punya orang malah keasikan ngobrol disini. Dah lah !"


Denok ngeloyor pergi dan meninggalkan Jonathan yang menahan bagian tubuhnya yang mungkin saja sudah bereaksi.


Damned!


" Denok kampret!" Batinnya kesal dalam hati kala ia di tinggalkan sendiri, dalam keadaan mister Ucok yang tak karu-karuan.


.


.


Lintang


Rencana kepergian para kaum Hawa itu jadi juga walau ada drama protes dari Jodhi, tentang mengapa hanya Jonathan saja yang boleh turut serta.


" Si Jojon kan sopirnya, ya pasti dia ikut lah. Kalau mau ikut, tukar kasta saja maeh! Elu jadi supir, Jojon jadi bosnya, biar Jojon yang jadi bapaknya Danuja, bukan elu! Pie?"


Begitu yang di ucapkan Denok tadi dan sukses membuat Jodhi mendengus sebal.


Kini, satu pejantan itu harus bisa menuruti kelima wanita yang kini menjadi penumpangnya. Dan tentu saja, Denok lah yang menjadi biang rusuh disana.


" Lin, cepet-cepet deh kamu nikah mumpung di Danuja belum sekolah, belum ngerti ini itu. Ya, walau jika sudah besar nanti dia pasti juga tahu karena kenapa tanggal lahirnya lebih dulu ketimbang tanggal nikah emak bapaknya!" Ucap Denok tekrikik-kikik.


" Auwh, sialan si Jojon sakit tahu!" Ia menatap sengit Jonathan yang mencubit dirinya. Jonathan takut kalau Lintang tersinggung. Pria itu tidak tahu saja jika mereka berdua sedari mengenal memang berbicara seperti itu tiap waktu. Los dan tak ada yang di tutupi.


" Mulutmu itu Loh!" Jawab Jonathan dengan suara lirih.


" Gini nih kalau ketemu orang yang mainnya kurang jauh. Si Lintang enggak akan tersinggung, amanlah kalau itu!" Ucap Denok kesal seraya menggosok bagian pahanya yang di cubit si Jojon sialan.


Alih-alih takut jika para wanita di belakangnya marah karena ucapan ugal-ugalan Denok, Jonathan justru dibuat terkejut saat Rania justru tergelak.


" Sayang banget Nok, kamu enggak mau ikut ke kota! Coba kalau ikut, pasti bakal rame rumah Tante!"


" Bukannya enggak mau Tan, saya mau kok ke kota Tante Oma, tapi kalau Lintang nikah!" Dia terkekeh usai mengatakan hal itu, " Makanya percepat ya Tante Oma ngunduh mantunya. Duh enak banget nasibmu sekarang Lin. Udah punya mertua baik, calon suami ganteng, CK CK CK , kayaknya udah abis masa sulit elu Lin!"


Dhira melirik Lintang yang duduk di kabin belakang bersama Bu Yanti. Wanita itu terlihat tersenyum meski membuang pandangannya ke arah luar.


" Aku berharap begitu mbak. Berharap jika semua ini bukan ilusi semata!"


.


.


Di mall


Carut marut manusia yang berkunjung di jam sore itu menyambut kedatangan keenam manusia itu.


Ratusan manusia yang memiliki kepentingan yang sama itu, nampak silih berganti keluar masuk.


" Nok, hari ini Tante traktir belanja. Kamu boleh ambil apapun yang kamu mau. Anggap saja, sebagai kenang-kenangan dari kita!" Rania berkata sembari berjalan bersisian dengan Andhira.

__ADS_1


" Yaps, Tante juga mau kasih kamu sesuatu. Tapi kayaknya mending kamu yang pilih sendiri ya. Kalau di pilihkan nanti, takutnya kamu enggak suka!" Imbuh Dhira.


" Wah, dapat paket combo cuy, ihiir!" Ucap Denok belingsatan sendiri.


" Dasar!" Cibir Jonathan.


" Kenapa? Orang baik itu kan, kalau di kasih enggak pernah nolak!" Denok lagi-lagi tekrikik-kikik manakala mengatakan hal itu. Jika ditilik, hidup Denok bagai kapas yan melayang tanpa bebas.


" Tapi...beneran Tan?" Seru Denok kembali mematikan.


Rania mengangguk dengan senyum terbaik. Pun dengan Dhira, " Beneran lah. Ini spesial buat Dadenya Danuja!"


Membuat Denok kegirangan dan memeluk Lintang erat seperti anak dan indukan yang saling bercengkrama.


" Yes, kalau gitu aku mau beli baju dinas banyak-banyak hihihi!" Ucap Denok kegirangan.


" Hadeh, bikin malu aja kau ini Nok!" Cetus Bu Yanti yang mulai geleng-geleng kepala.


" Kapan lagi Yu bisa beli baju brendet ( branded/ bermerk), udah lah yuk cus!"


Sepanjang perjalanan menuju lantai dua tempat sandangan wanita di pajang, Lintang hanya diam. Ia merasa ini terlalu berlebihan. Lebih tepatnya Lintang masih malu-malu.


Mereka terlihat berpencar - pencar setibanya di lantai dua itu. Jonathan bersama Denok yang rempong sendiri, Andhira yang mengajak Bu Yanti memilih pakaian meski terlihat sungkan namun berhasil di yakinkan, serta Rania yang kini bersama Lintang di stand pakaian anak-anak.


" Lin, coba deh lihat ini!" Rania menunjukkan sebuah baju tidur bergambar Dino yang fit di tubuh Danuja.


Seperti belum terbiasa dengan outfit mahal, tangan Lintang terulur melihat bandrol harga yang tergantung di sana. Harga yang sepadan dengan harga satu bulan mengontrak di kontrakan busuk Emi.


" Tante, harganya mahal sekali, ini..."


" Semua ini enggak ada artinya Lin. Sebab kamu sama Danuja lebih berharga dari semua yang ada disini" Sahut Rania tersenyum yang tahu kesungkanan Lintang.


" Semua ini pantas kamu sama Danuja dapatkan. Jadi, kamu jangan sungkan sama Tante. Jangan hanya anak kamu, ayok kamu juga pilih sesuatu yang kamu suka! Tante temani."


Rania mengusap punggung wanita yang lebih tinggi beberapa centi darinya itu penuh rasa sayang. Membuat Lintang merasakan kasih seorang Ibu yang begitu kentara.


" Kita senang-senang hari ini, biarin saja laki-laki itu momong dulu. Tante tahu, selama ini kamu udah sulit dalam merawat cucu Tante. Jadi, sekarang saatnya menyenangkan diri sendiri,hm?"


Lintang tersenyum haru seraya menitikkan air mata. Sudah sangat lama ia tak merasakan seperti ini. Merasakan kebahagiaan.


" Udah, sekarang kita enggak boleh sedih-sedih lagi , ok? Lintang harus cantik. Kita pilih - pilih baju ya?"


Sementara itu di tempat lain.


" Baju dinas apaan sih?" Jonathan menggerutu mengekor di belakang Denok, sebab sedari tadi mengikut langkah wanita itu , namun belum juga menemukan apa yang wanita itu inginkan.


" CK, diem dulu Jon! Aku juga bingung, maklum jarang kemari, seringnya belanja di pasar sama si Lintang. Kalau elu enggak mau ngantar, entar yang bayar siapa? Clientku yang tempo hari masih kas bon ke aku!"


Membuat hati Jonathan bagai teriris.


"Nah itu dia!" Jonathan mengikuti arah pandang lokasi yang dikatakan oleh Denok, sebagai baju dinas itu.


" Hah?" Ia mendelik sebab yang di maksud Denok ialah pakaian seronok yang biasanya sudah pasti bisa menjerat gairah para kaum Adam.


.


.


Berkantong- kantong belanjaan telah mereka bawa. Rania juga membeli tiga buah koper masing-masing untuk Danuja, Lintang dan Bu Yanti dan meminta pegawai itu untuk mengantarkan ke hotel, dengan memberikan upah yang lumayan.


Uang memang sebaik-baiknya pemangkas birokrasi yang top markotop.


Kini, mereka semua terlihat makan di restoran yang ada di mall tersebut, sebab perut sialan Denok itu berkhianat, kala wanita itu menjawab belum lapar usai ditanya oleh Andhira.


Benar-benar membuat malu.


" Bu Yanti monggo di tambah nasinya. Kapan-kapan kalau udah di kota J, saya masakin pindang koyong ya Bu. Olahan ikan yang rendah kolesterol sebab kuahnya bening!" Ucap Dhira yang nampak mengakrabi wanita beraut sendu itu.


" Tante Dhira ini paket komplit ya. Udah cantik, pinter masak, banyak duit lagi!" Sahut Denok yang kini sibuk menata suapan terakhir menggunakan tangannya.


" Duit suami Nok. Saya mah, cuma ibu rumah tangga!" Jawab Dhira merendahkan diri.


" Saya sangat senang hari ini!"


Kesemua orang itu diam saat tiba-tiba Bu Yanti angkat bicara.

__ADS_1


"Terimakasih banyak Buk, saya enggak menyangka di umur saya ini masih bisa merasakan hal-hal seperti ini." Bu Yanti merasa haru.


"Jujur, saya kira hidup saya akan begini-begini terus sampai mati nanti. Dulu, saya pernah bilang ke Lintang saat dia mau pergi, waktu ibunya baru meninggal. Waktu itu Saya berkata begini ; Jika kau percaya takdir, maka kau juga harus percaya jika Tuhan mempertemukan kita tidak lain karena aku harus menolongmu. Atau...bisa jadi nanti kau yang akan menolongku!"


Bu Yanti kini menghela napas saat matanya mulai mengkristal. Teringat saat-saat menyedihkan waktu itu.


" Dan ternyata, Lintang lah yang justru menolong saya hari ini Buk. Lewat njenengan semua!"


Air mata yang berjejalan itu akhirnya lolos. Yanti terharu. Tak menyangka pertemuannya dengan Lintang membawanya kepada hidup yang masyhur. Membuat kesemuanya turut berkaca-kaca. Pun dengan Jonathan.


" Saya bahkan enggak habis pikir kalau Lintang mau mengajak saya pindah ke kota juga. Gak nyangka kalau Lintang benar-benar menganggap saya sebagai orang tuanya Bu!"


Rania mengelap air matanya sebab terharu, " Bu, Bu Yanti adalah bagian dari kami, jangan ragukan semua itu. Saya janji, akan membuat Lintang dan Danuja mendapatkan apa yang telah hilang selama ini!"


Ia kini tahu, bahwa apa yang kita perbuat di masa silam, sangatlah berdampak dengan apa yang mungkin tejadi di masa depan. Entah baik, entah buruk. Semua ada upahnya.


.


.


Perut kenyang, hati pun senang.


Denok kini berjalan riang ala tralala trilili, saat membawa barang belanjaan yang berisikan pakaian seksi, baju dinasnya, dan dua buah tas yang dibelikan oleh Dhira.


Merasa menjadi orang kaya walau hanya sekejap.


Jonathan terlihat sibuk membersamai porter yang membantu memindahkan barang belanjaan merasa ke dalam bagasi mobil besar mereka yang kini berada di basement.


" Kita tunggu disini saja!" Ucap Rania yang menarik kursi sebuah waralaba bertuliskan Yudhasoka's sugar brown milk.


Namun, saat mereka menunggu Jonathan mengambil mobil, mereka dikejutkan oleh kedatangan seseorang yang membuat mereka geram.


"Wah, berani juga nih emaknya anak haram itu nongol di tempat mahal seperti ini!"


"Benar-benar tidak tahu malu!"


Kelima wanita itu menoleh ke arah barat saat Ibu Reyhan yang bersama seorang perempuan berdiri seraya bersidekap mencibir Lintang. Membuat Rania mendelik.


" Wah, sundel satu ini udah bosan makan nasi rupanya!"


Denok sudah ambil ancang-ancang, dan dengan cepat mendorong wanita paruh baya itu hingga membuat wanita itu terjerembab ke lantai.


BRUK!!!


" Kurang ajar!" Ucap Bu Reyhan yang kini terjengkang.


" Tante! " Seru wanita yang ada di sebelahnya itu. Menatap tak suka ke arah Denok yang menerjang Ibu Reyhan.


" Mama!"


Tak di nyana, Reyhan yang rupanya ikut kini membulatkan matanya, demi melihat Denok yang sudah geram menyingsingkan lengan bajunya.


" Lintang, mbak Denok? Ada apa ini?" Reyhan menatap resah ke arah manusia yang ia kenali itu. Merasakan atmosfer ketidakberesan yang begitu kentara.


" Siapa yang anda katakan anak haram?" Kini, Rania maju dengan dada yang membara. Membuat Reyhan makin tertelan kebingungan.


" Anda siapa?" Tanya Reyhan yang kini muram. Sempat melirik Lintang yang menatapnya tajam. Jelas tejadi sesuatu.


" Saya Ibu mertua Lintang. Ada apa?" Jawab Rania sombong, membuat ibu Reyhan kini mendelik dengan dada bergetar.


DEG


" Ibu mertua?" Batin Reyhan yang mendadak aliran darahnya seketika terasa dingin.


" Hati-hati kalau bicara. Saya sebagai nenek dari Danuja tidak terima jika cucu saya dikatakan anak haram. Dia punya Ayah dan keluarga. Jadi jaga mulut anda sebelum saya bisa melakukan apapun yang membuat anda menyesal!"


Reyhan menatap tak percaya ke arah wanita elegan yang kini terlihat begitu marah. Benarkah jika dia tak memiliki celah sama sekali untuk mendekati Lintang?


.


.


.


.

__ADS_1


.


Part ini udah panjang banget ya, udah hampir dua ribu kata. 😘


__ADS_2