
Bab 145. Karma
.
.
.
...🌺🌺🌺...
Adipati
Ia kini tengah menuai apa yang ia tabur beberapa tahun lalu. Memanen dari hasil benih perbuatan buruknya, kepada mantan istrinya, Galuh.
Wanita yang ia gadang-gadang sebagai wanita luar biasa , yang membuat akalnya aus, lekang dimakan naf*su buta itu, nyatanya tak lebih dari seorang perempuan keparat.
Ya, kenapa disebut keparat? Sebab Maya telah tega menelantarkan buah hatinya, lantaran tak mau menerima kondisi buah cintanya bersama Adipati yang menderita Hidrosefalus.
Membuat Adipati sempat frustasi dan terpuruk.
Dan saat Itulah, peran Bu Sevi sebagai orang tua lagi-lagi harus menanggung semua hal yang di dapat oleh Adipati. Kini, wanita tua itu kesehariannya membantu anak sulungnya merawat Elisha, cucu pertamanya dari Adipati.
Maya pergi tanpa tahu dimana rimbanya. Yang jelas, wanita itu memutuskan untuk pergi sebab tidak mau menerima dan malu dengan kondisi anaknya yang cacat.
Hidrosefalus merupakan kondisi abnormal, yang terjadi sebab menumpuknya cairan secara berlebihan di dalam otak. Membuat ukuran kepala bocah itu membesar dengan tubuh yang kurus.
Sebenarnya pada keadaan normal, kepala kita ini juga terdapat cairan yang mengisi ruangan-ruangan (ventrikel) di dalam otak, dalam jumlah tertentu.
Namun, pada hidrosefalus, jumlah cairan otak tersebut berlebihan, sehingga menimbulkan penekanan sel-sel otak dan gangguan saraf.
Dan dalam kasus anak Adipati, bocah itu mengindap Hidrosefalus disinyalir sebab telah mengalami gangguan sejak di dalam kandungan. Dan kemungkinan besar, hal itu juga dipengaruhi oleh infeksi toksoplasma, kekurangan asam folat, dan penyebab lainnya.
" Mama?" Galuh kembali menatap wajah yang kini makin keriput itu penuh ketidakpercayaan. Sudah sangat lama sekali sejak mereka berdua bertemu kerumah ibunya Galuh.
" Kamu apa kabar Nak?" Bu Sevi nampak senang dengan pertemuannya kali ini. Membuat Raka mendengus karena merasa teracuhkan.
Raka bahkan membuang wajahnya demi menyadari siapa orang yang di sapa oleh isterinya itu. Raka terlihat tidak suka.
" K-kami baik Ma. Ini Raka suami Galuh!" Ucap Galuh yang tahu jika suaminya merajuk.
Bu Sevi tersenyum menyapa meski Raka hanya tersenyum penuh keterpaksaan. Terlihat sama sekali tak nyaman.
Adipati yang kini telah berada di dekat mereka, juga nampak terkejut demi bertemu dengan mantan istrinya itu.
__ADS_1
Untuk beberapa saat, Raka dan Adi saling melempar tatapan permusuhan yang membuat suasana seketika canggung.
" Luh, ini bener kamu nak? Kamu apa kabar? Sehat semua keluarga? " Kini, suami Bu Sevi terlihat menyapa Galuh dengan wajah tak kalah senang. Membuat Galuh meraih tangan pria tua itu lalu menciumnya takzim.
" Sehat Pa. Papa gimana?"
Lintang, Jodhi dan Raka masih diam demi melihat interaksi orang-orang itu. Namun, satu hal yang menarik perhatian mereka. Yakni bocah ringkih yang di gendong oleh Adipati, menggunakan gendongan duduk, yang simpulnya di sandang oleh punggung kokoh mantan suami Galuh itu.
" Papa sehat. Kami semua sehat!" Jawab Papa Adipati dengan wajah ramah. Tersenyum lebar dan membuat pria itu terlihat senang.
" Kamu udah isi Nak?" Ucap Bu Sevi masih penasaran dengan wajah senang sebab Galuh masih sama ramahnya seperti saat menjadi menantunya dulu. Menepikan seraut keruh milik pria tampan yang kini menjadi suami Galuh itu.
Galuh mengangguk tersenyum, " Anak ketiga Mah, Pah!"
Adi terlihat melirik Raka sekilas saat Galuh mengucapkan kata 'ketiga'. Produktif sekali pikirnya.
" Wah selamat ya Nak. Kami turut senang!" Bu Sevi mengusap lengan atas Galuh penuh rasa haru.
" Oh ya Mah, kenalkan ini sepupu aku namanya Jodhi, yang di sebelahnya ini calon istrinya, namanya Lintang!"
" Jodhi!"
"Lintang!"
Hanya Adipati saja yang tidak bersalaman dan terlihat sibuk dengan Elisha.
" Ya sudah kalian lanjut ya. Salam buat Pak Noer sama Bu Halimah ya nak. Papa mau kedalam dulu. Sampai jumpa!" Ucap papa Adipati yang kini mengajak putra bersama cucunya untuk pergi, demi menyadari jika Raka terlihat tak nyaman.
Galuh mengangguk sopan walau suaminya terlihat menyuguhkan raut acuh tak acuh. Nampaknya, Galuh tidak mengetahui bila Raka benar-benar memiliki dendam kesumat terhadap Adipati.
" Semoga kalian langgeng. Mama senang lihat kamu bahagia seperti ini!"
Perkataan tulus Bu Sevi barusan praktis membaut Raka melirik wanita yang sedari tadi ia acuhkan itu. Sejenak merasa bersalah.
Tapi, Raka memang benar-benar sakit hati kepada manusia pecundang itu, bahkan hingga detik ini.
" Tadi itu..." Ucap Galuh ragu. Menatap Si Sevi dengan wajah murung.
" Tadi itu anaknya Adi Luh. Dia seperti itu sejak lahir. Itu juga yang membuat Maya meninggalkan anak itu!"
DEG
Galuh seketika mematung demi mendengar kenyataan menyedihkan yang harus di alami oleh anak kecil tadi. Perasaan kasihan mendadak menyelinap di relung hatinya. Membuat Galuh mengalihkan pandangannya kepada Adipati yang terlihat begitu menyayangi bocah malang itu, walau dengan kondisi yang seperti itu.
__ADS_1
" Dia happy walau jadi single father sekarang. Elisha juga tengah menjalani pengobatan rutin!"
" Luh, tolong maafkan kamu semua. Apa yang Adi dapat saat ini, sudah menjadi bagiannya. Mama bangga dan senang pernah memiliki menantu seperti kamu!"
Bu Sevi berkata seraya tersenyum. Membuat Galuh tertegun dengan hati mengharu biru. Sama sekali tak mengira jika kehidupan pria itu sungguh miris.
" Mama pergi!" Ucap Bu Sevi mengusap pipi lembut Galuh. " Pak Raka, saya pamit!"
Raka terkesiap lalu dengan kagetnya, ia mengangguk manakala wanita itu berpamitan. Entahlah, ada rasa iba manakala Galuh menatap wajah sayu mantan mertuanya itu.
"Kakak ipar, tadi itu siapa ?" Tanya Jodhi penasaran sesaat setelah Bu Sevi telah menjauh dari pandangan mereka.
" Mantan mertua kakak iparmu. Puas?"Sahut Raka tepat ke wajah Jodhi dengan ketidaksukaan yang kentara.
" Lah, ada yang cembukur ternyata. Woy tunggu dulu, itu cuma masa lalu kali, ngapain elu baper. Woy sialan nih orang!" Teriak Jodhi yang kini tersuruk- suruk demi mengejar Raka yang berjalan terlebih dulu ke arah mobilnya.
Membuat Galuh menggelengkan kepalanya demi menyadari jika Raka benar-benar cemburu.
" Bener Mbak. Tadi itu...?"
Galuh mengangguk seraya tersenyum demi memuaskan rasa penasaran Lintang yang kini menatapnya muram.
" Nanti kita cerita-cerita ya. Berdua aja. Kalau nggosip sama mereka enggak enak Lin. Ya gitu resikonya. Baper!"
Kedua wanita itu terkikik-kikik usai merasai dua pejantan tampan itu. Galuh menghela nafasnya dalam-dalam. Nyatanya, hukum tabur tuai itu rupanya masih relevan hingga detik ini.
Ia mengelus perutnya yang berisikan buah cintanya bersama Raka.
" Semoga keberuntungan menyertaimu nak!"
Ucapnya menghela napas dan seolah melepaskan semua ganjalan di hatinya. Ia ingin melepaskan semua kepahitan masa lalunya.
Sebab mau baik , mau tidak baik sekalipun. Semua ada upahnya.
.
.
.
.
.
__ADS_1