Menjadi Ibu Untuk Anakmu

Menjadi Ibu Untuk Anakmu
Bab 144. Rahasia semesta


__ADS_3

Bab 144. Rahasia semesta


.


.


.


...🌺🌺🌺...


Lintang


Sebelumnya, ia tiada pernah menyangka jika dengan memaafkan Jodhi, bisa membuat hatinya lega seperti ini. Sebab, memaafkan orang lain itu, sama artinya dengan memaafkan diri sendiri bukan?


Dan apa yang barusan Jodhi ucapkan, semakin membuat kelegaan itu kian bersinar terang di dalam sanubarinya.


" Kamu istirahat lah! Aku akan menemui Jonathan dulu!"


Ia juga masih terdiam tanpa penolakan saat Jodhi kembali mencium keningnya dengan sangat dalam. Membuat gelenyar aneh itu, kini hadir kembali.


Kini, walau keadaan masih canggung, namun Jodhi benar-benar merasa bahagia. Apa yang ia damba selama ini, terwujud sudah.


Lintang mau menerimanya.


Pria itu kini mulai berbalik badan, lalu berjalan menuju pintu dan ingin membiarkan wanitanya itu beristirahat.


" Jodhi!" Ucap Lintang dan berhasil membuat Jodhi membalikkan tubuhnya, manakala ia hendak menarik handle pintu kamar itu.


" Ya?" Tanya Jodhi dengan wajah senang.


" Hati-hati!" Ucap Lintang dengan wajah malu-malu.


Yes! Satu kemajuan pesat kini membuat Jodhi makin belingsatan. Ia bahkan ingin jumpalitan saat itu juga, demi mendengar sebentuk perhatian kecil yang di tunjuk oleh Lintang terhadap dirinya. Daebak!


Oke sip!


" Pasti. Good night dear!''


Ia terlihat tersipu saat pria gagah perkasa di hadapannya itu mengucapkan kalimat mendayu.


Hah, sejoli yang mungkin kini mulai merasakan buah dari kesabaran versi mereka masing-masing itu, sepertinya masih sama-sama malu-malu.


Kita lihat saja, siapakah yang akan menjadi budak cinta terlihat dahulu. Xixixixixi.


.


.


Dibalik kebahagiaan seorang bos, pasti ada seorang anak buah yang menderita dan menggerutu dalam hatinya.


Wadiaw!


Tentu saja, pelangi yang kini muncul di hati Jodhi justru menciptakan cucak buruk di hati Jonathan.


Bad weather!

__ADS_1


" Jangan tidur dulu. Minta orang mu untuk mengurus administrasi kependudukan Lintang dan Bu Yanti serta Danuja!"


" Besok pastikan kalau apa yang aku minta sudah beres!"


" Aku mau lusa berkas-berkas itu sudah ada di mejaku!"


Membuat Jonathan yang kesal itu, memasang ekspresi ingin mencekik Jodhi saat pria itu memunggunginya, usai mengeluarkan instruksi dadakan.


" Siap bos!"


" Siap!"


" Aman bos!"


Begitulah cara Jonathan melegakan hati sang juragan yang terlihat berbunga-bunga itu. Terlihat konyol dan bodoh dalam waktu bersamaan.


Hah! Mau di kata apalagi. Resiko bayaran mahal ya begini ini.


...🌺🌺🌺...


Waktu yang bergulir, membawa serta perubahan tiap manusia yang ada di kediaman Bastian. Selama dua pekan terakhir, Jodhi semakin sibuk kala berduet dengan Jonathan sebab mengurus administrasi kepindahan Lintang, serta persyaratan pengajuan nikah mereka.


Walau mereka bisa memotong birokrasi rumit menggunakan duit, namun ada beberapa langkah yang wajib mereka jalani secara normal seperti pemeriksaan kesehatan, yang wajib mengundang hadirkan keduanya.


Tentu saja membuat Jodhi senang. Laksana orang yang tengah berkencan, pagi jelang siang ini Jodhi yang selesai menjalani serangkaian prosedur itu, terlihat mengajak serta Raka dan Galuh untuk bertemu di sebuah tempat.


Ya..bisa dibilang double date dadakan.


Lantas, kemana anak-anak mereka?


Ya, Rania yang ingin mengajak Bu Kartika healing- healing itu, berkolaborasi dengan kakak iparnya untuk mengajak anak-anak liburan ringan. Alasannya cukup masuk akal, mereka ingin memberikan waktu bagi Jodhi dan Lintang dalam menjalani masa pra nikah.


Adalah Bu Yanti. Ia tak mengira jika kebaikannya beberapa tahun yang lalu saat nekat menolong Lintang di dalam keterbatasannya, rupanya membawa dampak luar biasa bagi hidupnya saat ini.


Kini, selain ia bisa turut merasakan buah manis dari kesabaran Lintang selama beberapa tahun, ia juga merasa bahagia karena hidup di tengah-tengah orang yang tulus serta menghargai dirinya sebagai nenek angkat Danuja.


" Ka, sini!" Jodhi melambaikan tangannya saat melihat Ayah Ibu dari Citra dan Angga yang nampak kebingungan itu saat baru memasuki tempat futuristik itu.


Lintang tersenyum manakala Galuh melambaikan tangannya kepada dirinya. Ya, dalam waktu singkat, keduanya bisa membaur dengan baik.


Mereka tengah janjian untuk makan siang di resto yang dulu sempat menjadi langganan Jodhi bersama Raka sewaktu membujang. Ya...mumpung para orang tua tengah asik dengan buah cimpil itu.


" Lintang, kamu cantik banget siang ini. Duh, calon manten makin glowing aja ih!" Galuh yang baru saja datang, terlihat cipika-cipiki dengan calon anggota baru keluarga Aryasatya itu.


" Mbak Galuh bisa aja! Mbak Galuh nih yang makin cantik. Bisa jadi adiknya Citra sama Angga nanti cewek!"


" Betul kah?" Jawab Galuh terlihat antusias.


Lintang mengangguk, " Kata orang tua dulu gitu. Kalau pas hamil suka dandan, anaknya nanti cewek!"


Kehangatan sebuah keluarga. Itulah yang kini tercipta. Pelangi yang datang sesuai hujan itu, kini tengah bersinar terang membuat orang lain turut bisa merasakan cahaya indahnya.


" Jangan kau puji calon istriku terus kakak ipar. Makin grogi nanti dia!" Ucap Jodhi sembari membuka buku menu yang baru saja di hantarkan oleh waiters wanita disana.


" Halah! Kau itu yang grogi. Awas aja sampai ngulang pas ijabnya nanti!" Sergah Raka yang sudah paham isi otak Jodhi.

__ADS_1


" Bhaaa, kalau itu amanlah. Aku tiap mau tidur ngehafalin kalimat itu! Laki macam apa kalau sampai remidi waktu ijab kabul" Jawab Jodhi terkikik-kikik. Membuat Lintang turut tertawa.


" Dasar!" Seru Raka mendengus.


"Oh iya...Lin, Jo! Tadi om Danan telpon ke aku. Cincin yang kalian pesan minggu ini jadi. Tadi dia minta nomer baru kamu ke aku. Kalian ambil sendiri lah nanti, suka ngeri aku kalau ketemu om Danan. Pasti di berondong pertanyaan yang bikin aku ingin jumpalitan!"


Jodhi dan Lintang seketika terkekeh-kekeh demi melihat wajah Raka yang bersungut-sungut, manakala menceritakan keunikan dari sahabat papanya itu.


" Gimana nggak ngeri, dia kan yang jadi saksi pas kalian lagi cip..."


" Aduh sakit njir, elu nyubit gue!" Ucap Jodhi yang kesakitan sebab pahanya di cubit Raka dari bahwa meja. Menatap kesal ke arah Raka dengan wajah bersungut-sungut.


" Mulut Lo jangan mulai!"


Mereka semua tertawa bahagia. Lintang yang makin akrab bersama Galuh, juga Jodhi dan Raka yang kini terlihat serius kala membicarakan bisinis sembari menunggu pesanan mereka datang itu, kini terlihat menjadi manusia paling bahagia diantara riuh rendah pengunjung restoran itu.


Usai menandaskan semua makanan dan membayar bill, ke empat manusia itu terlihat hendak mengundurkan diri.


" Kalian lanjut aja, aku mau ke dokternya istriku!" Ucap Raka setibanya di pintu keluar.


" Mau kemana?" Tanya Jodhi.


" Mau kontrol. Mumpung udah deket tempatnya!" Sahut Galuh dengan suara lembutnya.


Lintang mengangguk tersenyum. Teringat saat hamil Danuja dulu, ia bahkan masih sendirian dengan nasib malang yang menemani.


Jodhi yang tahu dan bisa menebak apa yang dilamunkan oleh Lintang, seketika merengkuh pinggang wanita itu lalu mengusapnya. Seolah menegaskan jika Jodhi akan mengganti semua hal yang pernah terlewatkan.


" Galuh!"


Sebuah suara dari seorang wanita membuat mereka semua menoleh. Galuh yang namanya di panggil, seketika terkejut demi melihat sosok dari pemilik suara itu.


Sosok yang sudah sangat lama tak ia lihat, sejak dia menyandang status sebagai istri dari Raka.


" Mama?"


Raka, Jodhi serta Lintang saling bertukar pandang demi melihat seorang wanita yang sebut sebagai Mama oleh Galuh, dengan uban yang nyaris memenuhi kepalanya itu, kini berjalan menghampiri Galuh yang berdiri tak jauh dari mobil wanita itu.


" Galuh. Apa kabar kamu nak?" Ucap wanita itu sembari meraih tangan Galuh dengan tangis yang mendadak pecah.


Galuh seketika turut menangis saat melihat mangan Ibu mertuanya, kini menyapanya dan terlihat masih bersikap sama baiknya seperti dulu-dulu.


Dan yang membuatnya lebih terkejut lagi ialah, Galuh melihat mantan suami beserta mantan mertua laki-lakinya terlihat keluar dari dalam mobil.


DEG


Membuat Galuh tertegun demi melihat Adipati yang menggendong bayi yang ukuran kepala yang sangat besar, dengan tubuh kurus yang terlihat begitu lemah.


Dan yang membuat Galuh lebih heran lagi adalah, kemana Maya ?


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2