Menjadi Ibu Untuk Anakmu

Menjadi Ibu Untuk Anakmu
Bab 133. Secuil titik terang


__ADS_3

Bab 133. Secuil titik terang


.


.


.


...🌺🌺🌺...


Jonathan


Merutuki diri akibat sejumput rasa penuh penyesalan itu, tiada habis ia lakukan. Kini, usai membereskan rivanol dan tethek-bengeknya, ia berniat menuju kediaman Bu Yanti yang hanya berjarak beberapa meter saja dari tempat tinggal Denok.


Lagipula, ia tahu jika Denok tengah marah kepadanya. Apa boleh buat.


" Apa aku terlalu kurang ajar saat bertanya tadi?" Gumamnya seraya berkacak pinggang dengan kedua alis yang berkerut.


Entah mengapa kemarahan wanita binal itu kini mengusik dan membuat hatinya resah. Biasanya ia tak peduli akan perasaan orang lain. Tapi ini aneh. Jonathan merasa terganggu dengan sikap Denok yang berubah.


Ia menatap nanar pintu kamar yang membisu itu. Sedikit merasa gamang. Bukankah dia tak pernah sepeduli ini terhadap orang lain?


" Tunggu dulu, dia bukan siapa-siapa kenapa aku jadi begini?" Batinnya dalam hati.


Berusaha mensugesti dirinya agar tidak terlalu memikirkan apa yang tejadi. Dan juga, sepertinya ia juga tak akan menceritakan hal ini kepada Jodhi maupun Raka. No way!


.


.


Lintang


Saat suasana mengharu biru itu masih kental terasa, Ia seketika kaget saat Danuja mengucapkan perkataan yang membuatnya tak habis pikir.


" Mi cu cu, Ya- yah!" Danuja menatap Jodhi dan terus meronta-ronta.


" Dibuatin Uti ya nak?" Jawab Yanti yang tahu jika Danuja meminta susu karena haus. Tak enak hati jika harus merepotkan Jodhi.


" Mi cu cu Ya- Yah!!!" Kali ini dengan wajah ingin menangis. Membuat semua orang disana mengalihkan atensinya kepada Danuja.


" Biar Jodhi saja yang buat Bu, Danuja ini benar-benar mirip dengan Jodhi waktu kecil. Kalau sudah minta dibuatkan sama kak Abi, ya hanya minta sama kak Abi!" Ucap Rania tersenyum demi mengingatkan masa kecil putranya.


Dan tingkah Danuja itu, sukses membuat suasana mencair. Penuh kehangatan.


" Ya benar, benar-benar definisi buah jatuh tidak jauh dari pohonnya. Jo!" Timpal Abimanyu yang terlihat senang kala ia juga mengingat hal manis itu.


" Kalau begitu temani nak Jodhi kebelakang saja ya Lin!" Ujar Bu Yanti dengan mata sembabnya. Lintang mengangguk, anaknya bahkan sudah tidak sabaran dan terus menggeliat, meminta permintaannya agar segera di turuti.


" Cepat sana, jangan bilang elu enggak bisa buatin susu!" Cibir Raka kepada Jodhi.


" Enak aja, emangnya elu doang yang bisa buat! Mentang-mentang udah mau tiga!" Jawab Jodhi menonyor lengan kakak sepupunya itu seraya tertawa.


Membuat hati para orang tua itu menghangat.

__ADS_1


Lintang terlihat tak menjawab, namun langsung berdiri sesuai dengan yang diminta oleh Bu Yanti. Merasa masih canggung.


Jodhi berjalan mengikuti Lintang yang sudah masuk ke dapur lebih dulu. Kesemua orang tua yang ada disana kini menatap kedua anak manusia itu penuh harap.


" Semoga Lintang mau menerima Jodhi ya mbak?" Ucap Rania saat mengiringi kepergian dua orang tua Danuja itu.


Saat berada di dapur, Jodhi menatap punggung Lintang yang menggendong Danuja sambil menyalakan kran air di dekat kompor, yang berasa diatas meja kayu yang sederhana.


Sebuah dapur yang separuh penutupnya terbuat dari dinding tepas. Disudut dapur itu terdapat tembikar yang digunakan untuk meletakkan alat-alat Bu Yanti saat memulung.


Lintang meletakkan panci berisikan air itu keatas kompor dengan nyala api yang terlihat biru. Dari tempatnya berada, terdengar sayup-sayup suara para orang tua yang menginterogasi Jonathan.


Ya, pria dengan alis tebal yang terlihat membuatnya makin tampan itu , sepertinya baru saja datang.


" Biar aku saja!" Ucap Jodhi mengejutkan Lintang yang tak menyadari jika Jodhi telah menyusulnya.


" Mi Cu Cu Ya Yah! Ucap Danuja lagi dengan tawa yang riang, saat melihat Jodhi berdiri dibelakang ibunya.


" Iya, mik susunya dibuatin Ayah ya, anak pinter sekarang duduk dulu sama Ibu ya!" Jodhi menoel pipi anaknya. Membuat Lintang deg-degan kala Jodhi kini merunduk dan berada tepat di depan wajahnya.


" Duduklah, kakimu pasti pegal. Aku akan cepat membuatnya!" Pinta Jodhi.


Lintang kini duduk diatas gelaran tikar yang menutupi sebuah dipan sederhana, tempat dia biasa mengobrol bersama Bu Yanti, saat memasak. Menatap Jodhi yang agak kebingungan saat mencari sendok takar.


" Ada di dalam nya. Buka aja toplesnya!" Ucap Lintang yang kini mendudukkan Danuja.


" Empat sendok apa dua sendok?"


" Kan udah sehat, jadi buat aja empat sendok!" Jawab Lintang dengan intonasi normal.


Beberapa saat kemudian, usai mematikan kompor saat air itu telah golak, Jodhi dengan cekatan membuat susu untuk anaknya yang sudah tidak sabar itu.


" Nih dah jadi, mau ikut Ayah apa Ibu?" Jodhi jongkok di depan dipan itu, seraya menunjukkan sebotol susu hangat buatannya, kepada Danuja. Lagi-lagi membuat Lintang salah tingkah.


" Kenapa denganku? Kenapa wajahku terasa panas?" Lintang tidak menyadari jika berdekatan dengan Jodhi dalam kondisi normal seperti saat ini, nyatanya mampu membangkitkan naluri wanitanya.


" Ya- Yah!" Jawab bayi itu menunjukkan gigi jathilnya, seraya merentangkan tangannya ke arah Jodhi.


Jodhi tersenyum seraya meraih tubuh mungil Danuja yang. " Anak Ayah emang pinter! " Diciuminya pipi Danuja penuh cinta, penuh kasih, penuh sayang.


Lintang masih diam saat melihat interaksi yang membuat gejolak dalam hatinya itu bangkit. Membuatnya semakin tak nyaman saja, saat bertiga di dapur sempit itu.


Dan, saat wanita itu hendak pergi.


" Tunggu!"


Jodhi yang memangku Danuja kini menarik tangan Lintang sepihak. Membuat wanita itu terkejut.


" Aku ingin bicara!" Imbuh Jodhi menatap lurus wanita itu. Menyiratkan sejuta rasa yang semalam ini terpendam.


" Ta - tadi kan udah?" Jawab Lintang grogi. Wanita itu bahkan seketika menjadi gagap. Oh sial!


" Ini versiku!"

__ADS_1


Keduanya hanyut dalam tatapan sendu. Seolah menyiratkan hal yang tak bisa dijelaskan. Membuat suasana senyap dalam beberapa detik.


Beberapa saat kemudian, Jodhi meminta Lintang untuk duduk di depannya saat ia menggendong Danuja yang kini bekerja keras, karena tekun mengenyot susu dalam dotnya.


Benar-benar terlihat kehausan.


" Kau tahu, aku senang sekali sebab kamu mau menerima aku!" Jodhi makin ekspresif, kala menunjukkan buncahan rasa, yang selama ini ia simpan.


" Aku tidak mengatakan jika aku mau menerimamu!" Sahut Lintang asal.


Keduanya kembali hening. Ya, Jodhi memang menafsirkan hal itu dari cara Lintang yang tak se ketus kemarin.


" Oh ya?" Jawab Jodhi senyam-senyum.


" Aku heran, kenapa orang baik seperti Bu Rania dan Om Bastian bisa memiliki anak bandel sepertimu!"


Jodhi tersentak. Apa Lintang sudah mau mengajaknya berkelakar? Apa itu artinya benteng tebal yang menjadi pemisah antara dirinya telah runtuh?


.


.


Denok


Ia menghisap rokoknya yang tinggal sebatang itu dengan perasaan gusar. Ia benar-benar telah kehilangan pemikiran soal doktrin - doktrin emang gue pikirin.


" Kenapa gue baper sama ucapan si Jojon? Enggak biasanya gue begini!" Gumamnya sendiri sambil menjeblak jendela kamarnya yang sempit. Menikmati hidup ala kadarnya yang kerap ia syukuri secara gerilya itu.


" Gue harap elu mau nikah sama Jodhi Lin. Baek Baek elu di kota. Hidup makmur, Biar mampus itu cocotnya si Emi!"


" Kalau perlu, kita buat kontrakan disini enggak ada yang mau nyewa. Biar dia tahu konsekuensi cocot busuknya itu!"


Ia terus dan terus mengomel sendirian. Apa yang menyesakkan, memang harus di luapkan. Bagiamanapun caranya.


Namun, entah mengapa , ia yang semula berapi- api, kini berubah sendu. Murung dan terlihat tiada bergairah, demi teringat akan suatu hal.


"Mungkin nasibmu sama Danuja sebentar lagi berubah Lin. Gue ikut seneng!" Ia menitikan air matanya lalu dengan cepat mengusapnya.


" Hah!" Ia menghela napas saat merontokkan bara latu rokoknya, " Mungkin beberapa hari lagi gue enggak akan bisa ngelihat elu Lin!"


Air mata Denok meluncur tanpa seizinnya. Membasahi pipinya yang memiliki bintik alami.


" Asu! Malah nangis gua!" Ucapnya saat dia merasa sudah melenceng dari dirinya sebagaimana biasanya.


"Enggak lucu kan kalau mata gue bengkak karena dikira menangis!" Ia terus berusaha melawan rasa haru dalam hatinya.


Padahal, pada hakekatnya semua wanita juga memiliki sisi sedihnya masing-masing. Tidak perlu selalu terlihat baik-baik saja. Lelah itu manusiawi.


.


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2