
Bab 150. Sisipan kisah
.
.
.
...πΊπΊπΊ...
Jodhistira
Ia turut mengerutkan keningnya manakala melihat Jonathan yang dengan datarnya berjalan bersama wanita yang tidak ia kenali.
" Siapa dia?"
Jodhi bahkan sempat melirik wanita yang berdiri di belakang istrinya, yang juga nampak menatap tajam Jonathan.
" Apa aku tidak salah menduga?"
" Kami baik!" Jawab Bu Weni ramah dan terlihat senang, dengan orang tua bos anaknya itu.
Rombongan Wisang bersama Istri, Danan bersama istri, Devan bersama istri terlihat begitu karib di meja sebelah, dan nampak tak terganggu dengan kedatangan Jonathan sekeluarga.
Mereka terlihat saling say hello dari meja mereka, sebab mengenal dan satu sama lain.
" Ini?" Mama menunjuk wanita yang belum ia kenali itu, dengan wajah penasaran.
" Fel, kenalkan, ini Bu Rania. Mama dari bosnya Jonathan! Dan Nyonya, kenalkan ini Felisha, teman dekat Jonathan. Baru kembali dari luar negri!" Ucap Bu Weni memperkenalkan dengan penuh kebanggaan.
Membuat Jodhi dan Lintang saling menatap dengan isi hati yang sudah pasti sama.
" Pamer!"
Mereka sing berjabat tangan secara bergantian. Rania yang memang terbiasa ramah kepada siapapun, tentu selalu bisa menunjukkan sikap baiknya kepada siapa saja tanpa dibuat- buat. Tak terkecuali kepada Felisha.
" Rancangannya Feli ini sudah terkenal loh jeng. Kapan-kapan boleh lah di coba, iya kan Fel?" Ujar Bu Weni mengakrabkan diri dengan Mama. Membuat Feli yang namanya di puji itu, kini tersenyum anggun.
" Silahkan dilanjut, kami mohon permisi kesana dulu ya!" Pamit Raka dan Galuh kepada mereka sebab memiliki minat lain, yakni bergabung dengan rombongan Dananjaya yang terlihat cekikikan bersama para pria hebat pada masanya itu.
Jonathan mengangguk sopan kepada Raka, " Silahkan Pak!"
Bu Yanti yang merasa tak mengenali orang itu juga memilih pergi membawa Danuja berjalan agar tak rewel. Membuat Lintang turut mengikuti arah langkah ibu angkatnya itu.
" Tenang, mereka pasti cuma ingin jalan-jalan!" Bisik Jodhi demi melihat keresahan istrinya. Lintang mengangguk. Bisa jadi, itu benar.
" Ah, mari- mari! Kita ngobrol di sebelah sini saja. Pak Iqbal, mari!" Ucap Bastian ramah kepada para orangtua dari pria yang memiliki posisi krusial dalam tubuh perusahaan Jodhi itu.
" Jadi Feli ini udah lama tinggal di luar negri?" Tanya Rania yang kini duduk satu meja dengan keluarga Jonathan.
" Lin, ayok aku antar ke sana, kamu harus standby disana kan sebentar lagi, tuh orang-orang sebagian udah pada selesai makan. Jo, yok lah!" Ucap Denok terlihat biasa saja meski isi hatinya mendadak gulana. Membuat ucapan Rania terseling barang sejenak.
Tak menggubris enaknya yang 'katanya' terkenal itu.
Jonathan meneguk ludahnya. Entah mengapa, bukannya turut larut dalam perbincangan bersama kedua orangtuanya, ia justru memperhatikan mimik muka Denok saat sibuk meraup gaun Lintang, yang mendadak terlihat tak bersahabat dengannya itu.
" Kenapa dia ketus sekali?"
" Kami tinggal dulu Pak Bu!" Pamit Jodhi sopan kepada kedua orangtua assiten handalnya itu.
" Sepertinya, kau dalam masalah Jon!" Bisik Jodhi mencibir seraya terkekeh manakala ia menepuk pundak pria itu, sesaat sebelum ia pergi. Membuat jakun Jonathan lagi-lagi naik turun dibuatnya.
" Sialan si bos!"
Jodhi yang sudah kawakan dalam urusan betina itu, jelas bisa dengan mudah menyimpulkan keterasingan yang mendadak tercipta, antar Denok dan Jonathan.
Ia tahu karena sudah lebih dulu mengalami π.
.
.
Denok
" Mbak Denok kenapa sih, kok jadi diem begitu?" Tanya Lintang yang kini duduk di pelaminan megah bersama Jodhi, dan bersiap menyambut para tamu.
" Lah gimana enggak diem, orang gak kenal. Ada-ada aja kamu ini!" Jawab Denok seraya membantu Lintang menata ekor gaun.
Membuat Jodhi mencibir dengan melakukan gerakan menyebikkan bibirnya.
" Buset dah Lin, kalau aku nanti kawin..., eh nikah lagi maksud aku, aku pingin pakai ****** ama kotang aja dah! Ngelihat elu begini , kok aku ngerasa ribet banget!" Gerutu Denok demi merasai gaun yang memang menjuntai panjang di bagian belakangnya.
__ADS_1
Membuat Jodhi makin tergelak, saat crew fotografer yang ada disana mendelik demi mendengar ucapan absurd Denok.
" Nah diam dah elu di sini sampai semua tamu nyalamin elu. Harap bersabar karena tamumu bukan sekedar tamu, mereka udah kayak buruh pabrik gudang garam yang baru ganti shif! Seabrek!!!" Denok masih bisa tergelak usai membantu Lintang merapikan gaunnya.
Membuat fotografer yang tengah sibuk memasang tripot itu geleng-geleng kepala.
" Lah, mbak Denok mau kemana memangnya?" Tanya Lintang lagu dengan wajah manyun. Baru juga ketemu.
" Mulutku kecut banget Lin, abis makan tadi belum sempet ngudud aku. Keburu- buru nyari kamu sih. Bentar aja ya. Aku tak keluar dulu, mumpung tamumu masih pada ngelek nasi tuh!"
" Astaga!" Tukang foto itu berastaga demi mendengar mulut lanyah wanita yang rambutnya sedikit biru dibagian dalamnya itu.
" Iki sopo eneh, koyok si Jojon ae. Astaga tok sabendino!" Gerutu Denok yang membuat Lintang tertawa.
Lintang mengangguk di sela-sela tertawanya. Membuat Denok seketika angkat kaki dari pelaminan itu.
Ia berjalan lurus dari sisi singgasana Jodhi dan Lintang, dan kini terlihat menuju ke arah pintu keluar dengan wajah songonnya.
Dalam perjalanannya, Denok juga masih bisa melihat keluarga Bastian yang nampak akrab dengan keluarga Jonathan. Saling berkelakar, dan saling menyahuti obrolan renyah.
Tersenyum kecut dalam hati.
Tentu saja mereka akrab. Mereka selevel, tidak seperti dirinya yang berasal dari lapisan terbawah kaum kusam.
" Apa yang kau pikirkan Nok? Sudah aku bilang, setelah salah dengan uang. Tidak ada disini!" Ucapnya dalam hati mensugesti diri agar tidak terlalu baper, demi merasakan situasi yang tiba-tiba menggerus rasa percayanya akan hal indah yang baru saja menyusupi kalbunya.
Cinta? Oh, that's is bullshiit!!
Namun, tanpa ia sadari, seorang pria terlihat berdalih dan nampak mengejar Denok, tanpa sepengetahuan dirinya.
.
.
Jonathan
Jonathan yang tadi terlihat sibuk mengangkat telepon dengan wajah keruh manakala Denok melihat, tak lain adalah karena ia kesal kepada sang mama, yang mendadak mengundang hadirkan Feli, tanpa seizinnya.
Naas, ia yang bahkan tak tahu jika Denok telah datang di acaranya Jodhi, seketika menjadi bingung dengan dirinya, yang takut kalau Denok salah paham.
Ini jelas salah. Klarifikasi hanya untuk orang yang salah bukan? Dan untuk hal ini, bukankah Denok bukan siapa-siapa untuknya?
Lantas, kenapa Jonathan musti sepanik itu?
" Bu Rania, mohon izin sebentar, saya mau menemui kepala keamanan, saya akan segera kembali!" Bohongnya manakala melihat Denok melintas, dan seperti hendak menuju ke arah luar.
Rania mengangguk, namun tidak dengan Feli.
" Jo!" Ucap Feli yang enggan di tinggal. Membuat para manusia yang duduk di meja itu saling bertukar pandang .
Namun, yang di panggil justru bergeming dan semakin memperpanjang langkahnya. Terlihat nampak terburu.
Jonathan bahkan sempat hampir menabrak beberapa pelayan, saking terburu-burunya dia, manakala mencari sosok yang membuatnya resah itu.
" Maaf!"
" Sory!"
Ucapnya kembali manakala hampir menabrak beberapa pelayan yang membawa nampan berisi gelas kosong. Benar-benar menegaskan jika pria itu tengah tidak tenang.
Jodhi terus mencari dan mencari dimana sosok absurd yang kerap membuatnya jengkel dan kesal itu.
Hingga akhirnya, ia menemukan wanita ceplas-ceplos itu duduk santai di sebuah sofa light blue, yang berada di dekat kolam yang ada di smoking area di lantai dasar hotel.
" Itu dia!"
TAP TAP TAP
Derap langkah kaki jenjang miliknya membuat Denok menoleh. Ada desiran aneh, manakala mereka kini bertukar pandang satu sama lain.
Semacam, rasa yang tak terdefinisikan, yang mengusik kalbu.
" Kenapa kau disini?" Ucapnya melipat kedua tangannya dari jarak beberapa meter. Menatap Denok yang asik menghisap tembakau bakar itu.
Denok mengerutkan kening, " Harusnya aku yang tanya kamu, kenakan kamu tiba-tiba disini? Bukannya lagu asik sama pacarmu!" Jawab Denok yang kini mengepulkan asap, dan membentuk pola bulat-bulat dari asap yang ia hisap.
Membuat Jonathan mati kutu karena tak tahu harus menjawab apa. Haish!!
Jonathan memajukan langkahnya, dan kini turut mendudukkan dirinya ke sofa yang berjarak satu meter dari sofa yang di duduki Denok.
" Kau bilang kau tidak datang. Tidak tahunya..."
__ADS_1
" Kenapa memangnya? " Lirik Denok tajam. Membuat Jonathan merasa aneh. Pasalnya, wanita itu sebelumnya tak pernah seperti itu.
" Ya, enggak kenapa-kenapa!"
" Ya udah!" Jawab Denok tidak mau ambil pusing. Lebih memilih menghisap dalam-dalam rokoknya yang terasa mantap.
" Naik apa kemari?"
"Naik Babon Celeng!"
( babi hutan)
Membuat Jonathan mendelik demi mendengar jawaban Denok yang ngawur.
" Aku tanya beneran loh!" Ucap Jonathan dengan wajah manyun.
Denok diam dan tak peduli. Meski agak konyol dan menggelitik, tentang mengapa ia bisa jealous terhadap Jonathan. Tapi Denok lega sebab bisa ketus ke laki-laki di sampingnya itu.
" Tadi itu teman aku!"
Suasana hening cenderung sunyi. Hanya terdengar sayup-sayup suara penyanyi wedding yang kini melantunkan lagu dari dalam.
Denok masih diam dengan tatapan lurus menerawang, sambil asik menghisap rokoknya dalam-dalam.
" Aku sama dia..."
" Gak usah bahas. Aku enggak tahu dan enggak mau tahu Jon. Itu urusanmu. Lagian, kenapa kamu ngejelasin ke aku? "
DEG
Benar juga, untuk apa Jonathan begitu ketakutan sekali? Macam orang yang kepergok selingkuh saja.
Astaga!
" Jo! " Sebuah suara menginterupsi obrolan dua insan yang baru saja dimulai itu.
Denok melirik manusia yang memakai dress dengan punggung terbuka, dan kini berjalan lenggak-lenggok itu dengan tatapan jengah.
" Tuh, pacarmu datang!" Ucap Denok menggerus batang rokok yang masih panjang, dan menandakan jika dirinya tengah gusar.
Membuat Jonathan seketika memejamkan matanya. Oh God!
" Jo, kok malah disini! Katanya nemuin kepala keamanan. Aku disana sendiri loh. Tante Weni sedang ngobrol dengan para orang tua, aku bosan!"
Denok terlihat menirukan ucapan wanita manja itu dengan mulut komat-kamit dan wajah menye-menye.
Membuat Felisha menatap Denok geram.
" Wedok'an nggatheli cok cok!" Ucap Denok seraya berdiri dan berniat angkat kaki dari tempat itu, sebab ketenangannya kini terusik oleh kedatangan dua manusia menyebalkan itu.
" Apa mbak bilang? " Tanya Feli yang kini meradang sebab di katai nggatheli oleh Denok.
" Ngerti bahasaku juga ni anak! Asem!"
" Kupingmu masih bener kan? Sory, aku bukan TVRI yang biasa menayangkan siaran ulang. Jadi, kalau enggak denger Yo wis. Dah lah, kalian lanjut aja. Jon, semoga langgeng ya!"
Jonathan tercenung saat tangan bercat kuku merah menyala itu menepuk pundaknya dengan senyum yang kecut.
Dari tatapan yang tersirat, sorot mata Denok terlihat kecewa dan entah mengapa membuat Jonathan kini dirundung rasa ketidaktenangan.
" Apa yang tejadi denganku?"
.
.
.
.
.
.
Kisah Denok dan Jonathan versi lengkapnya akan kita kupas di kamar mereka sendiri nanti ya.
Doakan mommy sehat - sehat ya, biar bisa melanjutkan kisah wanita gemblung tapi baik hati itu ya. Mommy juga doakan para pembacaku sekalian juga sehat, biar bisa terus baca hiburan receh buatanku πππ
Sekarang, mari kita sama-sama menanti part pemersatu umat Jodhi dan Lintang πππ
Salam cengar-cengir π€π€π€
__ADS_1
ππππ