Menjadi Ibu Untuk Anakmu

Menjadi Ibu Untuk Anakmu
Bab 146. Jelang pernikahan


__ADS_3

Bab 146. Jelang pernikahan


.


.


.


...🌺🌺🌺...


..........


...Kerinduan yang mendalam, terbitkan hasratku...


...Sambutlah tangan ini, terima janjiku...


...Rasakan cinta yang tulus lewat aliran darahmu...


...Menyatu seiring dalam kasih...


...Tak dapat kusangkali adanya dirimu...


...Yang s'lalu menaungi pikiran batinku...


...Ingin miliki hatimu, takkan pernah terlepaskan...


...Kupersembahkan semua padamu...


...Kau auraku, oh, pancarkan sepercik harapan...


...Datanglah merasuk, menjelma, meleburkan cinta...


...Kubawa kau terbang menembus awan yang beriring...


...Kembangkan senyuman bagai bunga bawa keindahan....


...(Ada band ~ Kau auraku)...


.


.


Jodhistira


Rupanya, mempersiapkan pernikahan itu tak seinstan dan tak segampang mengucapkan mantra sim salabim.


Walau sedikit ribet, namun dengan usaha keras yang di bantu kejelian Jonathan, Jodhi dan Lintang telah berada di ambang ketenangan, manakala semua persyaratan telah rampung di siapkan.


Ya, pria bujangan itu benar-benar dibuat sibuk demi kelancaran pernikahan bosnya.


Kini, tepat didalam kurun waktu sebulan sejak mereka memboyong Lintang, Danuja juga Bu Yanti. Segala persiapan makin jelas terbentang di depan mata.


" Kamu jadi fitting baju hari ini kan? Danuja mau mama bawa ke tempat spa bayi sama Bu Yanti. Kak Dhira sekalian mau ngajakin kita ke butik langganannya!"


Jodhi mengangguk saat Rania menemuinya di ruang keluarga. Ya, Jodhi pagi itu sudah siap dan berniat mengunjungi butik, yang kapanhari ia datangi, untuk menjajal pakaian pernikahan mereka.


" Jadi, pasti jadi. Lintang kayaknya juga lagi siap-siap di dalam. Aku sekalian mau ke tempatnya om Danan Ma. Cincin yang kemaren jadi, Lintang kurang suka. Terlalu glamor katanya!"


Rania tersenyum, " Istrimu memang hampir mirip sama Galuh. Enggak suka yang rempong!"


" Hah!" Rania menghembuskan nafasnya lega. Menatap putra sulungnya dengan tatapan haru. Cenderung bahagia.


" Mama enggak nyangka, akhirnya Mama sama Papa udah mau punya mantu Jo. Padahal, rasanya seperti baru kemarin kamu sering ngambek sama Mama. Semoga setelah ini, kamu selalu beruntung ya nak!"


Jodhi membungkuk demi memeluk tubuh mamanya yang setinggi bahunya. Merasa haru atas semua pencapaiannya saat ini. Ia teramat bahagia, di ujung perjuangannya yang nyaris saja ia hentikan itu.


Lintang yang melihat hal itu sesaat setelah keluar dari kamarnya, hanya bisa mematung. Ia tersenyum demi melihat ketulusan yang terpancar dari wajah seorang ibu, yang di peluk erat oleh anaknya.

__ADS_1


Akankah ia dan Danuja suatu saat juga seperti itu?


" Loh, kok pada jaga jarak? Lintang ?"


Bastian yang muncul dari arah dapur turut mengangetkan Lintang. Mengernyitkan keningnya demi melihat istri dan anaknya yang lagi-lagi menitikkan air mata.


" Lintang, Kamu udah siap?" Rania bertanya seraya mengusap sudut matanya yang basah. Agak terkejut sebab tak menyadari kehadiran calon menantunya itu.


" Udah Tante!" Jawab Lintang dengan suara lembut.


" Udah, jangan sedih-sedih lagi. Ini waktunya kita bahagia. Cepat pergi sana. Biar gak kecapek'an!" Ucap Bastian yang juga telah bersiap hendak bertemu dengan Abimanyu dan Wisang untuk membahas beberapa tamu undangan yang musti mereka undang dalam pesta pernikahan Jodhi dan Lintang.


.


.


" Kamu Kenapa?" Tanya Jodhi demi melihat Lintang yang terlihat bengong, bahkan sejak mereka keluar dari halaman rumahnya.


" Emmm, kamu sibuk enggak setelah ini?" Tanya Lintang sedikit ragu. Sebab dalam pikiran Lintang, tersimpan suatu hal.


Jodhi bahkan langsung menyalakan lampu sen lalu menepikan mobilnya, manakala melihat seraut serius yang di tunjukkan Lintang.


" Kamu sakit?" Tanya Jodhi resah saat tangan berototnya menarik hand brake.


Lintang menggeleng. " Enggak kok!" Jawab Lintang yang agak terkejut, manakala melihat Jodhi yang terlihat begitu mengkhawatirkan dirinya.


" Katakan, apa kau perlu sesuatu?" Tanya Jodhi serius. Ini kali pertamanya Lintang menanyakan hal itu, setelah selama ini hanya diam dan menurut.


Membuat wanita itu kini menatap Jodhi.


" Jika kau tidak sibuk. Aku ingin kau mengaturku ke makam Ayahku!"


DEG


Jodhi terbengong-bengong dan merutuki ketidaktahuannya itu. Astaga, harusnya dia yang menawari Lintang akan hal itu.


" Aku minta maaf, karena tidak kepikiran soal hal penting ini. Aku benar-benar minta maaf!" Ucap Jodhi yang takut Lintang salah paham.


" It's Ok. Kau sudah sibuk sendiri selama ini. Aku..."


" Sssst!! Sesibuk dan selelah apapun aku. Prioritas aku ya kamu. Maafkan aku karena tidak sampai berfikir ke arah sana!"


Kini, pandangan mereka bertemu dan mengisyaratkan cinta yang dalam. Jodhi teramat mencintai Lintang.


" Kita setelah dari tempat Om Danan nanti langsung ke makam ayah kamu!"


Lintang memejamkan matanya saat bibir hangat Jodhi mengecup mesra bibirnya, sesaat setelah mengutarakan hal itu.


Membuat Lintang begitu merasa di cintai.


" Kita jalan ya. Lain kali, kalau perlu apapun jangan sungkan. Aku ini calon suami kamu. Keinginan kamu merupakan suatu keutamaan buat aku, mengerti?"


Lintang mengangguk. Sosok yang dulu sangat ia takuti ini, kini bermetamorfosa menjadi sosok yang hangat dan penuh pengayoman.


Pelan namun pasti, Jodhi mulai bisa memberikan arti sesungguhnya sebagi laki-laki yang memang di butuhkan oleh Lintang.


Lintang tersenyum senang manakala pria itu mencium punggung tangannya berkali-kali. Merasa menjadi istimewa dalam waktu yang terus-terusan.


.


.


" Lin, saranku setelah menikah, kau harus sering-sering cek itu Jodhi punya ponsel. Kalau tidak.."


" Om!" Jodhi melirik tajam ke arah Danan yang mencoba menebar benih fitnahan itu. Sungguh sialan!


Danan terkikik geli manakala melihat ketakutan Jodhi yang kentara.

__ADS_1


Ya, usai menyelesaikan agenda fitting bajunya, dua sejoli itu kini telah berada di kediaman Danan guna mengambil sepasang cincin pesanan mereka.


" Kalau berani enggak apa-apa om. Saya masih tahu jalan pulang menuju Kota S!" Sahut Lintang yang kini mulai mau berkelakar.


" Om siap jadi ojek kamu kalau dia berani pecicilan!" Jawab Danan yang tersenyum puas manakala Jodhi kini mendengus


" Ini bukannya ngajarin yang baik, malah begitu!" Shinta yang datang membawa beberapa cemilan serta minuman dingin menjewer telinga bapak dari anak-anaknya itu, menggunakan sebelah tangannya.


Membuat Jodhi tekrikik-kikik.


" Aduh Mama! Nurunin kualitas papa aja deh!" Jawab Danan memberengut sembari mengusap kupingnya yang terasa ngilu.


" Jangan di dengerin nak. Om Danan emang suka ngebanyol. Jodhi anak yang baik. Tante doakan kalian langgeng!"


Shinta mengusap punggung Lintang yang masih nampak malu-malu dengan teman dari mertuanya itu.


Sungguh, Lintang merasa beruntung berasa diantara para manusia baik dengan versinya masing-masing itu.


.


.


Kacamata hitam kini bertengger manis diatas hidung manis Jodhi, yang sudah berada di antara hamparan gundukan, yang di dalamnya berisikan jasad para manusia itu.


Tekun menggandeng tangan Lintang yang berjalan ke sisi paling tepi, dari areal pemakaman umum yang luas itu.


Angin genit terlihat membuat rambut Jodhi dan Lintang menari-nari bebas. Membawa serta kerinduan yang mendalam, akan sosok yang telah tiada itu.


Jodhi menelan ludahnya demi melihat keadaan makam yang agak tak terawat. Ia kini turut berjongkok sembari mengikuti gerak Lintang kala mencabut rumput liar di pusara Ayahnya.


Berjanji dalam hati setelah ini akan memerintahkan anak buahnya untuk mengurus makan mendiang calon mertuanya.


" Maaf Lintang baru bisa datang Pak!"


Lagi, Jodhi yang berada di sebelah Lintang berdiam diri dengan perasaan yang mendadak sesak, manakala mendengar suara yang mulai parau itu.


" Ini Jodhi. Ayah dari cucumu!"


Lintang menitikkan air matanya kala terus mengucapkan hal itu. Sedikit merasa sedih sebab makam Ibu dan Ayahnya terpisah jarak yang jauh.


Jodhi yang di perkenalkan oleh Lintang seketika merasakan jalaran rasa hangat, yang perlahan melingkupi hatinya.


" Pekan depan Lintang mau menikah Pak. Andai bapak masih ada. Pasti bapak yang jadi wali buat nikahan Lintang!"


Jakun Jodhi tak hentinya naik turun, manakala mendengar kalimat mengharukan itu. Sebuah kenyataan yang menggerus ketegaran nuraninya.


" Doakan Lintang dari sana Pak!"


.


.


.


.


.


.


.


Readers, tolong jangan ada yang merasa jika mommy sekarang lelet dalam up ya. 😁


Bulan Agustus merupakan bulan timbang dan pemberian vitamin A serta vaksinasi Rubela bagi semua balita. Dan mommy di dunia nyata kebagian riweh ngurusin posyandu. Jadi, akhir-akhir ini juga sibuk ngurusin data balita yang sempat tertunggak karena ke- lazy an rekan Mommy yang terdahulu.


Sungguh, semua ini bukanlah unsur. kesengajaan. Perlahan tapi pasti, mommy akan menyelesaikan bab- bab akhir jelang karya ini Tamat.

__ADS_1


Love u so much😘


__ADS_2