
Bab 92. Kebenaran tetap harus di kabarkan
.
.
.
...πΊπΊπΊ...
Manusia bahagia
Pasangan Raka dan Galuh menjalani hari-harinya dengan begitu bahagia. Kini, mereka memetik buah kesabaran serta keikhlasan yang selama ini mereka lakukan.
Ya benar, Tuhan memang bagi siapa saja. Sebab apa yang kita perbuat, pasti akan kembali kepada diri kita.
Sesaat setelah Jodhi dan dua sejoli yang selalu ribut itu enyah dari hadapan mereka berdua, Raka memutuskan untuk menjemput princessnya malam detik itu juga.
Citra dan Mama Dhira juga tak tahu bila mereka berdua pulang hari ini. Raka yang malam itu mengendarai sendiri kuda besinya bersama Galuh, kini terlihat tak sabar sebab sangat rindu kepada Citra.
BI Yuni. Perempuan yang loyal dengan keluarga orang tuanya sejak ia masih belia itu, kaget manakala melihat mereka berdua yang berdiri di ambang pintu. Sama sekali tak mengira jika yang memencet bel malam itu, merupakan anak sulung majikannya.
" Ya Allah Nyonya, Tuan! Den Raka datang!"
Suara melengking milik Bik Yuni membuat Citra seketika melesat dari pangkuan Opa Abimanyu yang malam itu menemaninya menonton serial kartun dengan tokoh bocah kembar pelontos.
" Ayah!!!" Citra berlari dan membuat Dhira serta suaminya terkaget. Kalyna yang asik dengan ponselnya kini mendongak saat keponakannya melesat keluar.
" Ayah, Ibu!!!" Citra spontan memeluk Galuh dan Raka secara erat. Membuat dua manusia dewasa itu kini berjongkok demi menyamakan tinggi Citra.
Galuh sebenarnya kaget, bukankah kemarin Citra memintanya untuk di panggil Bunda? Namun, melihat Citra yang saat ini menangis, membuat pikiran Galuh memudar.
" Loh anak Ayah kok nangis?" Tanya Raka dengan wajah muram sembari mengusap kristal bening di pipi anaknya.
" Enggak enak ditinggal nyari adik ternyata! Citra mau sama ayah sama Ibu!"
Raka tersentak, ia sepertinya tadi tidak mendengar waktu Citra menyebut Galuh dengan sebutan Ibu.
" Gak jadi manggil Bunda?" Tanya Raka lirih menatap wajah murung Citra.
Citra menggeleng. " Aku pernah punya Ibu, dan Ibu pergi. Dan sekarang, Citra mau panggil Bu Galuh Ibu!" Citra rupanya tak mau membedakan antara Ibu dulu dengan Galuh saat ini.
" Ibu jangan marah ya kalau Citra kemaren manggil dengan sebutan lain." Rupanya Citra takut Galuh tersinggung. Padahal, mau di sebut apapun, makana seorang Ibu tidak akan berkurang sama sekali.
Ia tetaplah menjadi mahluk mulia, dengan segala ketulusan yang sudah pasti melekat pada dirinya.
" Mau di panggil apa aja, Bu Galuh udah jadi orang tuanya Citra. Sini, Ibu kangen banget sama Citra?" Galuh memeluk tubuh mungil itu dengan erat.
Membuat Dhira dan Abimanyu serta Kalyna yang kini menyusul mereka, turut merasakan haru.
__ADS_1
" Ayah?" Tanya Citra mendadak setelah melonggarkan pelukannya kepada Ibu barunyam
" Ya?" Jawab Raka dengan kedua alis yang dinaikkan.
" Mana adiknya, kok enggak ada? Kata Oma Ayah sama Ibu kan pergi nyari adik!" Ucap Citra polos seraya melipat kedua tangannya dan mendakwa sinis ayahnya.
Membuat Raka melebarkan matanya dan lehernya mendadak seolah tersedak ludahnya sendiri.
.
.
...πΊπΊπΊ...
Jodhistira
Angin genit yang berasal dari AC membelai kulit seorang pria yang kini meneguk sloki demi sloki banyu setan di tempat dengan musik yang seolah membuat jebol kendang telinganya itu.
Adalah Jodhi, pria nestapa itu kini setengah mati berusaha menghalau rasa dan pikirannya terhadap Lintang, namun daya serta upaya nya sia-sia belaka.
Wajah wanita itu, terus menghantui kemana geraknya dalam meniti hari.
Malam ini ia yang sumpek ,manakala melihat Dafa dan Gita yang terus saja bertengkar karena merebutkan sebuah tripod untuk pembuatan konten mereka, kini memilih pergi ke sebuah bar.
Ia tak ingin bersenggama dengan siapapun malam ini, ia bahkan sudah menolak beberapa perempuan bertubuh molek yang menggodanya, ia hanya ingin sedikit rasa pusing dari air sulingan anggur itu.
Sejenak, ia teringat kepada Zaky. Pria gemuk itu pasti tahu soal Lintang. Mungkin belum terlambat baginya untuk memaksa pria itu kembali. Jodhi seketika menelan air dalam cawan terakhirnya dengan perasaan gusar.
Pria itu masih ingat betul lokasi cafe plus-plus tempat dimana ia menjumpai Lintang malam itu.
" Aku sudah mengatakan yang jujur padamu brengsek!" Ucap Zaky yang kini ketakutan karena Jodhi membenturkan tubuhnya ke dinding ruangannya yang berbau alkohol.
Ya, Jodhi dengan segala kuasa dan uang yang ia miliki sudah pasti bisa menembus benteng pertahanan Zaky yang menurutnya tak seberapa itu.
" Elu pikir gue percaya, ngaku lu!" Jodhi rupanya datang membawa senjata legal yang ia miliki. Membuat Zaky kini ketakutan.
" Gue enggak main-main sialan!"
KLAK
KLEK
Zaky mendelik dengan perasaan yang sangat ketakutan demi mendengar suara senjata yang terkokang. Pria itu masih sama saja pikirnya.
" Oke-oke, tapi elu tolong turunin dulu senjata itu!" Ucap Zaky dengan wajah takut.
Jodhi selama ini sebenarnya tak tinggal diam. Telah berbagai tempat ia datangi manakala orang suruhannya menemukan setitik kabar, namun sia-sia. Tempat itu selalu saja kosong, saat ia datang untuk menggeledah.
Belakangan ini, ia yakin jika Zaky pasti menipu dirinya dan memberikan keterangan palsu.
__ADS_1
.
.
" Apa?" Ucap Jodhi terkejut demi mendengar semua penuturan Zaky. Penuturan sarat fakta yang benar-benar mencengangkan.
Ya, Zaky menceritakan asal muasal ia bertemu dengan Lintang alias Melati. Hingga alasan lintang yang terpaksa bekerja di tempat itu. Membuat Jodhi berada di titik penyesalan yang paling dalam.
" Ibunya sakit komplikasi, kanker payudara dan stroke. Ia bekerja di sini tapi tak sekalipun seseorang bisa menidurinya, justru kaulah yang telah memakannya malam itu!"
" Gue kasihan, lagipula cari kerja disini itu susah. Untuk biaya ibunya kemo saja elu pasti udah tahu berapa duit yang mesti dikeluarin Melati!"
" Jujur, gue sebenernya benci banget sama elu. Gara-gara elu, nasib Lintang makin enggak jelas!"
Jodhi seketika menatap sengit ke arah Zaky yang memang berbicara kebenaran itu.
" Lalu kenapa kau malam itu menipuku, aku sudah datang ke alamat yang kau berikan tapi kenapa malah justru wanita tua yang keluar!" Ucap Jodhi yang masih menatap bengis ke arah Zaky yang kini lebih meluap-luap.
" Itu Ibunya anjing!" Teriak Zaky diujung kekesalannya.
DEG
" Apa? Jadi sebenarnya hari itu Lintang di dalam? Oh astaga!" Sesal dalam hati yang sudah tiada berguna lagi.
" Lintang tak mau menemui mu karena dia takut dan trauma akan perlakuanmu. Keesokannya, ia datang kepadaku dan langsung mengundurkan diri, dan aku sekarang tidak tahu sama sekali keberadaannya. Sungguh aku tidak tahu sialan!" Ucap Zaky yang benar-benar jengah dengan Jodhi.
Jodhi menjambak rambutnya frustasi." Apa yang aku lakukan?" Gumam Jodhi di batas penyesalannya yang tiada bertepi.
Ia yang awalnya menuduh Lintang menjual dirinya seketika tersulut kemarahan, sama sekali tak mengira jika selama ini kehidupan wanita yang ia sukai itu benar-benar sulit.
Zaky terlihat mengatur napasnya sebab ia benar-benar emosi. " Maafin gue Lin. Gue enggak bisa jaga rahasia elu sama pria brengsek ini!" Ucap Zaky dalam hati. Pria itu terlihat sesekali menyusut sudut matanya karena menangis.
" Maafkan aku Lin, maafkan aku!" Lirih Jodhi yang kini menitikkan air matanya. Sesal benar-benar menghujam relung hati terdalamnya.
" Ya Tuhan, beri aku kesempatan menebus kesalahanku!"
.
.
.
.
.
Lagi masak apa buebo, gulainya udah matang apa belum. Makan gulai sambil kasih like dan komentar ke karya mommy yukπππ.
Mohon maaf lahir batin semuanya πππ
__ADS_1