Menjadi Ibu Untuk Anakmu

Menjadi Ibu Untuk Anakmu
Bab 53. Puing kesedihan


__ADS_3

Bab 53. Puing kesedihan


.


.


.


...🌺🌺🌺...


Dewi


Seperti udara yang tak pernah diam, selalu beranjak setiap saat, wanita itu tiada hentinya menebar jala kebencian yang sewaktu-waktu bisa saja membuat Raka terperangkap.


Aroma luka yang ia tebar, jelas membuat Anom merasakan cemas. Bagiamanapun juga, janji dalam atmanya benar-benar melebihi harga dirinya sendiri.


" Tolong jangan seperti ini!" Pria datar itu meraih cawan yang sudah Dewi pegang. Membuat Dewi menatap tajam Anom yang masih sama datarnya dengan hari-hari biasanya.


" Berikan!" Dewi menaikkan oktaf suaranya. Merasa marah tiap Anom terlalu jauh dalam mencampuri urusannya.


Anom bergeming dan sama sekali tidak mendengar Dewi, ia hanya tekun membereskan botol minuman yang hendak di tenggak oleh Dewi. Entah mengapa pria itu seolah terbakar api kemarahan demi mengingat Dewi yang semalam bercumbu dengan Jodhi.


" Anom jaga batasanmu, kau sudah mulai melawanku sekarang!"


Ya... Dewi selalu tidak tahan tiap usai mengunjungi ibunya. Perasaan marah yang kian membuncah, makin membuat dirinya tak bisa lagi menahan diri.


Dan pagi itu, usai ia memberikan suntikan obat penenang untuk ibunya, hatinya yang sesak menyeret langkahnya menuju ruang kerja miliknya yang menyimpan banyak sekali minuman beralkohol.


Dengan sekali angkatan, pria datar itu mengangkat tubuh Dewi dan hendak membawa wanita itu ke tempat lain. Ruangan kerja yang penuh dengan alkohol ini sangat tidak baik menurutnya.


" Turunkan aku! Anom!" Dewi yang dalam posisi diatas bahu kekar Anom, kini terus memukuli punggung lebar pria itu. " Turunkan aku brengsek!!" Dewi memberontak seraya terus memukuli punggung pria itu.


Anom masih diam dengan langkah tegas. " Kunci pintunya!" Ucap Anom kepada Lukas, seorang pria patuh baya penjaga rumah besar itu. Menatap Anom dengan tatapan ketakutan.


PLAK!!?!


Dewi yang tengah dirundung rasa marah akibat sikap Anom yang menurutnya telah membangkang itu, kini melayangkan tamparan yang sangat keras sesaat setelah Anom menurunkannya ke sebuah kamar pribadi milik Dewi.


" Beraninya kau!" Dewi dengan napas memburu dan mata memerah, Dewi menatap Anom yang juga menatapnya sendu. Pria itu terlihat mengeraskan rahangnya demi menahan diri.


" Lakukan apapun yang kamu mau, tapi tolong jangan menyakiti dirimu sendiri!" Anom berbicara dengan suara bergetar dan menyiratkan tatapan penuh makna. Kesedihan, kekecewaan, ketidakberdayaan.


Tatapan yang selalu menyiratkan ketulusan meski selalunya, tiada pernah Dewi sadari.

__ADS_1


Pria itu terlihat mengusap wajahnya sesaat setelah memalingkan wajahnya lalu berjalan dengan langkah tegap. Meninggalkan Dewi yang kini membulatkan matanya atas apa yang baru saja ia lihat.


Apa Anom menangis?


.


.


Anom


Usianya 30 tahun akhir bulan ini, usia yang sama dengan umur Raka di tahun ini. Pria itu berketurunan Jepang Indo. Sebab dari wajahnya, terpahat sepasang mata sipit dan alis tebal. Wajah rupawan, dengan rahang tegas dan cenderung datar.


Ia dulu merupakan anggota pasukan khusus yang tak mengurangi akan dikhianati oleh corpsnya sendiri. Hidup yatim piatu dan berasal dari panti asuhan, yang beruntung karena di adopsi oleh keluarga kaya raya dan akhirnya bisa menyekolahkan dia hingga ke jenjang yang tinggi.


Ia tidak tahu, siapa orang tua kandungnya. Karena dari catatan rekam jejak masa lalu yang ada, ia di temukan saat dirinya menahan perih di perutnya, dan nyaris saja mati bagai anjing liar oleh seorang manusia yang memanusiakan dirinya.


Seorang petugas dari dinas sosial kemudian menyerahkan Anom kecil yang malang ke panti asuhan yang di kelola pemerintah. Ia akhirnya tumbuh dibawah naungan kasih sayang panti.


Nyatanya, hidup di lingkungan orang kaya tak serta merta membuatnya hidup senang dan tenang. Usai membantai ayah dan ibu angkatnya, adik dari pihak papa angkatnya yang silau akan harta kekayaan itu, rupanya mengincar dirinya pula.


Pria blasteran itu tahu, jika semua harta kekayaan pasangan mandul itu akan dilimpahkan kepadanya. Ia difitnah dan nyaris terbunuh saat operasi penyerbuan mafia kelas kakap yang tengah mereka jalankan.


Propaganda, kolusi dan praktik-praktik menyeleweng lainnya, nyatanya masih ada dan menjadi jalan hidup bagi segelintir oknum biadab yang rakus akan kuasa dan kekayaan.


Manusia biadab!


Ia yang suatu malam itu, penuh dengan luka dan nyaris meregang nyawa, tanpa sengaja ambruk di depan mobil seorang wanita cantik yang baru saja pulang bekerja.


" Tolong..a...ku!" Lirih Anom dengan tubuh yang remuk redam. Ia berhasil kabur dengan susah payah, saat sekelompok orang memburunya atas perintah A-kiong. Adik sepupu dari papa angkatnya.


Membuat wanita cantik itu membulatkan matanya.


Keesokan paginya, ia yang mulai membuka membuka matanya dan telah berbaring diatas ranjang empuk, dengan seprei putih bersih itu merasa pusing sekali. Sebuah perban membebat tubuhnya di sana-sini, membuat ia sadar jika seseorang pasti telah menolongnya.


" Kau sudah bangun?" Seorang wanita datang dengan sebuah mangkuk transparan besar berisikan air hangat yang sudah di campur dengan larutan anti septik.


Dia menolongku?


Ia mengangguk canggung seraya berusaha membenarkan posisi duduknya dengan meringis karena kesakitan.


Dewi terlihat memeras kain yang sudah ia celupkan kedalam air hangat itu. Berniat menyeka tubuh Anom yang penuh luka.


" Siapa kau sebenarnya, mengapa penuh luka seperti ini?" Dewi bertanya dengan wajah datar , sembari dengan telaten mengompres luka demi luka yang terpahat di tubuh Anom.

__ADS_1


" Auhww!, sshhhh!" Anom meringis saat luka sayatan di lengannya terkena gosokan lap itu.


" Maaf, aku akan pelan!" Ucap Dewi yang merasa mungkin sedikit kasar.


Anom masih diam, lekat menatap wajah wanita asing cantik yang kini merawat dirinya. Sekujur tubuhnya penuh dengan luka, pun dengan punggungnya. Tapi wanita itu sama sekali tak merasa jijik saat merawatnya.


" Tunggu dulu, jangan-jangan kau!" Dewi mendadak terkejut dan takut demi melihat luka sayatan yang begitu banyak di punggung kekar pria itu. Takut kalau-kalau dia adalah pria jahat.


" Jangan takut...aku...."


Dewi tertegun demi mendengar sepenggal cerita yang membuat ia tergugu. Sama sekali tak mengira jika kisah hidup pria itu nyaris sama dengan dirinya.


" Lihat ini, jika ucapanku masih membuatmu ragu!" Ucap Anom menunjukkan tanda keanggotaan dirinya sebagai pasukan khusus. Membuat Dewi terkejut.


Hari demi hari berlalu, atas dasar rasa kasihan Dewi mengijinkan Anom tinggal di apartemennya. Mengirimkannya makanan dan juga obat-obatan.


Dan dari semua perlakuan baik itu, membuat Anom sungkan.


Hingga suatu saat, Anom yang sudah merasa pulih, hendak pergi dari tempat itu. Ia ingin menjalani hidupnya lagi, meski ia tahu, dunia telah mengkhianati dirinya. Lagipula, menumpang terus menerus itu tidaklah nyaman.


" Aku pamit, aku berhutang budi padamu. Aku akan membalasnya suatu saat nant!" Ucap Anom dengan wajah datarnya, yang kini sudah menyambar tas punggungnya.


Dewi tak menjawab namun kini berjalan mendekat ke arah Anom. " Bekerjalah untukku!" Ucap Dewi menatap manik mata Anom dengan lekat.


" Dengan rekam jejak yang kau miliki, aku yakin kau bisa menjagaku baik. Bagiamana, kau setuju?"


Dan sejak saat itu, semua identitas Anom ia buat baru, pun dengan tampilan pria itu yang kini terlihat datar dan sama sekali jarang berbicara. Semua itu merupakan representasi dari kekecewaannya kepada dunia.


Dan dari semua kilas balik itu, membuat Anom menangis seorang diri. Ia tahu semua niat dan rencana Dewi yang ingin membalas dendam kepada keluarga yang dulu pernah meninggalkan wanita itu.


Namun sungguh, entah mengapa ia tidak tahan jika melihat Dewi menyiksa dirinya sendiri. Bagaimanapun juga, seburuk apapun Dewi dimata orang, wanita itu tetaplah Dewi penolong untuknya yang pernah nestapa.


Terlebih lagi, entah mengapa Anom merasa tidak terima, manakala wanita itu menggunakan cara yang semakin membuatnya sakit hati manakala melihat Dewi dekat dengan Raka maupun Jodhi.


Apakah ada yang salah dengan dirinya?


.


.


.


.

__ADS_1


To be continued...


__ADS_2