Menjadi Ibu Untuk Anakmu

Menjadi Ibu Untuk Anakmu
Bab 64. Sebuah petaka


__ADS_3

Bab 64. Sebuah petaka


.


.


.


...🌺🌺🌺...


Jodhi


Ia sebenarnya diminta datang tadi malam, namun ia meminta wanita itu untuk menunggunya hari ini. Ia semalam lelah karena di hari pertamanya mengurus urusan pekerjaan kantornya, ia sudah di bombardir hal-hal yang membuat otaknya pusing.


Ia berniat membongkar kelicikan Dewi hari ini juga, ia selama ini diam karena mengikuti arah permainan wanita itu. Dan hari ini, ia berniat menyudahinya.


Ia bertemu di sebuah hotel yang sudah wanita itu infokan kepadanya, ia yang melihat Dewi di kawal seorang pria kemanapun wanita itu pergi, membuatnya perlu mawas diri kali ini.


Pria itu terlihat menaiki lift menuju lantai 20 ke kamar 211. Sejak Jodhi melihat Citra yang senang dengan kehadiran Galuh, pria itu sudah membuat keputusan untuk menyingkirkan Dewi. Dengan caranya pastinya.


" Aku sudah di depan!" Ucapnya melalui sambungan telepon dengan wajah datar.


CEKLEK


Ia terkejut demi melihat Dewi yang masih berpakaian rapih, ia agak heran sebenarnya. Wanita itu memintanya datang pasti untuk urusan lendir kan? Tapi, mengapa wanita itu malam siang ini terlihat berbeda.


" Maaf semalam aku tidak bisa...!"


" It's okay!" Jawab Dewi langsung menyahuti seraya menutup kembali pintu kamar hotel itu dengan gaya sensasional.


" Apa kau tidak merindukanku?" Jawab Dewi yang langsung membuka kancing Jodhi satu persatu, saat pria itu masih berdiri di jarak beberapa centi dari pintu hotel itu.


Jodhi menatap lekat-lekat wajah Dewi yang kini semakin membuatnya teringat akan wajah seseorang. Bayangan wajah anak kecil yang samar seakan membuatnya teringat sesuatu.


Jodhi masih diam saat Dewi dengan cepatnya membuka kemeja Jodhi dan kini terlihat menyusuri dada pria itu. " Hidup hanya tentang kenikmatan..bukan begitu sayang?" Ucap Dewi ironis.


" Kau dulu bahkan pernah membentakku saat aku merengek meminta makan saat di meja makan bersamamu!" Dewi berucap dalam hati saat dirinya masih tekun menyusuri otot perut Jodhi yang memang menggiurkan.


Jodhi mengerutkan keningnya, saat Dewi tersenyum, ia semakin teringat dengan wajah dari kilasan masa lalunya. Tapi siapa?


Jodhi dengan sigap mendorong Dewi dan kini mengungkungnya dengan tatapan tajam. " Siapa kau sebenarnya, hah?" Jodhi menatap Dewi yang kini berada di bawahnya dengan tatapan penuh ketidaksabaran.


Dewi tersenyum licik, " Aku? Sudah aku katakan, aku adalah wanita yang memerlukan kenikmatan dari pria jantan dan terhormat sepertimu!" Jawab Dewi masih dengan senyuman licik.


" Bersiaplah untuk menerima pembalasan dariku pria sombong!"


" Katakan siapa kau sebenarnya?" Jodhi berteriak tepat di wajah Dewi yang sama sekali tidak ketakutan itu.


Dewi tertawa mengerikan, " Sepertinya kau memang lebih pintar dari pada kakakmu yang bodoh itu, adikku yang tampan!"


DEG


Jodhi melebarkan matanya manakala wanita itu menyebutnya dengan kata ' Adikku!' Dewi tiba-tiba merusak make up-nya sendiri, wanita juga mendadak merobek pakainya sendiri dan sejurus kemudian memukuli serta mencakar wajahnya sendiri.

__ADS_1


Membuat Jodhi membulatkan matanya.


" Apa yang kau lakukan?" Tanya Jodhi yang masih larut dengan pemikirannya. Pikiran Jodhi mendadak buntu.


" Apa kau sudah gila, apa yang kau lakukan!" Ucap Jodhi seraya berusaha menghentikan Dewi yang gencar memukul serta menyakiti dirinya sendiri.


" Lepas!" Teriak Dewi sembari melirik ke arah jam.


" Katakan siapa kau sebenarnya! Dan kenapa wajahmu tidak asing buatku!" Jodhi masih berusaha mencekal Dewi yang tiba-tiba menyakiti dirinya sendiri. Wanita itu bahkan telah merobek pakaiannya sendiri dengan keadaan rambut yang amburadul.


BRAK!!


" Jodhi!! Apa yang kau lakukan!"


Teriak seseorang yang kini menjeblak paksa pintu kamar hotel itu. Membuat Jodhi terkejut bukan main.


" Raka?"


.


.


Raka


Wajahnya sumringah sekali sejak semalam. Ia benar-benar merasa moodnya baik usai bersilaturahmi bibir ke pipi Galuh tanpa sengaja. Hihihi.


Pagi ini ia bahkan berniat berpura-pura masih sakit , agar Galuh mau memperhatikan dirinya lagi. Ya...ia pagi ini tidak masuk ke kantor dan melimpahkan segala urusannya kepada Niko.


Namun, sebuah berita yang ia dengar melalui sambungan sebuah telepon mendadak mengejutkannya.


" Dewi? Hallo Wi!!"


Jantung Raka sekaan berhenti berdetak manakala ia mendengar suara Dewi yang berada di bawah ancaman seorang pria.


Oh sial!


Tanpa menunggu lagi, ia segera melesat menuju parkiran dan berniat menyelamatkan Dewi.


Pria itu bahkan mengabaikan Galuh yang pagi ini datang dengan menyapanya. Membuat wanita itu mengerutkan keningnya karena mendapati Raka masih berada dirumahnya di jam seperti saat ini.


" Kenapa terburu-buru sekali?" Gumam Galuh yang melihat Raka bermanuver kasar. Galuh pagi ini sengaja datang pagi karena ingin ikut Pak Jan menjemput Citra ke sekolah.


Raka melesatkan kendaraannya dengan tanpa mempedulikan apapun. Ia bahkan menerobos lampu merah dan mendapatkan sumpah serapah dari pengendara yang berlawanan arah.


Sesampainya di hotel yang di infokan oleh Dewi, pria itu segera melesat terlebih dahulu menuju meja resepsionis, " Kamar 211 saya barusan mendapatkan telepon jika teman saya mengalami...." Ucap Raka sembari menunjukkan kartu namanya dan membeberkan maksud kedatangannya.


Membuat petugas itu tahu maksud Raka dan ketakutan sebab Raka bukankah orang biasa.


" Kamar 211 atas nama Jodhistira Mavendra!"


DEG


Mata Raka membulat, apa-apaan ini? Mengapa Jodhi?

__ADS_1


" Saya minta security untuk ikut saya, teman saya dalam bahaya!"


Secepat kilat ia kini menuju lift dan di temani dua orang petugas keamanan disana. Raka bahkan tak mempedulikan lagi perutnya yang nyeri sebab ia belum mengisi apapun pagi ini.


" Buka!" Ucap Raka kepada security yang memegang chard lock second, dan pintu itu langsung ia buka dengan kasarnya.


BRAK!!!


Mata Raka membulat sempurna begitu melihat Jodhi yang bertelanjang dada telah mengunkung Dewi yang pakaiannya telah koyak.


" Jodhi!! Apa yang kau lakukan!" Teriaknya dengan amarah yang memuncak demi melihat Jodhi yang mengungkung Dewi yang keadaannya sudah sangat memprihatinkan.


" Raka?"


BUG


Tanpa basa-basi Raka seketika memukul wajah Jodhi dengan keramahan yang luar biasa. " Gue tau elu bajingan , tapi gue gak nyangka elu tega sama gue Jo!"


BUG


Dewi seketika beringsut dan tersenyum puas demi melihat dua bersaudara itu kini berkelahi, ia puas sekali dengan apa yang terjadi saat ini.


" Ka dengerin due dulu, gue dijebak!" Jodhi masih berusaha menghindar saat lengan yang terlihat mengetat itu telah melayang di udara.


Membuat Dewi tersenyum licik.


BUG


" Raka berhenti Ka!" Ucap Dewi yang kini menarik kemeja Raka dan berhasil membuat pria itu berhenti menyerang Jodhi.


Jodhi menatap geram ke arah wanita itu. " Wanita sundal, beraninya kau menjebakku!" Teriak Jodhi yang berniat menyerang Dewi.


" Singkirkan tangan kotormu!" Maki Raka kepada adiknya. Ia benar-benar kecewa dengan Jodhi yang tega melakukan ini kepada Dewi.


" Ka, tolong dengerin gue, gue di jebak!" Jodhi menatap murung wajah kakaknya dengan bibir yang berdenyut akibat hantaman Raka yang kuat.


Raka tersenyum kecut, " Jadi ini alasan elu ngingetin gue buat ngejauhin Dewi? Karena elu tertrik sama dia? Iya???" Dengan napas yang memburu sebab dadanya bergemuruh, Raka menunjuk wajah Jodhi penuh kebencian.


Jodhi menatap tak percaya ke arah Raka, " Ka gue di jebak, elu bisa ngecek ke resepsionis kalau elu enggak percaya!"


Raka tersenyum kecut " Cukup Jo, dari dulu elu emang enggak mau berubah, ayo kita pergi Wi!"


Raka melingkupi Dewi dengan jaket yang ia kenakan, pria itu sejurus kemudian merengkuh tubuh Dewi lalu mengajaknya berjalan. Meninggalkan Jodhi yang kini mengeraskan rahangnya.


.


.


.


.


To be continued...

__ADS_1


.


__ADS_2