Menjadi Ibu Untuk Anakmu

Menjadi Ibu Untuk Anakmu
Bab 101. Kejang


__ADS_3

Bab 101.Kejang


.


.


.


...🌺🌺🌺...


Jodhistira


Ia bersama Jonathan kini tengah berkutat dengan seabrek berkas , yang musti mereka bawa menuju kota S besok. Inilah kelebihan Jodhi, pria itu mau terjun langsung dalam tiap pembaharuan pekerjaan perusahannya dan tak mau membebankan segala sesuatu secara berlebih kepada asistennya, Jonathan.


Ia tahu, di Nusantara ini sudah banyak perusahaan-perusahaan lain yang memproduksi makanan ringan, minuman kopi dan teh dalam botol, bahkan air mineral. Namun, ia selalu memiliki ide cemerlang yang bisa mendongkrak kemajuan usahanya, tanpa harua membuat induk perusahaannya tersaingi.


Jodhi juga meminta Jonathan untuk menyaring tenaga kerja yang berkualitas, guna kemajuan perusahaan mereka. Sumber daya manusia yang mumpuni, akan bisa membawa inovasi yang menunjang keberhasilan suatu perusahaan, dalam bersaing di pasar bisnis.


" Pesawat kita akan take off besok sing Pak. Saya sudah siapkan tiket, dan juga hotel selama beberapa hari untuk kita tinggal di kota S!"


" Hm, minta semua manager dan kepala divisi untuk menyerahkan laporan mereka. Aku ingin melihat besok!"


Jonathan mengangguk paham.


Peluang. Satu kata itu yang selalu ada di otak Jodhi. Rupanya ia yang selama ini di kategorikan pria brengsek, nyatanya memiliki trik khusus untuk meramu brand baru.


Memadukan rasa yang digemari kaum milenial, pada tiap produk baru yang akan mereka produksi, merupakan salah satu inovasi yang bisa di jajal. Mereka juga bekerjasama dengan influencer dan konten kreator muda, dalam mempromosikan produk baru yang di hasilkan.


Ia telah berusia 31 tahun saat ini, waktu yang sebenarnya sudah sangat matang untuk membina rumah tangga. Namun, apa mau dikata, malang tak dapat di tolak dan untung tak dapat di raih. Separuh jiwanya melayang bersama sesal yang tiada bertepi.


Meski ia telah putus asa dan kini lekas bisa membuka hati untuk wanita lain, namun entah mengapa bayangan Lintang masih saja kerap menghantui pikirannya.


Dan waktu yang diucapkan oleh Nathan tiba juga, mereka kini telah bersiap di bandara untuk bertolak menuju kota S.


Tampan dan berwajah dingin. Itulah yang menjadi look Jodhi saat ini. Ia seperti kembali ke pribadinya belasan tahun lalu, kembali di masa dimana ia belum bertemu dengan sosok Raka sewaktu di Tunas Bangsa.


Pabrik besar telah di bangun dengan megahnya. Tentu saja dengan gelontoran dana yang tidaklah sedikit. Namun, bagi para pembisnis, itu merupakan hak yang biasa. Harus bermain ambil resiko, untuk keuntungan yang sebesar-besarnya.


Usai mengistirahatkan dirinya di hotel, sore itu ia terlihat tengah berada di sebuah bangunan besar, tempat dimana produksi barang yang melibatkan mesin-mesin besar itu, kini di geliati oleh para manusia yang bekerja untuknya.


Sejurus kemudian, ia kembali ke perusahaannya yang baru dibuka, untuk memeriksa beberapa laporan perdana anak buahnya.


" Maaf Pak, tadi Pak Jodhi memanggil saya?"


Tanya seorang pria dengan membungkuk sungkan. Pria yang mengepalai bagian marketing itu terlihat resah kala direktur yang baru dijumpainya itu, kini memanggil dirinya.


" Saya sudah baca laporan kamu, kamu sepertinya kurang berani mempromosikan barang kita. Hubungi tim bisnis TV, radio, anak-anak muda yang followers nya banyak, kau gandeng mereka biar produk kita cepat up, kalau begini caranya lama nanti!"


Jodhi barusaja membaca laporan dari beberapa divisi. Ia merasa kinerja anak buahnya di cabang kota S itu sudah baik, hanya perlu sedikit peningkatan di bidang marketing. Bagaimanapun juga, tim marketing merupakan ujung tombak pemasaran, agar produk yang mereka produksi laku keras di pasaran.


" Tapi, perusahaan Darmawan group milik Pak Leo prawira juga tengah launching brand yang sama Pak, kami..."


" Pekerjaan bisa ditiru, tapi rejeki enggak bisa ditiru. Pak Leo itu orang baik, dia teman Ayah Abi, udah lanjut aja. Nanti aku yang cover!"


Pria itu seketika mengangguk mantap, Jodhi merupakan pria yang cak cek jika sedang serius. Tapi jika sedang galau, jangan di tanya. Ia bahkan bisa menghabiskan berbotol- botol minuman hanya untuk menenangkan diri.

__ADS_1


Hingga saat sore menjelang, ia yang sore itu akan kembali ke hotel bersama Jonathan, di kejutkan dengan informasi jika ada salah satu pegawai pabrik mereka yang mengalami musibah. Jari tangan anak buah mereka ada yang patah saat kecelakaan kerja.


" Jonathan, minta pihak rumah sakit segera menangani orang kita, aku kesana setelah ini!"


Jodhi seketika turut mendatangi rumah sakit tempat dimana anak buahnya itu menjalani amputasi salah satu jarinya. Ya, inilah sisi Jodhi yang tidak terlalu kentara, ia merupakan sosok yang bertanggung jawab pada orang-orang yang bekerja untuknya.


Dan saat ia berjalan dengan tekun dan serius di samping Jonathan, dari lorong menuju ruang poli anak, tanpa sengaja ia terdorong oleh seseorang yang terburu-buru.


"Maaf permisi!"


Membuat tubuhnya terhuyung.


" Hey! An..."


Ucapan Jonathan menguap kala Jodhi mengangkat tangannya. Membuat Jonathan seketika diam.


" Biarkan, sepertinya keadaan darurat!" Ucap Jodhi yang masih menatap lekat hal itu.


Ia melihat seorang balita yang di geledek diatas brankar dengan tubuh kejang, dan di ikuti oleh seorang wanita berkulit gelap yang nampak panik. Wanita itu menangis dan terus menerus bergumam berdoa.


Jodhi yang tak sengaja menatap wajah pucat balita tadi, mendadak merasakan getaran aneh. Sesuatu yang janggal, sesuatu yang tak bisa ia definisikan, sesuatu yang menyiratkan jika antara dirinya dan balita itu memiliki frekuensi yang sama.


.


.


Lintang


Selama dua tahun terkahir ini, ia yang sudah memiliki identitas baru sebagai warga penduduk kota S menjalani harinya sebagai pedagang makanan dan minuman di trotoar dekat jalan raya bersama Danuja.


Lintang sudah mengurus segala bentuk administrasi kependudukan agar anak-nya itu memiliki akta dan juga bisa ia masukkan kedalam kartu keluarga, dimana Lintang sendirilah yang menjadi kepala keluarga.


Dalam akta kelahiran Danuja pun, hanya tertera nama satu orang tua. Nama Lintang seorang.


Usai berjualan siang itu, Danuja yang sebenarnya rewel sejak kemarin mendadak panas. Mau bagiamana lagi, Danuja harus ia asuh seorang diri meski ia bekerja. Tak jarang, ia mendapat tatapan kasihan dari para pembeli.


Wanita ayu itu kini tak lagi memusingkan soal keadaannya. Yang terpenting, kebutuhan Danuja bisa ia penuhi.


Yanti harus tetap memulung agar bisa membayar sewa kontrakan tiap bulan. Denok pun sama, wanita anti-hero itu musti berjibaku dengan lendir dan hentakan pria-pria bernafsuu ugal-ugalan, demi bisa mendapatkan lembaran rupiah.


Denok merupakan satu dari sekian orang yang sangat berjasa bagi Lintang. Wanita yang kerap di sebuah ***** oleh orang-orang itu, nyatanya adalah orang yang paling peduli dengan kondisinya setelah Yanti.


" Cup nak cup!" Dengan wajah panik, Lintang terus menggoyangkan tubuhnya menimang Danuja yang terus menangis.


Yanti yang sore itu baru saja datang, dengan tergesa-gesa mandi sebab melihat Danuja rewel.


" Ya Allah Lin, kok panas banget. Kamu kenapa nekat jualan tadi?" Ucap Yanti yang kini menempelkan tangannya ke kening Danuja yang tak mau diam.


Lintang tak memiliki pilihan. Mereka miskin, ada popok dan susu, dan beberapa kebutuhan yang harus terbeli.


Danuja sudah di sapih sebab usianya yang memang sudah waktunya untuk mulai mengecap makanan pendamping. Dan jika tidak berdagang, dari mana Lintang mendapatkan semua itu?


" Aku pikir cuma bentar Buk, lagipula sayang banget rame tadi disana, ada acara demo tadi!"


Yanti mendecah tak percaya. Sungguh, hidup melarat benar-benar kadang membuat iman seseorang untuk goyah.

__ADS_1


" Sini coba tak gendong Lin, ya Allah le..kamu kenapa sebenarnya!" Bu Yanti kini meraih tubuh Danuja yang terus menangis dan badannya demam tinggi.


Lintang kini bingung dan menangis. Ia sudah berupaya menenangkan namun Danuja makin tantrum.


Sejurus kemudian, tangis Danuja terhenti. Namun, ada hal aneh yang terjadi. Balita inti kini mendelik - mendelik seraya kejang.


" Astaga! Buk anak Lintang kenapa buk?" Ucap Lintang yang makin panik demi melihat tubuh kaku anaknya yang bergetar.


Bu Yanti yang juga kini panik , mendadak pikirannya buntu. " Danuja kejang Lin, ya Allah gimana ini!"


Dan saat dua wanita itu dilanda kepanikan.


" Danu... Danuja! Duh mana keponakan bude yang...."


Denok yang tiap sore datang kerumah Yanti seketika menjatuhkan bungkusan yang ia bawa, demi melihat Lintang dan Yanti yang menangis.


" Gusti!!! Danuja kenapa kamu le?" Ucap Denok berteriak saat melihat tubuh bayi itu kaku dan kejang.


Lintang seketika pingsan saat dirinya tak sanggup lagi melihat anaknya yang mendelik seraya kejang. Membuat Denok kini kebingungan.


" Ya Allah Lin!" Teriak Bu Yanti yang makin panik.


" Yu, kamu cepat bawa Danuja kerumah sakit Yu. Aku tak ngurus Lintang dulu ini, cepat Yu! Itu si Yanto belum berangkat narik itu!"


" Cepet Yu!"


Denok meminta Yanti untuk menemui Yanto, tetangganya yang berprofesi sebagai ojek offline dengan cepat. Suasana mendadak berubah menjadi menegangkan.


Tanpa menunggu lagi, Yanti berlari seraya membawa Danuja menuju keluar dan mencari Yanto. Wanita itu bahkan tak mengenakan alas kaki saat berjalan keluar.


Beberapa saat kemudian.


" Yan, tolongin aku Yan. Cucuku kejang ini, antar aku kerumah sakti Yan!"


" Yanto!!"


Yanto yang sibuk menggulir ponselnya itu, terkaget manakala mendengar namanya di panggil dengan kerasnya. Membuat pria bujangan itu seketika memasukkan benda pipih itu kedalam sakunya, demi melihat balita yang kejang-kejang dan matanya yang mendelik.


" Kok bisa begini Yu, Ya Allah kenapa ini?"


Mereka berdua pergi dengan kepanikan yang mengikuti.


Tiba di rumah sakit, perawat dan petugas yang melihat hal itu dengan sigap meletakkan tubuh mungil bayi yang terus kejang itu menuju ruang tindakan.


" Buka bajunya!" Ucap seorang perawat begitu Danuja sudah berbaring di atas brankar itu.


Yanti hanya bisa menangis. Seumur-umur ia baru melihat bayi kejang seperti itu. Benar-benar membuat hatinya nyeri.


Yanti terus mengiringi anak Lintang yang kini memerlukan tindakan dengan segera itu. Ia bahkan mengabaikan dua orang berjas mahal yang kini berada di depannya.


" Maaf permisi!" Yanti tak sengaja menyenggol tubuh pria tinggi tegap itu, saat ia dengan paniknya mengiringi Danuja yang di geledek menuju ruang tindakan.


Membuat pria itu tertegun.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2