Menjadi Ibu Untuk Anakmu

Menjadi Ibu Untuk Anakmu
Bab 50. Siasat


__ADS_3

Bab 50. Siasat


.


.


.


...🌺🌺🌺...


Adipati


Sore itu ia pulang menuju rumahnya seorang diri, meniggalkan Maya di rumah baru mereka untuk beristirahat dengan di temani seorang pembantu yang baru saja datang sore itu. Perut istrinya tadi sempat kram lantaran emosinya yang mendadak tidak stabil.


Pikirannya runyam dan otaknya mendadak buntu. Papa dan mamanya ogah untuk diminta tinggal sementara. Hati mereka berdua masih sama-sama terbakar oleh amarah yang menggebu-gebu.


Membuat dirinya pusing tujuh keliling.


" Yu!!"


" Yu Sul!!!"


Ia berteriak, memanggil nama pembantunya dengan gusar.


" Ya mas!!!" Yu Sul datang dengan wajah muram juga dengan langkah yang tergopoh-gopoh.


"Dimana Galuh?" Tanya Adi dengan wajah cemas. Ia meyakini jika istrinya itu pasti pulang kerumahnya.


"Lah..mas, tadi jam sepuluh pulang . Tahu-tahu nangis di kamar terus pergi lagi, sampai sekarang belum balik, saya kir....!"


" Apa?" Adipati langsung melesat naik ke lantai dua kamarnya, usai mendengarkan penuturan dari yu Sul barusan.


Matanya mendelik demi melihat kamarnya yang kacau balau, hancur. Astaga, jelas Galuh telah meluapkan emosinya di kamar ini.


" Maaf Mas, tadi mbak Galuh sudah meminta saya buat beresin, tapi... sebagian...!"


" Tinggalkan saya!" Titah Adi dengan suara marah.


" B-baik Mas!" Ucap Yu Sul dengan wajah ketakutan.


" Oalah Gusti...Ono opo to Iki...?" Gumam yu Sul dengan suara khawatir seraya pergi meninggalkan Adi. Tubuh wanita itu bergetar demi menyadari jika permasalahan tengah menimpa kedua majikannya.


Adi mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru kamarnya, jika jam sepuluh Galuh pulang, bisa jadi istrinya telah membuntutinya sejak tadi. Oh sial!


Adi membasuh wajahnya kasar, dimana sekarang Galuh? Ia pikir Galuh akan pulang, jika ia menghubungi mertuanya, jelas akan semakin menambah permasalahan. Tidak, dia belum siap akan hal itu.


" Argggggghhh!!!" Ia mengumpat kesal manakala nomor ponsel Galuh sama sekali tidak bisa ia hubungi.


Pria itu benar-benar tiba di titik nadir kehidupannya.


.


.


Di apartemen Raka


" Sebaiknya anda pulang saja. Terimakasih karena telah mengijinkan saya untuk menepi disini sebentar!"


Galuh tak mengira, di balik sikap Raka yang menurutnya angkuh, rupanya pria itu memiliki sisi melankolis.


" Apa rencanamu?" Tanya Raka yang kini duduk berhadapan dengan Galuh di meja makan.

__ADS_1


Galuh menggeleng lesu " Yang jelas saya ingin sendiri dulu. Bapak baru saja sembuh, tidak mungkin saya menceritakan semua ini!"


Raka tertegun dan masih menatap iba Galuh yang kini duduk lesu bagai tak memiliki semangat juang. Bapaknya sakit?


" Astaga, Citra bagiamana? Anda disini mulai tad...." Galuh seketika menjadi panik demi mengingat Citra.


Raka malah terperanjat, bisa-bisanya wanita itu malah memikirkan Citra saat dia sendiri tengah terpuruk. " Pikirkanlah dirimu sendiri, tidak usah memikirkan orang lain. Citra aman, dia dirumah mama!" Sahut Raka dengan wajah mendengus.


Galuh menghembuskan napas lega. Syukurlah!


" Maaf Pak, tapi....ini sudah malam. Anda sebaiknya meninggalkan tempat ini sekarang" Ucap Galuh tertunduk.


Raka terkekeh." Seorang pria diusir oleh wanita dari apartemen miliknya sendiri. Menyedihkan!"


Membuat Galuh menarik seulas senyum. Ya itu benar, ia memang cukup tak tahu diri rupanya. Tergelak dalam hati.b " Terimakasih Pak Raka!" Ucapnya tulus, demi bantuan yang ia dapatkan.


" Baiklah, aku pergi. Kalau kau butuh sesuatu pakai ini!" Ia meletakkan ponsel cadangan yang bisa Galuh gunakan.


" Hanya ada nomerku dan nomer asistenku Niko!"


Galuh tersenyum mengangguk.


" Aku pergi!"


.


.


Raka


Ia melajukan mobilnya membelah jalanan malam itu. Sebenarnya masih jam sembilan malam sih, waktu yang tergolong sore bagi pria sekelas dirinya.


" Aman Mas, dia udah tidur dari jam tujuh tadi, tadi Pak Nanang juga udah ngambil seragamnya Citra. Besok biar berangkat bareng aku!"


Sial.


" Kasihan sekali dia!" Gumamnya seraya fokus dengan jalanan yang ada di depannya.


" Jadi ingat mama dulu!" Ia menghembuskan nafasnya. Tapi...kenapa ia tidak tahu jika wanita itu sudah menikah. Penampilannya juga sangat berbeda, pernikahan macam apa yang sebenernya guru itu jalani?


Ia juga tak sekalipun melihat Galuh diantar jemput oleh suaminya. Hah, entahlah. Manusia sejatinya memang tak lepas dari ujiannya masing-masing.


Wajah layu, mata sendu juga tangis yang pecah saat wanita itu berada di pelukannya, mendadak membuat hati rasa terenyuh.


Entahlah, apa yang terjadi dengan dirinya saat ini, ia juga tak tahu.


.


.


Dewi


" Jadi...kamu juga sering kesini?"


Tak dinyana ia bertemu dengan Jodhi yang saat ini nongkrong di sebuah Pub favorit trio Konglo sejak dulu kala.


Jodhi mengangguk, " Aku dapat rekomendasi tempat ini dari ayah, sama kedua sahabatnya!"


" Ayah?" Dewi memicingkan matanya. Menatap Jodhi yang tekun menenggak minuman beralkohol itu.


" Hmmm, gimana ya...orang yang sekarang jadi papanya Raka itu kakak dari mamaku. Sejak kecil aku manggil dia ayah!" Jodhi sudah sedikit mabuk, pria nakal itu semenjak kehilangan jejak Lintang, kini semakin tak terkendali.

__ADS_1


Membuat Dewi menatap Jodhi dengan tatapan yang tak bisa di artikan.


" Ngomong-ngomong, kok kamu disini?" Tanya Jodhi sembari meletakkan gelasnya yang telah kosong.


" Aku juga sering kesini. Sering sekali!" Ucap ya penuh penekanan.


" Oh ya?"


Dewi mengangguk, suara musik yang memekakkan telinga itu sama sekali tak menghalangi mereka mengobrol.


" Tempat ini dekat dengan orang-orang yang bersusah hati!" Ucap Dewi dengan pandangan menerawang,. seperti seolah mengingat sesuatu.


" Ya...kau benar!" Ucap Jodhi yang pikirannya saat ini melayang kepada wajah Lintang.


Anom dari kejauhan masih mengawasi Dewi dengan tekun, pria berwajah datar itu tak hentinya mengalihkan pandangannya kepada Dewi dan Jodhi.


Dewi kini berpindah duduk dan lebih dekat dengan Jodhi, " Mau tambah?" Tawar Dewi dengan suara sensasional.


Jodhi mengerutkan keningnya, " Hey, kenapa sedekat ini? Bukankah kamu dan Raka...!" Ucap Jodhi yang kesadarannya tinggal lima puluh persen.


Dewi tersenyum, " Kami dekat sebagai teman, dan denganmu...aku ingin lebih dari teman!" Ucap Dewi menatap Jodhi dengan tatapan menggoda. Membuat Anom mengeraskan rahangnya.


Jodhi tak pernah ambil pusing soal wanita, beragam jenis serta model wanita seperti apapun, sudah ia jajal. Termasuk dalih friend with benefit.


" Cheersss!" Dewi mengajak Jodhi untuk bersulang. Mereka minum dan terus minum, hingga Jodhi benar-benar telah mabuk.


" Anda mau kemana?" Tanya Anom saat mencegah Dewi yang memapah Jodhi yang telah mabuk untuk pergi.


" Pulanglah, sudah ku bilang aku akan bisa mengurus urusanku sendiri!" Dewi tak suka dengan sikap Anom yang semakin kesini semakin sulit ia ajak bekerja sama.


" Nyonya tolong jangan seperti ini, saya sangat khawa...!"


" Pergi Anom, apa kau tidak dengar? Kalau kau masih ingin bekerja denganku, turuti semua ucapan majikanmu!"


Membuat Anom mengeraskan rahangnya lalu melesat pergi.


" Hey! Apa kau bertengkar dengan seseorang?" Tanya Jodhi di sela-sela mabuknya.


" Tidak, lupakan saja, aku akan membawamu pulang. Awas pelan!"


Dewi membawa Jodhi ke sebuah rumah yang selama ini di ketahui oleh Raka adalah rumahnya. Entah apa yang direncanakan oleh wanita itu.


" Hey! Ini bukan rumahku!" Ucap Jodhi yang memindai tampilan rumah besar itu dengan sisa kesadarannya.


" Benar!" Apa kau tidak ingin....!' Dewi mulai membuka pakaian yang ia kenakan. Sejurus kemudian wanita itu meraba bibir Jodhi dengan penuh gairah.


Membuat Jodhi yang terbiasa dengan wanita itu kini merengkuh pinggang Dewi.


" Aku tidak percaya jika harus bersaing lagi dengan kakakku!" Ucap Jodhi yang kini sudah larut dalam efek alkohol yang memantik jalaran panas dalam tubuhnya.


Dewi pikir Jodhi hanya ngelantur. Ia juga tidak tahu apa yang diucapkan oleh pria yang kini menciumi lehernya itu.


" Raka tidak sepeka dirimu sayang!" Dewi menangkup wajah Jodhi yang sudah terasa panas. Dalam temaram cahaya dapur, mereka berdua saling berbicara.


Jodhi dengan tatapan matanya yang sendu, kini mengangkat Dewi keatas meja kitchen. Mereka saling bertukar Saliva disana. Membuat Anom yang melihat hal itu seketika enyah dengan amarah yang menelusup.


Malam itu, Dewi bersama Jodhi merengkuh nikmatnya malam bersama.


.


.

__ADS_1


.


to be continued...


__ADS_2