
Bab 117. Anakku
.
.
.
...🌺🌺🌺...
Yanti
Usai saling meluapkan tangis satu sama lain, ia kini terlihat meminta Jodhi untuk duduk di sampingnya. Berniat mengatakan sesuatu.
Namun, saat ia hendak memulai pembicaraan dengan ayah dari Danuja itu, ia dibuat terkejut lantaran melihat Denok yang mewek di samping pria tampan, yang saat ini terlihat mendengus.
" Nok, kamu kapan datang?" Ucap Yanti yang kaget kala melihat Denok yang masih tekun menyusut sisa air matanya.
Denok berjalan seraya mengusap ingusnya menggunakan ujung kerah dasternya tanpa rasa malu. Membuat Jonathan lagi-lagi menggelengkan kepalanya.
Di saat diluaran sana banyak orang yang jaim atau jaga image, namun wanita itu justru bar-bar sekali. " Wanita ini benar-benar!"
" Aku terharu Yu. Kamu ternyata selama ini nganggep aku juga ternyata!" ucap Denok seraya mendudukkan tubuhnya di sebelah kanan Yanti. Berbicara spontan.
PLAK!
Yanti memukul paha mulus Denok demi mendengar kata-kata itu. " Bisa-bisanya ngomong kayak gitu! Emangnya kamu pikir selama ini aku ini apamu?"
Denok hanya diam saat Yanti mengomeli dirinya. Selama ini ia memang seringnya berbicara ngawur bersama Yanti. Pun dengan wanita itu. Tak pernah ada ungkapan manis maupun kata-kata lembut dari keduanya.
Mau bagaimana lagi, kehidupan mereka keras. Mereka tak pernah bisa berbicara halus seperti orang-orang lain yang hidupnya mulus. Hanya Lintanglah yang paling halus menurut mereka.
" Jadi kamu yang namanya Denok?" Tanya Jodhi saat tangisnya mereda. Membuat Denok tersentak karena melihat malaikatnya kini berbicara manis terhadap dirinya.
Denok mengangguk. " Deni Novita kalau di dunia nyata!"
Jodhi melebarkan matanya. " Dunia nyata?"
Denok mengangguk. " Kalau di dunia enggak nyata, aku Denok!" Ucap Denok yang kini kembali tersipu.
Astaga, padahal beberapa detik yang lalu dia terlihat melow sekali. Dasar makhluk!
Jodhi menatap curiga ke arah Jonathan yang kini bajunya kotor terkena bekas bedak. " Habis ngapain aja mereka?"
__ADS_1
" Saya diminta Pak Raka tadi bos. Anda jangan salah sangka dulu!" Jonathan mendengus saat ia menyadari tatapan penuh selidik dari bos-nya. Ia tahu, Jodhi pasti berfikiran yang tidak-tidak saat ini. Astaga!
Membuat Raka terkekeh. Tapi berbeda dengan Jodhi. Pria itu merasa tak percaya demi melihat gelagat mencurigakan dari assistenya yang keren itu.
" Ya, beginilah kami nak Raka, nak Jodhi dan..." Yanti menjeda ucapannya saat belum mengetahui nama pria yang bajunya kotor akibat ulah Denok itu.
" Saya Jonathan Buk!" Ucap Jonathan sewaktu Yanti menatapnya penuh keingintahuan.
Membuat Denok seketika meliriknya.
" Jadi namanya Jonathan? Keren juga. Untung enggak di panggil Jojon! Apa aku panggil Jojon aja ya?" Denok terkikik-kikik sendiri.
" Auhw sakit Yu!" Denok berteriak dengan wajah mendengus kala merasakan sakit, lantaran Yanti mencubitnya.
Yanti kesal. Bisa-bisanya emosi wanita itu berubah secara cepat padahal baru saja menangis tersedu. Dasar!
" Iya nak Jonathan. Kami bukanlah siapa-siapa!" Kini, Yanti terlihat kembali ke mode serius saat menatap ketiga pria gagah di depannya.
" Kami ini orang pinggiran, ya begini keadaannya. Maaf kalau membuat kalian semua malu. Pesan saya cuma satu nak, kalau kamu sungguh-sungguh mau menebus kesalahan pada Lintang dan Danuja, tolong perkuat kesabaran kamu. Karena...."
Jodhi menyipitkan matanya. Raka dan Jonathan kini saling melempar pandangan.
" Karena apa Bu?" Tanya Jodhi tak sabar. Pun dengan Raka dan Jonathan.
Membuat Jodhi seketika tertegun.
.
.
...🌺🌺🌺...
Lintang
Hatinya bagai di sayat sembilu kala melihat punggung tangan anaknya yang mungil itu, kini tertancap jarum infus. Danuja harus di infus sebab bocah itu terus saja muntah disertai diare. Membuat tenaga medis yang menangani Danuja, segera mengambil langkah tepat.
Prosedur pemberian cairan infus bertujuan untuk mengganti cairan tubuh yang berkurang didalam pembuluh darah dengan lebih cepat dan efektif. Tidak ada indikasi lain pada prosedur pemberian infus selain untuk mengganti cairan tubuh.
Meski resah dan panik, namun petugas medis sudah berhasil meyakinkan Lintang, bahwa mereka telah melakukan tatalaksana awal dalam menangani kegawatdaruratan pada situasi tersebut dengan sangat baik.
" Di infus agar anak Ibu tidak mengalami dehidrasi ya Bu. Saya sarankan jika bangun diberikan air minum yang banyak ya. Tolong jangan diberi susu formula dulu ya, kita tunggu diarenya berhenti!"
Lintang mengangguk dengan menyuguhkan wajah pucat yang kelelahan. " Emm Dok, say...."
__ADS_1
Ucapan Lintang terjeda kala ponsel yang di bawa oleh dokter itu bergetar. Membuatnya tak meneruskan kalimatnya.
" Sebentar ya Bu?" Dokter itu terlihat menggulir ponselnya usai berbicara sopan terhadap Lintang.
" Halo?"
Ia kini terlihat tekun menyimak serta membaca ekspresi dokter itu dengan tatapan saksama. Dokter itu terlihat agak terkejut saat menatap Danuja. Sedikit membuat dirinya penasaran lantaran dokter itu hanya mengangguk serta mengatakan ' siap' sebanyak empat kali, saat menatap Danuja.
Entah apa yang di ucapkan seseorang di balik telepon itu. Yang jelas, dokter wanita itu terlihat mengerutkan alisnya secara terus-menerus . Jelas mengindikasikan jika info yang di sampaikan sangatlah penting.
" Baik Pak, akan segera saya laksanakan!" Ucap dokter itu terdengar makin serius.
Lintang kini menghela nafasnya. Apa semua itu berkaitan dengan kondisi anaknya?
" Maaf, ibu tadi kamu mau nanya apa?" Ucap dokter itu usai memungkasi sambungan teleponnya.
" Maaf dok, apa anak saya harus rawat inap atau boleh pulang?" Lintang memang belum bertanya tadi. Ia di panggil masuk sebab dokter itu ingin menunjukkan kondisi terkait Danuja yang semakin lemah.
Dokter itu menatap lekat. " Harus dirawat disini ya. Karena kondisinya sangat lemah! Ibu tenang saja. Kami akan tangani semaksimal mungkin!"
Ia menangkap kilatan haru dari wajah dokter wanita itu. Namun yang lebih mengherankan, mengapa dokter itu terlihat lebih ramah kepadanya, usai menerima sebuah telepon barusan.
Dan sejurus kemudian.
CEKLEK
Ia dan dokter wanita itu menoleh bersamaan saat pintu itu tiba-tiba terbuka. Lintang seketika terkejut dengan mata yang membulat sempurna, saat ia melihat sosok Jodhi yang menyembul dari balik pintu kamar anaknya itu.
Wajah Jodhi terlihat kusut dan lelah.
" Maaf saya permisi!" Ia bahkan sampai tak melihat dokter wanita yang mengangguk penuh hormat kepada pria yang ia benci itu.
Dokter wanita itu pamit dengan kesungkanan yang kentara. Membuat Lintang kini membeku karena mustahil dia akan lari.
Ia masih membeku kala melihat Jodhi yang kini berjalan ke sisi ranjang Danuja. Lidahnya mendadak kelu. Lintang mematung saat melihat Jodhi yang kini menangis kala mantap wajah kurus pucat Danuja.
" Anakku!"
.
.
.
__ADS_1
.