
Bab 75. Sebuah Cinta yang datang terlambat
.
.
.
...πΊπΊπΊ...
Abimanyu
Ia menatap nanar kepergian Gwen ,yang mengikuti dua orang yang tengah menggotong tubuh Anom yang lemah. Sama sekali tak menyangka jika semesta masih mempertemukan dirinya dengan wanita yang dulu ada di masa lalunya, meski dengan keadaan yang teramat memilukan.
" Pah?" Sapa Raka yang kini menatap murung wajah papanya yang jelas berbeban berat itu. Membuat Abimanyu tersentak.
Abimanyu menahan sesak seraya tersenyum. Mencoba membuat Raka tak kuatir.
" It's Ok, biarkan mereka pergi dan berdamai dengan dirinya. Papa tunggu diluar!" Ucap Abimanyu yang melenggang dulu dengan hati yang campur aduk.
Membuat Raka dan Galuh kini tercenung beberapa detik demi menghela napas. " Tadi..itu?" Tanya Galuh yang sedari tadi hanya bisa diam sebab tak mengerti apa-apa.
" Mantan istri Papa!" Sahut Raka tersenyum kecut. Membuat Galuh membulatkan matanya.
" Mantan istri? Jadi mereka telah salah paham?"
" Luh!" Ucap Raka yang kini mendekat ke arah Galuh seraya menatap wajah wanita itu lekat-lekat. " Terimakasih banyak untuk semuanya!" Raka tersenyum. Benar-benar tersadar jika wanita di depannya itu merupakan perwujudan malaikat secara nyata.
Galuh merasa deg-degan sekali manakala Raka menatapnya dengan tatapan penuh ketulusan. Membuatnya malu dan grogi. Astaga!
" Aku minta maaf buat semua yang pernah terjadi!" Ucap Raka tulus.
Galuh tertunduk seraya canggung lalu mengangguk. Tak berani menatap dua netra Raka.
" Luh?" Panggil Raka kepada wanita itu.
" Ya?"
CUP
Raka sedikit menunduk manakala Galuh kini mendongak saat menjawab panggilannya. Membuat wanita itu mendelik sebab Raka menciumnya. Oh my God!
" Astaga!" Ucap Danan yang terkejut saat melihat Raka berciuman dengan Galuh. Membuat dua insan itu seketika mencabut bibir mereka yang saling menempel itu.
" Sialan Om Danan!" Maki Raka menggerutu dalam hati.
" A- ak cuma di minta Abimanyu untuk memanggil kalian kalau sudah selesai!" Danan keranjingan, benar-benar tak memiliki muka saat ini. " Ta- tapi kalau belum, kami akan menunggu. Ya sudah aku keluar dulu. Tenang saja, aman!" Danan menunjukkan bentuk tangan π saat pria itu mengatakan kata ' aman" dan hendak berbalik arah.
" Astaga, sejak muda sampai tua begini mataku selalunya ternodai dengan mereka-mereka yang di mabuk asmara!" Gumam Danan yang masih terdengar hingga ke telinga dua tersangka itu, membuat Galuh dan Raka salah tingkah.
" Luh!" Panggil Raka kembali kepada wanita yang kini wajahnya memerah bagai sayur lodeh itu.
" Aku rasa, aku tahu kenapa Tuhan memberikan kamu suami seperti Adipati!!" Ucap Raka lekat menatap Galuh seraya senyam-senyum bagai orang gila
__ADS_1
" Kenapa?" Tanya Galuh yang mendadak grogi.
" Karena Tuhan ingin kamu menjadi Ibu untuk anakku!" Raka tersenyum penuh arti. Pun dengan Galuh yang merasa banyak kupu-kupu terbang di atas kepalanya.
Galuh terdiam, entahlah. Kenapa ia merasa senang di perlakukan manis oleh pria seperti saat ini.
" Luh!" Panggil Raka lagi kali ini seraya menggenggam tangan wanita itu. Membuat detak jantung Galuh makin tak terkendali " Semoga ini belum terlambat!" Ucap Raka meremas tangan Galuh erat. " Tapi...aku sangat serius dengan ucapan ku barusan. Apa kau berkenan?"
Dua mata Galuh kini mulai mengembun. Ia belum resmi menjanda dan seorang pria kini terlihat menyatakan niat tulus tepat disaat mereka baru saja memungkasi ketegangan. Yang benar saja!
" Menjadi Ibu untuk anakmu?" Tanya Galuh dengan suara bergetar demi mengingat ucapan Raka.
Raka mengangguk dengan senyum yang merekah. " Mungkin bagi kamu terlalu cepat, tapi...bagi Citra ini bukanlah hal yang cepat!" Raka tersenyum. " Dan dari anakku, aku belajar mengerti mana wanita tulus dan mana wanita modus!" Ucap Raka terkekeh yang sukses membuat Galuh tergelak.
Dasar!
" Aku siap nunggu masa tunggu kamu. Yang jelas, aku lega dan merasa plong karena sudah mengutarakannya kepadamu!" Raka menatap Galuh penuh cinta.
" Maukah?" Tanya Raka kembali kali ini dengan wajah penuh harap.
Mata Galuh seketika berkaca-kaca, apa yang ia alami sudah lebih dari cukup membuat dirinya merasa haus akan kasih sayang. Haus akan perhatian serta cinta kasih.
Ia mengenal Raka bukan sehari dua hari, ia tahu jika pria itu sebenarnya pria baik. Hanya saja, manusia sering tak bisa menahan dirinya jika berada dalam situasi rumit.
Merasa dirinya juga memiliki hak yang sama untuk bahagia, sejurus kemudian wanita itu mengangguk. Ia yang sama sekali tak pernah merasakan bagiamana rasanya dicintai dengan sepenuh hati dan merasa di khawatirkan, seketika bagai mendapat oase di padang gurun hatinya yang gersang, manakala Raka memperlakukannya dengan baik selama beberapa waktu ini.
Terlebih, sosok bocah bermata jernih yang selama ini menjadi salah satu penguatnya selama ia menjadi istri Adipati, jelas membuat apa yang di tawarkan Raka semakin menjadi cahaya terang di tengah kegelapan mahligai yang ia lalui.
" Ya, aku mau!" Jawab Galuh dengan menangis. " Aku mau Menjadi Ibu untuk Anakmu!"
" Astaga!"
" Oh belum selesai ya, baiklah mungkin aku akan meminta mereka pergi dulu saja!" Ucap Danan saat balik ke tempat itu , yang kini kesal karena kembali melihat dua anak manusia itu saling meluumat.
Sialan!!
.
.
...πΊπΊπΊ...
Dirumah sakit khusus keluarga Tribawati
***
Dewi
Matahari sudah bertengger di limapuluh derajat waktu siang itu, saat ia kini duduk menggenggam erat tangan Anom yang masih belum tersadar pasca menjalani operasi pengangkatan proyektil dua peluru yang bersarang di tubuhnya.
Semua ucapan Anom terngiang-ngiang di kepalanya, ia korelasikan dengan semua perbuatan yang selama ini pria itu lakukan untuknya.
Bagai tersusuk duri sembilu, hati Dewi nyeri manakala menyadari jika sikap Anom selama ini sangat menunjukkan rasa cinta kasih yang nyata.
__ADS_1
Ia yang selama ini jauh dari kata dan mencintai, kini merasa berada di titik sendu hidupnya manakala teringat pengakuan Anom yang mencintai dirinya. Pun dengan aksi heroik pria itu, manakala dengan beraninya menjadi tameng untuknya.
" Maafkan aku Anom!" Ucap Dewi yang menangis seraya menggenggam erat tangan Anom. " Aku memang bodoh!"
" Maafkan aku!" Dewi menangis dalam sesaknya yang semakin membuncah. Entah sesal atau sekedar perasaan tak enak hati, yang jelas ia sangat merasa sakit manakala melihat kondisi Anom yang kini terbaring lemah sebab melindungi dirinya.
Jelas menjadi penegas jika pria datar itu, menjadi guardnya yang sesungguhnya.
" Hey!" Ucap Anom lirih. Pria itu nampak baru siuman sebab mendengar isak tangis yang tiada henti.
" Anom!" Dewi seketika bangkit dan mengusap kening Anom dengan wajah khawatir. " Aku panggilkan dokter dulu!"
" Tidak perlu!" Ucap Anom menarik tangan Dewi yang kini tersenyum. Hey, Dewi sudah dua kali melihat pria itu tersenyum dalam kurun waktu kurang dari dua puluh empat jam. Pria itu terlihat menawan jika tersenyum.
" Kau yang membawaku kemari? "Tanya Anom kini menatap Dewi yang menyusut air matanya tiada henti. " Kenapa kau tidak membiarkan aku mati? Aku kan sudah membuat rencanamu gag.."
CUP
Dewi mengecup bibir pucat Anom detik itu juga, manakala wanita itu merasa Anom terlalu banyak bicara. Membuat Anom terkejut.
" She kiss me?"
" Kalau kau banyak bicara, aku akan menembakmu lagi!" Ucap Dewi dengan wajah manyun dan kesal, membuat Anom tertawa sambil meringis karena lukanya nyeri dibuat bergerak.
Keheningan mendadak tercipta. Kecanggungan lebih tepatnya. Anom kini menatap lekat wajah Dewi, begitu juga dengan wanita itu. Menatap penuh mesra satu sama lain.
" Maafkan aku!" Ucap Dewi menahan tangisnya, demi melihat seraut pucat yang kini selamat.
Anom menghela napas panjang. " Kau tidak pernah salah Wi. Takdir saja yang mempermainkan kita!" Ucap Anom masih dengan suara lemahnya.
Dewi tertegun, merasa ada pria yang tulus dan mau menerima dia apa adanya membuat perasaan wanita itu melembut." Ya, kau benar!" Ucap Dewi menatap Anom dengan senyum yang tak luntur. " Dan semoga takdir belum terlambat mengijinkan kita untuk bersama!" Ucap Dewi yang kini menatap sendu ke arah Anom.
" Apa kau masih mencintaiku Anom? Mencintai wanita kotor seperti diriku?" Air mata Dewi kini sudah lolos dan membanjiri pipi mulusnya. Membuat suasana mengharu biru.
" Tak selayaknya manusia menyebut diri maupun sesamanya kotor. Sebab setiap orang memiliki sisi kelamnya masing-masing dan jalan berbeda dalam memilih dosa!" Ucap Anom yang memandang wajah ayu Dewi tak lekang. " Aku mencintaimu sejak pertama bertemu, hari ini, hari esok, bahkan sampai maranata Tuhan mematikan kita!"
Dewi semakin tak bisa membendung laju air matanya manakala mendengar jawaban Anom. Tanpa sungkan lagi, wanita itu terlihat mencium bibir Anom lalu melumaatnyaa dalam dan penuh cinta.
Pria itu menyambut ciuman Dewi dengan posisi yang masih basah luka,seraya menitikkan air matanya. " I love you so much Anom, so much!"
Kalian tahu, cinta yang kadang datang terlambat, bukan berarti tidak tepat. Namun lebih mendatangkan hikmat.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
To be continued....