Menjadi Ibu Untuk Anakmu

Menjadi Ibu Untuk Anakmu
Bab 80. Hawa panas


__ADS_3

Bab 80. Hawa panas


.


.


.


...🌺🌺🌺...


Galuh


Ia pagi ini datang lebih awal dari biasanya, meskipun Dinda selalu berhasil membulinya, tapi itu tak apa. ia hanya tidak ingin membuat kedua orangtuanya khawatir.


" Pokonya aman deh. Aku sih iyes kalau kakak sama bapaknya Citra. Udah ganteng, baik. Pokonya cincailah soal bapak sama Ibuk!"


" Jangan lupa oleh-oleh nya ya?"


Ia terkekeh-kekeh sendiri manakala mengingat ucapan adiknya yang selalu bar-bar itu. Ia belum pernah diajak liburan Adipati selama ini. Jadi, biarkan saja jika hari ini ia egois sekali saja. Dirinya sudah lama tak termanjakan, reward untuk diri sendiri itu juga perlu bukan?


Lamunan membuat ia lebih cepat sampai rupanya. Ia kini terlihat membayar taksi seperti biasanya lalu berjalan masuk usai menyapa satpam yang ada di depan rumah Raka.


" Bu Galuh!" Citra pagi itu sudah mandi hanya saja rambutnya masih berantakan. Galuh terkekeh, jelas Raka pagi ini memandikan sendiri putrinya itu.


" Citra, sini Ayah kunc...." Ucapan Raka menguap manakala melihat Galuh yang sudah datang dan berpenampilan sangat cantik.


Pria itu berkejaran dengan Citra dan terlihat masih belum membersihkan dirinya.


" Kau sudah datang? Kenapa tidak bilang jika lagi sekali datangnya?" Ucap Raka yang kini malu sebab ia masih rembes.


Galuh tersenyum dan tak menjawab pernyataan Raka. " Sini, biar aku yang kuncir Citra. Pak Raka...mandi saja dulu!"


Raka meringis sebab ia memang sedang tidak percaya diri manakala melihat Galuh yang sudah cantik, sementara dirinya yang masih acak adul.


" Baiklah, tunggu sebentar ya, aku akan segera kembali!" Raka kini berjalan mundur seraya mengerlingkan matanya menatap Galuh dengan genit.


" Ayah sakit mata ya,kok matanya kedip- kedip! hihihi!"


" Kayaknya iya, ayo kita keatas. Kita siap-siap ya..."


Raka benar menepati ucapannya untuk tidak berlama-lama, ia kini terlihat fresh dengan sebuah kaos berbahan nyaman berwarna putih, celana jeans sedikit gelap dan juga sepatu boots yang membuat pria bertubuh tinggi tegap itu terlihat keren dan modis.

__ADS_1


" Wow ayah cakep banget! Bu Galuh juga cantik kayak ibu, hhihi!" Citra merasa hari ini adalah hari istimewa baginya. Ia akhirnya bisa berangkat bersama dua orang yang paling ia sukai itu.


" Citra mau duduk di belakang sama barbieku yah, Bu Galuh di depan aja ih, nanti barbieku enggak punya tempat!"


Dan hal itu membuat Raka merasa senang. Kali ini, ia berterimakasih kepada Citra, sebab anaknya itu sangat pengertian. Yiha!!!


Perjalanan yang mereka prediksi macet rupanya tidak terlalu parah. Citra bahkan kini sudah lelap bersama para bonekanya yang tak lelah memamerkan gigi mereka, di jam yang sudah berada di atas 45 derajat pagi itu.


" Kita nginep ?" Tanya Galuh ragu, sedari tadi ia tak banyak bicara sebab takut citra mendengarnya.


" Menurut kamu?" Jawab Raka tersenyum penuh arti sambil fokus di kemudinya.


" Pulang lah!" Sahut Galuh yang kini keki sebab Raka menatapnya penuh maksud.


" Rugi dong aku nyewa Fila mahal-mahal kalau cuma kayak mimpi datang kemari"


Membuat Galuh menelan ludahnya. " Tapi.. kamarnya?"


Dan kegelisahan Galuh soal kamarnya terjawab sudah.Fila itu memiliki satu kamar yang besar, namun di dalamnya terdapat satu pintu connector yang saling terhubung. Praktis, kamar tersebut menyuguhkan dua bed dengan ukuran yang tak mengecewakan, dengan ruangan yang terpisah.


Galuh tersenyum dengan perasaan menghangat, manakala melihat Raka yang kini membopong Citra yang ketiduran. Ia meminta Galuh untuk mengambil kunci sebab ia kemaren sudah melakukan reservasi yang di bantu oleh Niko.


" Kamu buka!"


Galuh terlihat muram manakala ia membuka kamar yang hanya memperlihatkan satu kasur saja. Membuatnya resah.


" Ini di letakkan dimana?" Tanah Galuh yang membawa laptop milik Raka sebab pria itu akan mengerjakan sesuatu di sela-sela waktu longgarnya.


" Dikamar kita aja, eh.. maksudnya kamar kamu!" Ucap Raka kikuk karena keceplosan. Membuat Galuh menatap Raka penuh selidik.


" Ayo ikut!" Raka kini mengantar Galuh dengan membuka pintu otomatis yang tak Galuh sadari, setalah menidurkan Citra. Pintu yang juga menjadi dinding pembatas itu, terlihat futuristik. Membuat Galuh berdecak kagum.


" Istirahatlah dulu, setelah y kita makan, ayo kamu pasti lelah!"


Galuh sebenarnya merasa rikuh, namun pria yang pernah menciumnya itu selalu berhasil membuatnya merasa bahagia.


keduanya kikuk, dan kini saling canggung. Membuat suasana benar-benar senyap.


" Aku!"


" Aku!"

__ADS_1


Meraka tertawa sebab berbicara secara bersamaan.


Raka yang kini berada di jarak dekat dengan Galuh menelan ludahnya manakala mereka saling menatap. Udara disana sangat dingin meski matahari tengah berada diatas cakrawala.


"Luh?" Ucap Raka yang menatap sendu Galuh yang kini terhipnotis wajah rupawan Raka


" Ya?"


Raka dengan gerakan cepat, menarik pinggang ramping wanita berbibir lezat itu dan kini menyambar bibir Galuh dengan lembut dan bergairahh. Galuh terkejut namun pria itu justru menekan tengkuknya lebih dalam, seolah mengatakan untuk diam.


Membuat Galuh tak berdaya. Oh astaga!


Ciuman itu berlangsung lama dan semakin panas seraya menuntut satu sama lain. Galuh yang batinnya gersang, seketika meluapkan logikanya yang ada, saat pria itu kini perlahan merapatkan tubuhnya dan membuat Galuh sadar jika bagian krusial pria itu telah berubah bentuk. Menjadi lebih keras.


Oh man!


" Pak?" Ucap Galuh terkejut menatap Raka yang telah sendu. Raka tak menjawab namun kembali meraup bibir lezat itu dengan penuh selera, membuat Galuh makin mabuk dan menikmati sebuah lembut yang membuatnya terlena itu.


Raka perlahan menggiring Galuh keatas kasur lalu menindih tubuh wanita itu dengan bibir yang masih saling berbelit. Sungguh, Galuh juga masih manusia dewasa biasa, yang tiada pernah tahir dari kata nista.


Jiwa dan batinnya yang selama ini kering, seolah tersirami sikap lembut yang dibawa Raka siang itu. Dalam alunan cinta, dan memanfaatkan Citra yang di buai lelap, dua anak manusia itu saling bergumul.


" Ah!" Galuh yang merasa kuncupnya kini di sesap oleh Raka seketika menggelinjangg karena dirinya bagai di sengat oleh aliran bertegangan tinggi. Membuat Raka semakin terbakar oleh gairahhh.


Dua manusia dewasa yang sama-sama kesepian, sama-sama haus akan guyuran kasih sayang itu, kini melampiaskan gelora bersama, berpacu bersama dalam menggapai indahnya melebur hasrat bersama.


Raka menghentakkan tubuhnya yang sudah polos entah sejak kapan, dan terlihat melampiaskan apa yang selama ini tertahankan. Semakin lama rasa nikmat yang semakin menguasai diri keduanya itu makin membuat hawa panas merebak di seantero ruangan itu.


Peluh yang banyak, serta tubuh yang basah dan lengket karena keringat, kini makin membuat perbuatan panas manusia yang dilanda cinta itu semakin bertempo cepat.


Tubuh yang bergetar itu kini bersahutan dengan jerit kenikmatan yang Galuh rasakan, memuaskan dahaganya akan batin yang selama ini kering. Raka benar-benar on fire!


" Aku mencintaimu Galuh!" Bisik Raka saat aset berharganya meledakkan sesuatu yang hangat dan sangat banyak.


Membuat tubuh Galuh bergetar dengan rasa lutut yang tiada bertulang.


.


.


.

__ADS_1


.


To be continued...


__ADS_2