Menjadi Ibu Untuk Anakmu

Menjadi Ibu Untuk Anakmu
Bab 59. Become a nanny?


__ADS_3

Bab 59. Become a nanny?


.


.


.


...🌺🌺🌺...


Waktu berjalan cepat, dua Minggu ini Galuh yang sudah berhenti mengajar menyibukkan dirinya dengan mengurus bapak, sementara ibu masih menjadi juru masak di sebuah rumah makan yang berada di dekat jalan raya. Pekerjaan yang sudah beliau tekuni semenjak bapak tak lagi bisa mencari uang. Ya...walau hasilnya hanya cukup untuk sehari-hari. Karena selama ini, Galuh masih menjadi penyokong utama sendi kehidupan keluarga mereka, selama Dinda belum lulus kuliah.


Dinda hari ini akan interview di salah satu perusahaan yang bergerak di bidang penyedia layanan jasa pembuatan iklan. Sedikit melenceng dari jurusannya namun ia tetap mau, sebab mencari kerja rupanya lebih sulit dari pada mencari jodoh jika tanpa orang dalam.


Kenyataan yang ironis.


Ia dengan telaten mengganti ampul berisikan kotoran bapak yang sudah penuh, dan menggantinya dengan yang baru. Keseharian yang tentu saja akan membuat orang lain mual jika melihatnya.


" Doakan Dinda keterima ya pak?" Ucap Galuh sembari memasukkan benda kotor itu kedalam kantung khusus. " Kasihan udah ngelamar di sana-sini tapi masih belum keterima!"


Bapak tergugu dalam lamunan. Ucapan Galuh semakin membuat pria itu itu menyesali dirinya yang tak bisa berbuat apa-apa.


"Maafkan Bapak Luh!"


Ting Tong!


Suara dentang bel membuat Galuh dan pak Noer saling menatap. Siapa yang datang?


Ting Tong!


Raungan bel itu makin membuat Galuh mempercepat aktivitasnya. Siapa juga yang tidak sabaran.


Ia meninggalkan Bapak yang sudah duduk rapih diatas kursi roda, dan berniat melihat siapakah gerangan yang datang kerumahnya di jam jelang siang ini?


" Bu Guru!!!"


.


.


Raka


Ia tidak tahu jika Galuh sudah berhenti mengajar, jika Citra malam itu tidak membuatnya penasaran karena tangis yang tak kunjung reda. Ia benar-benar pusing, anaknya rewel dan Nining pengasuhnya mengundurkan diri secara mendadak sebab orangtuanya di kampung sakit keras.


Double Damned!


Citra yang tidak mau bersama mbak Las, makin membuatnya kesulitan dalam mengurus Citra. Ia juga merasa tak enak hati jika terus-menerus mengganggu mamanya.


" Citra bosan, Citra enggak punya teman!"

__ADS_1


" Bu Guru juga pergi enggak ada pamit ke Citra!"


Dan dari situlah, ia akhirnya berani menanyakan keberadaan Galuh yang terkahir ia temui dalam keadaan yang runyam beberapa waktu lalu.


" Bu Galuh sudah mengundurkan diri sejak dua Minggu yang lalu Pak, beliau berkata, resign karena sibuk mengurus orangtuanya...saya juga kurang tahu, padahal Bu Galuh dan suaminya kan tinggal beda rumah dengan orangtuanya!"


Raka tercenung demi mendengar penuturan Bu Bening kemarin siang. Galuh telah berbohong kepada Bu Bening dan tidak mau menunjukkan persoalan yang ia alami kepada orang lain. Sejenak membuat Raka kini mengerti alasan Dinda yang sikapnya bertolakbelakang dengan kakaknya itu.


Astaga.


" Ayo kita cari Bu Guru Yah! Citra mau tanya kenapa Bu Guru enggak sekolah lagi!"


Rengekan Citra seusai ia menjemputnya tadi membuat ia, mau tak mau meminta Niko untuk mengantarkannya ke kediaman orang tua Galuh.


Hah, bocah ini!!


Raka mengedarkan pandangannya tatkala tiba di sebuah rumah asri dengan halaman yang lumayan luas. Sedikit miris karena nyatanya rumah orangtua Galuh tergolong sedang.


" Ini rumah Bu Guru om?" Tanya Citra dengan wajah tak sabar kepada Niko.


" Iya..ini rumah Bu guru!" Sahut Niko yang kini menarik tuas hand rem.


" Tuh, om Niko aja tahu, masa Ayah enggak tahu sih. Ayah bohong sama Citra!" Ucap Citra mendakwa Ayahnya lantaran pria itu sering mengatakan alasan yang sama, saat Citra memaksanya mencari teman baiknya itu.


Membuat Raka menarik napasnya panjang. Kena lagi.


" Citra! Jangan lari, tunggu Ayah!" Ucap Raka yang melihat bocah itu telah melesat lebih dulu kedalam rumah dengan cat kuning kalem itu.


Ting Tong!!


Raka dan Niko masih terlihat rempong demi membawakan beberapa hampers untuk orangtua Galuh yang sakit. "Tidak enak jika mengunjungi orang sakit namun tidak membawa buah tangan" begitu ucap Niko mengingatkan.


Ting Tong!!


" Bu Guru!!!" Suara renyah Citra membuat Galuh terperanjat dengan senyum yang merekah.


" Citra?" Wanita itu seketika merengkuh tubuh mungil Citra kedalam pelukannya, saat Citra tersenyum seraya merentangkan kedua tangannya.


Astaga, Galuh benar-benar melupakan bocah itu demi keadaan hidupnya yang tengah tidak baik-baik saja.


Pemandangan itu entah mengapa membuat Raka tersentak. Kenapa Citra berbeda sekali jika bersama Galuh. Kenapa bocah itu sangat ketus jika bersama Dewi?


" Maaf... Citra...!"


Ucapan Raka menguap saat melihat Galuh yang kini berdiri sembari menyusut matanya yang basah karena rasa sesal. Sesal karena sudah melupakan bocah nelangsa itu. "Enggak apa-apa, saya justru senang. Mari- mari silahkan masuk!"


.


.

__ADS_1


" Jadi Citra bakal enggak ketemu Bu Guru lagi dong?" Ucap bocah itu dengan bibir manyun. Seakan tak rela jika ia harus tak menjumpai teman baiknya.


Ya..mereka kini terlihat duduk dan pandangan mereka terfokus ke arah Citra yang muram.


" Citra...Bu Guru enggak sekolah karena ngerawat Akung, tuh lihat!" Galuh yang memangku Citra terlihat menunjukan Pak Noer yang kini turut mengobrol dengan mereka diatas kursi roda.


Citra turun dan tanpa mereka sangka, bocah itu berjalan menuju Pak Noer. " Akung sakit apa?" Bocah itu menangkup kedua pipi kurus Pak Nur dengan wajah sedih.


" Citra juga pernah sakit, tapi ada Bu guru yang nolongin. Sekarang Akung di jagain Bu Guru juga ya? "


Mata Pak Noer berkaca-kaca, bagiamana bisa bocah sekecil itu bisa memiliki kepedulian yang tinggi.


" Citra!" Ucap Raka yang merasa tak enak hati dengan sikap putrinya. Namun tidak dengan Galuh, wanita itu justru terharu dengan interaksi Citra dan bapaknya.


" Cepat sembuh ya Kung, biar Bu Guru bisa sekolah lagi. Citra kangen banget sama Bu guru. Mbak Nining enggak ada, Citra enggak punya teman dirumah!"


Galuh seketika menatap wajah Raka yang juga bertepatan menatapnya. Memangnya kemana Mbak Nining?


.


.


Galuh sengaja berlama-lama di dapur demi bisa mengucapkan terimakasih kepada Raka.


" Terimakasih sudah datang, dan kenapa repot-repot sekali bawa begitu banyak oleh-oleh!" Ucap Galuh sungkan, yang kini berada dapur tengah mencuci piring saat Raka lewat ,karena baru saja menumpang ke kamar mandi.


Meninggalkan Citra yang cerewet mengintrogasi Pak Noer yang kini tergelak akibat celotehan bocah itu.


Raka mengangguk canggung. " Aku baru tahu kalau kamu resign" Membuat Galuh menelan ludahnya saat meniriskan gelas itu.


" Jadi...kamu barusaja mengundurkan diri saat kejadian itu?" Tanya Raka kembali dengan posisi yang masih berdiri, sambil melirik ke arah depan dimana Citra terlihat makin renyah bergurau dengan Pak Noer.


Galuh mengangguk. " Maaf aku enggak sempat pamitan ke Citra!" ucap Galuh penuh sesal.


Raka mengangguk, ia memaklumi kepenatan pikiran wanita itu.


" Kamu kerja apa sekarang?" Tanya Raka memberanikan diri.


Galuh menggeleng lemah dan terlihat tak memiliki semangat. " Ngurus Bapak!" Ucapnya lirih. " Belum kepikiran buat nyari kerja lagi!" Ia benar-benar tak memiliki semangat untuk bekerja di sela keramaian orang, yang pasti akan mempertanyakan statusnya saat ini.


Galuh belum siap akan hal itu.


" Bekerjalah untukku! Citra membutuhkan pengasuh, aku akan membayarmu dua kali lipat!"


.


.


.

__ADS_1


.


To be continued...


__ADS_2