Menjadi Ibu Untuk Anakmu

Menjadi Ibu Untuk Anakmu
Bab 22. Dualisme


__ADS_3

Bab 22. Dualisme


..." Sebab orang yang mendua hati, tidak akan pernah tenang hidupnya. Dan apabila tidak segera di selesaikan, jelas akan menjadi kegelisahan seumur hidup."...


...~ Insan yang tak punya...


.


.


.


...🌺🌺🌺...


Raka


Hari ini bertepatan saat ia pulang kantor, Raka membelokkan mobilnya ke supermarket besar dengan partisi berukuran jumbo, bertuliskan huruf yang tertera di belakang namanya itu, dengan wajah lelah.


Papanya meminta Raka untuk mampir sebentar ke Chandrakanta Mart. Bangunan berlantai tiga itu nampak semakin ramai jelang malam itu.


Semua pegawai di sana tahu dan paham siapa dirinya. Ia adalah anak dari pemilik Tanaya group.


Jangan di tanya kenapa ia selalu pulang lembur? Niko yang notabene merupakan sekretarisnya masih mengenyam pendidikan di bangku perkuliahan. Ya...anak dari Devan itu terlampau cerdas dan memiliki IQ diatas rata-rata. Membuat pria itu sudah mampu terjun ke dunia kerja, meski usianya terbilang sangat muda.


Usianya saja bahkan satu lebih mudah dari Kalyna.


Rahmat dari Tuhan yang tercurah atas diri Niko, terang saja membuat Devan dan Alexa mempercayakan anaknya kepada Raka. Ia tahu, jika anaknya akan makin maju dibawah besutan Raka yang memiliki kepribadian baik.


" Fa, papa disini?" Ia bertanya kepada seorang kasir yang bekerja kepada papanya itu, saat dirinya telah masuk. Kasir itu terlihat tengah sibuk melayani seorang pembeli


" Ada Mas, Pak Indra sama mas Jata lagi nunggu di atas!" Jawab Ifa begitu mendengar suaranya.


Seorang wanita yang terinterupsi dengan kehadirannya turut menoleh.


Raka terkejut saat wanita yang tengah mengantre di depannya itu, rupanya tak lain adalah Galuh.


" Dia? Belanja banyak sekali dia?"


" Pak, anda disini?" Sapa Galuh tersenyum.


" Hemmm!" Jawab Raka dengan wajah biasa. Cenderung cuek.


Ia masih merasa kesal akan perbuatan perempuan itu, saat menjegal ucapan perempuan yang kini tengah gencar ia dekati, walau belum merasakan flutter (debaran) saat bersama Dewi.


Lebih tepatnya, Raka memaksakan diri.


Galuh yang merasa di acuhkan merasa malu. Padahal pria tersebut merupakan orang tua dari siswa yang baru saja ia ajar private. Sungguh keterlaluan.


" Ya udah makasih Fa!" Ucapnya sejurus kemudian berlalu tanpa menyapa Galuh. Entahlah, sejak kecil jika ia sudah tidak menyukai sesuatu atau seseorang, ia akan sulit melupakan.


.

__ADS_1


.


Galuh


🎶Tetap semangat dan sejukkan hati, di setiap hari... sampai nanti, sampai mati...


Alunan lagu yang terdengar menggema di supermarket itu seolah cocok untuk menyemangati dirinya yang sebenarnya kesal dengan sikap Raka yang acuh tak acuh.


🎶 Terus melangkah dan keraskan hati, di setiap hari... sampai nanti, sampai mati. .


( Letto )


" Silahkan Bu?" Tutur Ifa menyerahkan satu kantong besar belanjaan milik Galuh, yang berisikan beberapa kebutuhan rumah tangga, juga bumbu untuk memasak.


" Makasih banyak ya!" Ucapnya ramah. Sejenak ia tertegun demi mengingat ucapan Raka kepada kasir yang terlihat akrab tadi.


Papa?


.


.


Adipati


Ia tengah memijat keningnya kala Maya datang membawakan secangkir kopi untuk dirinya. Pria itu tengah dirundung keresahan yang tiada berakhir.


Jadi bagaimana? Bukankah dualisme itu sulit?


" Ada apa mas, hm?" Maya mendudukkan tubuhnya tepat di samping Adipati yang kini membetulkan letak duduknya.


" Aku tahu!" Ucap Maya memalingkan wajahnya.


" Maafkan aku May. Tapi aku janji, aku akan secepatnya menceriakan Galuh. Aku akan mencari cara agar papa percaya jika Galuh bukan wanita baik-baik!" Adi menangkup wajah Maya dengan tatapan muram.


" Tapi sampai kapan mas. Mas setiap hari bisa ketemu sama Mbak Galuh. Sementara aku disini sendiri!"


Adipati benar-benar merasa bingung dan resah. Harus bagiamana dia.


" Aku janji sama kamu, walau aku dirumah sama dia. Tapi hidup aku cuma buat kamu May. Percaya sama aku!" Adi menatap wajah Maya dengan muram. Pria itu sungguh merasa diambang kening.


Maya langsung memeluk tubuh Adipati sepersekian detik kemudian. Menghirup dalam-dalam aroma tubuh suami sirinya itu yang sungguh saat ia butuhkan kehadirannya.


Adi melepaskan pelukannya lalu menatap wajah Maya dengan tatapan nanar. Pria itu terlihat meraba bibir Maya yang menggoda.


Sejurus kemudian ia merebahkan tubuh Maya ke sofa itu, ingin mengulang lagi dan lagi perbuatan paling melenakan itu. Dan detik berikutnya mereka terlihat tergulung oleh ombak hasrat secara sadar.


Melebur gelora bersama-sama.


Sungguh disayangkan, Adipati logikanya telah aus, lekang dimakan hati yang buta.


.

__ADS_1


.


Kediaman Adipati


Galuh terlihat berjibaku membuat masakan berat kesukaan papa mertuanya malam ini seorang diri. Ia membuat lontong dengan bumbu kacang pekat. Kesukaan orang jaman dulu.


Masakan adalah salah satu bukti nyata, cinta yang kudus. Begitu pikirnya.


Selain itu, ia juga tengah sibuk memasak olahan kesukaan ibu mertuanya. Rendang dan juga dendeng. Dengan bermodalkan resep yang ia ulik dari YouTube, Galuh berkreasi dengan penuh antusias.


" Semoga mama suka!" Gumamnya tersenyum menatap irisan daging yang telah ia potong- potong.


Ia sempat melirik jam beker diatas kulkas yang tingginya hampir sama dengan dirinya itu. Sudah menunjukkan pukul delapan malam namun tidak ada tanda-tanda suaminya pulang.


Ia kembali melanjutkan mengisi daun pisang yang sudah ia ikat ujungnya itu dengan beras. empat jam kedepan ia harus memastikan lontong buatannya masak dengan sempurna.


Tepat di menit 45 lepas dari jam 8, ia baru mendengar deru mobil suaminya. Larut sekali?


Dengan tergesa-gesa ia mencuci tangannya, lalu beranjak ke depan dengan cepat untuk membukakan pintu. Karena saat malam begini ,Yu Sul tidak akan datang kerumahnya.


CEKLEK


Galuh membuka pintu rumahnya, tepat saat Adi hendak mengetuk pintu dengan gawang tinggi itu.


Membuat pria itu setengah terperanjat. Galuh belum tidur rupanya.


" Lembur lagi mas?" Tanya Galuh dengan wajah muram


" Hmmm, harus aku selesaikan beberapa kepentingan. Besok mama kan datang!" Ucapnya sembari masuk dan langsung melenggang menuju dapur untuk mengambil minum.


Ia perlu hidrasi yang baik untuk menetralisir rasa rumit di hatinya tiap berhadapan dengan Galuh.


Galuh menutup pintu rumahnya sambil terlihat menatap punggung Adipati yang kini terus berjalan tanpa menghiraukan dirinya. Sampai kapan?


" Ngrebus apa kamu?" Tanya Adi sesaat setelah ia menghabiskan satu gelas air putih. Melihat panci yang mengeluarkan asap putih, dengan suara didihan yang sedikit keras.


" Buat lontong. Papa suka banget tahu lontong bumbu petis!" Ucapnya yang kini terlihat melewati Adipati sambil terlihat mengatur nyala api.


Adi tertegun. Sejumput rasa bersalah kini muncul di hatinya. Ia baru saja bercumbu dengan Maya saat istrinya tengah sibuk dan repot memasak demi menyambut kedua orangtuanya.


Damned!


" Harusnya enggak perlu repot begini. Bisa beli kan? Tutur Adipati seolah ingin membunuh rasa bersalahnya.


Membuat Galuh menatap Adipati tak percaya.


" Udah aku capek. Aku keatas dulu!" Adi kini mulai berjalan meninggalkan dirinya yang berdiri mematung dengan tatapan penuh kesedihan.


Sebulir air mata menetes. Ia padahal sudah terbiasa akan sikap Adi yang seperti itu. Namun entah mengapa, hari ini ia benar-benar merasa lelah. Mengapa suaminya itu sama sekali tak mau menghargai tiap usahanya?


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2