
Bab 123. Kala anak menjadi alasan
.
.
.
...Kubuka mata dan kulihat dunia...
...T'lah kuterima anugerah cintanya...
...Tak pernah aku menyesali yang kupunya...
...Tapi kusadari ada lubang dalam hati...
...Kucari sesuatu yang mampu mengisi lubang ini...
...Kumenanti jawaban apa yang dikatakan oleh hati...
...Apakah itu kamu? Apakah itu dia?...
...Selama ini kucari tanpa henti...
...Apakah itu cinta? Apakah itu cita?...
...Yang mampu melengkapi lubang di dalam hati...
...Kumengira hanya dialah obatnya...
...Tapi k sadari bukan itu yang kucari...
...Ku teruskan perjalanan panjang yang begitu melelahkan...
...Dan kuyakin kau tak ingin aku berhenti...
...Apakah itu kamu? Apakah itu dia?...
...Selama ini kucari tanpa henti...
...Apakah itu cinta? Apakah itu cita?...
...Yang mampu melengkapi lubang di dalam hati...
...( Letto ~ Lubang di hati)...
...🌺🌺🌺...
Lintang
Ia benar-benar mati kutu, serta bak menelan simalakama diwaktu bersamaan. Berteriak dan memberontak jelas akan mengganggu istirahat anaknya, sementara diam tentu akan sangat tak baik untuknya. Lantas?
" Lepas!" Ucap Lintang akhirnya dengan wajah ketus meski suaranya ia pelankan. Ini benar-benar diluar dugaannya.
Jodhi tersenyum penuh arti. Wanita yang ia gandrungi selama ini itu benar-benar cantik dan manis jika di tatap dari dekat. Terlebih, ia merasa senang. Meski ia tahu Lintang belum memaafkan dirinya, namun sepertinya logika wanita itu tengah berjalan. Buktinya, wanita itu berniat menyelimuti dirinya kan?
Ditatapnya wajah wanita itu dalam-dalam.
__ADS_1
Wajah itu, wajah yang penuh dengan penderitaan selama ini, nyata bisa ia lihat dari guratan-guratan lelah dan sorot mata layu dari kedua netra Lintang. Telak dan tak terbantahkan.
" Jodhi lepas!" Lintang menggeliat dan memberontak namun Jodhi makin menekan punggungnya dengan rengkuhan yang makin erat.
Bukannya menjawab, Jodhi malah senyam-senyum sendiri. Ia terlalu bahagia saat ini, bisa menyentuh Lintang kembali walau keadaannya masih abu-abu bahkan cenderung gelap.
Ia terlampau senang saat bisa memeluk Lintang, meski deburan emosi dari wanita itu yang belum juga surut.
" Katakan Lin, aku harus apa biar kamu mau maafin aku, hm?"
Entah mengapa, Lintang makin dibuat tak mengerti oleh dirinya yang mendadak deg-degan. Tidak, ia tidak boleh terbawa suasana. Ingat, karena pria itulah ibunya harus meregang nyawa.
" Mmmmmmmm!" Lintang menggigit lengan kekar Jodhi , yang kini membuat pria itu merasakan sakit serta linu yang teramat secara bersamaan.
Dan gigitan drakula galak itu, akhirnya berhasil membuat cekalannya terlepas. Oh astaga!
Lintang seketika buru-buru enyah, dan kembali ke sofa serta menarik selimutnya kembali, dan kini tidur memunggungi pria itu.
" Astaga, kenapa denganku!" Lintang merasa tubuhnya gemetar dengan sensasi jalaran rasa aneh.
Alih-alih marah, Jodhi justru senyam-senyum sendiri saat melihat kulitnya yang desok, serta meninggalkan bekas gigitan drakula tak bertaring itu.
Jodhi mencium lalu mengecup bekas gigitan Lintang yang membekas itu, dengan penuh rasa kebahagiaan. It's Ok jika untuk saat ini bekasnya saja, sebab ia percaya jika Tuhan itu bagi siapa saja.
Sehari seutas benang setahun sehelai kain bukan? Ihiiiir!!
.
.
Jodhistira
Ia baru bisa memejamkan matanya beberapa saat yang lalu. Buncahan rasa bahagia rupanya lebih ganas dari serangan kafein. Membuat kantuk sungkan mendatanginya.
" Ada apa?" Ia menoleh saat suara parau Lintang kini terdengar di sepertiganya malam itu.
Ya, telinga seorang ibu jelas lebih sensitif dalam menangkap gelombang suara anaknya.
" Enggak tahu, udah enggak demam sebenarnya!" Jawab Jodhi yang memang belum terbiasa dengan hal-hal seputar Danuja.
Dan saat itulah, untuk pertama kalinya sejak mereka bertemu, mereka berbicara dalam intonasi normal. Mungkin karena jam yang tak memungkinkan bagi keduanya untuk adu mulut.
Jodhi memperhatikan Lintang yang begitu cekatan saat memeriksa diapers Danuja.
" Anak Ibuk ngengek ya ternyata?" Gumam Lintang degan wajah terkantuk-kantuk, saat ia berhasil menemukan sebab musabab anaknya menangis. Suara parau Lintang membuat Jodhi merasa gemas.
Jodhi nampak sigap mengambil diapers sachet yang ada di dalam nakas. Ia mengetahui lokasi penyimpanan benda itu, sebab disanalah Denok menginformasikan telah menjejalkan semua perlengkapan milik Danuja kepada Jodhi tadi siang.
Hati Jodhi seketika mendecak ngilu demi melihat keterbatasan yang ada dalam hidup anaknya selama ini. " Diapers!" Ia mencatat hal itu dalam otaknya. Berniat meminta Jonathan untuk membelikan benda itu besok pagi .
Ya, anaknya tak boleh lagi kekurangan apapun.
" Yang ini juga?" Tanya Jodhi menunjukkan tissue basah, serta tissue kering merk biasa kepada Lintang.
Lintang nampak terkejut, mau marah tapi ini pagi buta. Selain itu, ia juga sangat mengantuk. Membuat Lintang akhirnya mengangguk tanpa mendebat lagi meski sebenarnya ia masih memiliki ganjalan kepada laki-laki itu.
Jodhi juga terlihat inisiatif mencari plastik untuk tempat popok kotor yang berisi sambal kacang produksi Danuja.
__ADS_1
Dan yang membuat Lintang kaget, Jodhi sama sekali tak jijik waktu mengangkat barang kotor itu, meski isinya sedikit tak bagus.
" Biar aku yang buang, masukkan aja!" Titah Jodhi tenang kepada Lintang pada kotoran itu.
Lagi-lagi, baik Lintang maupun Jodhi terlihat kompak dan lebih kooperatif satu sama lain.
Lintang fokus mengelap bokong lembut anaknya menggunakan tissue basah tersebut, Jodhi yang sudah kembali dari tugas pembuangan, kini menatap Lintang yang terlihat piawai dalam mengerjakan hal itu.
" Aku benar-benar beruntung bisa memiliki anak yang lahir dari kamu Lin. Walau aku tahu caranya salah!"
" Aku pastikan akan kuganti semua yang telah kalian lewati setelah ini!"
"Ya- Yah!" Danuja tekrikik-kikik di jam sepagi itu. Bocah itu terlihat mengajak Ayahnya berbicara, saat ibunya sibuk mengganti popoknya.
Jika dilihat, mereka seperti pasangan bahagia saat itu. Danuja yang bercanda bersama Jodhi, serta Lintang yang kini terlihat sibuk bergumul dengan bokong dan diapers.
" Udah, Danuja sekarang bobo ya nak, ini masih malam!" Lintang mengusap serta mengajak bayi yang belum nalar itu mengobrol seperti biasanya. Penuh cinta dan penuh kasih.
Lintang memang selalu menstimulasi anaknya dengan mengajaknya ngobrol seperti itu setiap hari.
" Ayah buatin susu ya biar bisa bobo?" Ucap Jodhi mengelus pipi gembul Danuja, dan dibalas jawaban cedal. " Cu- cu! Ya- Yah!"
Membuat Jodhi tersenyum hangat.
" Udah boleh minum susu kan? Udah enggak diare kan?" Tanya Jodhi kepada satu-satunya makhluk betina diruangan itu.
Lintang sebenarnya enggan menjawab, tapi ia benar-benar ngantuk dan tak tahan jika harus membuatkan susu. Membuatnya mengangguk pasrah dan no debat kali ini.
" Berapa sendok?" Tanya Jodhi yang kini berada di depan nakas yang berisikan susu formula dan sebuah botol termos berisikan air panas yang di bawa Yanti.
" Biasanya empat, sekarang separuh saja! Kata perawat tadi engga boleh terlalu kental!" Lintang bahkan mendecah tak percaya dalam hatinya, demi menjawab pertanyaan itu dengan sikap wajarnya.
Jodhi mengangguk paham.
Meski susu itu berantakan di sekitar nakas, dan tutup tempat susu bubuk itu pasti tidak rapat usai digunakan, namun pria itu berhasil membuat susu hangat untuk Danuja.
Ya, this time for Jodhi to serve a milk for Danuja.
Dan beberapa hal itu masih jadi misteri yang belum terpecahkan hingga saat ini. Tentang mengapa pria seringkali menutup toples tak rapat, menarik baju dalam lemari selalu berantakan, lupa menutup odol, dan masih banyak ketidaksimetrisan lainnya yang jelas selalu membuat kita kaum ibu-ibu geleng-geleng kepala.
" Kamu tidurlah. Biar aku yang jaga Danuja!" Jodhi kasihan melihat Lintang yang bolak-balik menguap.
Lintang tak menjawab dan kini memilih pergi sebelum kejadian tadi terulang kembali. Ia benar-benar tak kuasa menahan serangan kantuk. Lagipula, Danuja terlihat bergembira ria kala menyongsong sebotol susu hangat dari pria itu.
" Biar sudah malam ini pria itu menjaga Danuja. Aku benar-benar ngantuk sekali!"
Jodhi tersenyum saat menatap Lintang yang sudah melingkupi tubuhnya dengan selimut, seraya memunggunginya.
Biarlah meski belum sepenuhnya menerima. Namun setidaknya, Jodhi bahagia sebab malam ini ia bisa melihat dia makhluk kesayangannya ada dalam pengawasannya.
Oh Tuhan, bantulah aku!
.
.
.
__ADS_1
.
.