Menjadi Ibu Untuk Anakmu

Menjadi Ibu Untuk Anakmu
Bab 40. Menipu diri


__ADS_3

Bab 40. Menipu diri


.


.


.


...🌺🌺🌺...


Adipati


Ia hendak menemui Galuh sebenarnya pagi itu. Semalam ia di telpon papanya dan diberikan siraman qolbu yang panjang dan lebar. Ia bahkan sampai tak bisa tidur nyenyak usai di berondong kekesalan dari mulut papanya.


" Kerjaan apa emangnya? Orang tua lagi sakit kamu malah mentingin kerjaan. Udah enggak waras kamu?"


" Apa enggak bisa di tinggal sebentar?"


Ia bahkan mendapat paket kekesalan combo dari Maya. Sebab ia menjadi tak mood untuk bercumbu sesuai mendapat gerutuan dari sang papa.


Damned!


Namun...saat ia hendak membuka handle pintu mobilnya pagi itu, pemandangan mengejutkan membuat jantungnya bak terhunus pedang bermata dua.


Menyayat perih harga dirinya ,yang merasa menjadi pemilik tangan yang tengah di cekal oleh seorang pria bertubuh tegap itu.


" Apa-apaan mereka?" Gumamnya kesal.


Seorang pria jelas - jelas tengah memegang tangan Galuh. Dan mereka terlihat mengenal satu sama lain.


" Siapa dia?" Hatinya mendadak panas. Entah mengapa ia mendadak merasa ingin marah kepada Galuh. Niatnya untuk menemui sang istri lenyap sudah dalam sekejap. Berganti kecemburuan yang menyeruak.


Ia melihat pria tampan dengan mobil mewah keluaran terbaru itu berjalan kembali, usai Galuh telah masuk ke dalam gerbang sekolah. Pria yang usianya ia taksir seumuran dengan dirinya itu, terlihat bukanlah orang dari golongan biasa.


Dengan dada bergemuruh, dan dengan membawa serta kemarahan yang menguasai. Adi melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi.

__ADS_1


Menembus jalan raya yang mulai padat akibat geliat kehidupan penuh kemunafikan.


.


.


Raka


" Yang satu udah saya mutasi, yang dua orang langsung saya beri surat SP 2 Pak!" Tutur Niko memberikan laporan terkait perusuh di manajemennya yang ketangkap basah kemarin pagi.


" Yang lima orang lagi, sedang saat kaji ulang. absen maupun kinerjanya!" Tutur Niko selanjutnya. Nampak menekuni satu persatu catatan di note booknya.


" Kalau saya boleh usul, saya mau ganti manager yang di unit dua dengan yang lebih muda gimana Pak? Soalnya bagian produksi memerlukan orang yang cekatan!" Ucap Niko lagi.


Merasa tak mendapat sahutan, membuat pria yang hobi berenang itu kini mendongak demi memastikan bosnya.


" Pak!...Pak Raka!" Niko bahkan kini menepuk lengan bos-nya, yang rupanya asik melamun. Membuat Raka tersentak.


" Gimana... gimana?" Ucap Raka gelagapan. Ia tersadar dari lamunannya demi tepukan dari Niko yang lumayan kerasa.


Oh astaga. Ucapan Galuh benar-benar membuat dirinya tak tenang.


" Saya hanya melakukan tugas saya sebagai guru . Yang anak anda perlukan hanya waktu dan kasih sayang. Bukan kelimpahan materi. Permisi!"


Niko mendengus. Sia-sia sudah dia ngomong panjang lebar sedari tadi. Sialan!


Niko menghembuskan napas sebal. Jadi sedari tadi dia ngoceh tanpa di dengar? Astaga bos-bos, tega amat!


" Perlu kopi bos? Biar saya panggilkan Yudi" Tawar Niko yang menyadari jika Raka benar-benar tak fokus. Tak seperti ini biasanya.


Raka memijat keningnya, " Apa menurut mu, aku ini workaholic banget Ko?"


Niko mengernyit, apa bosnya itu sedang demam? Karena tak biasanya ia mendengar Raka berbicara dengan nada suara mellow seperti itu.


" Pak Raka orang yang bertanggungjawab. Jadi wajar kalau rajin kerja. Memangnya ada apa pak?" Tanya Niko penasaran.

__ADS_1


Raka menatap Niko tak yakin, " Kamu ini bener sih anak dari Om Devan. Tapi kamu masih kecil, kalau saya ajak curhat soal perasaan saya, saya enggak yakin kalau kamu nyambung!" Tutur Raka menatap Niko menimbang-nimbang.


" Sialan si bos!" Rutuknya dalam hati.


" CK, jangan meremehkan saya bos! Jadi masalahnya apa? Wanita yang kemarin? Atau hal lain?" Tanya Niko menaik-turunkan kedua alis. Mencoba berdiplomasi dengan gaya jenaka.


" Citra ini aneh Ko. Dia itu beberapa hari ini dekat banget sama gurunya yang itu..."


Raka menceritakan semua yang ia rasakan kepada Niko tanpa tanggung-tanggung. Tentang semuanya, tentang Citra yang terlihat senang manakala guru itu bersamanya, tentang ia yang memang jarang bisa menyempatkan waktu untuk anaknya itu.


Semuanya secar detail. Sungguh, Raka hanya perlu rekan untuk bertukar pikiran.


Niko mengeluarkan ekspresi wajah yang bergonta-ganti saat Raka bercerita. Tapi dari itu semua, Niko merasa iba dengan posisi Raka sebagai single father.


" Makanya Pak, jangan mudah terbakar emosi kalau sama orang yang belum kita kenal. Bapak inget dulu waktu Citra kena masalah yang berdarah-darah itu, bapak bahkan bikin Ibu guru itu pucat loh... sekarang?..."


Niko merentangkan kedua tangannya dengan wajah menyebik. " Anaknya bapak malah lengket sama guru itu!"


Double Damned!


" Sialan lu Ko!" Sahut Raka sebal.


" Nih ya pak, anak seusia Citra itu dunianya main. Dia tahu loh orang baik sama enggak!".


" Nah saya tahu cara biar Pak Raka berhenti mumet!" Ucap Niko jumawa.


" Apa?" Tanya Raka tak sabar.


" Deketin lalu nikahin itu guru, beres deh!" Niko tergelak puas demi melihat wajah Raka yang sudah hendak memarahinya.


" Enggak! Enggak ngawur aja kamu!"


Ucap Raka menolak keras. Mana mungkin.


Entah mengapa saat membicarakan soal menikah, ia menjadi teringat dengan Dewi. Bagaimanapun juga, ia sudah keburu memberikan isyarat dan sinyal kepada Dewi.

__ADS_1


Dan sialnya, ia juga masih belum merasakan apapun hingga saat ini.


.


__ADS_2