
Bab 116. Sebuah dukungan
.
.
.
...🌺🌺🌺...
Jodhistira
Ia duduk tepekur menatap lantai putih di depannya. Ia sebenernya ingin sekali menemui Lintang baik-baik dan cara yang wajar. Tapi mendengar semua itu, ia kini mengurungkan niatnya.
Otaknya mendadak buntu. Ia yang biasanya bisa mendapatkan ide taktis dengan cepat, nyatanya kini harus bergumul dengan keresahan hatinya seorang diri.
Ponsel Jodhi bergetar saat ia tengah sibuk memproduksi air matanya. Sebuah nama dengan tulisan 'Novan' itu terlihat kelap-kelip di depan layar ponselnya.
" Ya Van?" Ucapnya sesaat setelah menggulir tombol hijau.
" Ke ruangan gue Jo!"
.
.
Raka
Ia kira akan mudah untuk meyakinkan seorang Lintang. Tapi sepertinya, luka yang di torehkan oleh Jodhi terlalu dalam.
Raka kini paham. Bahwa sama dengan dirinya dulu, mungkin keduanya juga memerlukan waktu untuk berdamai. Tapi yang jelas, Raka sudah berusaha. Dan tentu saja, akan terus berusaha meyakinkan Lintang, jika Jodhi melakukan semua itu karena kekeliruan cara menyampaikan cinta.
Semua orang pernah salah kan?
" Orang tua Danuja!" Panggil seorang dokter wanita yang kini menyembul dari balik pintu. Membuat keduanya mengalihkan atensi.
Raka turut berdiri saat Lintang kini berjalan tergesa-gesa ke arah dokter tersebut. Namun, langkahnya urung saat ia melihat dokter yang buru-buru menutup pintu ruangan Danuja.
Raka menghela napas. Mungkin jumlah pengunjung yang masuk memang di batasi. Ia kini memilih untuk menunggu diluar saja.
Dan saat Raka hendak mengambil ponsel di sakunya, seorang wanita paruh baya terlihat datang dengan wajah panik.
" Anggrek dua!" Gumam wanita itu mengeja tulisan yang tergantung di langit-langit rumah sakit itu.
" Maaf Buk, anda cari siapa ya?" Tanya Raka yang melihat wanita berambut pendek itu celingak-celinguk. Seperti kebingungan.
" Saya mencari anak saya Lintang, ini ruang Anggrek dua kan? Anda siapa?"
.
Denok
Ia tersenyum penuh kemenangan tatkala melihat Jonathan yang kini meringis seraya menutup bagian depan resletingnya menggunakan kedua tangan yang ia tumpuk
" Mampus gak loh. Nyeri- nyeri deh itu burung!" Gumam Denok terkikik geli.
" Gede juga punya elu! Dari roman - romannya, elu itu masih perjaka ya?" Denok terkikik-kikik saat dirinya kini mulai mundur dan mendudukkan tubuhnya ke bangku kosong di depan Jonathan.
" Wanita gila! " Ucap Jonathan yang masih menutup mister dickk nya. Merasa takut juga kesal di waktu yang bersamaan.
__ADS_1
" Wanita ini bener-benar berbahaya!"
Denok tergelak. " Baru juga begitu. Makanya jangan macem-macem lu. Sekarang gua tanya nih ya, sebenarnya mau apa kalian hah? Si Lintang itu ud ..."
" Gimana kalau kita kerja sama?" Sahut Jonathan yang kini menatap Denok penuh maksud. Dalam sekejap, sekretaris beralis tebal itu merasa menemukan ide brilian demi melihat Denok yang terus saja terkikik-kikik.
Seingat Jonathan, wanita yang sebenarnya cantik itu pernah meminta transferan orang saat hendak memberikan bonus **** di dalam beberapa waktu lalu. Membuatnya menemukan satu ide.
Denok menatap Jonathan penuh selidik.
" Aku akan memberimu uang!" Ucap Jonathan seraya tersenyum menyeringai.
" Main sama elu?" Ucap Denok santai. Seperti biasa. Tiada rasa ketakutan.
" No! Burung gue khusus buat istri gue. Bukan buat yang lain. Dan elu beruntung sebab bisa megang!" Jonathan memberanikan diri menjawab sahutan Denok meski sebenarnya ia cukup ngeri kali ini.
Denok mencibir. " Lalu apa?"
Jonathan kini berjalan mendekat dan mendudukkan dirinya persis di sebelah Denok yang memangku sebelah kakinya.
" Buset, nih orang wangi banget. Kok gue jadi pingin ngerasain itunya ya. Biar dah enggak di bayar!"
" Jadi gini...."
Denok terlihat mengangguk-angguk, sesekali terkejut dan kemudian berubah muram lagi. Entah apa yang di bisikkan oleh Jonathan kepada wanita itu.
Tapi yang jelas, sepertinya Jonathan akan memanfaatkan Denok agar Lintang mau membuka hati untuk bosnya. Wanita itu sepertinya memiliki pengaruh yang besar dalam kehidupan Lintang.
" Gimana?" Tanya Jonathan dari jarak yang dekat.
" Elu yakin?"
.
.
Yanti
Ya, Yanti yang sedari tadi gupuh mencari keberadaan Lintang, kini di manfaatkan Raka untuk membeberkan sebuah kebenaran. Membuat Yanti terlihat dirundung rasa prihatin.
Mereka akhirnya saling berbicara. Raka yang bersifat supel dan humble terlihat menguasai suasana.
Kini, Ayah dari Citra dan Angga itu dibuat berkali-kali tertegun demi mendengar cerita Bu Yanti.
" Saya ketemu mereka waktu itu di pinggiran jalan nak di suatu malam nak. Saya lagi mulung malam itu. Lintang sama Ibunya kelihatan lemes banget!"
Raka tertegun mendengar cerita Bu Yanti yang benar-benar mengoyak paksa nuraninya. Astaga, bahkan Lintang lebih menderita dari dirinya saat kecil dulu.
" Padahal saya cuma pemulung, kerjaan kotor dan badan udah pasti bau. Tapi enggak taunya mereka mau diajak!" Bu Yanti tersenyum kecut. " Ternyata ibunya Lintang sakit parah. Ininya ( menujuk ke arah dadanya) udah busuk sebelah. Kasihan banget malam itu. Mana dia hamil, enggak ada yang peduli sama sekali!"
Raka semakin tak kuasa menahan air matanya. Ia kini ingin sekali menempeleng wajah adiknya itu. Jika sudah begini, kaum wanita lah yang paling dirugikan.
" Belum lama ikut saya, besoknya Ibu Lintang meninggal. Sejak saat itu saya enggak tega buat ninggalin Lintang nak. Biar saya orang enggak punya, tapi nasib saya lebih baik dari Lintang." Bu Yanti kini ganti menyusut air matanya. Benar-benar tak tahan dengan kenyataan hidup, yang di alami oleh ibu dari Danuja itu.
Raka mengusap punggung bergetar Bu Yanti yang kini menangis. Merasakan pilu di relung hati terdalamnya.
" Si Denok itu juga, biarpun dia begitu, tapi dia yang paling sering bantuin saya sama Lintang nak. Denok itu ibarat kata udah jadi malaikat buat kami."
" Saya sebenarnya seneng denger bapaknya Danuja mau tanggungjawab nak. Seneng banget. Lintang masih muda. Mudah-mudahan ini benar. Kasihan Lintang selama ini. Kasihan Danuja, masih bayi diajak jualan. Sementara saya kalau enggak mulung enggak bisa bayar kontrakan!"
__ADS_1
Hati Raka benar-benar nyeri. Pun dengan Bu Yanti. Mereka berdua kini sibuk menyusut air matanya. Hanyut dalam suasana mengharu biru .
" Makasih ya Buk. Saya enggak ngira, masih ada orang baik seperti Bu Yanti! Jodhi pasti senang jika mendengar ini!"
Tanpa mereka sadari, Jodhi yang telah kembali dari menemui Novan kini mematung di sebelah dinding, saat mendengar perbincangan Raka bersama seorang wanita asing itu.
" Saya sebenarnya curiga kalau Danuja ini kepingin ketemu bapaknya nak. Dia bolak balik sakit. Bolak-balik rewel, nangis. Coba nanti kalau nak Jodhi ada kema..."
" Saya disini Buk!"
DEG
Kini, baik Raka maupun Yanti sama-sama membulatkan matanya demi mendengar suara yang mendadak terdengar itu. Sama sekali tak mengira jika Jodhi berada disana. Pria itu terlihat menangis dengan wajah murung.
" Kamu nak Jodhi? Ya Allah, kenapa mirip sekali dengan Danuja?" Ucap Bu Yanti saat Jodhi kini berjalan ke arahnya.
Yanti kini menutup mulutnya tak percaya. Ia bahkan kini menangis saat Jodhi sujud di bawah Kakinya. Benar-benar seperti mimpi.
" Terimakasih Buk. Terimakasih sudah mau menolong anak dan wanita yang saya cintai selama ini." Saya sangat berterima kasih Buk!"
Jodhi kini menangis seraya bersimpuh di hadapan Yanti. Ia merasa sangat berhutang budi kepada wanita berkulit gelap itu. Membuat mata Raka kembali memerah. Astaga, jika saja Galuh berada di sini, bisa pria itu pastikan istrinya itu akan ikut tersedu-sedu.
" Ya Allah nak, tolong jangan seperti ini!" Yanti merasa sungkan. Jodhi adalah pria terhormat, tak pantas bersujud di bawah kaki wanita miskin macam dirinya. Begitu pikirnya.
" Biar saya sujud seribu kali pun Buk, semua itu enggak akan sepadan dengan semua kebaikan yang ibuk lakukan buat anak saya!"
Raka kini mengusap wajahnya berkali kali demi melihat langsung kejadian mengharukan itu.
" Sekarang apa yang harus saya lakukan Buk? Saya gak bisa seperti ini, saya enggak kuat jika Lintang terus memusuhi saya seperti saat ini! Saya mencintai dia buk. Saya bisa gila jika terus seperti ini!" Tangis Jodhi makin menjadi.
Jodhi bahkan tak malu meskipun ia kini menangis dengan lelehan air mata yang membanjiri pipinya. Tak mempedulikan tatapan penuh selidik dari pengunjung lain.
" Sudah nak, sudah. Jangan di paksakan dulu. Kamu juga harus paham, bahwa apa yang Lintang jalani selama ini bukan perkara mudah. Kita semua harus sabar. Pelan-pelan ibuk akan bantu!" Ucap Bu Yanti yang meraih wajah Jodhi.
Jodhi merasa hatinya menghangat kala pipinya di usap penuh kasih oleh orang yang wajahnya lelah itu. Ya, sebuah dukungan kini telah ia dapatkan.
Dari jarak beberapa meter, terlihat dua manusia yang entah kapan datangnya itu, mematung demi mendengar dan melihat hal mengharukan itu.
" Rupanya enggak kalian aja yang seorang malaikat. Kata si Yanti aku juga malaikat!" Ucap Denok seraya menangis. Membuat Jonathan kini membelalakkan matanya kala melihat Denok.
" Bisa nangis juga dia?"
SRUUOOOT!!!
SRUUOOOT!!!
Jonathan melebarkan matanya seraya merinding kala mendengar Denok yang menyusut ingusnya dengan sangat keras tepat di sampingnya. Bahkan sebanyak dua kali. Sialan!
" Tadi padahal aku kesel banget, pingin nimpuk orang yang udah tega buat hidup Lintang sama keponakan gue runyam pakek batu. Tapi...aku kok kasihan lihat malaikatku nangis begitu ya!"
Jonathan kini makin terkejut saat Denok mengusapkan sisa air matanya ke lengan jas Jonathan, tanpa rasa berdosa.
Membuat jas hitam merk ternama itu , kini penuh dengan sisa bedak tebal yang luntur. Meresap hingga ke serat kainnya.
"Oh astaga! Kenapa aku harus dipertemukan dengan manusia seperti ini sih?"
.
.
__ADS_1
.
.