Menjadi Ibu Untuk Anakmu

Menjadi Ibu Untuk Anakmu
Bab 122. Di sudut malam


__ADS_3

Bab 122. Di sudut malam


.


.


.


Lintang


Ia terkejut saat mendengar Denok yang menelpon Jonathan tanpa izin dulu kepada dirinya. Lebih terkejut lagi saat ia mendengar hal konyol yang di lontarkan Denok dengan santainya itu.


" Sory Lin, kalau kamu mau marahin aku enggak apa-apa wes, aku cuman enggak tega sama Danuja. Sekarang kalau kamu mau marah terus sama aku aku siap!" Ucap Denok dengan wajah muram yang kali ini agak serius.


Meski ia merupakan wanita buruk dalam pandangan orang, namun ketenangan bayi yang sudah ia bersamai sejak dalam kandungan itu ,jelas tak bisa ia gadaikan dengan apapun. Semua orang bisa berbuat baik dalam berbagai versi bukan?


Lintang terdiam, belum pernah Denok seserius ini. Bahkan, di setiap situasi genting pun, wanita itu kerap berkelakar. Namun, entah mengapa wajah Denok yang serius kali ini justru membuatnya ngeri.


" Saya ambil darahnya dulu ya Bu untuk kami lab nanti. Maaf, apa masih muntah? Diare nya bagaimana?" Tanya perawat yang kini mencoba menetralkan dirinya dari keterkejutan akibat ulah Denok.


" Udah enggak muntah mbak, kalau diare nya masih sekali tadi!" Jawab Lintang dengan alis yang tiada berhenti bertaut. Ia bahkan tak lagi mempersoalkan Denok yang menghubungi pria bernama Jonathan.


Danuja masih terisak-isak sedari tadi. Membuat semua orang dewasa disana bingung untuk mengendalikan.


" Cup nak! Sini sama Mbah Uti ya!" Bu Yanti membawa Danuja ke sisi dekat jendela agar perawat itu bisa leluasa mengambil sampel darah. Dan beruntungnya, meski masih terlihat sesenggukan, namun Danuja kini terlihat sedikit tenang.


Lintang terduduk lemas. Ia memijat keningnya yang mendadak terasa pening. Bagiamana ini? Kenapa Danuja terikat dengan pria itu?


" kenapa harus dengan pria itu nak?"


.


.


Jonathan


Ia tersentak dari keseriusannya, manakala ponselnya bergetar. Jonathan mendecak sebal demi melihat nama yang tertera di ponselnya. Nama yang di tulis sendiri oleh wanita pemaksa tadi.


πŸ“ž Wong Ayu memanggil...


" Denok bos!" Tukas Jonathan dengan wajah masam.


Ia bahkan kini mendecah tak percaya saat mengucapkan nama wanita bar-bar itu, kepada Jodhi dan Raka.


" Ada apa? Keraskan suaranya!" Alis Jodhi seketika bertaut menandakan jika ia sangat penasaran dengan berita yang akan dibeberkan oleh perempuan bermulut slong itu.


Jonathan menekan tombol loudspeaker sesaat setelah ia menggulir tombol hijau pada layar , seraya mencoba membagi fokusnya pada kemudi.


" Hal..."


" Halo Jon! Jon? Ah elah si Jojon denger enggak aku ngomong? Berhentiin dulu itu mobil napa? Bapaknya Danuja suruh balik cepat. Waduh ini anak banteng ngamuk ini!"


Ucapan Jonathan bahkan menguap percuma. Jodhi dan Raka menjengukkan kepalanya ke celah yang berada sebelah Jonathan, demi ingin menangkap gelombang suara yang lebih jelas. Ya, mereka berdua kini sibuk berjejal seperti orang yang tengah antri sembako.


" Apa? Sekarang?" Jodhi dan Raka hanya bisa saling bertukar pandang demi melihat interaksi konyol assistenya itu.


" Iya iya! Udah cepet!"


" Ya udah, kamu jaga dulu kalau gitu. Aku balik kesana sekarang!"


"Aman! Udah cepet, awas lek lama kamu ya, tak prekes ( remat) tenan manukmu !"


Jonathan terhenyak sementara Raka cekikikan seorang diri di belakang. Benar-benar menikmati dagelan gratis di depannya.


" Sialan ni orang. Kalau ngomong enggak pernah ada saringannya!" Jonathan menggerutu sembari memutuskan sambungan teleponnya.

__ADS_1


Jodhi tertegun. Sejenak ia merasa panik dan senang dalam waktu bersamaan. Panik karena anaknya tengah rewel, namun senang karena Danuja nyatanya memiliki ikatan batin yang kuat dengan dirinya.


" Jo, kayaknya ikatan batin elu sama Danuja kuat banget!" Ucap Raka berwajah terenyuh.


Jodhi mengangguk. Ya, apa yang dikatakan oleh Raka itu memang benar adanya.


" Berhenti di depan aja Jo. Aku akan balik kesana sendiri. Jo, selesai istirahat kamu ke kantor buat cek laporan orang-orang di pabrik. Dan buat kamu, kamu istirahat dulu aja Ka. Kasihan mbak Galuh sama Citra, pasti nyariin kamu!"


.


.


Jodhistira


Niatnya pulang ke hotel sebenarnya lebih ke untuk membiarkan Lintang untuk bisa sedikit beristirahat. Ia tahu, ibu dari anaknya itu sama sekali tak tenang saat dirinya berada di sana.


Namun tak di sangka, semesta rupanya mengatur dirinya untuk kembali kesan lebih cepat. Jodhi bahkan belum sempat mengganti pakaiannya.


Dan setibanya ia di kamar Danuja, pemandangan mengharukan membuat Denok dan Yanti menatap muram.


" Ya- Yah!" Danuja merengek menjulurkan tangannya kepada Jodhi yang baru saja tiba dengan wajah cemas itu. Terlihat penuh harap.


" Anak Ayah!" Tanpa menunggu lagi, Jodhi seketika merengkuh tubuh hangat Danuja dan kini membelainya mesra.


" Sory Jo bikin kamu balik lagi, suer karena keadaan darurat. Ya... habis gimana lagi, tantrum banget ni anak!" Seru Denok yang merasa bersalah sebab mengganti Jodhi.


Jodhi mengangguk seraya mengusap punggung anak-nya yang kini ia gendong. " Aku malah terimakasih karena kalian masih mau menganggapku sebagai bagian dari Danuja!"


Lintang hanya diam saat Jodhi menyindirnya. Wanita itu memilih untuk membisu saat mengetahui Jodhi telah tiba.


" Tadi habis di ambil darahnya, katanya mau di lab nak!" Ucap Bu Yanti memberikan update informasi kepada Bu Yanti, yang kini menundukan tubuhnya ke sofa.


" Halo, apa cok? Gue libur, besok gue baru oprasi lagi!..."


" Iya, dobol dong kalau tiap hari!" Denok terkikik-kikik.


" Sebaiknya kalian pikirkan baik-baik soal Danuja!"


Lintang kaget saat tiba-tiba Bu Yanti membicarakan hal itu. Hal yang sama sekali tak ingin ia dengar.


" Kalau kata orang dulu, anak rewel itu sebab batinnya ngerasa kalau orang tuanya enggak tenang. Apa kalian tidak kasihan?"


Jodhi melirik Lintang yang kini menatap meja di depannya dengan tatapan nanar. Wanita itu jelas berpikir keras.


" Ibuk mau pulang dulu. Ada urusan sebentar. Kamu biar di temani nak Jodhi ya Lin. Besok Ibu pagi-pagi sekali datang!"


" Tapi buk?"


" Demi Danuja!" Ucap Bu Yanti yang mewakili ucapan penuh penegasan.


.


.


Dan benar, malam itu dua manusia beda gender itu berada dalam satu ruangan yang terasa mencekam. Lintang tak bisa menolak sebab pada kenyataannya anaknya memang tak bisa lepas dari Jodhi.


" Dan, bujuk ibumu biar enggak marah sama Ayah dong?"


Lintang melirik tajam Jodhi yang berbicara menyindirnya, kepada bayi polos itu. Membuat Lintang mencelos.


" Hah!" Jodhi pura-pura menghela napas pasrah. "Gimana ya caranya biar Ibu berhenti ngambek ke Ayah ya sayang?"


Jodhi terus berkomunikasi pada bayi yang belum fasih berbicara itu, seraya melirik Lintang yang wajahnya sudah bersungut-sungut.


Lintang seketika berdiri. " Aku keluar!" Ia tak tahan.

__ADS_1


Jodhi menatap Lintang yang sepertinya kesal terhadap dirinya. Ia menarik napasnya dalam-dalam lalu menghelanya sekali lagi.


Biarlah ia nikmati masa perjuangannya ini. Jika ia biasa menolak perempuan, mungkin inilah karma yang harus ia jalani.


.


.


Lintang


Sekembalinya menenangkan diri dari luar , ia yang telah masuk ke ruangan Danuja itu, terlihat mematung di ambang pintu saat melihat Jodhi yang tidur melingkupi Danuja dengan wajah lelap.


Lintang merasakan sesuatu yang aneh saat menatap dua laki-laki beda usia itu.


"Kau tahu, ada orang suci pernah berkata; Bisa jadi apa yang kau inginkan itu tak baik untukmu, dan boleh jadi apa yang tidak kau sukai, itu teramat baik untukmu!"


Ucapan dari Raka beberapa waktu lalu mendadak menari-nari di kepalanya.


"Tapi sejak pertemuannya denganmu, laki-laki itu berubah Lin! Dia bahkan rela menunggu ku latihan voli demi bisa ngelihat kamu main!"


" Jujur, aku sedih lihat keadaan kamu kayak gini. Tapi... Kamu harus denger yang sebenarnya."


Entah mengapa ia yang melihat wajah lelah Jodhi saat tidur itu, merasakan sesuatu yang sulit ia jelaskan.


" Dia marah waktu ngelihat kamu kerja di tempat seperti itu. Dia kecewa saat kamu menolaknya dan lebih mengakui perasaanmu kepadaku!"


Ia kini merenung seraya menatap Jodhi yang kini masih memejamkan matanya di samping tubuh mungil Danuja.


" Dan kamu tahu apa yang Jodhi lakukan saat kamu pergi? Dia terpuruk!"


" Bahkan kami para keluarganya tidak bisa membantunya sama sekali. Dan kamu tahu itu artinya apa Lin? Dia benar-benar mencintai kamu. Bahkan ketika ia tahu jika kejadian malam itu membuahkan Danuja, dia sekarang semakin enggak mau kehilangan kamu lagi Lin!"


Lintang menitikkan air matanya. Benarkah itu semua? Atau...semua ini hanya akal-akalan nya Jodhi dan Raka.


" Tidak, kau tidak boleh terlalu cepat memaafkan dirinya Lin!" Batinnya mensugesti diri agar tidak turut laut dalam rasa penyesalan.


Namun, entah mengapa Lintang malam itu malah terus terjaga. Matanya tak bisa ia pejamkan sama sekali. Ia terus menatap punggung lebar Jodhi yang memunggunginya itu.


"Apa ia bisa mempercayai pria itu?"


" Tapi...."


Kenapa semua orang begitu mudahnya percaya dan mendukung Jodhi?


Dan entah mengapa juga, Lintang yang gelisah kini malah spontan mengambil selimut di bawah kakinya, lalu berjalan mendekati Jodhi demi rasa kasihan.


Sedikit ragu saat hendak membentangkan selimut itu, namun tiba-tiba.


SRET


Jodhi membalikkan tubuhnya seraya merengkuh pinggang Lintang dan menguncinya dalam hutungan sepersekian detik. Membuat Lintang membulatkan matanya.


" Aku tahu kau pasti peduli denganku, Ibu dari anakku!"


Ucap Jodhi tersenyum tulus ke arah wanita yang saat ini masih nampak syok itu. Oh tidak!


.


.


.


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2