
Bab 33. Mengoyak paksa nurani
.
.
.
...🌺🌺🌺...
Adipati
Ia akan mendapatkan masalah jika papanya tahu, bilamana istrinya pergi sendirian ke rumah sakit saat mertuanya tengah di rawat, tanpa ia tunggui.
Ia tak boleh membiarkan ini terjadi.
Pria itu menyempatkan diri untuk pulang dan mandi terlebih dahulu. Ia tentu tak mau membawa serta bekas capaian kenikmatannya bersama Maya, menuju rumah sakit. No way!
Satu setengah jam kemudian, ia akhirnya tiba di rumah sakit tempat dimana mertuanya di rawat. Ia tak menelpon istrinya namun langsung berjalan menuju meja resepsionis dan menanyakan ruangan tempat dimana mertuanya berada.
" Atas nama Noer Rohman sus?"
Seorang petugas dengan seragam putih terlihat menggulir mouse, dan mencari nama yang sudah di entri dalam komputernya itu.
" Di ruang sabar dua ya Pak. Lurus saja, dari poli kandungan belok ke kiri terus ke kanan!"
Ia tekun mengingat petunjuk dari petugas berhijab tadi, sembari gencar membaca marka jalan yang terpajang di seluruh koridor rumah sakit itu.
Dan benar saja, dari kejauhan ia melihat Ibu mertua dan adik iparnya duduk dengan wajah layu. Astaga, mendadak ia merasa bersalah saat ini.
" Buk!" Ucap Adi dan kini terlihat langsung meraih tangan Bu Nur Halimah, lalu menciumnya takzim.
Bagaimanapun juga, orang tua tetap harus ia hormati.
" Adi...kamu datang sama siapa nak?" Bu Halimah menatap muram wajah menantunya. Tidak menyangka jika pria itu akan menyusulnya kemari. Suatu kebahagiaan bisa mendapatkan atensi dari menantunya.
Tapi tidak dengan Dinda. Wanita muda itu terlihat tidak begitu suka dengan Adipati. Entahlah, ia semacam mengendus aroma terselubung dari pernikahan kakaknya sejak tanggal pernikahan telah di tentukan. Walau ia sempat mendapat ucapan tak setuju dari kedua orang tuanya, saat ia mencoba berargumen soal pernikahan kakaknya.
__ADS_1
" Saya sendiri Buk. Maaf tadi..saya masih ada sedikit kerjaan di kantor. Jadi...saya tidak sempat baca pesan Galuh dan mengantarnya." Ucap Adi yang benar-benar tak enak hati. Meski ia tahu, adik iparnya menatapnya penuh selidik.
" Enggak apa-apa nak. Jadi kamu baru pulang dari kantor langsung kemari? Astaga, kamu pasti lelah!" Bu Halimah menatap murung menantunya itu.
Adi tersenyum. Meski jauh di dalam relung hatinya, entah mengapa ia semakin merasa nyaman saat ibunya Galuh malah perhatian kepada dirinya.
" Galuh di mana?" Ia menyapukan pandangannya demi mencari wanita yang selama ini ia abaikan itu. Berusaha mengalihkan pembicaraan.
" Tadi menemui dokter disana. Mungkin sebentar lagi kembali!" Tutur Bu Halimah.
" Aku nyusul mbak Galuh dulu Buk!" Ucap Dinda yang benar-benar malas dengan Adipati. Entahlah, sejak awal kakaknya menikah, ia bisa membaca gelagat tak baik dari pria itu.
Dinda bahkan sudah bisa mengendus aroma keterpaksaan dari wajah pria itu. Membuat Adipati tertegun. Adik iparnya itu benar-benar menunjukkan sikap anti yang begitu kentara kepadanya.
.
.
Galuh
Ia menyanggupi sejumlah nominal yang di persyaratkan oleh pihak rumah sakit, demi kelancaran proses medis Bapak. Tabungannya masih ada dan cukup. Syukurlah. Setidaknya ia masih bisa menolong keluarganya.
"Hal itu dilakukan, agar tumor maupun kanker bisa lebih mengecil dan mempermudah proses pengangkatan!''
" Selain itu, nantinya pasien akan dibuatkan saluran untuk pembuangan tinja melalui selang khusus yang akan di salurkan melalui perut dengan di bantu sebuah kantong khusus!"
Ia keluar dengan langkah gontai. Sebisa mungkin ia mengupayakan agar Bapak bisa sembuh. Walau ucapan dokter dokter beberapa detik yang lalu, seolah menjadi duri dalam daging yang menancap ngilu.
Membuatnya begitu merasa terpukul.
"Kesembuhan dan hidup hanya Tuhanlah yang menentukan. Kami hanya bisa berusaha semaksimal mungkin, dengan cara kami sebagai manusia biasa!"
" Artinya, Bapak anda harus rutin menjalani kemoterapi pasca operasi juga rutin mengkonsumsi obat!"
Galuh seketika menepikan dirinya di sebuah bangku kosong, demi menelaah semua yang terjadi. Jadi persoalannya adalah, kedepannya semua ini membutuhkan uang yang tidak sedikit.
Galuh menangis dalam kesunyian hatinya. Ia tak boleh terlihat sedih dihadapan Ibunya. Ingin rasanya ia mengungkapkan keresahan yang menghujam relung hatinya soal pernikahannya. Tapi jika sudah begini? Apa yang bisa ia lakukan?
__ADS_1
Kesehatan Bapak Ibunya kini menjadi barang mahal yang lebih penting dari dirinya sendiri. Astaga..anda waktu bisa ia putar kembali.
" Mbak!!" Suara familiar terdengar dari ujung lorong. Membuatnya buru-buru menghapus lelehan air mata yang belum terlalu banyak itu.
" Ada apa Din? Kok kamu malah kesini? Ibuk sama siapa?" Galuh menatap adiknya dengan tatapan tak setuju.
" Ada suamimu di sana!"
.
.
Adipati
Ia menatap mertuanya yang kini berbaring dengan mata terpejam. Sebuah selang terlihat terhubung di lubang hidung, juga di bagian punggung tangannya.
Adi menelan ludahnya demi keadaan yang terjadi. Sungguh, ia kini benar-benar merasa bingung dengan dirinya sendiri.
Selama disana tadi ia lebih terlihat diam. Sibuk menekuni kegiatan istrinya yang dengan cekatan menyeka tubuh Pak Noer, saat pria itu mengeluarkan kotoran dan tembus ke atas matras ranjang rumah sakit itu.
Galuh juga sesekali masih memperhatikan dirinya dengan membuatkan teh yang ia beli dari kantin rumah sakit, meski wajah lelah istrinya itu begitu kentara.
Sejumput rasa tak enak mendadak menyelimuti kalbunya. Astaga, semakin kesini ia merasa semuanya makin membuatnya di ujung kebingungan saja.
" Mas, kalau aku enggak pulang dulu ...enggak apa-apa kan?" Ucap Galuh saat mereka berada di luar ruangan.
Mereka berdua kini duduk di bangku panjang. Meninggalkan Bu Halimah dan Dinda beristirahat sejenak di sofa yang berada di sebelah ranjang pasien.
" Enggak apa-apa. Kamu disini aja dulu, aku tadi udah ngabarin papa sama mama. Besok beliau kemari!"
Dan sialnya, usai mengatakan hal itu Adipati justru merasa mendapat secercah cahaya harapan, soal Maya. Ya...itu artinya, ia akan bisa menemani Maya sehari full.
.
.
.
__ADS_1
.
To be continued...