
Bab 55. Sebuah insiden
.
.
.
...🌺🌺🌺...
Raka
Ia tersenyum canggung kepada Dewi usai menganggukkan kepalanya kepada Nining, atas informasi yang sukses menggagalkan niat Dewi ''Sory Wi, aku harus...'' Ia sebenarnya tak enak hati kepada dewi, selain kesulitan berucap akibat kecanggungan yang mendadak muncul, entah mengapa perasaan Raka agaknya tidak bisa ia paksakan.
Definisi dari rasa hambar.
''Its ok, enggak apa-apa kok. Tapi....'' Galuh mendekatkan dirinya kembali dan kini mengecup pipi Raka sekilas. '' Kita ketemu besok ya."
Raka mematung usai merasakan bibir kenyal Dewi yang baru saja mendarat di pipinya. Haduh!!! Dan lebih anehnya, mengapa ia tidak merasakan apapun selain rasa geli?
Pria dengan kumis tipis yang gemar mengenakan kaos polos manakala dirumah itu, kini telah sampai di kediaman orangtuanya. Jangan sampai mama ngeremon karena wanita yang kini berusia lanjut itu benar-benar telah menjadi sekutu setia Citra.
''Malam Ma....Pa..'' Seru Raka saat ia memasuki rumah yang menjadi saksi bisu kisah hidupnya dulu.
''Pssssstttt!!! Jangan keras-keras, dia baru aja tidur.'' Ucap Mama meletakkan jari telunjuknya di bibir, dengan tangan sebelah yang sibuk mengelus punggung Citra di sofa bersama Papa Abi dan juga Kalyna. " Kebiasaan kamu ini ngomong keras-keras. Anak lagi tidur juga!" Omel Mama.
Membuat Kalyna menjulurkan lidahnya demi mencibir Raka dengan terkekeh tanpa suara. Rasain lu!
Raka menghembuskan napasnya pasrah. Tahu gitu tadi enggak perlu ngusir Dewi, begitu pikirnya.
''Terus gimana ini?'' Tanya Raka dengan suara kecil serta wajah murung.
''Ya..enggak gimana-gimana, ya kamu tidur sini aja sekali-kali'' Jawab Mama masih giat mengelus punggung Citra yang lekas menggeliat akibat sebuah suara yang seperti mengusik.
'' Benar, kalau kamu bangunin nanti malah rewel. Papa sekalian mau bicara sama kamu.'' Jawab Papa yang selesai memotong kuku Kalyna malam-malam begitu. Pria itu sangat sayang sekali kepada seluruh anggota keluarganya.
" Ini juga, udah sebesar kingkong masih aja manja!" Raka menarik poni adiknya hingga membuat mereka hendak berkelahi.
" Raka! Kalau sampai Citra kebangun gara-gara kalian, Mama enggak mau ikut-ikutan!" Ucap Dhira mengingatkan jika Citra rewel, maka pasti akan sampai subuh.
Membuat keduanya meringis.
Dan benar, malam ini Abimanyu mengajak putra sulungnya itu berbicara berdua. Tempat favorit masih di tepi kolam yang begitu menenangkan. Di dalam terasa gerah meski AC dirumah itu tiada pernah padam. Mungkin karena cuaca diluar sedang mendung malam itu.
" Selalu waspadai orang- orang di sekitar kita Ka. Serangan itu bisa datang dari manapun!" Ucap Papa dengan tatapan menerawang dan menolak untuk merokok sebab Mama melarang Papa untuk mengkonsumsi nikotin yang terkandung dalam tembakau itu.
Hah, definisi dari suami- suami takut istri. Hihihi!
Usia senja dan pola hidup sehat jelas korelasi yang musti gencar di galakkan bukan?
Raka mendengarkan petuah Papa sambil tekun menghisap rokoknya. Menimbulkan suara bakaran tembakau yang kini menjadi latu.
" Apa papa saat ini merasa masih punya musuh?" Tanya Raka sembari melirik Abimanyu yang masih mengeluarkan aroma jantan di sisa ketampanannya yang tak jua luntur itu.
" Musuh secara nyata belum ada...." Ucap Abimanyu menelan ludahnya." Ingat, papa bilang belum...dan belum bukan berarti tidak ada!"
Raka tertegun seraya menikmati hisapan batang putih itu. Mencoba meresapi setiap perkataan Papa yang selalu saja meresap ke relung hatinya.
.
.
Galuh
Hari berganti hari dan seminggu pasca kejadian mengerikan itu, Galuh tak pulang sama sekali ke rumah pemberian pak Hendra itu. Bu Sevi sempat ingin bertemu namun Galuh melarangnya demi kesehatan Papa. Ia berjanji akan menemui ibu mertuanya selepas dari TK Pertiwi pagi ini.
__ADS_1
"Sebaiknya kamu pikirkan masak-masak lagi" Bu Bening selaku kepala sekolah merasa keberatan akan permintaan Galuh untuk mengundurkan diri. " Kamu ini Guru yang di senangi anak-anak lho Luh!"
" Apalagi Citra!" Bu Bening turut merasakan kesedihan meski sebenarnya ia tak tahu jika alasan yang di kemukakan Galuh merupakan dalih.
Wanita itu benar-benar tak bisa lagi fokus bekerja, setelah masalah berat yang menimpa dirinya. Ia bahkan belum sama sekali mengambil pakaiannya dirumah Adipati.
" Maaf kalau cara saya mengundurkan diri terbilang terburu-buru . Tapi... Bapak benar-benar membutuhkan saya saat ini Bu. Saya mohon maaf sekali lagi!"
Galuh bahkan terpaksa berbohong. Ia hanya tak mau pekerjaannya menjadi tidak profesional hanya karena hati dan pikirannya tengah semrawut.
Bu Bening menatap muram wajah Galuh yang pagi itu terlihat pucat. Kantung matanya juga kentara sekali. Sepertinya Galuh benar-benar kurang istirahat karena menjaga Bapaknya. Begitu pikir Bu Bening.
" Sukses di tempat lain ya Bu?" Wanita tua itu memeluk erat Galuh yang kini terlihat lebih kurus. Wanita itu bahkan tak mengenakan make up saat ke sekolah.
Saat hendak pulang, tanpa ia sangka Adipati rupanya menunggunya diluar." Galuh!" Pria itu kini mencekal tangan Galuh secara mendadak Membuat Galuh panik dan tak sempat barang sejenak untuk menghindar.
" Lepas!" Galuh merasa jijik sekali dengan pria itu.
" Benar dugaanku kamu pasti kesini. Luh..tolong maafkan aku, kita bisa bicara baik-baik. Aku bisa jelaskan semuanya!" Adi mencoba menghadang langkah Galuh yang hendak menerobos dan tak mau mempedulikan ucapan pria itu.
Ia terpaksa berbicara kepada Galuh lantaran rumah yang mereka tempati selama ini di atas namakan kelas Galuh, oleh pak Hendra. Benar-benar licik.
Galuh celingak-celinguk mencari taksi yang lewat namun tak juga ada satupun yang datang.
" Galuh kamu dengar aku tidak?" Adi mulai merasa gusar. " Galuh!'
" Lepas mas!" Galuh menatap tajam Adipati yang kini mencengkeram kuat lengan Galuh. " Udah enggak ada yang perlu kita bicarakan lagi!" Galuh benar-benar belum siap bertemu dengan pria itu.
Adipati terlihat menyeret Galuh hingga puluhan meter dan hendak membawa wanita yang masih berstatus istrinya itu menuju mobilnya.
" Mas lepas..sakit!!!" Galuh meronta-ronta minta dilepaskan namun tangan besar Adi sama sekali bukanlah tandingannya.
Kejadian menegangkan itu bahkan menyita perhatian para pejalan kaki yang tengah melintas di area trotoar TK yang berada di tepi jalan raya itu.
" Kita bicara dulu, baru aku mau nglepasin kamu!"
" Gila kamu, lepasin aku...kalau enggak aku bakal teriak!"
" Teriak aja, teriak semaumu. Siapa orang yang akan berani ikut campur urusan suami istri hah? Ingat Luh, gimanapun juga kamu itu masih istriku!" Ucap Adipati geram.
CUIH
Galuh meludahi wajah Adipati demi mendengar kata suami istri yang baru saja terlontar dari mulut kurang ajar pria tidak tahu malu itu. Membuat Adipati menghapus ludah yang kini menempel di wajahnya itu dengan wajah naik pitam.
" Suami istri kamu bilang? Suami apa, hah?" Mata Galuh mulai memanas. Luka yang baru saja tenang itu kini seolah terkoyak kembali.
" Wanita sund...!"
" Lepasin Galuh!" Suara berjenis bass itu membuat niat Adi yang hendak menampar Galuh menjadi terjeda.
Membuat Galuh terperanjat.
.
.
Raka
Ia baru saja mengantarkan Citra ke sekolah meski bocah itu rewel karena protes selama beberapa hari ini Bu Galuh jarang masuk.
Nining sedang sakit, membuatnya terpaksa mengantarkan sendiri anak kesayangannya itu. Sebuah telpon membuat dirinya menunda keberangkatannya ke kantor. Rupanya Dewi yang menghubungi dirinya. Wanita itu mengatakan jika dia telah sampai di kantor Raka.
Namun, sebuah pemandangan mengejutkan lagi-lagi membuat niatnya untuk masuk kedalam mobilnya tertunda.
CUIH!
__ADS_1
"Galuh?"
Ia sempat terperanjat saat melihat Galuh dari jarak sepuluh meter tengah meludah diatas wajah Adi yang terlihat menahan amarah.
" Suami istri kamu bilang? Suami apa, hah?"
Ia juga sempat mendengar suara Galuh yang menjawab dengan nada emosi. Jelas menandakan jika mereka berdua tengah bertengkar.
" Wanita Sun...!"
" Lepasin Galuh!" Sebagai lelaki, ia tak bisa hanya berdiam diri melihat seorang wanita di perlakukan sedemikian buruknya. Apalagi, sedikit banyak Raka sudah mengantongi apa yang terjadi antara dua manusia itu.
" Oh...ada yang sok mau jadi pahlawan...enggak usah ikut campur, ini urusan rumah tangga gue!" Ucap Adi yang kini malah menarik tangan Galuh hingga membuat wanita itu meronta.
" Lepasin gue bilang kalau elu laki!" Raka menaikkan suaranya dengan begitu geram. Membuat Adi menatap tajam Raka.
" Elu bacot ya!"
BUG
Wajah Raka terlempar saat saat kepalan tangan Adi meninjunya tanpa aba-aba.
" Pak Raka!" Galuh berteriak manakala menyaksikan suaminya menempeleng wajah Raka.
" Oh...gue baru ingat. Elu orang yang beberapa waktu lalu megang- megang tangan istri gue, bangsat!!"
Saat hendak melayangkan pukulan kedua, tangan Adi dengan gerakan cepat di kunci dan di pelintir ke belakang oleh Raka. Membuat pria itu mengerang kesakitan.
" Tangan istri elo gue pegang tidak akan terjadi apa-apa. Tapi seorang suami yang berselingkuh bahkan sampai membuat istri sirinya hamil, jelas itu luar biasa.... tuan Adipati!" Ucap Raka penuh penekanan yang membuat Adi syok.
"Siapa pria itu sebenarnya, mengapa ia tahu semua hal tentang rumah tangganya?"'
Sejurus kemudian, Raka menarik keras tangan Adi usai mengatakan hal itu. Membuat Galuh mendelik.
"Istri siri?"
" Jadi...mas Adi dan wanita itu ...!" Tubuh Galuh seketika bergetar. Ia pikir suaminya hanya berselingkuh dan tidak ada pernikahan.
" Brengsek?!" Adi memutar tubuh sekuat tenaga dan membuat cekalan tangan Raka terlepas.
" Bangsat!!! Mau ikut campur urusan gue Lo!!"
Raka berhasil menghindar dari berbagai serangan yang di layangkan Adi. Merasa geram, Adi seketika membuka dasbor mobilnya dan mengambil sepucuk senjata api.
" Pak Raka awas!"
DOR!
BRUK
Raka terjerembab ke jalan aspal itu, sesaat setelah ia terdorong oleh tangan ringkih Galuh.
" Argggggghhh!!" Ringis Galuh menahan nyeri di lengan kirinya.
Mata Raka membulat seketika demi melihat Galuh yang kesakitan karena lengannya yang terluka. Membuat Adipati kini kebakaran jenggot, dan langsung masuk kedalam mobilnya dengan terburu-buru untuk sejurus kemudian kabur.
.
.
.
.
To be continued...
__ADS_1