Menjadi Ibu Untuk Anakmu

Menjadi Ibu Untuk Anakmu
Bab 120. Sebuah penegasan


__ADS_3

Bab 120. Sebuah penegasan


.


.


.


...🌺🌺🌺...


Lintang


Entah sudah berapa lama ia tertidur diatas sofa itu. Terlalu lelah benar-benar membuatnya larut dalam kantuk. Ia bangun dengan badan yang terasa lebih segar. Namun , yang membuatnya terkejut kala terbangun adalah, sebuah selimut yang melingkupi tubuhnya.


" Siapa yang memberiku ini?" Gumamnya mengerutkan kening.


Ia kini tertegun sesaat setelah mendudukkan tubuhnya dengan posisi normal. Ia memindai seluruh ruangan itu dan hanya ada dirinya seorang.


Membuat Lintang panik bukan kepalang.


" Dimana Danuja?" Ia seketika melempar selimut tebal itu ke sembarang arah , sebab ia benar-benar terkejut lantaran ranjang yang awalnya menjadi tempat tidur anaknya itu, kini kosong melompong.


Pikiran yang tidak-tidak kini meracuninya. Apa yang Jodhi lakukan? Kemana pria itu membawa Danuja?


BRUK


Wajahnya membentur dada bidang seorang pria dengan wangi maskulin, saat ia dengan impulsifnya membuka pintu itu secara terburu-buru. Lintang mendongak, dan pria bertubuh tinggi tegap itu rupanya adalah Jodhi.


" Dimana anakku? Kau kemanakan dia?" Lintang terlihat menatap Jodhi dengan wajah tak sabar. Ia benar-benar dibuat kalut dengan ketidakadaan Danuja.


Jodhi tersenyum saat melihat Lintang yang panik. Ya, berbeda dengan Lintang, pria itu kini justru terlihat jauh lebih tenang .


" Kau sudah bangun rupanya" Jodhi menatap Lintang penuh kasih.


" Mana Danuja?" Lintang menatap Jodhi penuh ketidaksukaan . "Mana Danuja" Ucap Lintang kembali semakin penuh penekanan, dengan raut wajah masih dengan kepanikan yang tersuguh.


" Tenang Lin, Danuja aku pindahkan ke ru...."


Lintang pergi sebelum Jodhi menyelesaikan kalimatnya. Membuatnya menghela napas.


" Sabar Jo, sebentar lagi!" Ucap Jodhi menyemangati diri.


Jodhi sejurus kemudian membalikkan badannya lalu mengejar Lintang secepat mungkin. Kakinya yang jenjang kelas memudahkan dirinya untuk mengejar dan menyamakan posisi.


" Danuja ada di ruang VIP, aku sudah pindahkan dia kesana!"


" Aku tadi sengaja enggak bangunin kamu soalnya kamu kelihatan capek banget!"


" Tadinya aku kesini buat bangunin ka..."


" Puas?"


Jawab Lintang menatap jengah Jodhi yang kini turut menghentikan langkahnya. Kini, mereka berdua lebih mirip seperti pasangan suami-istri muda yang tengah ribut besar.


" Jujur ya Jo, aku enggak suka sama sekali kamu ikut campur urusan Danuja!"

__ADS_1


" Dia anak aku, lantas untuk apa kamu memindahkan Danuja tanpa seijin aku? Aku tau kamu kaya, kamu berduit, punya kuasa, punya segalanya. Tapi, apa kamu pikir dengan kamu kasih fasilitas baik kayak gini bisa buat aku mudah maafin kamu Jo?"


Jodhi menatap muram Lintang yang sepertinya salah paham. Lintang menaikkan sebelah alisnya dengan raut kecewa. " Aku bisa bayar rumah sakit ini sendiri Jo! Bahkan sebelum ada kamu pun, aku bisa merawat Danuja dengan caraku meski aku miskin!"


" Dan sekarang pun, aku masih bisa ngurus biaya anakku sendiri!" Lintang seketika enyah dari hadapan Jodhi dengan hati kesal usai meluapkan kekesalan di hatinya.


" Dengan cara meminta pada laki-laki itu, iya?"


Ucapan sarat kecemburuan dari mulut Jodhi berhasil membuat Lintang menghentikan langkahnya. Lintang terlihat geram dan kini membalikkan tubuhnya seraya kembali menatap tajam ke arah Jodhi.


Jodhi kini berjalan dengan wajah menatap lekat Lintang. Pria itu terlihat menyuguhkan raut kecewa. " Danuja itu punya Ayah, dan Ayahnya masih mampu membiayai anaknya tanpa harus melibatkan orang lain!"


Napas Lintang memburu, bibirnya bergetar menahan amarah. Harga dirinya benar-benar tersentil. " Gue udah bilang, pergi dari hidup gue! Gue Ben...."


CUP


Jodhi menarik pinggang Lintang dengan cepat menggunakan tangan kirinya, sedang tangannya yang lain kini menekan tengkuk Lintang saat ia mencium bibir wanita itu.


Menegaskan jika Jodhi tak mau mendengar kata-kata benci dari mulut Lintang.


Pria itu benar-benar tak tahan dan tak ingin lagi di bantah oleh Lintang. Tidak, Tidak untuk urusan Danuja.


PLAK!


Lintang menampar wajah Jodhi sesaat setelah Jodhi melepaskan ciumannya. Wanita itu terlihat mengeluarkan helaan napas yang kian memburu, matanya kini memerah sebab Jodhi menciumnya secara paksa.


Beruntung, tempat disana sangat sepi dan tak ada seorangpun yang hilir mudik.


" Kamu boleh marah ke aku Lin, i's ok! Aku terima. Tapi untuk Danuja, aku enggak ada toleransi. Aku udah tes DNA dan hasilnya bakal keluar beberapa hari lagi, biar kamu tahu, bahwa secara hukum aku juga memiliki hak atas anak itu. Ini kesalahanku, jelas! Maka dari itu aku mohon sama kamu, tolong biarkan aku melakukan apa yang semestinya aku lakukan!" Ucap Jodhi dengan wajah serius dan suara tajam juga napas yang memburu.


.


.


Yanti


Ia menyuapi Danuja siang itu saat Lintang terlihat mengekor di belakang Jodhi dengan raut wajah yang tak terbaca. Yanti tahu, dua orang tua Danuja itu pasti usai bertengkar hebat.


Yanti tidak tahu, sebenarnya Lintang kesal, malu sekaligus marah, saat Jodhi menciumnya secara mendadak tadi. Damned!


" Nak!" Lintang langsung mendatangi Danuja yang kini duduk setengah berbaring sambil menerima suapan dari Yanti berupa bubur. Lintang menciumi kening bocah lucu itu seolah-olah takut kehilangan.


Danuja terlihat asik dengan sebuah sendok plastik dari rumah sakit yang kini dijadikannya sebuah mainan, saat Lintang terus dan terus menghujani Danuja dengan kecupan.


" Akhirnya elu bangun juga Lin, tadi aku yang minta bapaknya Danuja buat nyusul kamu. Nih kamu makan dulu, biar kuat menghadapi kenyataan!" Denok meringis menatap Lintang. Sama sekali ogah untuk bersedih- sedih lagi.


Lintang tertegun. Kenapa dua wanita itu malah akrab dengan Jodhi dan punggawanya sekarang?


Lintang tersenyum simpul saat Denok menyerahkan sebuah box yang isinya makanan padat gizi untuk Lintang. Ia tak menghiraukan tatapan Raka dan Jonathan yang sepertinya lekat dalam memandanginya sejak ia masuk tadi.


" Saya pulang dulu Buk. Nanti saya akan kemari lagi. Saya titip Danuja dulu!" Ucap Jodhi yang kini berada di sebelah Yanti. Sengaja mengeraskan suaranya agar Lintang tahu.


Jodhi melirik Lintang yang masih membisu. Ia berniat pulang dan membicarakan hal penting bersama Raka dan juga Jonathan di hotel. Lagipula, ia juga ingin memberikan kesempatan pada Bu Yanti dan Denok untuk menjalankan tugasnya.


" Ayah pergi dulu ya nak. Nanti malam ayah temani" Ucap Jodhi mencium kepala Danuja yang anehnya kini terlihat bergembira.

__ADS_1


DEG


Lintang seketika mematung sewaktu mendengar ucapan Jodhi. " Apa? Tidak, dia tidak boleh ada disini!"


" Pergilah nak, biar ibuk sama Denok yang temani Lintang !" Sahut Yanti yang tersenyum senang.


" Kenapa Ibu malah berkata seperti itu?"


Lintang seketika menghembuskan napas pasrah. Lintang sedikit kecewa terhadap Bu Yanti, kenapa wanita itu justru pro kepada Jodhi.


" Halo bapaknya Danuja! Kasih tau si Jojon buat nyuci anunya dulu ya kalau udah sampai soalnya..."


Jonathan mendelik ke arah Denok yang kini tekrikik-kikik. Membuat Raka terpingkal-pingkal. " Wanita itu mulutnya benar-benar berbahaya!"


" Anunya apa?" Tanya Jodhi melirik Jonathan yang kini berengut. Sengaja membuat dirinya tak tegang sebab ia merasa jika Lintang menghindari tatapannya.


" Wes pokoknya anu. Jangan lupa ya bapaknya Danuja, kita harus anu biar tetap anu!" Balas Denok tergelak kencang. Membuat Jodhi kini tersenyum.


Mulut wanita itu lumayan juga dikondisi seperti ini. Bisa menghibur dirinya. Ya walau pada kenyataannya, Jonathan yang jadi korban. Hihihi.


" Aman, kalau ada apa-apa, jangan lupa kabari ya. Udah punya no hapenya kan?" Tanya Raka menaikturunkan kedua alisnya kepada Denok.


" Sialan Pak Raka, kenapa dia malah kong kalikong sama tuh mahluk?" Batin Jonathan mendengus. " Mana manggil aku si Jojon lagi, sialan!"


Sepeninggal ketiga pria itu. Kini Denok merapatkan tubuhnya ke sisi Lintang yang diam membisu seraya makan.


" Asli Lin, kalau aku jadi elu, aku terima si Jodhi aja. Duh, dia kayaknya..."


" Mbak Denok bisa nggak kita jangan bahas itu dulu!" Ucap Lintang kesal. Baru beberapa hari yang lalu, wanita berambut api itu mengatakan hal yang sama soal Reyhan.


Tidak konsisten sekali pikirnya.


Denok melongo lalu sejurus kemudian menggaruk kepalanya yang sebenarnya tidak gatal sama sekali. Ia merasa kikuk karena Lintang benar-benar terlihat marah.


" Jangan marah dong Lin. Aku kan cuma ngasih tahu yang bener. Kalau yang kemaren itu kan sebelum aku tahu kalau bapaknya Danuja itu Jodhi!" Denok meringis.


" Kamu enggak lihat sih, tadi itu Danuja enggak mau lepas sama Jodhi. Aku kok jadi iri sama Danuja, pingin di uyel- uyel juga!" Denok terkikik-kikik dan langsung mendapat tatapan sengit dari Yanti.


" Maaf Yu, becanda!"


Lintang hanya diam. Ia kini tekun menyuapkan makanan itu kedalam mulutnya. Ia sebenarnya juga begitu heran dengan Danuja yang mengapa kerasan dengan Jodhi.


Ia kini terus memasukkan suapan demi suapan ke dalam mulutnya yang sibuk memamahbiak. Lintang lapar, sebab sedari semalam hingga siang ini, ia belum makan.


" Ya- Yah!"


" Ya- Yah!"


Ketiga wanita itu saling melempar tatapan terkejut, saat mendengar Danuja mengucapkan kata-kata itu dengan wajah yang hendak menangis.


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2