
Bab 105. Anak haram
.
.
.
...🌺🌺🌺...
Jodhistira
Ia bahkan harus melesat beberapa kilometer agak jauh dari lokasinya yang nyaris menyerempet seseorang tadi. Dengan perasaan gundah, pria itu kini keluar dengan tergesa-gesa. Berharap apa yang ia lihat tadi memang benar.
" Lintang!" Ia terus menggumamkan nama itu saat ia kini hendak menyeberang jalan. Berniat memastikan jika ia tak salah lihat.
Ia terus berlari menuju ke titik mula ia melihat orang yang ia duga Lintang tadi. Namun, ia memejamkan matanya kala ia tak mendapati satupun orang disana yang ia duga Lintang.
Jodhi mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru jalan itu, ia bahkan melewati double W lalu menyebrang ke sisi kanan jalan guna memastikan. Namun, ia tak menemukan sosok yang membuatnya resah itu.
" Woy mau mati Lo?"
Umpat seseorang yang terganggu dengan kelinglungan Jodhi.
Ya, Jodhi frustasi dan merasa jika bayangan Lintang menghantui dirinya lebih dari yang ia sangka.
" Astaga! Apa yang aku lakukan?" Jodhi yang kini seakan tersentak dari ketidaksadarannya, seketika mengusap wajahnya kasar.
" Kenapa kau begtu menyiksaku seperti ini Lin?"
.
.
Lintang
" Maaf!" Ucapnya menunduk lesu kala ia sudah sampai di tepi jalan sesaat setelah ia dibawa pergi oleh Reyhan. Merasa bersalah karena sikap kerasa kepalanya yang kini menimbulkan persoalan.
Kemacetan.
__ADS_1
Reyhan menggerakkan giginya guna mengurangi kekesalan yang membuncah. Astaga.
" Udah, yang penting kamu enggak apa-apa. Dah masuklah. Aku tunggu disini!" Ucap Reyhan masih dengan alis yang berkerut.
Lintang mengangguk. Meski ia merasa tak enak hati, sebab membuat Reyhan repot. Namun , ia tetaplah Lintang yang sudah mati rasa kepada lelaki. Jadi seberapapun perhatian orang kepadanya, ia tak akan pernah mau merasai.
Beruntung suasana di apotek itu tidaklah antre. Membuatnya dengan cepat mendapatkan apa yang ia mau. Dan sejurus kemudian, Lintang bersama Reyhan melesat kembali ke arah mobil yang terparkir di bahu jalan sisi kiri.
" Kamu enggak apa-apa Lin? Astaga, kamu tadi nyaris aja kesempet. Ibuk udah deg-degan sendirian tadi Lin!" Ucap Yanti resah yang menyaksikan kejadian tadi lewat kaca mobilnya.
Lintang menatap muram Yanti dan seketika merasa bersalah. Bukan maksudnya membuat semua orang cemas. Tapi mobil tadi sepertinya tidak fokus ke jalan.
" Maaf ya Buk. Lintang janji enggak akan keras kepala lagi!" Ia tersenyum dan mendapatkan anggukan dari Yanti.
Tak berselang lama, Denok terlihat menghampiri mobil itu dengan wajah berbinar, dengan dua kantong yang berisikan bungkusan makanan.
" Ngapain senyam-senyum sendiri Nok?" Ucap Yanti dengan segala rasa penasaran yang ada, kala wanita itu kini menjengukkan kepalanya ke dalam mobil.
" Enggak ada, abis ketemu malaikat pencabut hati!" Jawab Denok terkikik-kikik demi mengingat ganteng yang ia jumpai di rumah sakit, yang duduk di sampingnya kala ia menelpon pelanggannya.
Pria itu tengah berjalan ke arah timur .
" Kenapa enggak ketemu malaikat pencabut nyawa aja kamu! Ada-ada aja jadi orang, semua- semua mbok anggap pencabut hati!" Dengus Yanti kesal demi merasai bila otak si Denok hanya berisikan soal pria dan sodokannya.
" Matamu suwek!" Sahut Yanti makin kesal. Membuat Reyhan terkekeh saat mulai melajukan mobilnya.
Dan sejurus kemudian.
" Nah itu dia Yu malaikat pencabut hati yu! Lihat ganteng kan? Aku udah dua kali ketemu dia yu, duh...pertanda apa ini ketemu berondong kinyis-kinyis begitu" Denok makin belingsatan kala menunjukkan pria berhidung mancung itu.
Denok dan Yanti heboh sendiri kala melihat Jodhi yang berwajah lesu, dan terlihat masuk ke mobilnya manakala mobil yang mereka tumpangi, kini mendahului kendaraan yang terparkir agak jauh di depan mereka itu.
" Eh Yu, tapi kok mirip si Danuja ya? Apa perasaan aku aja?" gumam Denok asal nyeplos.
" Angel wes angel!" Jawab Yanti yang sebal dengan Denok yang kerap ngawur.
" Kemarin kamu bilang mirip sama orang yang di koran, sekarang mirip sama orang itu! Bocah Ra nggenah!"
Lintang yang sibuk karena menata obatnya, seraya Reyhan yang sibuk dengan dasbor mobilnya sebab berniat menyalakan lagu dengan pelan, tak sempat melihat mahluk yang menjadi pergunjingan dua wanita di belakang mereka.
__ADS_1
...🌺🌺🌺...
" Kau kenapa sih, dari datang tadi enggak ada aura cerahnya Jo?" Debby yang dari tadi memperhatikan Jodhi sejak pria itu datang ke sana, merasa curiga.
" Enggak ada kok, sory!" Jodhi kini tersenyum kecut dan memilih untuk meneguk cawan yang berisikan minuman beralkohol itu.. Pikirannya benar-benar semrawut.
" Oh common man! Muka elu itu kelihatan banget kalau lagi galau. Katakan! Siapa cewek yang berani bikin badboy kita resah kayak gini, hah?" Felix terkekeh saat mengucapkan hal itu. Ini jelas-jelas hal langka.
Debby lekat menatap wajah Jodhi yang penuh misteri. Apa yang dikatakan Felix memang benar, Jodhi terlihat sangat berwajah layu malam ini, tak biasanya ia seperti itu.
.
.
" Ayo-ayo kita makan dulu, maaf ya mas Rey kita makannya begini, perut orang pengeretan udah biasa sama sambel, enggak peduli mau cabe sama bawang lagi naek!" Denok terkekeh. Ia kini duduk melingkari makanan yang sudah mirip sesajen di atas karpet sederhana di rumah Yanti.
Lintang diam dan turut duduk usai menidurkan Lintang. Belum ada tetangga yang menjenguk malam itu. Mereka paham, pekerjaan para tetangga kontrakan mereka yang bervariasi itu membuat intensitas pertemuan mereka sedikit sulit.
" Jangan gitu Mbak Den, sama-sama makan nasi kok aku! Bukan makan hati kayak yang dibilang mbak Denok " Balas Reyhan terkekeh yang sebenarnya kurang suka , jika Denok maupun Yanti kerap sungkan kepada mereka. Reyhan ingin dekat dengan mereka, terlebih kepada Lintang.
" Sini aku bukain!" Ucap Reyhan yang membukakan lilitan sambal yang sulit itu.
" Whuuu!" Ucap Denok belingsatan sendiri saat melihat interaksi anak muda di depannya. Membuat Reyhan senang namun Lintang masih biasa saja.
Lintang makan dengan tekun, sebuah lalapan burung puyuh yang menjadi menu enak pasca mereka di rundung kepanikan hari itu, menjadi pemungkas edisi guratan takdir malam itu.
" Lin, besok kamu enggak usah kerja lagi di trotoar ya, kasihan Danuja. Atau kamu mau balik ke swalayan aku aja?"
Yanti dan Denok saling pandang.
Lintang masih tekun makan. Ia sangat lapar. Dan mendengar ucapan dari bibir Reyhan, membuatnya terpaksa menghentikan kegiatannya.
" Makasih mas. Tapi aku lebih suka kerja di jalan. Biar bisa ngasuh Danuja. Karena kalau di swalayan milik mas, aku yakin enggak akan di perbolehkan bawa anak. Apalagi anak yang di katakan sama ibu mas, anak haram!"
DEG
Baik Yanti maupun Denok kini mendelik dan seolah tersedak tulang puyuh, kala mendengar jawaban tegas dari Lintang.
.
__ADS_1
.
.