
Bab 131. Ayah Danuja
.
.
.
...🌺🌺🌺...
Denok
" Celeng!" Ia mengumpat dengan mata memerah akibat mendengar ucapan tak manusiawi dari mulut Bu Emi. Wanita yang menjadi pemilik kontrakan busuk itu.
" Mbak Denok!" Ucap Lintang berteriak membuat wanita bertubuh sexy itu menghentikan niatnya.
" Biar aku!" Seru Lintang yang membuat ke tujuh orang kota lain itu terpaku. Yanti diam sebab dia masih terkejut, sama sekali tak menyangka jika wanita itu datang kembali dan tidak puas dengan jawaban yang tadi pagi mereka perdebatkan.
Ia menatap Lintang yang kini terlihat maju, membelah barisan dirinya dan Bu Yanti yang masih menahan emosi. Membuat kesemua orang yang disana ditelan ketegangan.
Potret kehidupan yang miris, gesekan serta tekanan yang kadang mengikis kewarasan kita itu, kerap membuat orang menjadi orang yang kasar.
" Siapa yang anda bilang anak haram hah?"
Lintang maju dengan rahang mengeras, " Siapa??!!!" Teriak Lintang yang air matanya kini mengumpul di pelupuk matanya. Sesak menggelayut memenuhi dadanya.
Jodhi sudah geram dan terlihat mengepalkan tangannya sebelah. Pria yang masih tekun menggendong Danuja itu seolah-olah tertampar. Semakin ngilu demi melihat apa yang terjadi.
Bu Emi menatap sengit Lintang yang kini seolah menantangnya. " Ya anakmu lah! Mau anak siapa lagi! Bener kan? Hamil tanpa suami apa namanya kalau bukan anak haram?"
Lintang, Yanti dan Denok tidak tahu jika Bu Emi sudah terkontaminasi omongan dari tetangga kontrakannya yang dulu.
" Kalau mau menghina, hina saya saja!" Air mata Lintang kini telah meluncur tanpa seizinnya, " Saya yang kotor! Bukan anak saya! Asal Ibu tau, enggak ada anak yang bisa milih, dia mau lahir dari rahim siapa dan dengan cara yang bagaiamana!"
Dan ucapan Lintang itu sukses membuat Dhira dan Rania menangis pilu.
Bu Emi mencibir, " Dasar Lonteee tidak tau malu!"
Jodhi yang sudah hendak maju sebab kesabarannya telah aus, lekang dimakan emosi itu, kini di cekal oleh Raka.
" Tahan Jo, itu perempuan!"
" Mulut jancok!" Denok yang tak sanggup lagi mendengar penghinaan wanita itu, seketika menerjang Bu Emi dan kini menaiki tubuh wanita gemuk yang kini terlentang itu dengan membabi buta.
Membuat para pria disana spontan turut maju untuk memisah. Namun, Denok yang tengah gusar dan kalut sebab di landa kemarahan, tanpa sengaja menampik keras tangan Bastian.
" Minggir Om!" Teriak Denok kepada Bastian.
.
.
PLAK!
__ADS_1
Denok berhasil menempeleng wajah Bu Emi dengan segenap kekuatannya, membuat wanita yang kini terbaring diatas tanah berkerikil itu, kini merasakan perih di pipi dan area matanya.
" Siapa Lo hah, baru juga punya rumah kontrakan reot kayak gini udah kurang ajar mulut elu ya!"
BUG!
Abimanyu dan Bastian yang sedari tadi melerai pertikaian itu benar-benar kesulitan. Selain kuat, Denok rupanya sangat lincah.
" Denok udah!" Ucap Bastian yang sebenarnya bingung, tak enak hati jika harus memeluk tubuh Denok guna menghentikan aksi itu.
BUG!
Denok masih bisa mencari celah untuk menghancurkan wajah rivalnya itu. Ia terus tekun menyerang meski Bu Emi juga berhasil mencakar lengan Denok.
Dhira dan Rania terkejut melihat Denok yang brutal, belum pernah sebelumnya mereka melihat hal seperti itu.
Membuat Raka mendorong Jonathan untuk segera maju, kala melihat Om dan Papanya yang nampak kesulitan melerai.
" Maju Jo, elu tangkep terus elu seret dia. Om sama Bapak gua enggak berani karena ada istrinya itu.
" Kok saya sih Pak?" Ucap Jonathan murung.
" Siapa lagi? Diantara kita semua elu yang bujangan!" Jawab Raka resah.
" CK, itu pak Jo.."
" Buruan! Keburu mati itu lawannya!"
Jonathan yang resah, akhirnya mau tak mau maju juga demi menghentikan perkelahian sengit itu.
Dan suara itu, sukses mengundang perhatian tetangga kontrakan disana. Membuat Lintang makin menangis sebab nelangsa. Kenapa hidupnya sebegitu naasnya.
Keadaan seketika menjadi kacau balau.
" Biar saya Pak!" Ucap Jonathan yang kini sudah ambil ancang-ancang hendak menarik paksa Denok yang membabi- buta. Membuat dua pria itu kini menyingkir demi memberi ruang pada Jonathan.
" Denok udah Nok!" Tukas Jonathan yang kini memeluk Denok, seraya menariknya. Membuat pria itu menelan ludah saat tanpa sengaja, tangannya yang kekar menyentuh bagian wanita yang benar-benar besar dan kenyal itu.
Sial, ia bahkan merasa deg-degan di situasi genting seperti ini. Astaga Jo!
" Sini Lo! Bangkee emang Lo ya! Pantes aja elu enggak di kasih anak sama yang kuasa, bacot elu bukan bacot manusia anjing!" Ucap Denok yang kini di seret oleh Jonathan dari belakang.
" Stop Nok, udah berhenti! Kalau dia mati, polisi bakal jeblosin kamu ke penjara!" Ucap Jonathan yang kini berhasil melerai dua wanita yang kini terengah-engah itu.
Bu Emi yang wajahnya babal belur, kini lekas bangkit lalu bekacak pinggang demi rasa sakit hati yang makin menjadi.
" Lontee sialan, kerjaan buat dosa aja bangga banget lo." Ucap Bu Emi yang kini berdiri dengan rambut acak- acakan, bekas cakaran dan bibir yang jontor.
" Gak usah bawa-bawa dosa cok! Gua ngolonthe jual punya gue sendiri, dapat duit buat ngidupin diri gua sendiri bukan badan elu! Denger ya asu, gue emang lonthe, tapi gua gak pernah ganggu suami orang kayak raimu! Mending gue di kelonin dapat duit, nah elu? Tempe bussukmu itu pasti cuma buat gratisan doang kan?"
Jonathan mendelik saat mendengar jawaban menohok dari Denok. Wanita itu benar-benar frontal sekali pikirnya.
Yanti sengaja diam sebab menahan malu kepada keluarga Jodhi. Apa mau dikata, hidup dibawah garis ekonomi sobek nyatanya menjadikan dirinya pribadi yang kasar.
__ADS_1
" Elu pikir elu fitnah dia anak haram itu enggak dosa, hah? Emang kurang aj...."
" Cukup!" Jodhi tak tahan dengan perdebatan yang kini membuat Danuja menangis itu, kini merasa harus ambil sikap.
" Sama Ibu dulu ya!" Seru Jodhi pelan kepada Danuja yang menangis sebab melihat Dade nya berkelahi dengan orang. Pria itu kini terlihat menyerahkan anak-nya kepada Lintang.
Jodhi kini maju lalu berdiri di hadapan Bu Emi dengan rahang yang mengeras, matanya yang memerah, serta kertakan gigi yang terdengar jelas. Definisi dari amuk dari dasar jiwa.
" Siapa anda?" Tanya Bu Emi yang mendadak takut dan bingung demi melihat raut tak bersahabat yang di tunjukkan oleh Jodhi.
" Anda mau tahu siapa saya?"
Jodhi menatap tajam wanita yang mulai ketakutan itu. Terlihat di belakang Bu Emi, datang beberapa orang tetangga yang mendengar keributan di rumah yang terletak di paling ujung itu.
" Anda juga penagih hut..."
" Saya Ayah dari Danuja!"
DUAR!!!!
Bagai tersengat halilintar, Bu Emi seketika mematung dengan jantung yang berdegup tak karuan. Wanita itu terlihat menelan ludahnya lalu sejurus kemudian memindai satu persatu orang-orang rapih dari kota itu.
" Tidak! Tidak mungkin!" Bu Emi berusaha menyangkal.
Jodhi hanya diam , tak peduli mau orang itu percaya apa tidak. Sejurus kemudian menarik dompet di dalam sakunya, dan mengambil berpuluh-puluh lembar uang yang sangat jarang ia gunakan saat transaksi apapun itu.
" Itu kan Pak Jodhistira, yang kemaren datang di tempat Zul waktu meninggal!"
" Enggak salah lagi, itu memang Pak Jodhi pemilik Delta Foods!"
" Ya, bener. Tapi kok bener ya, anak-nya si Lintang wajahnya mirip sekali dengan Pak Jodhi?"
Kasak kusuk dari riuh rendah beberapa tetangga yang ada di belakang Bu Emi, makin membuat wajah wanita itu pucat.
" Pemilik Delta food?" Batin Bu Emi yang kini gelisah dan mulai ketakutan.
" Ambil ini! Anggap sisa dari uang itu sebagai denda karena mereka terlambat membayar kontrakan!"
Para tetangga yang sudah datang disana, kini mendelik saat lembaran pecahan uang bergambar proklamator itu menghujani kepala Bu Emi. Membuat wanita berdaster itu sangat ketakutan.
" Jo!" Panggil Jodhi kepada Jonathan.
" Ya Bos?" Sahut Jonathan yang membarikade Denok yang masih terlihat berapi-api itu.
" Pastikan wanita yang mengatai anakku tadi menerima bagiannya!" Ucap Jodhi menatap tajam Bu Emi yang kini gemetaran.
" Saya pastikan anda akan bersujud di bawah kaki anak dan Ibu dari anak saya!"
.
.
.
__ADS_1
.
.