Menjadi Ibu Untuk Anakmu

Menjadi Ibu Untuk Anakmu
Bab 126. Belatung nangka!


__ADS_3

Bab 126. Belatung nangka!


.


.


.


...🌺🌺🌺...


Bastian


Kasihan, kata itulah yang menjadi pengisi suasana hatinya saat ini. Tanpa menunggu lagi, ia segera membawa Lintang menuju ke tempat dokter jaga yang berada tak jauh dari kamar Danuja.


Beruntung, kesemua petugas disana sigap dan langsung membawa brankar kosong untuk membaringkan Lintang.


"Kenapa ini Pak?" Tanya salah satu petugas pria disana.


" Saya juga tidak tahu, mendadak pingsan. Tolong cepat tangani saja!" Titah Bastian.


Ia seorang diri sebab Rania pasti ada di ruangan Danuja untuk mengasuh anak malang itu. Sementara Jodhi, pria itu pasti masih sibuk membersihkan dirinya.


Bastian setia menunggu kala Lintang diperiksa oleh team dokter yang ada disana.


" Tekanan darah pasien rendah sekali, kondisinya juga begitu lemah. Kondisi seperti ini biasanya dipicu oleh pola makan yang tidak teratur dan istirahat yang kurang, serta kualitas tidur yang buruk!"


Ditatapnya wajah kurus pucat yang matanya dalam itu. Wajah yang menurutnya begitu naas, " Entah penderitaan seperti apa yang kamu jalani selama ini Nak? Jodhi benar-benar keterlaluan!" Batin Bastian mengiba menatap wajah Lintang.


Dan beberapa saat kemudian, Lintang yang tersadar terlihat agak terkejut karena berada di sebuah ruangan lain bersama pria yang belum ia ketahui namanya itu.


" Lintang! Kamu sudah sadar nak?" Bastian kini bangun demi menyongsong Lintang yang terlihat resah.


" Tadi kamu pingsan, Om bawa kemari. Kamu tenang saja, tadi istri saja yang gendong Danuja, gimana keadaan kamu sekarang?" Ucap Bastian lagi yang sangat kasihan melihat wanita itu.


" Saya baik-baik aja Om, saya mau..." Lintang hendak turun namun dicegah oleh Bastian. Ia juga memiliki anak perempuan, dan melihat Lintang yang seperti ini, sudah barang tentu membuatnya prihatin.


" Istirahat dulu, kata dokter kamu perlu beristirahat. Tekankan darah kamu rendah, selama disini kamu pasti makannya tidak teratur!" Bastian menatap muram Lintang yang agak sungkan itu.


Membuat Lintang mengangguk pelan sebab kepalanya memang masih terasa pusing.


Bastian yang awalnya seorang diri, kini terkaget dengan kemunculan pasukan yang ia kenali itu. Ya, ia kini sedikit terkejut demi melihat Jodhi, Rania , Raka, Jonathan yang bersama Danuja dan juga seorang wanita asing yang baru pertama ia lihat.


Dari raut wajah yang ia tangkap, Raka dan Jonathan agaknya sudah terkena omelan dari istrinya. Ia yakin dari hal itu demi melihat wajah-wajah bermuram durja dari kedua pria ganteng itu. Rasain kalian!


Bastian tidak tahu, bila perempuan berambut pendek itu merupakan ibu angkat Lintang. Ia memilih diam saat Rania mengedipkan matanya sebagai isyarat bagi Bastian untuk diam.


" Lintang!" Kesemua yang disana saling menatap kala menyaksikan kecemasan Jodhi yang begitu kentara. Jodhi benar-benar khawatir kala mendengar kabar jika Lintang pingsan saat kembali ke ruangan anaknya.

__ADS_1


Pria itu bahkan menerobos Raka dan Jonathan demi menyongsong Lintang. Membuat dua pria itu tercerai- berai.


" Lintang!" Bu Yanti yang juga sudah datang sedikit terlambat itu, kini turur menatap cemas anak angkatnya itu penuh dengan rasa sesal.


" Saya tidak apa-apa Buk!" Lintang mengusap tangan Bu Yanti dan mengabaikan Jodhi. Membuat pria itu merasakan nyeri dalam hatinya.


" I- Buk!!" Danuja memanggil- manggil Lintang yang masih terbaring lemah. Bocah itu agaknya merasai induknya yang kini tengah tidak sehat.


" Sini sayang, sini sama Ayah. Ayo sini!" Jodhi mendatangi mamanya demi mendengar anaknya yang resah.


Jodhi mengambil tubuh Danuja dari Rania sejurus kemudian mendekatkannya kepada Lintang. Sekilas, mereka nampak seperti keluarga yang lengkap. Membuat Yanti senang.


" Kata dokter tekanan darah Lintang rendah sekali!"


Yanti menatap Lintang dengan wajah murung. " Jangan semua- muanya kamu pikirkan Lin biar kamu tetap sehat!" Bu Yanti yakin jika Lintang pasti saat ini stres karena memikirkan Danuja yang lebih condong ke Jodhi.


" Kamu lihat, Ibunya nak Jodhi bahkan datang jauh-jauh kemari sebagai bentuk rasa bersalah serta tanggung jawabnya atas kamu dan Danuja!" Ucap Bu Yanti memecah kesunyian. Membuat Lintang tertunduk.


Rania yang kini di rangkul oleh Bastian mengangguk menyetujui ucapan Bu Yanti. Matanya bahkan sudah mulai memanas.


" Benar nak. Tolong beri kesempatan kami untuk memperbaiki semua kesilapan yang terjadi. Menikahlah dengan Jodhi dan.."


" Maaf Tante, saya sangat berterimakasih untuk semua kebaikan Tante. Tapi...."


" Helo eperi badi ( every body/ semuanya)" Sebuah suara yang memekakkan telinga itu sukses membuat keharuan seketika menguap.


" Mama Rania pasti demen nih ama yang begini!" Ucap Raka terkikik-kikik.


Denok melongo demi melihat dua orang asing yang baru dia jumpai.


" Pstt! Siapa Yu?" Bisik Denok yang masih bisa di dengar oleh Bastian.


" Bisik-bisik kenceng banget!" Cibir Jonathan.


" Diem lo Cok!" Ucap Denok dengan suara yang nyaris tak terdengar, dan hanya mulutnya yang komat-kamit.


" Dia mama sama papaku!" Jawab Jodhi sembari mengusap punggung Danuja. " Mah, Pah, kanalkan dia mbak Denok. Dia yang selama ini menjaga Danuja bersama Bu Yanti!"


Rania tersenyum ke arah wanita dengan bulu mata palsu itu.


" Deni Novita!" Ucap Denok berubah lembut.


" Saya Rania!"


" Deni Novita!"


" Saya Bastian!"

__ADS_1


Jonathan mencibir, bisa-bisanya wanita itu cepat sekali berkamuflase. Dasar!


"Lin!" Rania kini mengambil alih suasana dan terlihat meneruskan kembali ucapannya yang terinterupsi oleh Denok deblung itu.


" Nak, Danuja sudah ada di dunia ini. Semakin dia dewasa dia juga akan tahu tentang dirinya. Jodhi selama ini benar-benar tersiksa nak, atas nama harga diri dan perempuan, Tante mohon sama kamu untuk berpikir ulang. Biarlah Danuja memiliki hak seperti orang lain yang memiliki orang tua yang lengkap!"


Jodhi menatap harap Lintang yang terlihat risau saat mamanya mengumandangkan hal mengharukan itu.


Lintang tertunduk. Entahlah, ia masih menyimpan kepahitan dalam hatinya. Kebimbangan kini menguasai diri Lintang.


" Kami semua sangat senang jika kamu mau mempertimbangkan hal baik ini Lin!" Timpal Raka yang ingin membuat Lintang mau yakin.


Namun sejurus kemudian.


" Permisi!" Ucap seorang wanita yang membuat kesemuanya kaget.


"Jo, kamu kemana aja aku telpon enggak kamu angkat - angkat, aku dengar dari orang kantormu kalau keluargamu ada yang sakit!"


Semua yang ada di sana kini terlihat mendelik kala melihat seorang wanita cantik dengan gaya hedon kini menggamit mesra lengan Jodhi tanpa rasa sungkan.


Ya, Debby yang beberapa waktu ini mengetahui jika Jodhi masih ada di kota itu, benar-benar tak tahan sebab di diamkan oleh Jodhi.


Wanita itu kini nekat mencari Jodhi sebab mendapat bekal informasi dari salah satu staff di kantornya. Setahu Debby, Jodhi pria bebas, dan dia mau sekali menemani Jodhi yang ia tahu merupakan pemain wanita.


Membuat Lintang seketika tersenyum kecut. Apakah Jodhi bisa di percaya?


" Idih, belatung nangka dari mana nih?"


Debby seketika terkaget seraya mengerutkan keningnya , manakala mendengar seseorang yang begitu berani mengatainya.


" Belatung nangka?"


.


.


.


.


.


.


.


Kita cari tau yuk, apa Lintang sebenarnya cemburu apa tidak, hihihi 🀟🀟😁😁

__ADS_1


__ADS_2