
Bab 73. Menyelamatkan Citra part3
.
.
.
...🌺🌺🌺...
Jodhistira
" Wanita biadab, aku bunuh kau!" Jodhi seketika berontak saat mendengar ucapan Ayah Abi, yang menerangkan jika Dewi menginginkan dokumen penting yang jelas kan membuat mereka kehilangan segalanya.
Membuatnya naik pitam.
Dewi melipat kedua tangannya seraya tersenyum licik menatap Jodhi yang sudah diambang batas kesabarannya. " Lakukan saja jika kau bisa!"
" Berikan dokumen itu!" Ucap Dewi yang mengabaikan ucapkan Jodhi. Mengucapkan perkataan dengan nada keras kepada Abimanyu.
" Papa!"
" Ayah!"
Raka dan Jodhi kini angkat bicara secara bersamaan, dengan maksud melarang pria itu untuk tidak memberikan dokumen penting itu. Membuat Abimanyu tertunduk dan tak bisa berbuat banyak.
" Cepat!" Teriak Dewi yang membuat seluruh punggawa Aryasatya itu sangat geram.
Wisang dan Danan kini saling melirik penuh arti, pun dengan Bastian.
Raka, Jodhi dan Bastian serta Galuh berdiri berjajar di sisi kanan dengan tangan yang masih terikat, sementara Trio Konglo berada di sisi kiri yang di batasi oleh enam anak buah Dewi.
" Jim, ambil itu!" Dewi meminta Jimbron untuk mengambil dokumen yang dibawa Abimanyu. Membuat Dewi tersenyum penuh kemenangan.
" Kau sudah mendapatkan apa yang kamu mau. Sekarang lepaskan Citra dan mereka!" Ucap Abimanyu kini menatap tajam Dewi.
" Kau pikir aku bodoh, hah? Aku tidak seperti dua anakmu yang bodoh itu!" Dewi menarik sudut bibirnya dan membuat Abimanyu geram.
__ADS_1
Dewi terlihat membuka lembar demi lembar dokumen tebal dengan sampul yang elegan bertuliskan Aryasatya Delta Group.
Membacanya dengan teliti.
" Sial!, siapa sebenarnya wanita itu? Dia benar-benar membaca keseluruhannya!"
Kini Abimanyu harap-harap cemas, ia hanya menuruti saran Devan untuk memberikan dokumen imitasi yang sebenarnya nyaris mirip.
" Anjing!" Dewi membanting dokumen yang rupanya dokumen palsu itu. Wanita itu rupanya telah paham seluk beluk tentang dokumen palsu dan asli.
KLAK KLEK
Suara Dewi yang kini marah dengan permainan mereka, spontan membuat para punggawa Dewi kini menarik senjata dari balik punggung mereka.
Terlihat menodongkan senjata itu ke arah musuh mereka. Membuat Galuh melebarkan bingkai matanya, karena ketakutan.
Wisang dan Danan kini juga turut melakukan hal yang sama. Alhasil, meraka saling menodongkan senjatanya. Namun jelas, jumlah mereka sangat tidak sebanding.
Membuat suasana mendadak menjadi tegang dan mencekam.
" Kalian mau mencoba kesabaranmu hah?" Dewi menyambar sebuah pistol yang ada di dekatnya dengan marah. " Sini kamu!" Ia meraih tangan Galuh yang masih terikat, lalu menyeretnya masuk ke ruangan lain.
Anom melirik Galuh dan terlihat memberikan kode melalui bahasa matanya, untuk membuat Galuh tenang.
" Beri pelajaran mereka. Manusia-manusia tidak tahu diri!" Titah Dewi kepada para anak buahnya yang tak terhitung jumlahnya itu. Sama sekali tak menghiraukan Raka yang terlihat geram.
Abimanyu, Wisang dan Danan terlihat saling hajar dan saling serang dengan beberapa anak buah Dewi. Sementara Dewi kini menyeret Galuh secara paksa, yang di temani oleh Anom.
" Galuh!" Ucap Raka yang melihat Galuh diseret kini terlihat menjadukkan kepalanya ke arah pria yang sedari tadi mengancamnya, lalu menendang kepala pria itu dengan kakinya. Berusaha mengejar Galuh.
" Argggggghhh!" Ringis pria yang kini wajahnya terasa pedih akiba benturan keras dari kepala Raka.
Damned!
Tangan yang masih terikat itu sukses membuat dirinya kesulitan untuk melawan para keroco- keroco itu.
BRAK!!!
__ADS_1
Suara tubuh yang terbanting membuat suasana disana sangatlah mencekam. Sebisa dan semampu mereka, kini terlihat saling menghajar.
" Jodhi belakangmu!" Ucap Danan yang memperingatkan Jodhi.
DUG
BRUAK
Jodhi menendang dada pria berkaos hitam itu hingga membuatnya menabrak lemari udang yang ada disana.
Sejurus kemudian ia yang mendapat kesempatan untuk menepi dan membukakan tali, kini bernapas lega lantaran merasa bebas.
Ok, here we go!
Suasana yang ricuh di manfaatkan Dewi untuk cepat-cepat membawa Galuh ke belakang rumah itu. Membuat Galuh kini ketakutan setengah mati. Ia tak seperti Dewi yang lihai memainkan persenjataan.
" Astaga, bagaimana ini?"
" Lepaskan! Sakit!" Galuh memberontak seraya menendang perut Dewi sekuat tenaga. Membuat Anom terperanjat.
" Arghh!!" Rintih Dewi yang kesakitan manakala perutnya kini tertendang. Wanita itu kini terlihat bangkit seraya terlihat menarik pelatuknya dan sejurus kemudian,
DOR
DOR
DOR
.
.
.
.
.
__ADS_1
.
Mohon maaf banget hari ini slow up. Grandmothernya Mommy hari ini Wafat. Jadi sungguh, membuat segala sesuatunya tidak berjalan sesuai harapan.