Menjadi Ibu Untuk Anakmu

Menjadi Ibu Untuk Anakmu
Bab 138. Anak Ayah!


__ADS_3

Bab138. Anak Ayah!


.


.


.


...🌺🌺🌺...


Reyhan


Terkejut bahkan cenderung tidak percaya. Itulah yang pria manis itu rasakan saat ini. Perasaan yang lebih dari sekedar suka itu, lenyap dalam sekejap manakala wanita elegan yang menjadi kota benteng bagi Lintang itu, melontarkan sebuah pengakuan.


" Tante, beliau itu kalau tidak salah pemilik perusahaan manufaktur, yang pernah ngasih materi dan jadi pembicara di kampus saya dulu!" Bisik perempuan yang menolong Mama Reyhan, dan membuat kepala wanita itu seketika cemut-cemut.


" Rey, udah ya. Kita ini udah capek denger ucapan mama kamu yang horang kayah itu!" Denok terlihat berapi-api. Menatap sengit ke arah dua wanita yang kini bagai kucing tersiram air. Tak memiliki daya apapun.


" Lin?" Reyhan menatap Lintang yang hanya diam. Menepikan keadaan penuh kecanggungan yang mendadak tercipta.


" Saya terimakasih banyak atas bantuan yang pernah mas Reyhan kasih buat saya sama Bu Yanti selama ini. Saya pamit mas. Besok saya pulang ke kota J!"


DEG


Reyhan bagai merasa berdua saja dengan Lintang. Ia terkejut saat Lintang berpamitan kepada dirinya, dalam keadaan seperti itu.


Reyhan terus menatap lekat Lintang, dan menepikan tatapan lintas reaksi dari wajah-wajah baru yang belum pernah ia temui itu.


" Jadi benar kalau kamu kembali dengan laki-laki itu?" Tanya Reyhan lesu. Terlihat putus asa.


" Danuja berhak mendapatkan pengakuan mas. Aku enggak mau jadi egois. Anakku juga layak buat hidup normal!"


.


.


Keresahan, itulah yang pria ganteng itu rasakan sejak kepergian para betina tadi.


Jodhi bahkan sedari tadi meminta update informasi kepada Jonathan, mengenai kegiatan apa saja yang dilakukan oleh kaum betina bersama para ibu suri itu.


Benar-benar posesif sebelum waktunya.


" Kami sedang makan bos. Sebentar lagi meluncur pulang!"


" Tenang saja. Target aman terkendali!"


Begitu pesan yang diketik oleh pria yang di sebut Jojon oleh wanita bernama asli Deni Novita itu. Merasa malas sebab ia merasa menjadi seorang mata-mata saja.


Sekembalinya ia ke lobi, Jonathan nampak terkejut kala melihat pria yang pernah terlibat perseteruan dengan Jodhi itu.


Dengan cepat, ia kini membuka pintu lalu menyongsong para majikannya dengan wajah cemas.


" Kenapa itu, semoga tidak terjadi sesuatu!"


" Nah, tuh si Jojon!" Ia bisa mendengar Denok yang merasai dirinya.


" Jon! Elu ngambil mobil di Maumere ya? Lama banget! Ampek jamuran kita disini nih!" Denok mengomel dan tak menggubris Reyhan dan dua wanita menyebalkan itu.


" Tunggu dulu!" Sergah Reyhan yang kini berjalan ke arah Lintang. Membuat Rania dan yang lainnya mengerutkan kening.


Reyhan tahu ini sangat menyakitkan. Bahkan kehilangan sebelum memiliki itu, rupanya konyol juga ya rasanya.


" Semoga laki-laki itu tidak menyakitimu lagi Lin."


Reyhan menelan ludahnya sembari mencoba tersenyum. Menutupi kekecewaan yang mendadak muncul.


"Yang jelas, aku ikut bahagia kalau kamu bahagia. Maafkan aku, juga mamaku! Semoga hidupmu lebih baik setelah ini!"

__ADS_1


Reyhan terlihat menghela nafasnya guna menetralisir kecamuk yang kian membuncah itu. Sejurus kemudian pria itu masuk dan di ikuti oleh dua wanita yang kini terlihat malu sekali itu.


Tak berani menoleh lagi ke belakang, sebab air mata itu serasa mau tumpah detik itu juga.


.


.


Andhira dan Abimanyu berada di kamar yang sama, pun Rania bersama Bastian. Bu Yanti bersama Lintang dan Danuja, sementara Jonathan dan Jodhi berada di kamar masing-masing.


" Ya- Yah!" Danuja malam itu menangis. Padahal seharian ini, bocah itu sudah bersama Jodhi, " Ya- Yah!"


" Kenapa kamu nyariin dia terus sih nak??" Lintang bahkan kini bingung. Ia tak enak kepada Bu Yanti yang terlihat lelah dan mengantuk.


TOK TOK TOK


Entah siapa yang mengetuk pintu saat Danuja kini tengah meronta-ronta. Membuat Bu Yanti cepat-cepat menuju arah pintu dengan wajah terkantuk-kantuk.


CEKLEK


" Lin, ini Tante ba..."


"Loh, Danuja kenapa Lin?" Tanya Rania yang ucapannya di awal menguap itu.


Ya, Rania malam itu sengaja pergi ke kamar Lintang sebab berniat akan memberikan sebuah ponsel baru, untuk calon menantunya itu.


" Enggak tau Tante. Nyariin Jodhi terus!" Jawab Lintang menunduk malu.


" Ya sudah sini. Ini ponsel buat kamu. Semua nomer kita udah ada disini. Besok kamu pakai yang itu ya!"


" Duh, cucu Oma nyariin Ayah ya? Sini, Oma antar!" Rania meraih tubuh bocah itu, sesaat setelah menyerahkan ponsel keluaran terbaru kepada Lintang, dan seketika membuat tangis Danuja mereda.


" Loh Tan, ini..." Lintang merasa Rania itu terlalu baik. Membuat Yanti merasa beruntung dan yakin, jika Lintang akan bahas bersama kekuatan Jodhi.


" Udah itu buat kamu, kamu pakai ya. Sini, Danuja biar Tante bawa ke kamarnya Jodhi. Atau kamu ikut deh, nanti kalau dia udah tidur, kamu bisa bawa dia balik kesini!"


Lintang mengangguk sebab Bu Yanti itu tergolong orang yang jarang mengeluh. Seharian berbelanja sepertinya membuat mereka kelelahan.


" Ibu istirahat saja. Habis ini kalau Danuja udah tidur, Lintang langsung balik kesini!"


Bu Yanti mengangguk setuju, sebab ia benar-benar lelah.


Lintang kini mengekor di belakang Rania yang berjalan sambil menciumi pipi Danuja tiada henti. " Sudah besar, pingin sama Ayah sama Bunda terus ini Uja ya? Duh, pinter banget sih cucu Oma!"


" Sabar ya sayang. Habis ini kamu bisa tiap hari sama Ayah sama Ibu kamu. Nanti biar dibuatin adek yang banyak, biar kamu banyak temennya dirumah!"


Lintang seketika menunduk malu, wajahnya memerah saat Rania yang tanpa rikuhnya mengatakan hal yang membuat hatinya berdesir tanpa sebab.


Sungguh aneh.


" Lah, mana si Jodhi ini? Pintu dibiarin kebuka dan enggak dikunci begini. Anak itu!" Rania menggerutu saat mendorong pintu yang tidak terkunci itu , meski ia agak terkejut.


Lintang mengikuti wanita yang nampak modis meski usianya terbilang berumur itu, dengan perasaan harap-harap cemas.


Pintu kamar mandi itu, terlihat terayun.


" Ya ampun Jo, kamu jam segini baru mandi?" Ucap Rania seraya mendudukkan tubuhnya ke atas ranjang anak-nya yang sama terkejutnya dengan Lintang itu.


Lintang seketika membuang pandangannya sewaktu melihat Jodhi yang hanya mengenakan handuk sebatas pinggang. Benar-benar menampilkan lekuk indah yang menghadirkan pesona. Kata Ada Band. Cihaa!


Jodhi justru fokus kepada Lintang yang nampak malu-malu. Ia merasa senang sebab Lintang datang ke kamarnya.


" Kok mama bisa masuk?" Tanya Jodhi sambil melirik Lintang.


" Gimana enggak bisa masuk, lawong pintu enggak kamu kunci!"


" Astaga, itu pasti tadi Jonathan. Baru kelar ngerjain kerjaan ma. Jadi baru sempet mandi!"

__ADS_1


Lintang tertegun. Ia sedikit merasa kasihan kepada Jodhi saat ini. Seharian tadi, laki-laki itu pasti kerepotan karena mengurus Danuja. Dan sekarang, pria itu harus lembur demi mengerjakan pekerjaan yang tidak Lintang pahami itu.


" Dia pekerja keras juga!"


" Ya- Yah! Ya- Yah bo bo!" Danuja kembali mengucek matanya seraya merengek.


" Nih, anak kamu minta tidur sama kamu Jo. Udah sana ganti baju dulu kamu! Mama juga udah ngantuk banget ini!"


" Ya, mama sama Lintang disini gimana aku bisa gan..."


" Ya di kamar mandi kah, berani kamu ngusir kita?" Jawab Rania mendengus.


" Cuma nanyak loh. Kok langsung di samber sih!" Jodhi memanyunkan bibirnya sembari berjalan mengambil pakaian ganti.


" Bentar ya boy. Papa ganti baju dulu, tunggu ya" Jodhi menoel pipi Danuja yang meronta ingin di gendong Jodhi.


Setelah menunggu beberapa saat, Jodhi kini sudah rapih dengan kaos dan celana pendek khas pakaian rumahan. Terlihat tampan sebab pria itu kini lebih santai.


" Mama ngantuk nih. Besok kita musti berangkat. Lin, kamu tunggu sebentar ya. Tante enggak kuat melek nih!"


" Tapi Tan, saya..."


" Tante ngantuk banget, beneran nih lihat!" Mata Rania memang terlihat sangat merah. Wanita itu pasti juga sama lelahnya dengan Bu Yanti.


Membuat Lintang mengangguk ragu.


" Yes!!! kamu baik banget sih boy. Jadi team sukses Ayah sejak awal. Gak salah emang. Kamu ini bibit terkuat Ayah!" Jodhi tekrikik-kikik dalam hati.


Sepeninggal Rania, kini keduanya canggung.


" I- Bu!!!" Danuja yang sudah berada di atas kasur bersama Jodhi, kini memanggil- manggil Lintang.


" Udah, adek cepet bobo ya! Ibu tunggu di sini!" Ucap Lintang dari atas sofa, demi melihat Danuja yang ruwet.


" Coba kamu pindah disini, mungkin Danuja mau sama kamu. Biar aku aja yang ke sofa!" Ucap Jodhi yang tahu keresahan Lintang. Wanita itu nampak sungkan.


Lintang mengangguk lalu mendudukkan tubuhnya ke samping Danuja, sebab ia sebenarnya juga lelah.


Namun, saat melihat Jodhi yang bangkit dan hendak menuju ke sofa, Danuja kembali menangis. Bocah itu agaknya ingin di temani dua manusia dewasa itu.


" Kamu memang anak Ayah boy!" Tersenyum licik dalam hati.


" Ya- Yah! I- buk!" Danuja bahkan tantrum dan terlihat menggerakkan kakinya saking rewelnya.


" Ya- Yah, I- Bu!"


" Iya iya, ini Ayah sama Ibuk disini! Udah Danuja tidur ya nak. Udah malem!" Ucap Lintang yang mau tak mau membiarkan Jodhi untuk dekat dengannya, dalam satu kasur yang berisikan ia, Jodhi dan bayi ruwet itu.


Kini, Danuja yang tengah terlentang itu, akhirnya bisa menikmati usapan lembut dari tangan kedua orang tua kandungnya.


Jodhi menatap kasihan Lintang yang bolak-balik menutup mulutnya sebab menguap.


Namun, tanpa mereka duga, hal yang lebih sialan lagi, justru Danuja lakukan sepersekian detik berikutnya.


Bocah itu kini duduk dan seperti minta diajak main oleh kedua sumber asalnya itu. Membuat Lintang serasa ingin menangis saking lelahnya.


" Ayo dong nak tidur, udah malam ini. Ibuk capek!" Ucap Lintang dengan wajah murung dan ingin menyerah. Membuat Jodhi gemas.


Dua orang itu akhirnya menelungkup kan tubuhnya dekat dengan Danuja, di sebelah kanan dan kirinya bayi yang kini bermain bola sintetis merk terbaik itu. Menjaga agar bayi itu gak jatuh, dengan posisi canggung.


" Duh, anak ayah ini emang gemesin, sini ayah ci...."


Jodhi seketika mendelik saat bibir yang harusnya mendarat di pipi Danuja, kini justru mendarat tepat di bibir Lintang sebab Danuja tiba-tiba menidurkan tubuhnya tanpa Jodhi sangka.


Bayi itu kini tergelak saat asik dengan mainannya, dan menjadi original soundtrack dua makhluk yang sama-sama mendelik itu.


Membuat Jodhi seketika terkejut, dengan perasaan tidak karu-karuan.

__ADS_1


" Apa aku sedang dalam masalah?"


__ADS_2