
Bab 141. Kota J, aku kembali
.
.
.
...🌺🌺🌺...
Jonathan
Ia tersenyum - senyum sendiri sepanjang menaiki eskalator menuju lantai dua, dimana waiting room berada. Ada rasa tak tega manakala mendengar secuil kisah tentang kehidupan Denok yang tak mudah. Membuatnya berinisiatif memberikan sesuatu yang berguna, tanpa harus menunjukkan secara langsung.
Entahlah, Jonathan juga tidak tahu pasti sebab musabab dirinya melakukan hal itu. Benarkah ini hanya murni rasa kasihan? Atau lebih dari sekedar itu?
Alibi soal membelikan ibunya sesuatu tadi, sebenarnya merupakan ide spontan yang mendadak tercetus manakala ia sudah tak memiliki waktu untuk berpamitan dengan wanita ekstrem itu.
Ia tahu, Denok berkerja seperti itu karena desakan keadaan. Ia juga tak mau keburu memvonis seseorang hanya dengan sekilas pandang saja.
Ibarat durian, luarnya tajam dan berduri, namun memiliki buah manis yang disukai banyak orang. Sementara jambu yang terlihat mulus dan bersih, tak di nyana di dalamnya berisikan belatung yang busuk.
Begitulah Jonathan memaknai Denok. Apa yang ia lihat selama ini, membuatnya dapat menyimpulkan jika kebajikan itu bisa dilakukan dengan berbagai versi. Tidak harus ini, tidak harus itu. Semua bisa melakukan dengan caranya.
Jonathan merasa, Denok merupakan wanita yang pasti akan menolak pemberiannya mentah-mentah, apalagi mereka selama ini yang jarang berkomunikasi secara normal.
" Lama amat, dari mana?" Jodhi sampai kembali menyusul saat keluarga yang lainnya sudah duduk di dalam pesawat. Membuatnya kaget.
" Oh, tadi saya lupa kasih salam tempel sama si Putu Pak. Jadi ..saya balik!" Jawab Jonathan nyengir.
Jodhi menyipitkan matanya penuh selidik, benarkah yang dikatakan oleh asistennya itu? Atau, ada hal terselubung yang tidak ia ketahui?
.
.
Denok
Dua benda milik si Jojon yang berada di pangkuannya kini lekat ia pandangi. Sebuah sapu tangan putih bertuliskan Jonathan Alexander terbordir rapi di ujungnya.
" Namamu keren Jon. Kayak nama penemu telepon!" Denok terkikik-kikik dan membuat supir taksi online di depannya menyipitkan mata demi mendengar customernya cengengesan sendiri.
Denok meraih sapu tangan itu lalu menghirupnya, " Hemmm, kok jadi wanginya si Jojon ya?" Entah mengapa, Denok tersenyum sendiri demi mengingat jika dia dan Jonathan kerap beradu mulut.
__ADS_1
Membuat Denok kini merasakan kehilangan yang mendadak membuat hatinya sunyi.
" Sekaya apa sih kamu Jon? Sapu tangan aja ada namanya kayak piring emakku dulu!" Tukasnya tekrikik-kikik.
" Kalau di kampung, aku dulu musti nyegat ( menunggu) tukang patri waktu namainnya!" Ucap wanita itu terkekeh sendiri.
Lagi, supir itu makin mempertajam pandangannya saat menatap Denok, dari pantulan rear vission mirror di depannya.
" Iki waras opo ora to jane? ( ini sehat apa enggak sih sebetulnya?" Batin supir itu bergidik ngeri.
Di gantungnya gelang cantik warna rose gold pemberian Jonathan itu ke udara. Ia tatap benda mahal itu dengan tersenyum.
" Sultan banget elu Jon. Barang beginian elu kasih ke orang dengan cuma-cuma. Hah, ya udah lah. Mending aku simpen. Siapa tahu aku nanti kismin mendadak ( miskin), bisa lah aku sekolahkan dia ke pegadaian!" Ucapnya kembali seraya memasukkan benda berharga itu dengan terkikik-kikik.
Membuat supir itu makin kencang menginjak pedal gasnya, sebab mulai takut dengan penumpang yang dia bawa.
.
.
Lintang
Ia seperti merasa Dejavu. Dulu sekali, sewaktu ia kecil, ia pernah bersama kedua orangtuanya berada di pesawat untuk terbang ke suatu kota dengan agenda berlibur.
Tentu saja hal itu menjadi kenangan manis, yang terekam jelas di otak Lintang hingga detik ini.
" Selamat siang, mohon untuk menempatkan bayi di aisle saat ya Bu!" ucap pramugari itu dengan keramahan yang terjaga.
Konfigurasi seat dari pesawat CRJ 1000 itu terdiri dari dua seat di sisi kanan dan sisi kiri. Artinya, dalam satu baris terdapat empat kursi.
Abimanyu duduk di sebelah Andhira dan berada di deret yang sama. Sementara Danuja di pangku Lintang, yang berada di baris kedua di sebelah Bu Yanti yang menolak duduk di dekat jendela karena takut. Dan, dua pria itu duduk di deretan sebelah kanan.
" Oh, baik mbak. Lin, biar aku aja yang pegang Danuja. Kamu biar disitu sama Bu Yanti!" Ucap Jodhi demi melihat Bu Yanti yang sudah pucat sebab nervous.
Lintang mengangguk saat tangan kekar Jodhi mengambil alih darah dagingnya itu, untuk ia pangku. Kasihan jika harus merubah - rubah posisi duduk, mengingat mereka sebentar lagi akan lepas landas.
Abimanyu dan Dhira hanya bisa saling menatap. Mereka bahagia sebab keponakan mereka, kini terlihat tidak galau lagu. Pun dengan Rania dan Bastian. Dua orang itu juga terlihat tak hentinya mengucap syukur, atas apa yang di terima oleh Jodhi.
Lintang diam, seraya tekun menatap interaksi Danuja dan Jodhi yang terlihat asik. Danuja bahkan bisa menurut dan diam, kala di pangku oleh pria yang sempat ia hindari itu.
" Buk, aku pergi. Semoga ini keputusanku yang tepat untuk kebahagiaan Danuja!" Batin Lintang menoleh ke sisi jendela, manakala pesawat itu menyuguhkan gerak semu, sewaktu melaju kencang dan hendak lepas landas.
Air mata Lintang menetes saat matanya terpejam, manakala pesawat itu mulai naik ke ketinggian yang seharusnya.
__ADS_1
" Kota J, aku datang kembali!"
.
.
Galuh
Di kehamilannya yang ke-dua ini, Galuh semakin terlihat lebih berisi dan tentu saja cantik. Ia kini membawa serta Citra, juga Angga yang kini di pangku oleh Galuh.
Ya, mereka kini sedang dalam perjalanan menuju airport, dengan agenda menjemput rombongan Jodhi.
" Kalyna udah berangkat mas?" Tanya Galuh yang duduk di sebelah Raka.
" Udah, tadi waktu kita keluar gang dia info kalau udah jalan!"
Ya, mereka sepertinya akan menjemput tamu istimewa kali ini. Membuat Kalyna yang sudah beranjak dewasa itu sangat excited dengan kakak sepupunya yang terkenal bengal itu.
" Dedek Danuja anaknya Paman Jodhi? Kok aku enggak lihat istrinya Paman Jodhi Yah?"
Citra sedari tadi tak hentinya memberondong pertanyaan Raka soal sosok Danuja yang sempat ia lihat dalam foto.
" Iya, istrinya jauh selama ini. Makanya ini diajak pulang biar bisa sama-sama Citra sama dek Angga!" Sahut Raka dari depan.
" Nanti boleh nginep di rumahnya nenek Rania nggak? Aku kepingin bobo sama adek Danuja!"
Raka dan Galuh saling melempar tatapan. Bagiamana bisa menjelaskan kepada Citra jika Lintang dan Bu Yanti nanti akan tinggal di apartemen Jodhi untuk sementara waktu, hingga mereka selesai menyiapkan segala sesuatunya.
" Aku enggak sabar deh mas pingin ketemu Lintang. Semoga dia fine - fine aja sama aku ya?" Galuh nyengir demi mengingat cerita jika Lintang dulu sempat menyukai Raka.
" Musti fine dong. Lintang orangnya baik. Itu sudah lama banget sayang. Jangan khawatirkan itu. Aku yakin kalau kamu udah kenal, kalian pasti cocok!" Raka mengusap lembut tangan istrinya.
Galuh tersenyum, kini hanya kebahagiaan dan kebahagiaan yang ia temui di tiap pergantian hari yang ia jalani. Galuh bahagia.
"Terimakasih Tuhan, kau memberi lebih dari yang kami doakan!"
.
.
.
.
__ADS_1
Keterangan:
Aisle seat : Kursi yang berada di dekat lorong.