Menjadi Ibu Untuk Anakmu

Menjadi Ibu Untuk Anakmu
Bab 89. Nyonya Raka


__ADS_3

Bab 89. Nyonya Raka


.


.


.


...🌺🌺🌺...


Galuh


Ia benar-benar kelelahan. Semalam suntuk Raka tak membiarkan dirinya beristirahat. Keperkasaan pria itu benar-benar berbanding lurus dengan tubuh tegap berotot.


Ia yang dulu gersang dan kering kerontang, kini malah banjir-banjir nafakah batiniah dari pria berkumis tipis itu.


Galuh malas bangun demi merasakan tubuhnya yang remuk redam. Sama sekali tak berminat untuk bangun.


" Hey, katanya mau jalan-jalan!" Ucap Raka yang sudah sangat segar di jam delapan ini. Berdiri seraya mengancingkan kemejanya. Terlihat ganteng sebab baru saja mandi.


Berbeda dengan dirinya yang merasa matanya bagai terkena lem. Ngantuk sekali.


" Kamu ya mas, tega banget bikin aku begini. Sakit semua badanku!" Ucap Galuh dengan suara parau sebab ia menjawab seraya dengan memejamkan matanya. Malu dengan suaminya yang sudah rapih, sementara dirinya rembes.


Raka terkekeh sambil mendudukkan tubuhnya keatas ranjang istrinya. Pria itu mengecup pipi Galuh penuh sayang.


" Muaach! Jangan males ayo, nanti kalau udah mandi pasti bakal seger. Ayo dong .. Ayah laper banget nih!" Raka memegang perutnya dengan wajah memelas.


Membuat Galuh tersenyum. Ia happy kala Raka menyebutkan nama panggilan kepada Galuh dengan nama 'Ayah'. That's good beibeh!


" Maunya, semua ini kan juga gara-gara kamu mas!" Dengus Galuh yang kini berusaha bangun dengan kerepotan menggulung selimut putih agar tubuhnya tak terlihat unal- unul.


Membuat Raka tergelak. " Iya iya gara-gara aku, tapi kamu juga enak kan semalam!"


Membuat Galuh malu.


Ngapain di tutup sih? Tadi malam aku juga udah lihat semuanya!"


.


.


Acara bulan madu yang lebih tepatnya pindah turu ( tidur) itu terasa penuh makna. Bagiamana tidak dikata pindah turu lawong kerjaan mereka dikamar mulu. Raka mengajaknya berkeliling pulau, membeli aneka oleh-oleh hasil buah tangan penduduk setempat.


Mengunjungi semua tempat estetik demi membuat istrinya senang.


Dua sejoli itu terlihat begitu serasi, manakala berjalan menyusuri jalan paving yang bersih. Saling berpapasan dengan wisatawan asing yang memadati kawasan itu. Kawasan bersih yang jauh dari polisi kendaraan.


Galuh tak lupa membelanjakan baju untuk Citra, semua anggota keluarganya , serta beberapa keponakan mereka yang belum ia kenali secara akrab. Walau begitu, Galuh sudah beberapa kali bertemu dengan Gita dan Dafa.


Puas berbelanja, mereka kini terlihat menikmati ayam Taliwang sambel beberok, pelecing kangkung serta bebalung di resto yang menyuguhkan view laut lepas. Masakan khas Sasak yang benar-benar memanjakan lidah mereka.


Raka bahkan nambah, sebab rasa masakan itu cocok sekali di lidahnya. " Ini enak, kamu harus belajar buat dirumah sayang!"

__ADS_1


Galuh senang melihat Raka yang makan lahap, tekun dan begitu menikmati. Mungkin pria benar-benar lapar sebab tenaganya semalam terforsir untuk kegiatan enak enak mereka. " Aku jadi ingat Dinda mas, dia dulu ngimpi banget pingin kesini! Pingin makan ayam Taliwang katanya"


" Besok kalau pulang kita bawakan, naik pesawat cuma dua jam aman lah. Kapan-kapan kita kesini sekeluarga, nunggu waktu longgar agak lama. Kasihan Niko!" Ucap Raka yang kini mencomot sepotong melon, sebagai cuci mulut .


Galuh mengangguk setuju. " Niko itu sama Kalyna seumuran kan?"


" Tuan Kalyna setahun malah. Niko itu IQ nya tinggi, cerdas dia. Makanya dia sekolah bisa di peringkas begitu!"


Galuh mengangguk kembali. Merasa takjub.


" Ayahnya Niko dulu itu assisten papa. Sekarang...jadi assiten aku!"


Membicarakan Niko, membuat Galuh teringat akan sikap adiknya yang kerap kurang ajar dan semena-mena terhadap laki-laki yang gemar menjaga kebersihan itu. " Aku minta maaf ya mas, kalau Dinda sering ngomong ngawur ke Niko. Sampaikan ke dia. Adikku itu memang...!"


" Biarin aja, biar Niko itu sedikit agresif!" Ucap Raka terkekeh. Ia tahu adik iparnya itu sangat pro dengan dirinya.


" Agresif gimana?" Galuh mengerutkan keningnya.


" Kamu enggak lihat, mereka berdua tiap ketemu kayak kucing sama anjing. Bagai minyak dan air. Pasti mereka itu berjodoh!" Ucap Raka sembari ingat akan sesuatu. Terkikik dalam hati.


" Ngawur aja, Dinda itu udah 21 tahun, Niko umur berapa, jangan ngaco ' deh mas!" Galuh terheran-heran dengan pola pikir suaminya.


" Loh, banyak kok yang menikah beda usia. Nih ya, umur itu bukan jadi suatu halangan untuk orang mencintai satu sama lain. Lagian nih ya, umur itu bukan satu tolok ukur orang itu dewasa, beda. Dewasa itu sikap, sedangkan tua itu masa. Nih ya coba kamu ingat, Niko itu dia dewasa banget walau usianya baru mau 17 dan mindsetnya bukan kaleng - kaleng!" Ucap Raka semangat.


Galuh mengembuskan napasnya pasrah. Raka memang jago berargumentasi pikirnya.


.


.


" Kamu senang, hm?" Kata Raka usai melumaaat habis bibir lezat istrinya yang seolah tiada puas itu.


" Makasih banget ya mas!" Galuh memeluk tubuh beraroma maskulin milik suaminya, lalu menyenderkan kepalanya ke dada bidang itu.


" Setelah ini kita pulang. Lusa aku harus ke Malaka. Kamu ga apa-apa kan aku tinggal dulu?" Raka menangkup wajah Galuh dan menatapnya erat.


Galuh mengangguk. " Jangan lebay ih, aku kok malah ngeri kalau mas begini!"


Raka tergelak. Istrinya itu benar-benar lain dari yang lain.


" Oh ya sayang!" Raka berjalan membuka sesuatu dari dalam tasnya. " Ini kamu pegang. Yang hitam Iki kartu kredit unlimited. Kamu kalau belanja pakai ini. Kalau ini ATM yang isinya gaji aku!" Ucap Raka terkekeh saat menggoda Galuh.


Galuh mendengus. " Mas kan bosnya, mana mungkin di gaji!" Ucap Galuh polos. Membuat Raka makin senang mengerjai istrinya.


" Mulai sekarang kamu yang atur, gaji pembantu kita, uang sekolah Citra, kasih uang buat Bapak sama Ibuk juga ambil dari sini ya, jangan sungkan. Mereka orang tua aku juga, pokonya aku mau orang tua kamu mendapatkan yang terbaik"


Galuh merasa bagai mimpi, tak pernah terbayangkan jika Tuhan mengganti hidupnya lebih baik berkali-kali lipat.


" Apa ini enggak terlalu kebanyakan mas?" Tanya Galuh mendongak. Merasa suaminya terlalu berlebihan.


" Kebanyakan apanya Nyonya Raka? Jangan pernah ngerasa begitu. Aku bakal kerja keras buat kamu, buat Citra buat calon adiknya Citra nanti, hm?" Raka membingkai wajah istrinya. Galuh menitikkan air matanya manakala merasa bahagia. Lagi dan lagi, Raka membuat hidupnya kini lebih bermakna.


Raka mendekatkan wajahnya lalu mengecup mesra bibir Galuh. Pria situ sangat mencintai Galuh dengan segenap jiwa raganya.

__ADS_1


.


.


Sementara itu di tempat lain,


Galuh tak mengetahui jika Raka meminta Niko untuk memperkejakan Dinda ke perusahaan mereka sesaat setelah mereka ijab kabul kemarin.


Kebetulan, devisi quality control tengah memerlukan tenaga kerja tambahan. Mengingat, semakin bervariasinya produk panganan yang akan mereka produksi.


Raka merasa, posisi itu bisa diisi oleh Dinda saat ini. Bagiamanapun juga, Dinda saat ini juga merupakan keluarganya.


Niko sebenernya terkejut dengan perintah bosnya itu. Tapi tidak dengan Dinda yang di hubungi Raka langsung . Wanita itu merasa senang, ia yang sejak awal memang menyukai pribadi kakak iparnya itu, kini bagai mendapat durian runtuh.


" Lama amat sih, aku udah jamuran tau nungguin kamu!" Ucap Dinda begitu masuk kedalam mobil Niko. Membuat pria itu geleng-geleng.


Astaga, jelas hidupnya di hari-hari depan akan semakin di penuhi oleh drama.


.


.


.


.


.


.


Tinggalkan jejak tiap selesai baca ya, karena pembaca yang berbudi pekerti luhur adalah pembaca yang mau menghargai karya penulisnya sekecil apapun itu.


.


.


.


.


Attention please!!!


Jadi gini, sebenarnya mommy belum mau publish ini cerita. Rencananya nunggu kisah Jodhi and Raka tamat, namun mommy mengalami kendala waktu mengajukan karya tamat. Musti ada karya baru sebagai salah satu sarat mutlak dari NT, so akhirnya mommy menelurkan karya baru lagi. But, ini udah matang secara outline ya sebenarnya.


Bisa mampir ya ke kisah Deo sama Arimbi.


.



.


See you there boebo πŸ˜˜πŸ˜˜πŸ˜˜πŸ’ƒπŸ’ƒπŸ’ƒ

__ADS_1


__ADS_2