Menjadi Ibu Untuk Anakmu

Menjadi Ibu Untuk Anakmu
Bab 112. Pria dan sebuah logika


__ADS_3

Bab 112. Pria dan sebuah logika


.


.


.


...🌺🌺🌺...


Jodhistira


Ia nampak membisu di samping Jonathan yang kini fokus menjadi juru mudi. Ingatannya masih saja terpaku kepada ucapan demi ucapan yang terlontar dari mulut ibu dari anaknya itu.


"Dengar! Aku enggak mau ngomong apapun sama kamu. Jangan ganggu aku lagi. Percuma, sampai kapanpun aku enggak bakalan mau maafin kamu. Pria brengsek!"


Jodhi menggigit giginya sendiri seraya memejamkan matanya demi mengingat Lintang yang benar-benar nestapa. Pria itu terlihat menarik napasnya dalam-dalam lalu menghelanya. Jodhi, merasa dirinya sunyi dan kosong.


"Elu udah ngancurin hidup gue, semua! Dan sekarang elu mau ambil anak gue?" Lintang tersenyum kecut. " Kenapa elu enggak bunuh gue sekalian, hah? Kenapa?"


" Gue benci sama elu Jo! Gue benci!"


" Argggggghhh!" Jodhi berteriak seraya menjambak rambutnya frustasi. Membuat Jonathan tersentak demi kemerahan Jodhi yang mendadak.


Ya, Jodhi marah dan kecewa kepada dirinya sendiri.


" Gue emang brengsek Jon! Gue emang brengsek!"


Napas Jodhi kini terlihat kembang kempis. Bayangan akan pria yang sedari tadi turut ikut campur akan persoalannya itu, kini menambah rasa runyam saja.


" Anda harus tenang bos. Jika anda seperti ini terus, saya khawatir anda tidak akan menemukan solusi untuk merebut hati nona Lintang kembali!"


" Tolong kuasai diri anda!"


Jonathan merasa perlu mengingatkan Jodhi agar lebih rasional. Ia tahu, belum tentu dia juga akan lebih kuat dari Jodhi. Namun, bukankah pria itu lebih mengedepankan logika?


Jodhi tertegun. Oh astaga, andai tidak ada Jonathan ia pasti akan semakin stres.


" Kau benar Jo. Astaga!" Jodhi membasuh wajahnya dengan kasar. " Kita kembali ke hotel dulu Jo!"


.


.


Lintang


" Apa?" Yanti terkejut tatkala ia mendengar penuturan Lintang soal Jodhi.


Selepas datang dari melayat dan membersihkan dirinya, Lintang kini berterus terang soal kejadian memilukan yang baru saja dia alami.


" Aku enggak tahu lagi musti gimana Buk!"


" Lintang benar-benar lelah!"


Ibu dari Danuja itu benar-benar terlihat muram. Matanya bahkan kembali terlihat sembab, sebab tangis yang tak mau sirna.


" Pantesan anak kamu rewel terus dari tadi Lin!" Yanti menatap Lintang muram. " Anak kamu peka banget!"


Reyhan menatap Danuja yang masih sesenggukan sebab baru saja menangis. Bayi gembul itu kini mulai terlelap dalam gendongan Yanti.


" Badannya juga tiba-tiba anget lagi!" Ucap Yanti dengan raut sedih. Membuat Lintang resah.


" Sini Buk, biar Lintang bawa ke kamar kalau gitu!"

__ADS_1


Yanti mengangguk, wanita itu sejurus kemudian melimpahkan Danuja kepada Lintang.


" Oh ya, Mas Rey, saya mohon maaf karena membuat mas Rey babak belur karena laki-laki tadi!" Lintang kini berbalik dan menatap Reyhan dengan senyum simpul.


"Saya sangat berterimakasih karena sudah repot-repot bawain barang-barang buat Danuja!"


Reyhan mengangguk sembari berbalas senyuman. Pria itu kini melihat punggung Lintang yang kini telah menghilang di balik pintu, dengan tatapan masygul.


" Seperti apa rupa bapaknya Danuja mas? Apa dia pria tua? Sampai Lintang ketakutan?" Ucap Yanti sambil mendudukkan tubuhnya ke kursi plastik di sebelah bufet usang. Membuat Reyhan tersentak dari lamunannya.


Reyhan diam. Pria itu terlihat ragu untuk menjawab. " Pria itu bahkan lebih tampan dariku Bu!" Batin Reyhan .


"Mungkin ibu akan segera mengetahui. Sebab, saya rasa laki-laki tadi tidak akan jera untuk menemui Lintang!" Reyhan tersenyum menatap Yanti yang kini bingung


" Saya pamit pulang dulu Buk!"


Sepeninggal Reyhan. Yanti mendadak merasa resah. Kepalanya mendadak sakit. Entah mengapa dalam hati perempuan itu merasa, jika rewelnya Danuja merupakan bentuk ikatan batin yang kuat antara kedua orang tuanya dan diri bayi itu.


" Apa yang sebenarnya Danuja rasakan?"


.


.


TOK TOK TOK


Gedoran membabi buta di jam pagi itu, sudah bisa dipastikan berasal dari wanita tidak benar bernama Denok.


" Yu! Buka Yu!"


TOK TOK TOK


" Yu!"


CEKLEK


" Elu tuh ya Nok, enggak bikin geger sehari aja kenapa sih?" Yanti mengomel, sebab ia dan Lintang baru saja tidur sebab semalam Danuja rewel.


Wanita itu kesal karena kini kepalanya terasa sangat pusing.


" Enggak ada di cariin, giliran kesini di omelin!" Denok memanyunkan bibirnya saat ngeloyor masuk melewati Yanti.


" Zul mati to Yu? Astaga, kok enggak ada yang ngasih tahu aku sih, kebangetan banget!" Ucap Denok yang kini mulai mendaratkan bokongnya ke karpet merah milik Yanti.


" Ngasih tau ndiasmu cepot ! Di telpon gak ada ngangkat gitu. Lagian mana sempet layat. Elu pasti lagi asik mainan burung!" Jawab Yanti mendengus sebal.


Denok terkikik-kikik. Itu memang benar. Ia mendapat pasien sejak sore. " Iya sih, mainin burung. Tapi burung yang enggak bisa terbang. Bisanya pilek terus. Mbeler!!" Denok makin tergelak demi menelan ucapannya sendiri.


Yanti geleng-geleng kepala demi merasai tetangganya itu. " Wanita edan!"


" Eh yu, kenapa tumben jam segini belum belum pada bangun?" Denok kini mengambil bantal tipis dan ia jadikan tumpuan sandaran tangan.


Wanita bertindak empat di telinga itu, kini memiringkan tubuhnya dengan menyangga kepalanya, seraya menatap Yanti dari gelaran karpet itu dengan posisi mirip duyung.


" Danuja semalam suntuk rewel banget Nok!" Jawab Yanti seraya menguap. Kantung mata wanita itu bahkan kini menghitam. Jelas mengindikasikan jika semalam Yanti juga menjadi makhluk nocturnal.


" Kenapa?" Tanya Denok dengan wajah serius. " Jangan-jangan kena sawan Zul kali!"


" Cangkemmu! Uwong kok kalau ngowos ( ngomong) enggak ada saringannya blas. Mana mungkin, ngarang aja!" Yanti makin sebal.


" Ya bisa aja Yu, namanya juga saitonirojim!"


Denok tiap pagi pasti datang menemui Danuja sebelum ia akan tidur sepanjang hari. Wanita itu selalu menyempatkan diri untuk membantu Lintang mengasuh Danuja tiap pagi. Sebab saat Yanti pergi, Lintang kerap kesulitan kala hendak menjemur pakaian, maupun hendak mandi.

__ADS_1


" Astaga!"


Denok dengan posisi yang masih mirip dugong itu, kini mendelik saat menatap Yanti yang juga mendadak mematung, demi mendengar suara Lintang yang menjerit dari dalam kamar.


" Buk! Danuja muntah-muntah buk!"


Denok seketika melesat dengan kecepatan supersonik. Tak ada toleransi jika sudah menyangkut Danuja.


" Buset, Lin! " Denok bahkan sampai bingung harus berbuat apa.


" Ya Allah, kenapa bisa begini Lin?" Bu Yanti berteriak seraya menerobos masuk melewati Denok yang terbengong, saat melihat Danuja yang terus mengeluarkan isi dalam perutnya.


" Aku enggak tahu buk. Barusan minta susu terus ga buatin, tapi dari semalam panasnya memang enggak turun. Ini barusan juga diare!" Ucap Lintang panik.


" Lin, udah cepet kita bawa ke RS Lin, ini bayi, muntah mencret terus bisa dehidrasi fatal dia nanti. Sek yu, aku tak ngambil motor dulu Yu. Duh Gusti, kok Yo enek enek ae!" Ucap Denok resah seraya melesat pergi keluar , sebab hendak menyiapkan motor maticnya, guna mengevakuasi Danuja.


.


.


Jodhistira


Ia baru saja mengganti pakaiannya dengan sebuah kaos dan celana jeans yang fit di tubuhnya, saat Jonathan mengetuk pintu kamarnya dengan agak kencang.


Membuat Jodhi mengerutkan keningnya.


CEKLEK!


" Kenapa Jo?" Ucapnya sesaat setelah pintu itu terbuka.


" Maaf bos mengganggu anda!" Jawab Jonathan tak enak hati.


" Mm, katakan!" Balas Jodhi seraya mengancingkan kancing kaos berkerahnya.


" Orang kita barusaja memberikannya info jika Danuja dibawa ke rumah sakit kembali bos!"


DEG


" Apa? Danuja kenapa Jo?" Jodhi yang kini berwajah cemas seketika menjadi tak sabaran


" Mereka belum bisa memastikan Danuja kenapa bos, tapi saat ini nona Lintang dan Danuja tengah menuju kerumah sakit bersama seorang wanita. Bremi mengirimkan saya foto ini tuan!" Jonathan menunjukkan foto yang di kirim oleh satu satu orang suruhannya kepada Jodhi.


Mata Jodhi langsung membulat sempurna, saat pandangannya menangkap wajah tak asing dalam foto yang ada di ponsel Jonathan.


" Ini kan?"


.


.


.


.


.


Hayo siapa hayo?


Kira-kira apa yang bakal Jodhi lakukan setelah ini ya setelah ketemu orang itu.


xixixixix🤭🤭🤭


Like komen sama hadiahnya jangan lupa. Biar author semangat nambah satu bab lagi hari ini.😘😘😘😘

__ADS_1


__ADS_2