
Bab 74. Dendam hanya membuatmu berteman dengan kerugian
.
.
.
...🌺🌺🌺...
Dewi
Keluarga Aryasatya benar-benar ingin menjajalnya rupanya. Baiklah, akan dia tunjukkan siapa sebenarnya Calista Dewi Tribawati.
Namun saat ia hendak membawa Galuh untuk di kurung , tanpa ia duga wanita itu menendang perutnya dengan sanga keras.
" Argggggghhh!" Membuatnya meringis kesakitan karena sakit yang luar biasa. Karena rasa sakit itulah, Dewi sejurus kemudian menarik pelatuk pistolnya lalu mengarahkan tiga kali tembakan ke udara.
DOR
DOR
DOR
Membuat langkah Galuh yang hendak kabur itu ,seketika terhenti. Anom bahkan kini mendelik demi mendengar suara letusan yang ia dengar.
Oh sial.
" Aku ledakkan kepalamu sekarang juga jika kau berani kabur!" Ancam Dewi yang kini menodongkan senjata ke arah Galuh. Membuat wanita tubuh itu seketika menegang karena takut.
.
.
Sejurus kemudian Raka yang terlihat sudah bebas dari jeratan tali pengikat tangannya itu, seketika berlari demi mendengar suara tembakan, usai menghadiahi bogem yang dan sebuah tendangan kepada dua keroco Dewi.
Raka terlihat bernapas lega manakala Galuh ternyata tidak apa-apa. Syukurlah!
" Oh sial, aku tidak akan pernah memaafkan diriku sendiri jika sesuatu terjadi padamu Luh!" Ucapnya dalam hati sambil mengatur napas usai berlari.
Raka benar-benar syok dan emosinya seketika terpantik manakala mendengar suara letusan. Pikirannya sudah mengira yang tidak-tidak.
Dewi yang masih berdiri dengan sisa kesakitan yang masih terasa, kini terlihat membulatkan matanya, manakala empat pria-pria berumur yang ia harapkan menjadi cidera itu, kini terlihat santai mengepung keberadaannya.
" Apa?" Ia terkejut, anak buahnya berjumlah banyak ,bahkan sangat. Namun kenapa kesemua pria itu kini selamat?
Benar-benar tak berguna!
" Anom!" Panggil Dewi yang kini berada di titik kehabisan kemarahannya. " Bawa anak itu kemari, cepat!" Dewi berniat ingin menyandra Citra yang kini menjadi amunisi satu-satunya yang ia miliki.
Anom bergeming dengan mata yang mulai mengabur sebab cairan kristal itu telah memenuhi pelupuk matanya. Pria itu tak bisa menipu nuraninya yang telah berbicara.
" Anom, apa kau tuli? Cepat ambil anak sialan itu!" Ucapnya dengan napas memburu.
Membuat Raka dan yang lainnya turut terperanjat demi kebisuan yang tersaji di depannya. Apa yang sebenarnya terjadi dengan pria yang menjadi tangan kanan Dewi itu ? Mengapa pria itu membangkang?
Anom terlihat menyodorkan senjatanya kepada Dewi dan sama sekali tak mendengar ucapan kasar Dewi. " Anak itu sudah tidak ada disini!" Jawabnya dengan wajah lelah.
Raka terkaget seketika, apa maksud ucapan pria itu? Pun dengan Dewi.
__ADS_1
" Apa? Apa dia sudah kau bunuh?" Tanya Dewi senang dengan mata berbinar. Menatap Anom yang kini terlihat muram.
" Tidak!" Jawab Anom cepat dengan tatapan kosong. " Dia pasti sudah hampir sampai ke rumahnya!" Sahut Anom.
" Apa?" Raka spontan mengucapkan kalimat penuh keterkejutan itu. Benar-benar tak mengerti. Pun dengan Abimanyu yang kini juga terlihat sangat tegang, dan sejurus kemudian ponselnya berbunyi.
" Apa yang kau bicarakan?" Raut Dewi terlihat berubah tegang. Jelas menyiratkan kebingungan.
" Dhira?" Ucap Abimanyu yang kini membuat kesemua manusia disana mengalihkan atensinya kepada Abimanyu, manakala ponselnya bergetar.
" Ya Ma?" Jawab Abimanyu sambil melirik Dewi yang kini menatapnya penuh kebencian.
" Pah! Citra sudah kembali Pah! Dia sudah ada disini, kalian kenapa malah belum kembali?" Suara tangis Dhira yang membawa serta info membahagiakan itu, membuat hati Abimanyu limpah dengan syukur.
" Ka! Mamamu bilang jika Citra sudah ada dirumah!" Wajah berbinar Abimanyu kala menyampaikan kalimat penuh kebahagiaan itu ,membuat kesemua yang ada di sana tersenyum lega. Apalagi Galuh. Anom ternyata memenuhi janjinya.
Tapi tidak dengan Dewi. Wanita itu terlihat menatap tajam Anom.
PLAK!!
" Kurang ajar kau!" Dewi menatap geram Anom yang baru saja ia tampar. " Apa kau sudah tidak waras, hah?" Dewi berteriak sangat keras. Wanita itu terlihat frustasi. " Beraninya kau mengkhianatiku!"
Trio Konglo, Bastian juga Raka dan Galuh terlihat tekun menyaksikan perdebatan antara Anom dan Dewi.
" Tembak aku, agar kau puas!" Anom menyodorkan senjatanya kepada Dewi dengan wajah lelahnya, namun wanita itu kini malah menangis kecewa.
" Semakin banyak engkau menyakiti hati orang lain, maka hatimu pasti ingin lebih dan lebih lagi menyakiti!" Anom kini berbicara dengan nada sendu. " Anak itu tidak tahu-menahu soal urusan orang tuanya, tidakkah kau kasihan?"
Dewi mengeraskan rahangnya. Kenapa itu-itu terus yang di ucapkan Anom." Apa mereka juga kasihan sewaktu aku dulu bersama Ibu Gwen mereka telantarkan?" Dewi menunjuk keenam pria yang berdiri mematung itu dengan tanpa memandangnya.
DEG
Tubuh Abimanyu seketika menegang
" Apa mereka peduli saat aku dan Ibuku kelaparan di jalanan?" Dewi menangis. Menumpahkan apa yang selama ini menyesakkan dadanya.
" Apa orang dia pantas di sebut seorang Ayah?" Tunjuk Dewi kearah Abimanyu yang matanya kini telah memanas.
" Calista?" Tanya Abimanyu akhirnya. Dadanya mendadak sesak. Meski ia masih ragu akan status wanita itu. Namun mengetahui fakta jika wanita jahat itu , merupakan bocah cilik yang dulunya sempat ia usap keningnya sewaktu berada di rumah sakit waktu demam parah itu, membuatnya larut dalam kesedihan.
Waktu benar-benar telah berjalan cepat.
" Jangan panggil aku dengan sebutan itu! Calista sudah mati, dan aku tidak mengenal nama itu!" Ucap Dewi yang kini histeris menatap bengis ke arah Abimanyu.
" Ca lis ta!" Panggil seseorang secara tiba-tiba yang membuat mereka semua terkejut, demi mendengar suara terbata-bata seorang wanita. Seorang wanita yang kini berada diatas kursi roda , dengan wajah layu dan tubuh kurus kering dan terlihat sangat pucat membuat Dewi membulatkan matanya karena keterkejutan.
Ibunya bisa bicara?
" Ibu?" Dewi berlari dengan mata berkaca-kaca dan menyongsong Gwen yang saat ini di dorong oleh pria suruhan Anom.
" Gwen?" Gumam Abimanyu yang merasa miris sekali dengan tampilan mantan istrinya itu.
" Apa itu benar-benar kau Gwen?" Wanita itu pucat, kemolekan dan indahnya riasan make up tebal kini tiada lagi terlihat. Hanya tubuh kurus dengan wajah sayu berteman keriput, yang kini tersaji di hadapannya.
" Di da bu Bu kan a ayah-mu!" Ucap Gwen dengan wajah yang terlihat ngoyo, namun sorot matanya menyiratkan kejujuran.
DUAR!!!
Tubuh Dewi seketika bagai tersambar petir. Kaku dan terasa bergetar hebat. Ibunya selama ini tak bisa bicara, namun sekalinya bisa bicara, kenapa yang terucap justru hal yang membuat Dewi terperanjat. " Ibu jangan bercanda, ibu pasti di ancam sama Anom kan?" Dewi histeris. Tak bisa menerima kenyataan yang ada.
__ADS_1
Gwen menggeleng dan terlihat menitikkan air matanya. Wanita itu terlihat rapih sekali. " Ma af kan a ku!" Kini Gwen menatap Abimanyu dengan tatapan kosong dan bibir pucat dengan wajah layu. Membuat hati Abimanyu sesak dan bagia teriris sembilu.
" Se mo ga ka mu me maaf kan a ku dan Se no pa ti!" Ucap Gwen dengan suara yang terlihat berat dan kini terengah-engah.
DEG
" Senopati?" Gumam Dewi dengan mata membulat, pun dengan Abimanyu yang terlihat sama terkejutnya. Raka dan Galuh beserta yang lainnya hanya bisa menyimak, karena sama sekali tak mengetahui siapa yang mereka bicarakan.
" Apa dia Ayah dari Calista?" Tanya Abimanyu menatap Gwen. Mencoba mencari jawaban dari seraut loyo di depannya.
Wanita itu mengangguk dengan tangis yang semakin pecah. Membuat Dewi seketika beringsut dan lemas. Tidak! Ini tidak mungkin.
" Dewi!! Awas!!"
Anom berteriak manakala manik matanya melihat Jodhi yang kini membidikkan pistolnya ke arah Dewi. Pria itu terlihat melesat dengan cepat dan langsung melindungi wanita itu.
DOR
DOR
" Argggggghhh!" Anom kini harus merasakan sakit , sebab dua timah panas telah bersarang di perut sebelah kiri dan punggungnya, bersamaan dengan Raka, Galuh, trio Konglo dan juga Bastian yang kini terkejut. Membuat Dewi kini membulatkan matanya lantaran kaget dengan apa yang ia lihat.
" Anom?" Ucapnya membingkai wajah Anom dengan tubuh bergetar saat pria itu kini terkulai lemah ke lantai berdebu itu.
" Anom!" Teriak Dewi mengguncang pipi Anom dengan dada bergemuruh dan tubuh yang bergetar hebat.
" Jodhi!!" Raka menendang dengan cepat senjata yang kini di pegang oleh adiknya itu.
" Jodhi apa aku sudah gila?" Bastian kini ambil bagian seketika, saat ia melihat putranya yang nampak emosi.
" Lepas!!!" Aku ingin membunuh wanita sialan itu!!!" Jodhi masih tidak terima rupanya. Pria itu diam-diam mengincar Dewi sedari tadi. " Kemari kau sialan!"
Kini Bastian, Danan dan Wisang berupaya mengamankan Jodhi yang terlihat begitu emosi. Benar-benar kacau.
Membuat Galuh menangis karena ketakutan. Astaga, kenapa jadi seperti ini ceritanya?
"Aku sudah memenuhi tugasku Wi!" Untuk pertama kalinya Dewi kini melihat Anom tersenyum meski seraya meringis demi menahan sakit. " Aku sudah membuktikan jika aku akan selalu melindungi mu!" Ucap Anom dengan air mata yang mulai meluncur. Membuat Dewi kini menangis dengan hati yang sesak.
" Anom!" Tangis Dewi pecah.
" Kau..tahu, aku mencintaimu Wi, mencintaimu!" Suara Anom semakin lirih. " Aku cemburu tiap melihatmu bersama mereka walau aku tahu itu adalah sebagian dari usahamu untuk membalas dendam" Dewi masih mendengarkan dengan isak tangis yang semakin keras. " Aku mencintaimu Dewi!" Ucap pria itu lagi yang kini perlahan-lahan menahan matanya agar tak terpejam.
" Anom!" Ucap Dewi menangis. Sama sekali tak sanggup berkata apa-apa.
" Pak Raka, tolong lakukan sesuatu untuk Anom!" Galuh yang berwajah panik kini memberanikan diri untuk angkat bicara. Bagaimanapun juga pria datar dan kaku itu telah memenuhi janjinya untuk memastikan Citra selamat.
Raka mengangguk" Sebaiknya kita bawa dia kerumah sakit sekarang juga!" Ucap Raka yang panik. Mendekat ke arah Dewi. Menepikan egonya.
" Jangan sentuh aku!" Ucap Dewi yang benar-benar kecewa dengan semuanya. Terlihat mengangkat tangannya menolak bantuan Raka.
" Rey, Van! Bantu aku membawa Anom !" Ucap Dewi kepada dua pengawal yang datang bersama dua orang perawat yang merawat Ini Gwen. Mengabaikan Raka yang kini menatapnya muram.
Dewi menatap tajam ke arah Abimanyu yang benar-benar masih belum bisa menerima kenyataan. Dari kilatan matanya, terlihat jelas jika Dewi sangat kecewa. Entah kecewa kepada siapa dia. Kepada semesta, atau kepada dirinya sendiri.
" Bertahanlah Anom! Kumohon!"
.
.
__ADS_1
.
.