Menjadi Ibu Untuk Anakmu

Menjadi Ibu Untuk Anakmu
Bab 111. Di titik emosional


__ADS_3

Bab 111. Di titik emosional


.


.


.


...🌺🌺🌺...


Reyhan


Berita soal Lintang yang di kejar-kejar oleh orang asing tersiar juga hingga ke telinganya. Membuatnya merasa geram. Siapa juga yang berani melakukan hal itu? Kejahatan di tempat umum.


Sore itu, ia sengaja ingin mendatangi Lintang dan ingin mengetahui kondisinya. Reyhan tak mempedulikan peringatan orang tuanya, agar tak mendekati Lintang. Wanita yang tidak jelas asal-usulnya. Begitu kata sang mama.


" Saya kan sudah bilang, jangan bawa apapun untuk saya Mas. Tolong ja...."


" Saya bawa semua ini untuk Danuja!" Ucap Reyhan yang membuat kalimat Lintang menguap percuma.


Membuat Lintang seketika terdiam. Menatap banyak sekali bungkusan berisi popok bayi, susu dan juga kebutuhan yang lainnya.


" Lin, aku itu khawatir banget sama kamu. Aku dengar dari orang-orang yang ke toko pada membicarakan kamu!" Raut Reyhan murung sewaktu berkata. Menatap Lintang yang sore itu menggendong Danuja dengan wajah tak nyaman.


Namun, belum juga mereka menyelesaikan obrolan hangat mereka. Yanto datang dengan membuat atensi dua manusia itu, kini bertumbuk ke arah gawang pintu.


" Yu, Yu Yanti!" Ucap Yanto dengan wajah pias. Terkesan terburu-buru.


" Ada apa Cak? Ibuk masih mandi di belakang, baru aja dateng!" Jawab Lintang turut mengerutkan kening saat menatap wajah pria yang seperti kebakaran jenggot itu.


" Mas Zul, Mas Zul meninggal Lin!"


" Hah?"


Lintang tentu saja sangat terkejut. Zul merupakan orang yang ia kenali, yang juga pernah meyakinkan keluarga Bli Komang untuk menerima Lintang bekerja.


.


.


Lintang


Ia tertegun dengan kesedihan yang kembali menghampiri dirinya, dan seolah tiada jera. Pria bernama Zul itu, merupakan orang sering membeli dagangannya, sewaktu jam istirahat.


" Ada apa Lin?"


Yanti yang baru selesai mandi kini terkejut saat melihat kedatangan Yanto, dan melihat Lintang yang mendadak berwajah sedih seraya menyusut air matanya.


" Pak Zul ninggal Buk!"


Yanti mematung beberapa saat. Ia nampak syok. " Ya Allah, padahal malam ini aku baru mau jenguk!"


Sesal menggerogoti relung hati Yanti. Ia baru punya rezeki hari ini. Dan berniat akan menjenguk Zul selepas isya nanti bersama ibunya Yanto.


Namun lagi-lagi, malang tak dapat di tolak, dan untuk tak dapat di raih.


" Kalau kamu mau melayat dulu tolong tinggalkan Danu sama Ibuk saja. Pergilah, kita gantian aja. Ibuk biar jaga Danu!"


Lintang mengangguk dengan air mata yang berderai. Ia tak habis pikir. Kenapa orang baik justru di panggil terlebih dahulu.


" Lin, saya temani ya?" Tawar Reyhan menatap muram Lintang.


Lintang mengangguk usai menyerahkan Danuja kepada Yanti. Toh hanya melayat. Lagipula, Reyhan juga sudah mengenali siapa Zul.


Namun, begitu ia tiba dirumah duka, ada banyak sekali orang-orang pabrik yang memenuhi kediaman orang yang pernah menolongnya itu.


" Mobil ini!" Reyhan bergumam kala melihat mobil hitam mengkilat dan paling mentereng itu.


Lintang merasa tubuhnya bergetar, kala melihat bendera kuning yang berkibar lemah. Menjadi penegas jika Zul memang telah menghadap ilahi. Membuatnya mendadak limbung, kala melihat sebujur kaku yang kini tertutup kian batik.


" Astaga Lin, kamu enggak apa-apa Lin?" Tanya Reyhan cemas yang kini membantu memapahnya.

__ADS_1


Lintang mengangguk meyakinkan. " Enggak apa-apa mas. Saya cuma...." Lintang tak bisa meneruskan ucapannya. Ia tercekat sebab mengingat kebaikan pria itu.


Semua orang yang baik satu persatu meninggalkan dirinya. Ia terus berharap, jangan sampai Bu Yanti dan Mbak Denok juga meninggalkan dirinya, saat ia belum bisa membalas semua kebaikan dua wanita hebat itu.


" Mbak?" Lintang datang ke arah istri Zul, dan tidak menyadari tatapan penuh keterkejutan dari pria berpakaian serba hitam yang ada di sampingnya.


Pria itu terlihat mengeraskan rahangnya, sewaktu menatap dirinya yang datang bersama Reyhan.


" Orang ini kan?" Batin Reyhan yang seperti pernah menjumpai Jodhi.


.


.


Jodhistira


Ia beringsut mundur saat istri dari almarhum karyawannya itu, tengah sibuk melepas tangis bersama Lintang. Ia sengaja ingin mencari tempat lain dan berniat mencegat Lintang setelah ini.


Jodhi berjalan puluhan meter bahkan tanpa mengabari Jonathan yang sibuk berbincang dengan penasihat hukumnya. Jodhi menyelinap diantara riuh rendah para pelayat.


Dan benar saja, ia yang kini berdiri di luar tempat yang agak jauh dari rumah duka, menghadang Lintang yang tengah berjalan bersama seorang pria.


" Kamu!" Lintang terlihat begitu terperanjat kala dengan mendadaknya, melihat Jodhi yang kini berdiri di tengah jalan, serta melipat kedua tangannya di depan dadanya.


" Sudah aku bilang aku akan kembali!" Ucapnya menatap Lintang dan mengabaikan pria yang ada di samping wanitanya itu.


" Pergi!" Wajah Lintang lekas berubah.


" Aku mau bicara!" Ucap Jodhi menarik lengan Lintang dengan tergesa.


" Jangan maksa lu!" Reyhan menarik tangan Jodhi dengan cepat, demi melihat Lintang yang seperti enggan di sentuh.


" Jangan ikut campur!" Jodhi menatap tajam pria itu. Membuat keduanya saling melempar tatapan tajam dan penuh kebencian.


Sejurus kemudian, Jodhi kembali mengalihkan pandangannya ke arah wanita itu.


" Please Lin, aku ingin kita bicara baik-baik!" Jodhi berusaha menarik tangan Lintang lagi, namun dengan cepat di tangkis oleh Reyhan.


Reyhan mendorong tubuh Jodhi hingga membuat pria itu mundur dua langkah. Membuat Lintang kini gemetar demi melihat dua pria yang saling bersitegang itu.


" Bacot!" Balas Jodhi muak.


BUG


Jodhi yang merasa emosi kepada pria itu, bahkan saat melihat Lintang ia papah tadi, kini tak bisa menahan emosinya.


BUG


" Mas!!" Lintang berteriak kala Reyhan di tonjok oleh Jodhi yang terlihat berang.


" Udah enggak waras kamu hah?" Lintang memaki Jodhi yang kini napasnya juga memburu.


Jodhi membulatkan matanya demi melihat Lintang yang begitu mencemaskan pria itu. " Siapa pria itu Lin, kenapa kamu begitu membelanya?"


Sejurus kemudian, Jonathan terlihat datang bersama para guard yang turut ikut kesana. Menatap khawatir wajah bosnya, sebab aroma ketegangan benar-benar menguar dari jarak yang jauh.


" Pak Jodhi? Ada apa ini pak?"


Jodhi tak menjawab, ia justru menatap sengit ke arah Reyhan.


Reyhan yang kini merasakan wajahnya kebas dan berkedut, kini terkejut dengan seragam yang di kenakan oleh beberapa orang yang mendatangi dirinya.


" Siapa sebenarnya orang-orang ini? Dan kenapa Lintang mengenali mereka?" Batin Reyhan yang kini curiga.


" Dengar! Aku enggak mau ngomong apapun sama kamu. Jangan ganggu aku lagi. Percuma, sampai kapanpun aku enggak bakalan mau maafin kamu. Pria brengsek!"


Lintang memberanikan diri menatap tajam Jodhi dari dekat. Membuat Jodhi dan Lintang adu tatap selama beberapa detik.


" Aku ingin sekali memelukmu Lin. Aku sangat merindukanmu, andai kau tahu itu!" Batin Jodhi menjerit. Ia benar-benar dirundung kekalutan yang mendalam.


Jonathan dan Reyhan serta dua orang lain yang melihat hal itu, kini hanya bisa terdiam. Terlihat begitu menegangkan sekali.

__ADS_1


" Ayo mas, kita pulang!" Lintang menggait tangan Reyhan yang mematung, dan sejurus kemudian berjalan melewati Jodhi yang nampak menahan amarahnya.


Membuat hati Jodhi benar-benar terbakar api kecemburuan yang membara.


" Danuja itu anak gue kan?"


Ucap Jodhi yang berhasil menghentikan langkah Reyhan dan Lintang.


Reyhan terperanjat. " Anak?"


"Gue bakal ambil apa yang gue punya Lin!" Teriak Jodhi dengan tubuh bergetar seraya menangis. Sungguh, ia hanya ingin Lintang tahu jika dia sangat mencintainya.


Mendengar hal itu, Lintang seketika membalikkan tubuhnya lalu mendatangi Jodhi dengan dada bergemuruh.


PLAK!


Jonathan dan anak buahnya kini terkaget manakala bosnya di tampar oleh seorang wanita berwajah layu, dengan sangat kerasnya. Oh man!


" Ngomong apa lo tadi, hah? Ngomong apa!"


Lintang berteriak tepat di wajah Jodhi yang kini terasa kebas usai di tampar. Untung saja mereka kini telah berada jauh di sisi barat lokasi rumah duka.


" Anak? Elo bilang anak?" Lintang menatap Jodhi dari dekat dengan emosi yang tak bisa ia tahan.


" Manusia kayak elu itu cuma tahunya nyakitin orang. Elu tahu enggak, gara-gara elu, Ibuku mati. Dan gara-gara elu, hidup gue jadi kayak gini!!! Mau apa, hah?" Lintang berteriak dengan histerisnya.


"Lin udah, udah mau petang ini Lin, kasihan Danuja!" Reyhan berusaha mengingatkan Lintang, meski kini dalam hatinya, terselip rasa kekhawatiran sebab Ayah biologis dari Danuja ada disana. Reyhan mendadak takut. Takut jika Lintang akan bersama Jodhi.


" Enggak mas, aku harus kasih tahu pria brengsek ini biar enggak ganggu hidup aku lagi. Dia bukan anak elu, dia anakku, hanya anakku! " Sergah Lintang histeris. Menatap tajam Jodhi yang kini menyuguhkan raut lebih sesal.


" Lin, deng..."


" Elu udah ngancurin hidup gue, semua! Dan sekarang elu mau ambil anak gue?" Lintang tersenyum kecut. " Kenapa elu enggak bunuh gue sekalian, hah? Kenapa?"


Lintang memukuli Jodhi dengan histeris. Ia benar-benar meluapkan emosi yang selama ini tertahankan, emosi yang kemudian membuncah, lalu menjadi kemarahan yang tak terkendali.


" Hentikan!" Sergah dua guard berniat melepas tangan Lintang yang terus menyerang Jodhi.


" Udah Lin, udah! Nanti banyak orang ngelihat. Mending kita pulang, kasihan Danuja!" Reyhan kini menarik Lintang.


Jodhi hanya bisa diam saat tangan brengsek itu menyentuh kembali lengan tak bersih Lintang.


Apakah luka yang ia torehkan selama ini terlampau dalam?


Ia bahkan melihat sorot mata penuh kebencian dari mata basah Lintang. Begitu terasa pedih saat menghujam relung hatinya.


" Gue benci sama elu Jo! Gue benci!" Lintang terisak-isak. Sama sekali tak mengira jika niatnya melayat, malah justru bertemu dengan pria yang paling ia hindari.


" Kita pergi, ingat ada Danuja dirumah Lin, kamu harus kuat!" Ucap Reyhan yang kini membawa pergi Lintang dengan keadaan kacau.


Jodhi menatap nanar Lintang yang kini dibawa pergi menjauh oleh rivalnya itu, dengan telinganya masih bisa merekam dan mendengar kata-kata penuh kekecewaan itu.


Terasa menyakitkan.


"Anda baik-baik saja Pak?" Ucap Jonathan demi melihat kebisuan bosnya.


Jodhi mengangguk. " Selidiki siapa pria tadi Jo. Dan tolong minta orang kita buat cari tahu tempat tinggal Lintang secepatnya. Kita bicarakan lagi besok. Biar Lintang istirahat dulu sek. Kau tahu Jo, hatiku terasa sakit saat melihat dia dalam keadaan seperti itu!" Jodhi tersenyum kecut.


" Aku akan tanggung semua konsekuensi dari apa yang ku perbuat selama ini, jika memang ini yang harus aku lalui agar Lintang mau memaafkan aku!" Ucap Jodhi menyeka air matanya.


" Kesabaran!" Ucap Jonathan memecah keheningan.


" Tuhan bersama orang-orang yang sabar Pak!"


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2