
Bab 37. Merasa terancam
.
.
.
...🌺🌺🌺...
Maya
Mendengar kabar jika beberapa hari ini mas Adi akan pulang dan menginap ke apartemennya, membuat wanita itu berinisiatif untuk berbelanja beberapa kebutuhan rumah tangga. Ia ingin menjadi istri yang sebenarnya, meski dalam waktu yang sebentar saja. Tak apa pikirnya, dari pada tidak sama sekali.
Ia bersyukur, di balik musibah yang menimpa bapak madunya itu, rupanya membawa secuil keberuntungan bagi dirinya yang kerap merana.
Usai menyelesaikan belanjaannya, ia teringat jika susu kehamilannya telah habis. Ia lantas menuju ke jajaran rak di ujung timur yang dekat dengan water show case.
Posturnya yang mungil membuatnya sulit untuk menjangkau kotak itu. I Dan saat, ia hendak memanggil pegawai untuk menolongnya, sebuah suara membuatnya terkejut.
"Ada yang bisa di bantu mbak?" Ucap seorang wanita yang benar-benar membuatnya terkejut. Suara lembut itu tak lain adalah suara madunya. Oh astaga!
Maya menekan ludahnya tak percaya demi apa yang dilihatnya saat ini. Rival sebenarnya ada di depan matanya.
Ia tercenung, hatinya bagai terbakar api kecemburuan. Ia merasa ingin mencakar wajah Galuh saat itu juga. Karena wanita itulah, ia dan suaminya kini menjadi manusia yang seolah tersudutkan.
" Mbak!" Ucapan wanita itu membuatnya tersentak dari lamunan.
"Ah...ini saya mau ngambil itu!" Ucapannya mati-matian menahan gemuruh di dadanya. Menjadi gelagapan.
" Silahkan!" Ucap Galuh tersenyum dan dengan mudahnya mengambil sebuah kotak yang ia kehendaki itu.
" Terimakasih!" Ucap Maya dengan hati yang benar-benar campur aduk.
Wanita itu mengangguk dan seketika berjalan kembali menuju meja kasir. Detik itu juga, Maya mati-matian menahan dirinya. Ia bahkan merasa seluruh tubuhnya gemetar saat dengan susah payah menahan diri untuk tak emosi.
Hari itu merupakan kali pertama dirinya, bertemu langsung dengan sosok Galuh. Sosok yang kini benar-benar menjadi ancaman nyata. Galuh cantik dan terlihat tak kekurangan suatu apapun.
Ia tak boleh membiarkan suaminya sampai terlena dengan wanita itu. Tidak boleh!
.
.
__ADS_1
Citra
Ia sedang sibuk mewarnai buku gambar Disney, saat sang Ayah membawakan segelas susu hangat untuknya malam itu.
" Wah!! Princessnya Ayah lagi sibuk toh rupanya!" Ucap Raka sembari menutup pintu itu dengan pelan. Membuat mbak Nining yang sedari tadi menunggui Citra dengan wajah terkantuk-kantuk, kini beranjak dan berniat keluar. Kebiasaannya jika Raka masuk, maka ia akan keluar.
Citra bergeming dan masih menekuni crayon warna-warni itu dengan wajah di tekuk. Raka mengerutkan keningnya, ada yang tidak beres ini jelas.
" Hey!! Kok cemberut?" Tanya Raka sembari meletakkan segelas susu penghantar tidur untuk putrinya itu.
Citra menghentikan coretannya saat Ayah kini mulai mengusap rambutnya yang tergerai. Menutupi baju tidur bermotif Cinderella yang lucu.
" Bu guru hari ini enggak nyapa aku Yah. Apa Bu guru marah sama Citra?" Gadis itu rupanya baper akan sikap Galuh yang tak biasa hari ini.
Raka tersenyum, kini meraih tubuh mungil itu lalu memangkunya, mencium puncak kepala Citra penuh cinta kasih." Bu Guru enggak mungkin marah dong sama Citra...kan katanya udah jadi temen Citra!" Raka menangkup wajah anaknya itu dengan senyuman.
" Tapi ..tadi..." Wajah murung itu semakin terlihat jelas. Citra bahkan ingat saat Galuh tadi berpamitan namun tidak sampai menunggunya keluar. Biasanya wanita itu menyempatkan diri untuk mengobrol sebentar dengan Citra, sesuai jam pelajaran berkahir.
" Bu guru mungkin lagi ada masalah!" Ucapnya sembari mengingat jika dirinya yang sempat membuntuti Galuh sewaktu menelpon seseorang.
" Masalah itu apa yah?" Tanya Citra polos.
" Masalah itu...gimana ya?" Raka bingung mendefinisikan kepada anaknya itu, " Masalah itu bisa jadi sesuatu yang bikin kita enggak happy, sesuatu yang bikin kita enggak nyaman, enggak ceria...pokonya sesuatu yang menganggu kita...!"
Citra mengangguk, " Berarti Tante rambut pirang itu masalah dong? Soalnya dia enggak bikin Citra happy, enggak bikin Citra nyaman, dan Tante rambut pirang itu mengganggu..!"
Raka membulatkan matanya saat mendengar Citra yang kini mengartikan definisi itu untuk Dewi. Astaga, apa anaknya itu benar-benar tidak mau menerima Dewi?
Raka memijat keningnya yang terasa pening. Bagaimana menjelaskannya ya?
.
.
Adipati
" Kamu ini kenapa sih? Giliran aku bisa nginep disini kok kamu malah jadi uring-uringan begini?" Ia yang baru mandi dan terlihat akan makan malam bersama istri keduanya itu, malah di berondong pertanyaan yang tidak-tidak.
" Sekarang jawab aku jujur! kamu beneran enggak ada rasa sama Mbak Galuh kan mas?" Tanya Maya dengan mata yang mulai memanas.
Adi menatap Maya bingung, sejak ia datang tadi, Maya yang awalnya menanyakan kondisi mertuanya itu, malah merembet ke ranah madunya itu.
" Enggak, tunggu dulu...kamu...ini kenapa sih?" Adi bahkan kini meletakkan sendok yang sudah ia pegang. Selera makannya menguap dalam sekejap. Mereka bertengkar di meja makan.
__ADS_1
" Aku pulang dari kantor, datang-datang kamu nanya soal papa mertuaku, terus pas nanya soal Galuh...kamu langsung meledak-ledak gitu kenapa?" Adi mulai tak sabar.
Maya menahan gemuruh di dadanya. Mata dan hidungnya memanas. Ia benar-benar takut jika suaminya itu membohongi dirinya. Mengingat intensitas pertemuannya yang sangat jarang.
" Aku tadi ketemu mbak Galuh!" Ucap Maya yang kini sudah berlinang air mata.
DEG
Adipati terlihat menelan ludah seraya menatap Maya yang kini sudah berurai air mata. Bertemu? Kok bisa?
" Dia ternyata lebih cantik dari yang di foto mas!" Maya tersenyum kecut. " Kamu enggak lagi mainin perasaan aku kan? Kamu udah janji bakal ceraikan dia kan mas?" Maya kini menangis tersedu-sedu. Membuat Adipati kini memajukan tubuhnya lalu dengan sigap memeluk tubuh Maya.
Oh astaga!
" Kamu enggak akan jatuh cinta sama dia kan mas?" Maya yang sudah dalam rengkuhan pria itu kini menumpahkan segala kekhawatiran yang semakin menyeruak dalam hatinya. Ia takut jika Adi akan kepincut dengan wanita itu.
" Kamu ini ngomong apa May. Aku udah janji sama kamu dan aku pastikan itu yang terjadi!" Adipati benar-benar pusing jika Maya sudah merajuk begini. Sungguh.
" Udah jangan kayak gini, kamu harus pikirkan ini May!" Tunjuk Adi mengelus perut Maya yang sudah timbul. Pria itu tentu tak mau Maya sampai kenapa-kenapa.
Ia kini menggiring Maya menuju sofa putih lalu mendudukkan istri keduanya itu di sampingnya.
" Lagian kamu ini kenapa bisa ketemu sama dia sih?" Adi mulai was-was. Sepertinya keadaannya mulai sedikit berubah.
" Aku juga enggak tahu kenapa dia ada di mini market itu. Aku mau beli susu dan dia yang nolongin aku ngambil susu itu!" Ucap Maya menyeka air matanya. Ia bahkan masih ingat wajah Galuh yang tersenyum kepadanya.
" Tapi dia enggak kenal aku kok. Kamu tenang aja!" Ucap Maya dengan alis masih bertaut. Masih terlihat cemburu .
Adi menarik napasnya panjang. Jangan sampai bom yang ia bawa selama ini meledak sebelum waktunya. Papa mertuanya sedang sakit, dan sangat tidak etis jika ia menceraikan Galuh saat Pak Noer masih di rawat. Rencananya bukan seperti itu.
Astaga!
Adipati tidak tahu, bahwa orang yang mendua hati itu tidak akan pernah tenang hidupnya.
.
.
.
.
.
__ADS_1
To be continued...