
Bab 135. Travel plans to the west
.
.
.
...πΊπΊπΊ...
Lintang
Terpaan angin membuat rambut lurusnya yang tak terikat itu ,beterbangan kesana kemari. Di cabutnya rumput liar diatas pusara dengan tancapan batu nisan bertuliskan nama mendiang ibunya itu dengan batin rindu.
" Dia berhasil menemukanku dan Danuja Buk!"
" Bahkan mengundang hadirkan keluarganya!"
Ia terus berbicara sendiri kepada gundukan yang membisu itu. Benar-benar ingin berquality time bersama mendiang ibunya.
" Cucu Ibuk bahkan lebih berpihak kepada laki-laki itu ketimbang aku!"
Lintang tersenyum kecut saat ia menaburi kembang tujuh rupa serta irisan pandan yang ia beli pada pedagang tua di depan komplek makam.
Kini, ia tertunduk membacakan doa-doa yang ia harapkan sampai kepada jiwa ibunya, dengan hati tulus.
" Ibuk tahu, keluarganya baik. Semoga tetap baik meski aku belum memiliki keyakinan!" Ujar Lintang beberapa saat kemudian.
Semilir angin terus membelai genit kulit wajahnya. Menciptakan rasa lega dengan apa yang terjadi. Yang jelas, Lintang saat ini hanya pasrah. Ia mengikuti jalan takdirnya bagai air mengalir, yang berangkat dari hulu ke hilir.
Teringat akan sekeras apapun ia menghindar dan bersembunyi, nyatanya semesta masih saja mempertemukan dia dengan Jodhi. Bahkan anak semata wayangnya itu, mengakui jika pria itu merupakan asal muasal hadirnya Danuja ke dunia ini.
" Kami harus segera angkat kaki. Bu Emi berang! " Lagi lagi dengan tersenyum kecut.
Lintang menghela nafasnya, "Entah mengapa, hal ini bertepatan sekali dengan permintaan konyol laki-laki itu!" Ia terus bermonolog sambil tekun membersihkan sisi kuburan ibunya. Teringat akan keputusan yang mau tak mau harus ia ambil.
Lintang terlihat mengusap air matanya. Tak percaya jika Danuja lah yang justru menjadi batu pemberat pilihan mengikuti keluarga Rania ke kota.
Kini, Lintang menatap nanar hamparan pemakaman dengan simbol-simbol keagamaan yang beraneka ragam itu, dengan hati gamang. Entah mengapa sulit sekali baginya mengakui jika Jodhi merupakan orang yang memang di butuhkan oleh Danuja saat ini.
Namun, saat tengah asik melamun, ia dikejutkan oleh keteduhan yang mendadak muncul dari sebuah payung.
" Jodhi?"
.
.
Jodhistira
__ADS_1
Ia melesat menuju pemakaman yang lokasinya sebenarnya tak jauh dari tempat kontrakan di pinggiran kota itu. Berbekal petunjuk dari Yanti jika Lintang saat ini tengah berada di pemakaman Ibunya, Jodhi seketika meluncur untuk menyusul.
Tak sulit menemukan Lintang di antara hamparan pemakaman umum itu. Wanita itu berada di dekat bunga puring dan menghadap ke arah Timur.
Ia berjalan mengendap-endap dan membuat Lintang tak menyadari kedatangannya. Ia berdiri cukup lama di belakang wanita itu. Mendengar beberapa gumaman Ibu dari anak nya itu dengan hati menghangat.
" Cucu Ibuk bahkan lebih berpihak kepada laki-laki itu ketimbang aku!"
Ia seketika tersenyum demi mendengar perkataan Lintang yang menurutnya lucu. Oh astaga, bolehkah aku memelukmu?
Dan saat merasa Lintang telah terdiam. Ia memajukan langkahnya lalu memayungi Lintang yang berjongkok, sebab kasihan karena matahari mulai mencumbu kulit bersih Lintang.
Wanita itu sepertinya melamun, terbukti dari tidak mendengarnya Lintang saat dia datang. Hingga sebuah bayang-bayang payung yang ia pegang, sukses membuat Lintang mendongak.
" Jodhi?"
Ia tersenyum saat Lintang terlihat begitu kaget. " Kau bahkan sudah mau menyebutkan namaku Lin."
Jodhi tak menjawab , namun justru menyamankan posisi dengan ikut berjongkok. Gerakan Jodhi yang kini menyamakan tinggi itu, menciptakan hembusan aroma maskulin pria itu menguar hingga ke rongga hidungnya.
Dapat Lintang rasakan begitu harumnya Jodhi. Membuatnya merasakan sesuatu yang aneh.
" Aku tahu ini terlambat!" Ucap Jodhi menatap gundukan tanah yang membisu itu. Membuat Lintang menatap heran.
" Tapi aku tahu, engkau pasti tahu maksud dan tujuanku dari sana!"
Lintang menatap tak mengerti ke arah Jodhi yang terlihat serius tatkala berbicara dengan pusara Ibunya itu.
" Aku sangat mencintaimu putrimu dan membuatku gelap mata!"
" Andai engkau masih hidup, kata-kata ini juga akan kupakai untuk bersujud di bawah kakimu, Ibu!"
DEG
Lintang terbengong saat melihat Jodhi yang mengusap sudut matanya sesaat setelah mengutarakan kalimat, yang entah mengapa juga membuat dadanya sesak seketika.
Apa pria itu menangis?
" Tolong restui aku dari sana, Ibu!"
...πΊπΊπΊ...
Emi sakit hati kepada Jodhi. Sebab ia di hardik oleh Jonathan untuk membuatnya bangkrut.
Meski ia tahu jika pria itu merupakan keluarga berada, namun ia masih bisa membalas dendam dengan cara mengusir Yanti, Lintang beserta Denok. Apapun itu, yang jelas Emi ingin melampiaskan emosinya.
Yanti meninggalkan semua pemberian Rania beberapa waktu lalu kepada Yanto. Pria itu sedikit banyak sekali mau ia repoti. Tak juga, Lintang meminta Bu Yanti untuk memberikan barang itu kepada Pak Ilmi. Tukang becak yang selalu baik kepadanya.
Yanti kini menggendong Danuja yang sudah lelap sejak beberapa saat yang lalu. Bayi itu lelah karena keasikan bercengkrama bersama Jodhi kala dia wanita itu berberes.
__ADS_1
Yanti duduk di jok paling belakang mobilnya dengan wajah terkantuk-kantuk, sedangkan Jodhi dan Lintang duduk canggung di baris kedua, sementara Denok terlihat rempong menginterupsi supir kece yang kini standby di sampingnya.
Ya, Jodhi akan membawa mereka pindah terlebih dahulu ke hotel, sebelum bertolak ke kota J. Hal itu diminta Rania agar mereka bisa ngobrol terlebih dahulu.
Lintang diam bukan karena sudah memaafkan sepenuhnya Jodhi, namun karena ia tersugesti Ucapan Rania, dan juga Danuja yang lengket bagai lem fox dengan Jodhi. Selain itu, ia yang benar-benar lelah dengan hidupnya saat ini, tak bisa lagi berbuat banyak.
Lagipula, ia sadar diri jika ia hanya wanita kotor. Dan sialnya, ia kini juga di usir oleh Emi. Benar-benar kebetulan yang pas. Selain itu, kota J merupakan tempat Lintang dan orang tuanya dulu.
" Dade di depan ya Ja? Agak mual nih Dade, stres mikirin si gembrot Emi tu!" Denok berbicara kepada Danuja yang merem.
Lintang menarik napasnya dalam-dalam. Menoleh kebelakang demi merasai tempat itu. Tempat yang menjadi saksi sulitnya kehidupan yang ia jalani bersama Danuja selama ini. Tempat yang menjadi saksi saat ibunya meninggalkan dirinya untuk selama-lamanya.
" Jon, ini sabuknya mana? Kena tilang kita nanti!" Ucap Denok yang kebingungan mencari sealbelt.
Jonathan mendecak tak percaya, laki-laki itu sejurus kemudian memasangkan sabuk karena merasa terlalu lama. Entah mengapa, ia sedikit kepikiran dengan wanita yang sebentar lagi akan hidup sebatang kara itu.
KLIK!
" Cie!" Jodhi berkelakar demi membunuh rasa gugupnya, saat Jonathan telah mencondongkan tubuhnya demi memasang sabuk pengaman itu.
" Cia cie cia cie!" Denok mendengus, " Yang cia cie itu kalian. Pokoknya, kalau kalian nikah, aku pastikan Deni Novita akan muncul di kota J!" Sahut Denok terkikik-kikik. Merasa senang karena Lintang akhirnya mau di boyong oleh keluarga Bu Rania.
"Elu wangi banget Jon, cipook maeh!" Ucap Denok yang merasa wangi Jonathan mengusik hidungnya.
CUP
Denok mengecup pipi Jonathan dengan gerakan cepat, tanpa berdosa dan merasa biasa saja, sementara yang barusan dicium terlihat mematung dan membeku. Mungkin dia telah hangus karena terbakar api keterkejutan. Hihihi π€
Membuat Lintang terperangah sementara Jodhi tergelak kencang. Untung saja Bu Yanti tidak terlalu fokus.
Jodhi tahu, Lintang masih jaga jarak dengannya. Itu tak apa, ia tak akan menyerah begitu saja. Yang penting, wanita itu sudah mau untuk diajak ke kota.
" Kenapa denganku, kenapa aku..." Batin Jonathan yang merasa suhu tubuhnya seketika naik.
" Mbak Denok ikut kita ke kota ya? Lintang mohon sama mbak!" Ucap Lintang memohon saat mobil itu mulai melaju meninggalkan kontrakan yang penuh dengan kenangan itu. Menatap Denok penuh harap.
Jodhi melirik Lintang yang nampak berat meninggalkan orang yang berpengaruh dalam hidupnya itu.
" Enggak Lin. Udah jangan khawatirkan gue. Asal elu sama Danuja bahagia, gue seneng. Elu cuma mau pindah ke kota J kan? Tenang aja. Aku bisa survive sama diriku sendiri. Orang-orang macam aku ini enggak akan mati karena cacian orang Lin. Udah jalan hidup kita begini. Pokoknya aku bakal kesana kalau elu nikah sama Jodhi. Makanya nikah sana cepet, biar aku juga cepet nyusulnya!"
Seperti biasa, Denok merasa senang tiap berkata-kata, wanita itu selalu terkikik-kikik tanpa beban.
Tak mengetahui bila ada hati yang cemas dan penuh harap di sana. Pun dengan orang yang kini sok sibuk di depan kemudi itu.
.
.
.
__ADS_1
.
.