Menjadi Ibu Untuk Anakmu

Menjadi Ibu Untuk Anakmu
Bab 49. Fakta


__ADS_3

Bab 49. Fakta


.


.


.


...🌺🌺🌺...


Galuh


Ia merasa persendiannya nyeri dan kepalanya juga sangat sakit bercampur pusing saat ia mencoba mengerjapkan matanya perlahan, tangannya juga mendadak terasa ngilu.


" Infus? Dimana aku?" Gumamnya yang mendadak terperanjat manakala ia telah tersadar, jika ia tengah berada di ruang yang asing.


" Pak Raka?" Ia terkejut dua kali lipat demi melihat Raka yang tertidur dengan posisi duduk diatas sofa, dengan tangan yang bersidekap. Membuat otot lengan pria itu mengetat.


Terlihat kelelahan.


Dalam rasa pusing dan sakit kepala yang masih begitu terasa, ia mencoba mendudukkan tubuhnya meski dengan wajah meringis. Ia mencoba merajut ingatannya.


" Sudah bangun?" Suara parau dari pria yang tadi tertidur itu mengejutkannya. Pria itu agaknya sangat peka terhadap suara.


" Kenapa saya...?" Ia bingung dan matanya mendelik demi melihat pakainya yang kini sudah tergantikan dengan sebuah kaos dan juga celana panjang.


" Tenang, tadi petugas house keeping yang gantiin baju anda. Anda tadi pingsan di jalan dan tidak sengaja bertemu saya!"


Galuh tertegun, mendadak ingatannya kembali kepada kejadian yang baru saja ia alami. Sejumput rasa tak nyaman kini menyelinap. Hidupnya telah hancur.


" Minumlah dulu, temanku akan kembali setelah ini. Dan sebaiknya...!"


" Pak Raka, boleh saya tahu dimana tas saya?"


.


.


Galuh mendecak bingung, bagaimana ini? Ponselnya tak bisa di aktifkan sebab telah kemasukan air yang begitu banyak, ia juga tidak hapal dengan nomor adiknya.


" Makanlah dulu!" Ucap Raka menyerahkan makanan yang baru saja ia pesan. Menatap Galuh dengan tatapan ingin tahu.


" Gak jadi pakai ponselku?" Tanya Raka yang kini sudah tidak terlalu formal.


Galuh menggeleng lemah. Wanita itu bahkan terlihat sayu dengan rona wajah yang berbeban berat. Haishh, jelas telah terjadi sesuatu.


Raka duduk di sofa seraya menyatukan kedua tangannya, menatap Galuh yang kini memasukkan satu suap makanan yang terasa hambar, sebab suasana hatinya tengah buruk.


Wanita itu juga menolak untuk ia suapi.


" Kenapa bisa sampai pingsan di jalan, apa semua baik-baik saja?" Tanya Raka demi mengingat Galuh yang beberapa saat lalu mengigau.

__ADS_1


Galuh seketika menghentikan suapannya. Wanita itu terlihat menahan laju air mata yang mendadak mengembung tanpa seijinnya. Membuat Raka menatapnya semakin heran.


Galuh membutuhkan teman cerita saat ini, bahkan sangat. Tapi tentu bukan Raka. Ia terlalu malu.


" Saya tidak apa-apa. Maaf!" Ia terlihat menarik napas panjang, sebelum kembali memaksa dirinya untuk memasukkan suapan demi suapan agar meredekan rasa perutnya yang memang perih.


Kecanggungan masih menyertai, namun Galuh mencoba bersikap tau diri. " Maaf Pak, tapi..ini dimana?"


" Di apartemenku, kau tidak perlu khawatir!"


Galuh mengangguk paham, wanita itu ingin menuju toilet dan perlahan meraih botol Ringer laktat itu untuk ia bawa menuju toilet.


" Astaga!" Dia ber-astaga sendiri saat hampir saja ia terjatuh. Untung dengan sigapnya Raka berlari dan menahan tubuh Galuh yang nyaris rubuh.


Membuat mereka berdua, saling bertukar pandang selama sekian detik. Sorot mata pria itu tajam, dari jarak yang semakin tipis itu, Galuh bisa merasakan hembusan napas Raka.


" Bisa minta tolong kan?" Raka sedikit kesal. Wanita sok kuat itu agaknya memang keras kepala.


Galuh yang berada di jarak terdekat dengan Raka seketika menjadi rikuh. Pria itu wangi sekali pikirnya.


.


.


" Terimakasih dokter!" Ucap Galuh sesaat setelah dokter memasang plaster di punggung tangannya, untuk menutup bekas jarum infus.


Teuku mengangguk, " Sama-sama!" Ucapnya tersenyum.


" Saya...Gu!"


" Kalau sudah selesai, kau bisa pulang Ku. Nanti akan ku transfer!" Ucap Raka demi menghentikan sikap kepowers pria itu.


" Ah elah Ka, takut amat lu...baru juga mau kenalan!" Teuku kesal, sikap Raka sedari dulu memang sedikit tertutup. Berbeda dengan Jodhi.


" Tapi...dia cantik kok. Cocok jadi ibunya Citra!" Bisik Teuku di akhir kalimat yang membuat Raka seketika menendang tulang kering pria itu.


" Sumpret!!! Sakit sialan!" Maki Teuku yang kesal terhadap Raka. Membuat Galuh memicingkan matanya. Apa dua pria itu sedang merasai dirinya?


" Udah buruan pergi!"


Sekembalinya Raka dari mengantar Teuku pulang, ia kini mendapati Galuh yang duduk bersimpuh di lantai, mengahadap hamparan angkasa yang masih mendung dengan intensitas hujan yang mulai berkurang.


Galuh menatap nyalang awan hitam, dengan hawa dingin yang menusuk kulitnya. Ia benar-benar ingin sendiri saat ini.


" Kenapa disitu?" Tanya Raka yang kini menyusulnya.


" Mmmmm....maaf Pak Raka, tapi...." Galuh agak ragu ingin mengucapkan hal ini. Tapi ia tak memiliki pilihan lain. Membuat Raka mengerutkan keningnya.


" Ada apa?"


" Bolehkah saya untuk beberapa saat ada disini?" Tanya Galuh dengan mata memohon dan wajah layu yang kentara.

__ADS_1


Raka menatap Iba dan hatinya seketika menjadi penasaran. Jelas wanita itu tengah menghadapi persoalan. Ada masalah apa sebenarnya?


Raka kini menyusul Galuh, dan untuk pertama kalinya, mereka berbicara normal tanpa tensi maupun nada suara yang tinggi.


Helaan napas panjang terdengar dari mulut Raka, " Aku tidak percaya jika kau tadi pingsan hanya karena belum sarapan!" Analisanya selama ini sering tepat.


Galuh masih tekun menatap cakrawala yang saat ini tiada tersuluh cahaya terang matahari, saat Raka mengatakan hal yang memang benar itu.


" Apa yang membuat nekat pria berselingkuh?" Ucapnya tanpa menoleh bahkan melirik.


Membuat Raka mengerutkan keningnya, apa wanita itu baru saja di khianati kekasihnya?


" Apa pacarmu berselingkuh?" Tanya Raka dengan wajah tekun menatap Galuh dari samping. Mencoba menyusun kepingan rasa penasaran.


Galuh menoleh, seulas senyum sumbang kini terlihat." Apa aku terlihat seperti wanita yang masih pantas memiliki kekasih?"


Raka makin dibuat bingung, lantas apa?


" Anda merupakan pria yang setia bukan? Katakan, apa yang membuat pria bisa tulus mencintai wanita?" Dua cairan bening itu meluncur menyertai Galuh yang mengajukan pertanyaan kepada Raka.


" Ada apa sebenarnya.....?" Raka dengan wajah serius bercampur rasa cemas kini menatap lekat mata basah Galuh yang benar-benar menyedihkan.


" Suamiku berselingkuh!"


" Dan wanita itu tengah hamil!"


DEG


Tubuh Raka seketika menegang demi melihat tangis Galuh yang pecah, usai memberikan kabar ironis itu. Sungguh ia benar-benar memerlukan teman bicara saat ini. Galuh tidak kuat lagi menahan kesesakan hatinya.


Raka membulatkan matanya, sama sekali tak mengira jika Galuh merupakan wanita yang telah bersuami. Berita ini benar-benar membuatnya terkejut. Astaga!


" Apa aku seburuk itu?" Galuh memukul-mukul dadanya sendiri. Berharap rasa sakit yang bersarang di dadanya berkurang.


" Mengapa pria itu begitu menyakitiku dengan tidak tanggung-tanggung, hah?"


Raka reflek merengkuh tubuh Galuh saat wanita itu terus gencar memukuli dirinya sendiri, ia bingung, wanita itu mendadak histeris. " Tenang, tolong jangan menyakiti dirimu sendiri!" Ucap Raka yang turut merasakan haru.


Membuat Galuh kini menangis dengan tubuh yang bergetar hebat.


Sekilas ingatan tentang Mamanya dulu mendadak merasuk ke otaknya, bayangan ibunya yang menangis saat papanya berkhianat dulu, juga turut terputar jelas saat ini.


Ia bisa merasakan getaran hebat dari tubuh Galuh. Oh astaga!


Lidah Raka tercekat, ia bahkan sama sekali tak memiliki kata-kata penghibur. Ia justru turut larut dalam suasana yang semakin mengharu biru.


.


.


.

__ADS_1


To be continued


__ADS_2