Menjadi Ibu Untuk Anakmu

Menjadi Ibu Untuk Anakmu
Bab 106. Dia?


__ADS_3

Bab 106. Dia?


.


.


.


...🌺🌺🌺...


Reyhan


Tubuhnya mendadak kaku, dan selera makannya mendadak menguap kala mendengar jawaban pedas dari mulut Lintang.


" Apa yang memangnya pernah mama katakan? Kenapa aku tidak tahu - menahu soal hal ini?"


Membuat suasana berubah menjadi canggung secara mendadak.


" Saya terimakasih hari ini sudah di bantu sama mas Rey. Tapi, biarkan saya sama Danuja menjalani kehidupan kami sebagaimana mestinya. Maaf ya mas, saya masuk dulu. Terus terang kepala saya agak sakit!"


" Permisi!"


Ia hanya melongo usai mendengar Lintang yang mengucapkan perkataan menohok itu. Dari kilatan mata Lintang yang terpancar, ia bisa melihat kemarahan dan kekecewaan. Reyhan menduga, jika Lintang tersinggung dan sakit hati akan ucapan ibunya.


Suara pintu triplek yang tertutup agak keras menandakan jika Lintang telah masuk kamarnya. Membuat ketiga orang disana tertunduk lesu.


" Maaf ya mas Rey. Saya harap, mas Rey enggak marah sama Lintang. Saya itu..." Ucap Yanti tercekat. Wanita itu merasa sedih. Ia tahu Reyhan pria baik, tapi ia juga paham bagaimana perasaan Lintang.


" Saya yang minta maaf Buk. Mungkin ucapan mama saya pernah melukai Lintang!" Ucap Reyhan resah yang sebenarnya penasaran, kapan mamanya itu mengucapkan perkataan tak pantas itu.


Denok memanyunkan bibirnya. Ia tak suka suasana sedih.


" Duh, jangan sedih-sedih terus dong. Mas Rey, yang sabar ya. Jangan nyerah dulu! Eh ngomong-ngomong, itu makanannya enggak habis? Sini biar aku makan aja, sayang banget tahu..."


Yanti melotot ke arah Denok, yang bisa-bisanya bersikap konyol dan bar-bar saat mereka tengah serius.


" Denok deblung sialan!"


.


.


Lintang

__ADS_1


" Kamu Lintang kan? "


" Kamu yang seenaknya keluar tanpa memberitahu sebulan sebelum itu?


" Oh, jadi bener kamu itu keluar karena hamil anak haram ini?"


Ia kini menangis demi mengingat ucapan wanita yang ia ketahui merupakan ibu dari Reyhan beberapa waktu lalu. Ia yang menjajakan dagangannya tak sengaja bertemu wanita itu saat di lampu merah.


Lintang kini membelai wajah Danuja dengan isak tangis yang membuat seluruh tubuhnya bergetar. " Kamu anak Ibuk nak. Bukan anak haram!"


" Semoga ibuk selalu diberi kesehatan biar bisa berjuang kasih hidup yang layak buat kamu!"


Hati Lintang teramat sakit jika mendengar hal itu. Sungguh, ia kuat menghadapi kerasnya dunia yang tak adil ini, tapi tolong jangan anaknya.


...🌺🌺🌺...


Dua hari pasca kejadian itu, Lintang kini berniat berjualan kembali. Ia tak bisa terus menerus diam. Yanti juga tak bisa berbuat banyak, ia hari ini akan memulung di lapangan dekat kantor DPR , tempat dimana kampanye akan dilakukan.


Jelas akan banyak rongsokan di tempat itu.


" Oalah Lin, ibuk sebenarnya pingin jaga Danuja, tapi kok ya eman- eman ( sayang ) kalau ngebiairin botol-botol itu!" Yanti berada di batas keresahannya.


Lintang tersenyum. " Berangkat aja buk, Danuja kan udah sehat Uti!" Lintang mengarahkan bayi gembul yang ia gendong ke arah Yanti , yang sudah siap dengan sepatu boots dan juga topi lusuhnya dengan tersenyum hangat.


" Sehat-sehat ya nak, nanti kalau Uti udah punya uang, kita jalan-jalan ya!" Yanti mengusap pipi gembul Danuja yang kini tertawa tanpa beban.


" Kamu yang hati-hati Lin. Cari tempat yang teduh aja!"


Lintang mengangguk, ia hari ini memang akan ke tempat yang tak jauh dari kontrakannya. Ia akan berjualan tepat di depan pabrik baru milik seseorang pengusaha kaya.


Ia berjalan dan hendak mengambil troli berisikan makanan dan minuman, yang ia ambil ke toko milik Bli Komang. Pria asal pulau Dewata yang memiliki toko besar, yang mau berbaik hati memberikannya pekerjaan, dengan sistim bagi hasil.


" Pagi Bli!" Sapa Lintang kepada pria dengan tato di sepanjang lengannya itu.


" Pagi Lin, kemana aja kamu dua hari enggak ada datang?" Ucap pria itu dengan wajah cemas.


" Danuja sakit, kemarin gantian saya. Jadi maaf ya bli?" Lintang meringis.


Pria dengan perut buncing itu mengangguk seraya tersenyum. Pria itu awalnya kasihan karena melihat Lintang yang menggendong Danuja untuk menjual koran di lampu merah. Atas permintaan istrinya lah, ia akhirnya menawari Lintang untuk menjajakan dagangannya saja.


Hasilnya tak banyak, tapi lumayan. Jika ramai, ia bisa membawa lima puluh ribu rupiah. Jika tidak, maka ia harus berbesar hati menerima seberapapun rezeki hari itu. Jumlah yang menjadi hak nya setiap hari. Jumlah yang besar bagi Lintang, saat ia tahu jika hidup ini tak sesuai dengan harapannya saat SMP dulu.


" Kenapa kamu enggak ada bilang, dong kasihan na'e si Danuja? Kenken kamu ini!" Pria itu menatap muram bayi gembul yang kini lekas aktif.

__ADS_1


Baik Komang maupun istrinya sering menawari Lintang untuk mengasuh Danuja saat dia bekerja, namun bayi itu yang tidak mau. Danuja lebih tenang dan tidak rewel saat diajak berdagang.


" Kan udah Bli barusan!" Lintang terkekeh. Membuat pria itu turut tertawa.


" Ya udah Bli, jalan dulu ya?"


Lintang mendorong troli berisikan rokok, minuman, dan juga beberapa makanan ringan itu menyusuri trotoar. Hari itu lumayan ramai. Ia kini mendudukkan dirinya di sawah pohon asam yang rindang, yang berada di dekat trotoar, usai dibantu pak Ilmi menurunkan dagangannya ke bahu jalan yang aman.


Mungkin memang rejekinya. Karena baru saja datang, ia kini terlihat disibukkan melayani anak-anak muda yang membeli rokok, serta minuman dingin dalam ice box yang ia bawa.


Kebanyakan dari mereka tak meminta kembalian yang ada, mungkin karena kasihan. Melihat orang yang berdagang, sambil menggendong bayi.


" Laris kamu Lin?" Tanya tukang becak yang menjadi teman setianya di sana. Pria dengan keriput yang menghiasi wajah lelahnya itu, kini nampak tersenyum senang kala melihat Lintang.


" Lumayan Pak, rejeki anak habis sakit!"


" Danu habis sakit?" Tanya pria tua yang menjadi teman bicaranya jika ia berjualan ke sisi barat itu.


Sejak mulai pembangunan pabrik baru itu, jalanan disana memang ramai.


" Iya pak, tapi sekarang udah sehat!"


Namun tiba-tiba.


BRUUAK!!


Baik Lintang maupun kang becak itu mendelik manakala melihat troli dagangan Lintang yang kini luluh lantak, karena di tubruk oleh mobil mewah seseorang. Membuatnya panik dan langsung berdiri dengan hati resah.


" Ya ampun pak!" Teriak Lintang sambil menggendong Danuja, dan kini setengah berlari menuju ke arah trolinya.


" Pelan-pelan Lin, jangan lari kamu!"


Ia tak mempedulikan peringatan Pak Ilmi akan dirinya yang berlari sambil menggendong Danuja.


Namun, hatinya seketika mendadak diliputi oleh ketakutan , dengan tubuh yang juga mendadak gemetar, kala mata kepalanya melihat pria yang duduk di dalam ruang kemudi mobil yang menabrak dagangannya.


" Dia?" Ucapnya dengan tubuh yang kini gemetar.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2