Menjadi Ibu Untuk Anakmu

Menjadi Ibu Untuk Anakmu
Bab 119. Perjuangan Jodhi


__ADS_3

Bab 119. Perjuangan Jodhi


.


.


.


...🌺🌺🌺...


Lintang


Walau saat ia ini tengah dirundung kemarahan, namun ia tak bisa melawan keadaan yang ada saat dengan mata kepalanya sendiri ia melihat Danuja yang kini tertidur pulas di atas pundak kokoh Jodhi.


Benar-benar tak habis pikir dan hak itu diluar kendalinya.


Ia kini membisu dan memilih untuk menahan apa yang ia rasakan. Anaknya sedang sakit, dan ia masih bisa berpikir waras untuk tak bertindak impulsif terhadap Jodhi. Tidak.


Kebisuan kini menyesuaikan membuahi segala penjuru ruangan bersih itu. Baik Jodhi maupun Lintang sama-sama memilih untuk mengunci mulutnya. Hanya suara napas Danuja yang kini mendengkur halus, yang mampu memecah keheningan.


Dan beberapa saat kemudian, suara ketukan pelan terdengar dari luar. Membuat Lintang kini beranjak dari duduknya seraya menyusut sudut matanya yang berair.


Jodhi hanya melirik saat Lintang kini bangkit dan menuju pintu. Wanita itu sepertinya lebih memilih untuk membukakan pintu agar tak menimbulkan suara lain, sebab Danuja mulai menghembuskan napas teratur.


CEKLEK


" Mas Rey?"


.


.


Jodhistira


Ia pun sama. Walau hatinya tengah terbakar, dan seketika diliputi oleh ketidaksukaan kala pria yang menjadi rivalnya itu kini terlihat memasuki ruangan, namun ia memilih untuk mengatur kewarasan.


Jodhi kini membalikkan badannya dan memilih membisu.


Ia tak bisa menahan pria itu untuk masuk, karena selain Lintang yang belum berstatus apapun selain itu dari anaknya tanpa ikatan pernikahan itu, Jodhi juga tak ingin ribut saat anaknya baru saja tenang.


" Ssssttt!" Jodhi kembali mengelus punggung Danuja saat anak itu terlihat menggeliat, balita itu kini memejamkan matanya dengan tangan tertancap selang infus yang menggantung.


Jodhi memilih membalikkan badannya sebab tak suka akan kehadiran Reyhan.


" Maaf tadi waktu kamu nelpon aku, aku lagi di jalan. Aku buru-buru tadi!"


Reyhan sengaja mengeraskan suaranya agar Jodhi mendengar. Pria yang pernah ia tonjok dua kali beberapa waktu lalu itu ingin menerangkan jika Lintang saat ini lebih memilih dirinya daripada Jodhi.


Lintang melirik Jodhi yang tak bereaksi apapun selain sibuk meletakkan Danuja kembali keatas ranjang.


" Iya mas enggak apa-apa, aku...." Lintang sebenarnya malu, sebab ia hendak meminjam kepada Reyhan.

__ADS_1


" Kamu enggak usah khawatir. Kamu juga enggak perlu minjem Lin, aku udah nganggep Danuja itu anak aku sendiri!" Ucap Reyhan tulus yang kini tersenyum ke arah Lintang. Mengabaikan Jodhi yang tubuhnya bergerak kanan dan ke kiri karena meninabobokan Danuja.


Jodhi menelan ludahnya. " Jadi kamu menghubungi pria itu untuk meminjam uang Lin? Sebegitu tidak bergunanya kah aku untuk kalian?"


Jodhi merasa nelangsa dan hanya mampu membatin hal itu dalam hati.


Lintang menganggukkan kepalanya. Dengan semangat muka tebal , ia menepikan segala rasa sungkan demi anaknya. Toh ia hanya meminjam, bukan mencuri. Begitu pikirnya yang tidak tahu, bila Jodhi bahkan susah mendeposit uang untuk biaya anak-nya.


Jodhi hanya diam. Ia tak mau membuat Danuja terbangun. Ia lebih memilih mengusuk kaki Danuja dengan lembut dari pada harus mendengar ucapan yang membuatnya terbakar kecemburuan itu.


.


.


Entah apa yang membuat Reyhan terlihat sibuk, dan buru-buru pamit. Yang jelas, pria itu kini sudah enyah dari ruangan Danuja.


" Sepertinya kamu dekat sekali dengan pria itu!" Ucap Jodhi yang kini duduk di tepi ranjang Danuja.


Lintang yang berasa di sofa itu menatap tajam Jodhi dari samping. " Mau dekat atau tidak itu bukan urusanmu!"


Jodhi langsung menoleh demi jawaban ketus Lintang. Dan tanpa sengaja, pandangan mereka kini beradu. Untuk pertama kalinya, Jodhi menatap Lintang dengan lekat.


" Apa yang bisa aku lakukan agar kamu mau memaafkan aku Lin?" Tanya Jodhi dengan suara lirih yang begitu dalam. Menatap Lintang yang masih menatapnya penuh kebencian.


Lintang memilih membisu dan membuang pandangannya. Karena menurut Lintang, jika diteruskan mereka berdua akan berdebat kembali dan berpotensi membuat Danuja terbangun.


Merasa di acuhkan, mini Jodhi kembali memposisikan dirinya sedikit membelakangi Lintang, sebab ia tengah memijat kaki kecil Danuja.


Ia terus dan terus memijat lembut kaki mungil Danuja. " Maafkan Ayah nak. Maafkan Ayah membuat kamu selama ini menderita. Ayah janji akan berusaha merebut hati Ibumu, agar kita bisa sama-sama bahagia nanti!" Jodhi tersenyum di sela tangisnya.


Suasana yang hening tak menyurutkan Jodhi untuk membersamai Danuja. Ia bahkan melupakan keempat orang yang saat ini entah kemana.


Namun, beberapa saat kemudian, Jodhi mendadak memutar tubuhnya karena penasaran kenapa suasana begitu senyap sekali bahkan hingga beberapa saat.


Jodhi tertegun kala melihat pemandangan yang begitu membuatnya tenang. Lintang terlelap diatas sofa, seraya memiringkan tubuhnya dengan kedua tangan yang tersstukan karena gunakan sebagai bantal.


Jodhi menarik seulas senyum saat menatap wajah teduh Lintang yang ayu meski wajahnya pucat.


" Kau pasti kelelahan Lin!" Ucap Jodhi tersenyum menatap Lintang yang lelap . " Aku akan menunggu, aku akan membuktikan kalau aku benar-benar mencintai kamu Lin!"


Jodhi kini meraih sebuah selimut yang berada di dalam nakas, lalu membentangkannya ke sekujur tubuh Lintang. Wanita itu tak bereaksi, jelas menegaskan jika raga Lintang benar-benar kelelahan.


Walau suasananya tidak mendukung, walau keadaan baik belum berpihak kepadanya, namun hati Jodhi saat ini benar-benar bahagia sebab dua orang yang ia cintai, tengah berada dalam ruangan yang sama dengan dirinya.


Tanpa Lintang ketahui, Jodhi memfoto wajah Lintang dan Danuja secara bergantian. Pria itu terlihat mengedit foto keduanya, lalu menjadikannya wallpaper ponselnya. Sedikit alay, namun demi apapun yang ada di dunia ini, Jodhi menyukai hal itu.


.


.


...🌺🌺🌺...

__ADS_1


Raka


Ia bahkan lupa untuk mengabari anak istrinya demi larut dalam suasana konyol yang tercipta akibat mulut ngeslong Denok.


Bagi Raka, sosok Denok ini unik dan menarik. Semua orang yang baik tidak melulu memiliki kehidupan yang berwarna putih kan?


" Ih bener Mas, waktu itu aku yang malah ikut mules. Si Yanti nih yang terus nungguin waktu Danuja lahir. Aku ngeri! Mana aku lihat sendiri kalau itunya di masukin lima jari bidannya!" Ucap denok seraya bergidik ngeri.


Raka terkekeh. Ia tak kaget akan hal itu, lagipula Galuh juga pernah seperti itu sewaktu proses melahirkan Angga.


Jonathan terkejut saat mendengar ucapan yang menueuto absurd itu, namun pria ganteng itu lebih terkejut lagi kala melihat Denok memantik sebuah rokok, lalu menghisapnya dalam.


Ah!!! terlihat enak sekali.


Raka biasa saja dengan hal itu. Inilah manusia dengan segala warna hidupnya. Tuk mencapai bahagia, segala cara di tempuhnya.


" Enggak pingin nikah mbak?" Ucap Raka di sisa tawanya.


" Walau enggak nikah yang penting udah kawin kan mas? " Denok terkikik-kikik. " Tujuan orang menikah kan salah satunya kawin!"


" Otakmu Nok!" Sahut Yanti yang kini mengelap mulutnya menggunakan tissue.


Ya, mereka kini lebih memilih makan di kantin rumah sakit agar tidak terlalu lama meninggalkan Lintang.


" Lah, benar kan Yu? Buktinya pas ijab kabul orang pasti bilang begini ' Saya terima nikah saja kawinnya...' Bukan saya terima nikah dan ngedennya..!"


PLETAK


" Auwh Yu, udah tiga kali Yu kau mukul aku! Sakit sialan!" Denok mendengus.


" Bikin malu aja!" Ucap Yanti yang membuat dua orang pria itu kini terbahak-bahak.


" Yeee, dibilang juga. Anda ini membagongkan sekali ya Yu. Dasar orang tua!" Denok yang egepe ( emang gue pekeren) memang ceplas-ceplos kala berbicara.


" Eh tapi, selama ini yang namanya Reyhan itu gimana?" Tanya Raka sedikit serius.


" Ya enggak gimana-gimana mas, kalau aku jadi Lintang sih udah aku sikat dulu. Udah banyak duit, gede anu... !" Denok seketika menutup mulutnya karena kebablasan. Membuat Jonathan lagi-lagi spontan melebarkan cuping hidungnya.


" Mak- maksud saya waktu itu. Iya waktu itu, sebelum tahu kalau malaikatku itu rupanya bapaknya Danuja!" Denok meringis mengklarifikasi ucapannya.


Yanti mendadak terlihat tertegun kembali. Ia kini merasa di persimpangan keresahan. Reyhan pria tulus dan baik. Namun , jika Jodhi berniat merebut hati Lintang kembali, tentu ia sudah tahu jawabannya akan siapa pria yang wajib dia dukung.


Sebab, kehidupan Danuja yang akan di pertaruhkan disini.


.


.


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2