Menjadi Ibu Untuk Anakmu

Menjadi Ibu Untuk Anakmu
Bab 142. Terimakasih sudah mau menerimaku


__ADS_3

Bab 142. Terimakasih sudah mau menerimaku


.


.


.


...🌺🌺🌺...


Terminal kedatangan Bandara Internasional kota J


Riuh rendah para penumpang yang berduyun-duyun memasuki gate arrival terminal tiga bandara yang menjadi ikon kota besar itu, kini memadati conveyor pengambilan bagasi.


Para penumpang yang berasal dari kota lain yang jam kedatangannya nyaris bersamaan itu, nampak tumpah ruah menjadi kerumunan manusia.


" Saya urus dulu bagasinya bos. Anda bersama Pak Abimanyu dan Pak Bastian bisa langsung keluar dulu." Ucap Jonathan dengan sikapnya yang masih sering irit bicara saat bekerja.


Jodhi mengangguk dan terlihat mengakomodir rombongannya untuk keluar.


" Bu Yanti sama saya Yuk. Jangan sungkan! Ada Raka sama istrinya yang udah nunggu di depan" Rania menggeret tangan Bu Yanti dengan senyum yang tak lekang. Membuat wanita yang masih mual sebab merasa jetlag itu, kini tersenyum senang.


Rania ramah dan juga sangat baik.


" Ran, Kalyna juga udah di depan. Ini biar Jonathan yang ngurus. Dia mobilnya ada di parkiran kok!" Tukas Andhira yang terlihat baru saja memungkasi sambungan telepon bersama anak bungsunya.


" Iya mbak, barusan bilang dia tadi!"


Dan keluarlah tujuh manusia dewasa dengan satu anak cimpil yang biasa ruwet itu, ke arah pintu keluar.


Tak di sangka, siang itu Kalyna terlihat berdandan sangat sexy dan terlihat menggendong Angga yang nampak tertawa. Membuat Dhira geleng-geleng kepala


" Mas, anak kamu tuh lihat. Masa bajunya ketat banget kayak gitu!" Bisik Andhira tak senang saat menyadari jika anaknya sudah agak berlebihan manakala berdandan.


Dhira lupa. Masa Kalyna ini merupakan masa pencarian jati diri, yang masih suka tidak jelas kala berdandan. Semau dia, sesuka dia.


Ya, Kalyna yang wajahnya mirip dengan Abimanyu itu memang memiliki sikap berani dan cenderung ekspresif tanpa takut gunjingan orang lain. Emang gue pikirin. Begitu slogan hidupnya.


" Nanti aja di tegur di rumah. Jangan disini. Percaya sama Papa!" Bisik Abimanyu membalas Dhira.


Andhira mengangguk.


Jika kau ingin menegur seseorang, maka ajaklah ia berbicara empat mata. Sebab, jika kau menegur seseorang di depan umum, itu artinya kau menghinanya.


" Lah, cucu Oma ikut to ternyata! Aduh- aduh sayang, sini sama Oma!" Dhira yang melihat cucu keduanya menepuk tangannya manakala mengenali keluarganya itu seketika gemas. Mencoba mengabaikan penampilan anak perempuannya yang sebenarnya membuat Dhira resah.


" Citra enggak di sapa sama Oma!" Rajuk Citra dengan wajah memberengut. Membuat Kesemuanya tergelak demi melihat bibir monyong Citra.

__ADS_1


" Astaga, cucu opa marah ya. Sini sama Opa aja!" Abimanyu seketika meraih tubuh bocah kelas satu SD itu, lalu mengecup pipinya yang berbau harum bedak bayi demi memutus aksi protes sebab Dhira lebih dulu mengajak baby Angga.


"Duhh cucu opa udah besar rupanya. Opa sampai enggak kuat gendongnya ini." Abimanyu memasang wajah pura-pura keberatan manakala mengangkat tubuh Citra.


" Eh,itu ada adik kamu yang baru loh, Mamanya adek Danuja. Ayo kita kenalan!"


Lintang dan Bu Yanti yang melihat interaksi hangat keluarga Jodhi itu saling bertukar pandang lalu tersenyum.


" Mereka ramai dan ramah sekali. Apa aku sudah membuat keputusan yang benar? Anakku bahkan sangat di sanjung oleh keluarga Jodhi" Batin Lintang yang kini menatap Jodhi dengan tatapan penuh haru.


Dan tanpa di nyana, pria itu juga terlihat melirik ke arahnya. Benarkah jika Lintang sedikit demi sedikit telah membuka pintu maaf untuk Jodhi?


Praktis, kini pandangan mereka bertemu selama beberapa detik. Ya, Jodhi dan Lintang beradu pandang dengan menyiratkan sebuah makna yang dalam. Makna yang hanya bisa dua insan itu rasakan secara batiniah.


" Wah, akhirnya Bu Yanti nyampai juga di sini. Apa kabar kalian?" Raka juga turut menyapa dua orang yang sudah ia kenali itu. Membuat Jodhi dan Galuh saling terkesiap.


Pandangan Lintang kini beralih kepada wanita cantik, yang pinggangnya di rangkul oleh Raka sedari tadi. Lintang terlihat kagum dengan wanita yang sudah ia duga merupakan istri Raka yang sempat di ceritakan beberapa waktu lalu, manakala Raka membujuknya.


" Baik nak Raka. Kami baik. Ini..." Tunjuk Bu Yanti kepada wanita cantik yang tersenyum ramah, dengan perut yang sudah mulai membuncit.


" Kenalkan Bu, ini Galuh istri saya. Luh, ini Bu Yanti dan ini Lintang!" Raka memperkenalkan anggota keluarganya kepada calon member baru keluarga Aryasatya itu.


" Lintang!' Ucap Lintang mengulurkan tangannya terlebih dahulu.


" Galuh!" Jawab Galuh tersenyum ramah dan hangat. Membuat Raka dan Jodhi kini saling bertukar pandang.


Yes bro, i have got it.


" Kak Jo, ini Danuja kah?" Tanya Kalyna terlihat antusias kala ia melihat balita yang terus menempel di leher kokoh Jodhistira itu.


Jodhi mengangguk dengan wajah jumawa, " Iya dong!"


" Ya ampun, beneran mirip sama kak Jodhi!" Ucap Kalyna keranjingan. Gadis itu kerap merasa gemas kepada anak-anak.


Secara silsilah, Jodhi harusnya memanggil Kalyna dengan sebutan Kakak. Sebab Rania merupakan adik dari Abimanyu.


Namun, Karena usia Kalyna yang terpaut jauh dengan Jodhi, membuat gadis itu tak mau di panggil mbak/ kakak oleh Jodhi. Justru dialah yang memanggil Jodhi dengan sebutan Kakak berdasarkan kenyataan yang ada. Membuat para orang tua pasrah dengan kengeyelan Kalyna.


" Iya lah, ini kan anakku! Ayo Ja, sapa Bude Kalyna dulu, halo bude! Udah punya cowok belum?" Ucap Jodhi terkekeh-kekeh manakala menggerakkan tangan mungil Danuja.


Membuat kesemuanya kini tertawa lepas, demi melihat hal lucu itu.


" Ih kok bude sin. Panggil Aunty cantik dong!" Jawab Kalyna merengut dan sukses membuat kesemuanya tertawa.


.


.

__ADS_1


Kediaman Bastian


Bu Kartika yang duduk di atas kursi roda kini menangis haru kala Jodhi bersimpuh di pangkuannya.


Ya, pria gagah itu menangis haru sebab merasa bahagia manakala ia telah berhasil memboyong Lintang juga Danuja ke kediamannya.


" Kamu sudah benar nak. Sudah melakukan hal yang benar!" Ucap Bu Kartika sembari mengusap puncak kepala Jodhi yang tubuhnya bergetar karena tangis.


"Sekarang mana yang namanya Lintang?" Ucap Bu Kartika mengusap lembut punggung lebar cucu sambungnya yang ia kasihi melebihi siapapun itu.


Jodhi tak kuasa menahan haru. Ia terlihat menyusut air mata yang mendadak keluar dengan derasnya itu. Mengingat jika ia pergi tanpa pamit kepada tetua itu.


" Lin, ini ibu saya. Ibu dari Bu Dhira juga. Ayo kenalkan diri kamu!" Ucap Bastian menatap Lintang yang matanya sudah berkaca-kaca. Meminta calon menantunya itu untuk menyapa wanita sepuh yang kini kesulitan dalam berjalan itu.


Membuat Dafa dan juga Gita turut menitikan air matanya, demi melihat kakaknya bersujud dalam suasana haru.


" Selamat sore Nek. Saya Lintang!" Lintang kini bertekuk lutut di hadapan wanita tua itu, dan terlihat mensejajari Jodhi. Membuat para manusia dewasa disana menahan haru.


Bu Kartika terlihat tersenyum manakala membingkai wajah Lintang yang terlihat mulai mengharu biru. Di tatapnya wajah ayu itu dengan penuh kasih.


" Manusia tiada pernah tahir dari silap dan dosa!" Lintang menelan ludahnya manakala menatap wajah keriput yang begitu teduh dan nampak menentramkan itu.


"Sebab kesucian hanya milik sang pencipta semata. Apa yang di gariskan, hendaknya kita terima dengan hati yang lapang. Niscaya akan dimudahkan kedepannya nak!"


Lintang menangis manakala Bu Kartika menariknya ke dalam pelukannya. Kini, semua beban di hati wanita itu sirna sudah bersama guguran air mata yang tidak mau berhenti kala menetes itu. Lintang merasa, ia sudah berada di keluarga yang tepat. Keluarga yang hangat, keluarga yang penuh cinta kasih.


Jodhi menangis. Neneknya nyatanya bisa menjadi pemungkas yang luar biasa dari perjuangannya selama ini.


" Jadi, kau mau kan menikah kan dengan cucuku?" Tanya Bu Kartika yang matanya telah basah itu. Menatap Lintang penuh harap dengan perasaan campur aduk.


Lintang mengangguk seraya mengulum bibir sebab mati-matian menahan tangis. " Ya Nek, saya mau!"


Hati Jodhi seketika meledak - ledak sebab kembang api kebahagiaan tengah terpantik api sukacita yang berasal dari jawaban Lintang.


Membuat kesemuanya dirundung kebahagiaan yang tiada terkira.


Bastian yang menggendong Danuja kini turut mengusap punggung istrinya yang larut dalam tangis. Pun dengan Andhira yang tak hentinya menyusut kedua netranya.


Bu Kartika juga sudah pernah membuktikan doktrin jika dengan memaafkan orang lain, membuat hidup kita menjadi lebih ringan. Ia telah membuktikan hal itu secara langsung kepada Pak Joko.


Kini, Lintang dan Jodhi saling menatap dengan sorot mata yang tak bisa dijelaskan.


" Terimakasih Lin, terimakasih sudah mau menerimaku!"


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2