
Bab 31. Insan yang Ironis
.
.
.
...🌺🌺🌺...
...Seandainya bisa aku dapatkan di pasar, atau di toko-toko terdekat, pasti sudah aku dapatkan dari dulu......
...Tapi, mereka sungguh tidak menyadari. Jika itu adalah aturan Tuhan....
...~ Wanita Rapuh...
.
.
Galuh
Ia merasa kesal dan sebal sekali. Pria itu seketika merusak suasana hatinya yang baru saja membaik. Sejurus kemudian ia pergi mencari tempat sunyi dan hendak melihat siapa yang memanggil.
Akan sangat tidak bagus jika ia menjawab telepon dihadapan pria kurang ajar itu.
4 panggilan tidak terjawab
2 Pesan
[" Mbak, dimana? Bapak kambuh"]
__ADS_1
Satu pesan yang baru ia buka, cukup membuat tubuh Galuh menegang. Astaga, penyakit yang di diagnosa awal merupakan kanker usus itu, sepertinya kembali menyerang bapaknya.
Tanpa menunggu lagi, ia seketika menekan tombol panggilan dan menghubungi Dinda dengan buncahan kecemasan yang kian menyerangnya.
" Halo Din?"
(......)
" Astaga!" Ia memijat kepalanya yang mendadak terasa di hantam beban berat.
" Dirumah sakit mana? Ya udah habis ini aku langsung nyusul kesana ya, kamu jaga ibuk dulu ya!"
Galuh menghubungi adiknya dengan kecemasan yang begitu kentara. Membuat Raka yang sengaja membuntuti wanita itu, kini tertegun.
Siapa yang sakit pikirnya?
.
.
" Tunggu!" Raka menarik tangan lembut Galuh, dan sentuhan dari tangan Raka, berhasil membuat wanita itu merasakan getaran yang aneh. Pun dengan Raka.
" Ada apa?" Tanya Galuh menautkan alisnya sembari menatap lengannya yang masih di pegang oleh Raka.
" is something wrong?" Tanya Raka akhirnya berani menatap mata coklat Galuh.
Galuh melepaskan cekalan tangan Raka yang ia rasa membuatnya cukup rikuh. Cenderung grogi. Galuh menggelengkan kepalanya mewakili jawaban ' tidak!'
Mana mungkin juga ia menceritakan persoalannya ke sembarang orang.
" Permisi!" Ucap Galuh yang langsung melesat melewati Raka yang masih berdiri mematung. Aroma tubuh wanita itu bahkan masih tertinggal disana. Entah mengapa, pria itu menjadi kepo demi seraut cemas yang sempat ia buntuti tadi.
__ADS_1
.
.
...🌺🌺🌺...
Kediaman Adipati
***
Galuh
Dugaannya perihal ketidakadaan suaminya selalu benar dan tepat. Seperti saat ini contohnya. Ia tiba di rumahnya hampir pukul lima sore. Sebab jalanan macet dan rumah Rio rupanya lumayan jauh.
Sialnya, supir taksi online yang ia pesan tak mencari jalur alternatif, dan terus melewatkannya ke jalur poros, tepat saat jam pulang kerja terjadi.
Semakin memperparah keterlambatannya untuk tiba di rumah.
Ia tersenyum kecut demi melihat kasur yang setiap harinya rapih. Rumah ini tak lebih dari sekedar tempat persinggahan saja. Tak ada mahligai impian yang sebagaimana dia harapkan.
Ia menghubungi suaminya berkali-kali namun tak juga mendapat jawaban. " Apa mungkin dijalan ya?" Gumamnya sembari terlihat berfikir.
Tak mungkin ia menunggu suaminya itu, sementara ia sudah kepalang cemas akan kondisi Bapak.
["Mas dimana? Maaf aku kerumah sakit Bhakti Husada tanpa nunggu mas, Bapak dirawat disana!"]
Dan percaya tidak percaya, ini menjadi pesan pertamanya kepada sang suami di bulan ini. Selama ini mereka memang tak pernah saling bertukar kabar sebagaimana pasangan pada wajarnya.
Benar-benar ironis.
Ia menjejalkan pakaian ganti seperlunya, dan berniat akan berangkat mengajar dari sana. Lagipula, ia tidak tahu juga, apa Adipati akan menyusulnya atau tidak.
__ADS_1
.
.