Menjadi Ibu Untuk Anakmu

Menjadi Ibu Untuk Anakmu
Bab 26. Secuil luapan isi hati


__ADS_3

Bab 26. Secuil luapan isi hati


.


.


.


...🌺🌺🌺...


...Seribu kali kucoba menghindari...


...Seribu kali kucoba tak kembali...


...Namun langkahku menjadi kian pasti...


...Menatap bayangmu dalam cinta yang semu...


...Seribu kali 'ku menatap gambarmu...


...Seribu kali 'ku menyebut namamu...


...Hasrat padamu kian mendesak kalbu...


...Namun selalu aku merasakan...


...Tak mampu...


...Ke mana 'ku harus melangkah?...


...Jejakmu samar-samar kuikuti...


...Ke mana 'ku harus melangkah?...


...Cintamu terlalu sulit untukku...


...Terangilah kasih lentera cintamu itu...


...Agar 'ku tak jatuh dalam kegelapan...


...Agar 'ku tak jatuh dalam kegelapan...


...(Utopia ~ Lentera Cinta)...


.


.


Galuh


Ia baru saja hendak membuka pintu, saat tiba-tiba Adipati menyembul dari balik pintu utama rumahnya itu.


Membuatnya nyaris menyentuh wajah suaminya itu kurang beberapa centimeter saja.

__ADS_1


" Dari mana kamu?" Tanya Adipati yang mengerutkan kedua alisnya, saat Galuh langsung ngeloyor itu.


" Keluar!" Jawab Galuh jengah berusaha biasa saja. Ia tahu, ada mertuanya di dalam. Tapi entah mengapa perasaan tak nyaman yang ia dapat dari luar, masih ia bawa hingga kerumah.


" Orang tuaku lagi ada disini , dan kamu main pergi-pergi aja seenaknya!"


" Paling enggak kamu itu iz..!_


" Aku uda izin kok sama mama!" Sahut Galuh dengan wajah dingin namun dengan suara tenang. Membuat Adi tersentak.


" Lagian sejak kapan sih kamu peduli aku mau kemana, hah? Mas Adi juga mau kemanapun juga enggak pernah aku recokin kan?"


Galuh seketika membalikkan badannya usai mengeluarkan sedikit unek-unek dalam hatinya. Membuat Adi hanya bisa mengeraskan rahangnya sebab semua ucapan Galuh itu benar adanya.


Tanpa mereka sadari, ibu mertua Galuh melihat perdebatan kecil itu. Wanita beruban itu menangkap sedikit ada kejanggalan dalam rumah tangga anak-anaknya. Benarkah jika semua baik-baik saja?


Wanita itu kini tertegun di balik dinding yang berada di dekat tangga. Apa yang sebenarnya terjadi?


.


.


The Paradise Pub


***


Dewi


Siang itu, ia terlihat duduk sambil menikmati minuman dengan kadar alkohol yang cukup tinggi. Di bawah pengawasan Anom yang menatapnya tak jemu.


" Anda sudah minum cukup banyak. Sebaiknya kita pulang!" Anom berusaha melindungi wanita itu sebisanya. Sebuah janji pada diri sendiri, sejak Dewi menolongnya beberapa waktu silam.


"Kita ada meeting jam tiga nanti!" Pria berwajah blasteran Indo Jepang itu terlihat mencemaskan Dewi. Meski ia tahu, wanita dengan rambut pirang itu kerap mengabaikan warning darinya.


Dewi masih tekun meneguk sloki demi sloki minuman itu. Sama sekali tak menggubris larangan Anom yang terlihat cemas meski pria itu berwajah datar.


" Minumlah Anom. Sesekali kita perlu pusing agar hidup kita seimbang!" Dewi tersenyum sumbang. Pandangannya kini menerawang jauh. Terlihat seperti tengah mengingat- ingat sesuatu.


" Kau tidak perlu se formal itu denganku. Nasibmu ini sama denganku bukan? Dewi menarik sudut bibirnya yang semakin membuat Anom merasa iba.


" Sama-sama menjadi manusia yang tidak di akui"


Dewi tersenyum ironi menatap Anom. Membuat hati pria itu bak tersusuk paku, Anom benar-benar kasihan dengan wanita itu, meski wajah yang tersuguh selalu kaku.


.


.


Perusahaan Delta Group


***


Raka

__ADS_1


" Bos, Tuan Jodhi tadi berpesan jika akan kemari sebentar lagi!" Ucap Niko yang masih tekun memindai beberapa berkas, untuk di masukkan ke dalam file penting.


Benar-benar luar biasa, jika pria seusia Niko rata-rata masih menghabiskan waktunya di bangku sekolah menengah atas kelas akhir, tapi dia sudah menjadi anak buah seorang pengusaha sembari menjalani pendidikan di universitas.


Definisi dari anak genius.


" Jodhi?" Raka Mengehentikan sebentar kegiatannya." Kenapa tidak telpon langsung?" Raka berucap dan lebih terkesan bertanya kepada dirinya sendiri, ketimbang kepada laki-laki yang sudah seperti adiknya sendiri itu.


Niko menatap pria dengan kumis tipis itu dengan lekat, " Coba cek ponsel anda!"


Raka seketika mengambil benda pipih berwarna silver itu dan menggulirnya. " CK, aku lupa Ko. Mati nih. Tolong kamu charge!" Pinta Raka mengangsurkan ponselnya ke ujung meja. Membuat anak Devan itu seketika maju dan meraih ponsel Raka.


Raka benar-benar lelah semalam. Pria itu sibuk dengan Citra yang terus saja merajuk. Ia bahkan ketiduran di kamar anaknya hingga fajar menjelang.


.


.


" Apa? elu jangan aneh-aneh deh Jo!" Raka terkejut demi mendengar Jodhi yang berbicara ngawur soal Dewi.


" CK, beneran Ka. Pria itu seumuran ama kita. Tapi...masih ganteng elu sih!"


Jodhi mengatakan jika ia tadi sempat melihat Dewi bersama pria lain dan terlihat begitu akrab. Jodhi menebak jika wanita mabuk dan tengah di papah pacarnya.


" Udah jangan ngawur, salah lihat kali kamu. Dia itu punya kerjaan jelas. Mana mungkin jam segini dia kelayapan enggak jelas!"


Jodhi menggelengkan kepalanya demi melihat reaksi Raka. Ya...mungkin saja Raka benar, bisa saja dia salah lihat. Wanita jaman sekarang kan dandanannya hampir mirip-mirip.


" Tapi... emang ayah bunda setuju kalau kamu sama wanita itu...!"


" Entahlah Jo. Somehow aku juga musti mikirin Citra. Dewi orang baik, wanita karir yang cerdas. She's is Prefect woman. Tapi... Citra kayaknya sulit banget buat nerima dia!"


Raka bahkan memijat keningnya saat ini. Pria itu benar-benar mumet kalau sudah menyangkut urusan Citra.


" Lagipula, aku sama dia masih temenan kok Jo. Enggak ada status apapun!" Ucapnya lagi sembari membuka laptop di depannya.


" Kenapa? Are u like her?" Tanya Raka pada Jodhi.


Mendapat pertanyaan seperti itu dari Raka, seketika membuat kilasan ingatannya kembali kepada Lintang yang hilang bak di telan bumi.


" Dulu kamu mengatakan hal itu juga Ka ke aku, tapi Lintang lebih milih kamu ketimbang aku. Dan sekarang.."


" Mungkin aku yang terlalu tersugesti sama ucapan mama buat keburu nikah lagi. Jadinya aku terkesan buru-buru memaksa keadaan!"


Kilasan ingatan Jodhi seketika menguap demi mendengar suara Raka yang kembali yang kembali menyambung obrolan.


" Tapi... setelah lihat Citra kayak gitu, mungkin aku yang ganti harus sabar. Aku juga kasihan sama Dewi yang terus dapat penolakan dari anakku Jo!"


.


.


.

__ADS_1


To be continued


__ADS_2