Menjadi Ibu Untuk Anakmu

Menjadi Ibu Untuk Anakmu
Bab 48. Aku dan perasaan ini


__ADS_3

Bab 48. Aku dan perasaan ini


.


.


...Apalah maumu kasih, kau pilih diriku di dalam hidupmu......


...Nyatanya kulihat kini, tak bisa kau coba untuk setia......


...Sudah cukuplah sudah, ku memberikan waktu......


...Kau selalu tak bisa mencoba untuk setia......


...( Krisdayanti~ Cobalah untuk setia)...


.


.


.


...🌺🌺🌺...


Raka


[" Halo Ka, Ka! Buruan, jangan sampai tuh orang henti jantung!" ] Ia tersentak dari lamunannya manakala suara di telponnya kembali berbunyi.


[" Halo Ka.. elu masih disitu?"]


Ia sebenarnya sedikit ragu, tapi wajah yang semakin pucat itu benar-benar mendesaknya. Jantungnya bahkan kini berdegup kencang, secara tak langsung itu berarti ia akan mencium Galuh.


Perlahan Raka mulai menutup hidup Galuh yang sudah terasa sedingin es, lalu sejurus kemudian ia mendekatkan bibirnya dan memberikan napas buatan.


Raka memejamkan matanya kala meniup saluran pernapasan wanita itu. Berharap ini bisa membuat tersadar. Ia melakukannya dua kali sebelum ia menekan dada wanita itu.


" Please, buka matamu!" Ucapnya dengan raut penuh kekhawatiran seraya menekan-nekan dada Galuh dengan gerakan memompa.


Belum juga membuahkan hasil, Raka kini kembali mendekatkan bibirnya dan melakukan gerakan yang sama. Entah mengapa, rasa cemas kini datang melingkupinya.


" Uhuk!!!"


" Uhuk!"


Mata Raka membulat dengan senyum yang kini merekah, ia bernapas lega demi melihat Galuh yang terbatuk-batuk.


.


.


" Itu tadi siapa sih? Dia demam karena dehidrasi. Aku pasang infus buat gantiin cairannya!" Ucap Teuku yang kini membereskan beberapa peralatan yang telah selesai ia gunakan.

__ADS_1


" Ntar gue kesini lagi!"


Raka masih melamun, sama sekali tak mendengarkan Teuku yang tengah nyerocos. "Apa yang sebenarnya terjadi. Mengapa wanita itu bisa ambruk di jalanan?"


" Woy!!! Sialan, diajak ngobrol malah ngelamun!" Gerutu Teuku demi melihat Raka yang menatap nanar asbak kristal di depannya. Membuat Raka tersentak.


" Sory! Sory!" Sahut Raka mengusap wajahnya gusar.


Teuku menggeleng kepalanya. " Dia akan tertidur selama beberapa saat, aku udah kasih suntikan dia tadi. Kalau bangun, kasih dia minum yang banyak Ka, sama suruh dia makan. Kayaknya lemes karena belum makan dia itu!"


Teuku bersiap untuk pergi, dokter muda ini sepertinya akan menangani pasiennya di rumah sakit.


" Emmm, makasih Ku! Sahut Raka kini membetulkan posisi duduknya.


" Jangan bilang dia peliharaanmu Ka!" Teuku terkikik melirik ke arah Raka.


" Mulutmu! Udah sana balik lu!" Ucap Raka dengan gerakan mengusir. Dasar dokter cabul.


Sepersekian detik kemudian, Raka masuk ke kamarnya untuk mandi lalu berganti pakaian. Membiarkan Galuh yang masih lelap dengan selang infus yang tertancap. Teuku akan kembali lagi nanti, untuk melepas selang infus wanita itu.


Di dalam kamar mandi , masih dengan guyuran air yang mengaliri tubuhnya yang berotot keras itu, ia tersenyum demi merasakan sentuhan bibir dingin beberapa saat lalu. Ini gila, setelah sekian lama ia tak pernah berciuman, ia justru tanpa sengaja mencium bibir guru anaknya meski tanpa unsur kesengajaan.


Hey, what's wrong with me?


Ia masih sibuk menggosok rambutnya yang basah menggunakan handuk, sembari menatap wajah ayu Galuh yang kini lelap. Pakaian wanita itu juga sudah tergantikan oleh woman house keeping yang ia panggil tadi.


"Kasihan sekali!" Hatinya berucap penuh kejujuran.


Raka mengenakan kaos berwarna abu-abu polos dan kini terlihat mendudukkan dirinya ke tepi ranjang. Menatap lekat-lekat Galuh yang masih tertidur.


Seulas senyum terbit dari bibir Raka, guru itu cantik juga. Pandangannya kembali bertumbuk pada bibir Galuh yang tadi sempat ia sentuh. Oh astaga!


" Tega kamu mas!"


Raka terperanjat saat Galuh mengucapkan sesuatu, dengan mata yang masih terpejam. What?


" Aku benci sama kamu mas!" Suara lirih itu kembali terdengar. Membuat Raka lagi-lagi menatap Galuh lekat-lekat.


Apa yang sebenarnya terjadi?


.


.


Adipati


Ia bersama Maya kini membawa mamanya masuk kedalam rumahnya. Ketepatan sekali, diluar sedang hujan deras. Meski ia juga memikirkan bagiamana keadaan Galuh, namun ia kini lebih mencemaskan kondisi sang mama yang masih belum siuman.


" Maya tolong ambilkan minyak angin May di kotak P3K!" Titah Adi dengan suara panik. Membuat wanita yang sebenarnya merasakan nyeri di punggung dan pipinya itu menurut apa kata suaminya.


Sepeninggal Maya, Adi terlihat tekun menggosok tapak tangan Mama. Berharap sentuhan itu bisa membuat Mama siuman.

__ADS_1


" Semua ini gara-gara kamu Adi!" Pak Hendra tak bisa lagi menyembunyikan kemarahannya. Membuat Adipati menelan ludahnya dengan susah payah.


" Papa enggak mau tahu, setelah ini pulang dan temui papa dirumah! Kita bicarakan hal ini!" Ucap Pak Hendra dengan kemarahan yang begitu kentara.


Membuat keduanya kini terdiam. Adi benar-benar tak bisa lagi mengelak. Pun dengan Pak Hendra yang masih berusaha mengontrol dirinya untuk tak berbuat sesuatu diluar nalar.


" Mama!! Ma!!!" Papa masih tekun menepuk pipi mama dengan wajah panik." Ayo Ma bangun, kita cari Galuh ma!"


Maya yang baru saja tiba dengan membawa sebuah botol minyak, seketika tertegun demi mendengar ucapan papa mertuanya. Maya merasa tak memiliki nilai sama sekali di mata kedua orangtua Adipati.


" May, ada? Bawa sini!" Ucap Adi yang menyadari kedatangan istrinya itu.


Pak Hendra sama sekali tidak menggubris keberadaan Maya, pria itu kini pikirannya terbagi antara kondisi istrinya dan keberadaan menantunya yang entah kemana.


" Pakai ini Pa!" Adi memberanikan diri menyerahkan botol beling itu kepada papanya. Berharap itu bisa membuat Mama sadar.


" Kalau sampai ada apa-apa sama Galuh, papa enggak akan pernah maafin kamu Di!" Ucap Pak Hendra sembari menyambar botol minyak itu dengan kasar.


Bagai tersambar petir, dua manusia itu kini saling tertunduk. Wajah Pak Hendra yang sedari tadi terlihat mengeraskan rahangnya, jelas membuat nyali Adipati menciut. Pun dengan Maya.


Mendengar hal itu, Maya seketika tak sanggup lagi untuk sekedar berdiri disana. Ia mencintai Adipati bahkan sebelum kenal Galuh hadir, tapi mengapa saat ini seolah-olah dia yang bersalah?


" Aku ke kamar dulu mas!" Ucap Maya dengan mata yang sudah mengabur lantaran air mata yang sudah mengembung di pelupuk matanya. Ia tak tahan akan penolakan terang-terangan yang di tunjukkan oleh mertuanya.


" Maya!!" May!!"


" Tunggu May?!!"Ucap Adi frustasi dengan apa yang ia hadapi. Oh sial!!! Sungguh, saat ini Adi tengah memetik apa yang dulu ia tabur.


Sebab orang yang menabur angin, niscaya akan menuai badai.


.


.


Maya


Ia menangis sejadi-jadinya di dalam kamar. Pipinya masih terasa pedih dan berdenyut akibat tamparan keras dari Galuh tadi.


" Bangsat kamu Galuh!" Ia mengepalkan kedua tangannya saat menyebut nama madunya itu. Dadanya penuh dengan kemarahan.


" Awas aja kamu setelah ini. Akan kubuat mereka yang benci sama kau, bisa menerimaku!" Ia bermonolog seraya menangis.


Entahlah, ia benar-benar tak menyangka jika segala sesuatunya mendadak berubah seperti ini.


" Akan kubalas kau Galuh! Arrrggh!!!"


.


.


.

__ADS_1


To be continued...


__ADS_2