
Bab 90. Ratu di hidupku
.
.
.
...πΊπΊπΊ...
Niko
Ia bahkan sampai bolak balik membaca pesan dari Raka. Demi melihat isi pesan yang menurutnya ngeri itu.
Bagaimana tidak ngeri, lawong isinya permintaan untuk menjemput wanita bermulut Combe. Dinda.
[" Satu meja kosong di quality control tolong kamu isikan untuk Dinda. Dan tolong kamu jemput Dinda secepatnya ya. Aku udah nelpon dia barusan"]
" CK, yang benar saja!" Niko menggerutu saat membaca pesan dalam ponselnya itu. Wanita cerewet itu pasti akan sering membuat onar. Dan perintah Raka barusan, jelas akan membuat dia lebih sering mendengar suara-suara tidak benar.
Hah, sialan!
Niko lantas melesat menuju ke kediaman mertua bos-nya itu, detik itu juga. Bagiamana lagi, mau tidak mau ia akhirnya menjemput Dinda.
"Lama amat sih, aku udah jamuran tau nungguin kamu!"
Ia bahkan belum mengucapkan sepatah katapun saat ia baru menarik tuas hand rem. Rupanya Dinda sudah menunggunya diluar.
" Semangat sekali dia!"
" Aku mau turun dulu, mau nganter itu!" Niko menunjukkan beberapa sembako dan beberapa kebutuhan rumah tangga lainnya yang diminta Raka untuk diberikan kepada Ibu mertuanya, di jok belakang mobilnya.
" Hah?"
.
.
Dinda
Ia terkejut manakala melihat banyak sekali susu untuk orang tua, minyak goreng, gula kemasan, kornet, dan masih banyak lagi yang kesemuanya duduk manis di jok belakang mobil Niko.
" Untuk apa beli banyak banget, aku enggak ada duit buat ganti!" Ucap Dinda yang mengira Niko sales.
" Siapa yang minta kamu buat ganti, itu dari pak Raka!" Ucap Niko sebal. Belum-belum sudah nyerocos.
" Mentang-mentang aku kerja di manufaktur, terus kamu pikir aku jualan?"
" Owh!" Jawab Dinda sekenanya.
" Ah oh ah oh, bantuin!!!" Ucap Niko kesal. Pria itu sebenarnya cukup kesulitan mengatasi sikap Dinda yang menurutnya anti mainstream.
Dinda mendengus. Baru juga bokongnya mendarat mulus, eh ini sudah diminta bangun lagi. Dasar botol kecap!
Akhirnya mereka berdua turun dan membawa berkardus - kardus bahan - bahan itu masuk, meski dengan wajah saling bersungut-sungut.
" Loh Din, kok balik lag..."
" Ya Allah!" Ibu terkejut dan ucapannya menguap manakala melihat ia dan Niko membawa kardus yang lumayan banyak.
__ADS_1
" Dari mas Raka!" Ucap Dinda seraya meringis ngilu karena tangannya pegal.
" Hah, dari nak Raka?"
"Enggeh Bu, ini dari Pak Raka, saya diminta untuk mengantarkan ini!" Ucap Niko ramah. Raka pernah berkata, susu tinggi kalsium sangat baik untuk kesehatan orang tua.
Seperti Dhira dan Abimanyu yang juga rutin mengkonsumsi susu seperti itu.
" Ya ampun nak, repot-repot sekali. Yang kemarin aja belum habis. Terimakasih banyak ya sudah di bantu. Nak Niko mari duduk dulu, saya buatkan minum ya?"
" Terim..!"
" Enggak usah Buk, udah telat. Nanti aja minum dijalan, iya kan Ko?" Dinda mencubit kecil perut Niko agar mengiyakan ucapannya.
Niko melebarkan cuping hidungnya dengan wajah berengut karena sebenarnya sebal sekali kepada Dinda.
"Perempuan ini! licin sekali"
.
.
" Napa monyong aja, elu haus beneran?" Tanya Dinda demi merasakan Niko yang semakin membisu sejak di kilometer pertama mereka berangkat tadi.
" Udah tau nanyak!" Jawab Niko kesal.
Dinda terkikik-kikik. Baru kali ini melihat Niko ngambul. " Beli minum itu yok, kalau dirumahku palingan cuma dikasih minum teh sama Ibuk. Yuk kesana!"
" Udah, jangan nesu- nesu ( marah- marah) terus!"
Niko tentu saja kesal, apa maunya wanita itu coba. " Tadi katanya kesiangan, sekarang..."
" Duh, udah deh jangan banyak protes, kaku banget sih lu. Udah buruan belokin!"
Niko memilih tempat outdoor dan menunggu Dinda memesan dua cup ice brown sugar boba milk ke dalam.
" Nih, buruan minum!" Ucap Dinda menyuguhkan dua cup minuman segar favorit kaum milenial itu.
" Kayak anak kecil aja jajan boba!" Ucap Niko asal.
" Ye ni anak, emang kamu pikir aku tua!"
" Jelas tua lah, kamu udah dua satu ples kan?" Ucap Niko enteng seraya menyeruput minuman legit itu. Ah! enak juga!
PLETAK
" Aduh! Elu tuh ya, kasar banget jadi perempuan!" Niko mengusap kepalanya yang sakit karena baru saja di jitak okeh Dinda.
Benar-benar bar-bar.
" Biarin, awas aja lu bilang gue tua lagi. Elunya aja yang bocah!" Balas Dinda melakukan gencatan senjata.
" Eh Paijah, ngatain gue bocah. Bocah-bocah gini bisa bikin bocah juga kali, enak aja lu!" Niko tak suka diremehkan oleh Dinda. Pria itu kini menatap lekat ke arah Dinda yang asik menyeruput minuman itu.
" Bocah Bocah Bocah!" Ucap Dinda usai menyudahi seruputannya, dan sejurus kemudian terus meledek Niko dan membuat Niko seketika menjambak bibir Dinda dengan gemas.
" Niko sialan!"
...πΊπΊπΊ...
__ADS_1
Raka
Ia tak mau mengganggu Niko yang pasti saat ini tengah menggerutu karena mengajari Dinda. Raka tidak tahu saja jika dua sejoli itu tengah bertengkar bagai kucing dan anjing.
Mereka landing dengan selamat di menit ke empat puluh tujuh lepas dari jam satu siang, di bandara internasional kota J.
Raka telah meminta supir yang biasa mengantar Citra untuk menjemputnya. Citra tahunya besok ia akan pulang, membuat bocah cilik itu kini masih berada di kediaman Abimanyu. Raka ingin memberikan kejutan malam nanti.
" Mas, kita enggak langsung kerumah mama? Aku kangen banget sama Citra" Tanya Galuh yang kini berjalan menuju ke lobi luar.
" Nanti aja, Dinda sama Niko mau kerumah soalnya, itu ayam Taliwang nya kasihan. Aku udah janji bawain dia!"
Galuh tak mengira jika Raka begitu menyayangi Dinda. Bahkan pria itu sengaja membawakan Dinda ayam Taliwang yang sudah ia impikan selama ini.
" Makasih ya mas, mas udah baik banget sama adikku yang bangor itu!"
Raka tergelak. Ya, Dinda memang bangor. Tapi Raka senang dengan keagresifan Dinda. Itu bagus untu kinerjanya nanti.
" Adikmu adikku juga, jangan terus berterimakasih nyonya Raka!"
" Karena kalau istriku seneng, aku otomatis juga senang!"
Benar-benar suami idaman wanita.
Mereka pulang dengan membawa seabrek barang. Raka tak keberatan untuk itu. Menurutnya, ibu-ibu dan belanja merupakan hal yang tak bisa dipisahkan.
Mbak Sulastri tergopoh-gopoh saat menyongsong kedatangan majikannya yang sekarang berpredikat sebagai pengantin baru itu.
" Selamat datang Bu!" Ucap Mbak Sulas mengangguk hormat kepada Raka dan Galuh.
Ya, ini adalah kali pertamanya Galuh berada di rumah itu, dalam status barunya sebagai istri Raka.
" Terimakasih ya mbak Las, tolong jangan sungkan sama saya ya!" Galuh tak ingin statusnya saat ini, menjadi penghalang bagi wanita paruh baya itu untuk dekat dengannya, mengingat mbak Las sudah sangat baik sejak jaman nining masih bekerja dulu.
" Mbak, itu Pak Jan tolong di bantu nurunin barang, kita mau istirahat dulu ya"
" Baik Den!"
Mereka berdua akhirnya sampai. Lelah begitu menyerang mereka. Bagiamana tidak, liburan benar-benar membuat tubuh Galuh remuk.
" Sini!" Raka menepuk pahanya. Meminta Galuh untuk duduk di atas pangkuannya.
Galuh menurut usai melepas pakaiannya. Ia gerah dan kini hanya mengenakan tangtop putih. Terasa ringan.
" Kamu udah jadi istriku, jadi dirumah ini jangan lagi ada kecanggungan. Apa yang kamu pingin lakuin aja, semoga kita bisa terus begini ya sayang!"
Sejurus kemudian Raka melumaaat bibir Galuh dengan mesra. Pria itu ingin menegaskan kepada Galuh bahwa ia adalah permaisurinya saat ini, Raka berharap Galuh tak lagi sungkan kepada para penghuni rumah lain termasuk pembantu, supir dan juga satpam.
Sungguh, Galuh benar-benar beruntung memiliki Raka yang memperlakukannya sebagai ratu.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.
Musim kedua yang mengisahkan Jodhi dan Lintang sebentar lagi dimulai. Siapkan diri kalian ya bueboπππ