Menjadi Ibu Untuk Anakmu

Menjadi Ibu Untuk Anakmu
Bab 58. Meniti takdir


__ADS_3

Bab 58. Meniti takdir


.


.


.


...🌺🌺🌺...


Raka


Ia mencium kepalan tangannya sendiri, seraya menahan tawa manakala melihat ekspresi wajah Niko yang terheran-heran dengan Dinda yang ceplas-ceplos.


Benar-benar sebuah hiburan di tengah-tengah kesusahan.


Dan anehnya, di sela-sela keheranannya, ia masih lekat memperhatikan wajah Galuh yang ternyata memang manis alami walau tanpa riasan apapun.


" Astaga, kenapa aku malah sering menatap wajah wanita itu!" Bergumam dalam hati.


" Emmm Pak...eh...Mas...ini gimana urusannya? Bisa pakai kartu •••• ( menyebutkan kartu berslogan dengan gotong royong semua tertolong) nggak?" Tanya Dinda yang kini ogah terus-menerus berdebat dengan kakaknya, prihal pelaporan kejadian.


" Aman...tinggal pulang aja!" Sahut Raka sembari mendudukkan tubuhnya ke sofa coklat, di ruangan itu.


" Sampean yang bayarin? Saya ganti ke sampean apa gimana ini?" Tanya Dinda dengan alis bertaut. Menjadi penegas jika wanita itu masih belum mendapatkan jawaban yang melegakan.


" Dinda!" Sergah Galuh yang malu, sebab adiknya itu selalu saja terlalu gamblang dalam membahas apapun.


Membuat Raka terkekeh. Sepertinya ia sudah tidak lama tertawa demi hal yang begini ini.


" Loh kan harus tanya, bener nggak mas? Jaman sekarang itu semu harus di perjelas, apalagi soal peces ( duit)!" Ucap Dinda sembari mengambil segelas air lalu menyodorkannya kepada Galuh.


" Ya ampun!" Niko kembali mengelus dadanya.


" Ini siapa sih, dari tadi ya kok ngelus dada terus kerjaannya." Dinda berengut menatap sebal kearah Niko. Dasar pria aneh!


" Kamu tadi siapa namanya? Dinda ya?" Ucap Raka kini menyilangkan kakinya, bersiap hendak mengatakan sesuatu.


" Harusnya saya yang ada di ranjang itu, bahkan mungkin malah ada di kamar mayat!" Ucap Raka yang membuat Dinda dan Galuh sama-sama melebarkan matanya. Astaga pria itu mulutnya.


Raka kembali tergelak demi melihat reaksi dua bersaudara yang syok itu. Benar-benar menggelitik.


Raka terkekeh demi melihat raut Galuh yang suram. " Intinya anggap biaya ini sebagai timbal balik karena kakak kamu menyelamatkan nyawa saya tadi. Dan setelah ini tolong jangan dibahas lagi, karena Memnag saya yang wajib membayarnya" Ucap Raka tersenyum dengan sorot mata tegas ke arah Dinda.


Dan sejurus kemudian,


"Oh ya... kalau yang ini" Tukas Raka menepuk paha Niko yang masih berdiri. "Dia yang bakal ngantar kamu!" Jawab Raka menatap Dinda dengan terkekeh.


Raka benar-benar teringat dengan adiknya Kalyna yang kurang lebih memiliki sikap seperti Dinda.


.

__ADS_1


.


Ngomong-ngomong soal antar mengantar, rupanya pernyataan Raka soal Niko yang akan mengantar mereka tadi, benar adanya. Oh ya ampun!


Sepanjang perjalanan Galuh hanya diam. Kepingan ingatannya kembali saat wajah Raka dengan paniknya membersamai dirinya tadi. Ia bahkan masih mengingat aroma parfum yang menyeruak ke rongga hidungnya di tengah kesakitan yang melandanya.


Ia yang tak pernah mendapatkan kesempatan di khawatirkan, apalagi di perhatikan oleh suaminya itu seketika merasa hatinya ada yang mensusupi. Perasaan hangat yang kini menjalar ke relung jiwanya.


" Pokonya kalau ditanya jawab supir onlen aja, enggak usah macem-macem!" Tukas Dinda mengancam Niko, begitu mobil yang di kemudikannya telah memasuki gang menuju rumah mereka.


Dasar wanita diktator!


" Iya!" Jawab Niko pasrah sambil memandang Dinda dari kaca rear vission di depannya. Sebab pasal pun, tidak ada gunanya.


Mereka selamet sebab saat tiba, Ibu dan bapak tengah tidur siang. Membuat mereka bernapas lega. Namun kelegaan yang mereka rasa, rupanya berubah menjadi hal yang membuat mereka gelagapan untuk menjawab saat malam menyapa.


Ibu melihat Galuh yang meringis sebab lukanya terkoyak dan kembali mengeluarkan darah , saat tanpa sengaja Ibu hendak mengantar tumpukan baju ke kamar anaknya itu.


" Kenapa kamu Luh?"


Ibu dan sebuah perasaan yang peka , jelas merupakan sebuah perpaduan naluri batiniah yang tidak akan pernah sirna hingga akhir zaman.


Keadaan itu makin di perparah, manakala malam itu juga Pak Hendra beserta istrinya, rupanya bertandang ke kediaman Galuh tanpa memberitahu terlebih dahulu.


Membuat pak Noer benar-benar syok bukan main.


Mereka duduk berenam dengan memutari meja kayu, dengan wajah runduk dan sama-sama tercenung demi mendengar kenyataan bisa Adipati baru saja mencelakai Galuh tanpa sengaja.


" Maafkan kami yang tidak becus mendidik Adi Mas! Tolong maafkan kami..!" Bu Sevi terisak-isak di sela pembicaraannya. Membuat hati Bu Halimah serta Galuh turut sesak.


Bapak yang kini sudah tak berdaya dan hanya bisa duduk diatas kursi roda terlihat menahan laju air mata. Pria itu jelas merasa hancur, demi anaknya yang saat ini mengalami nasib buruk.


" Saya benar-benar memohon maaf Mas, Mbak!" Ucap Pak Hendra kini mengambil alih. " Saya serahkan sepenuhnya kepada Galuh gimana baiknya. Kami tidak ingin memaksa lagi jika sudah begini keadaannya..."


Galuh masih tekun mengusap air matanya yang terus menerus menetes, meski ia sudah berusaha menahannya.


" Saya ingin bercerai!"


.


.


Adipati


Begitu keluarganya mengetahui jika ia sempat menembak Galuh tanpa sengaja, pria itu kembali mendapat tamparan keras dan kali ini dari papanya.


" Udah enggak waras kamu, hah?" Pak Hendra bahkan mendatangi rumah baru mereka malam itu.


" Untung Galuh tidak membawa masalah ini ke polisi!"


Adi memegangi pipinya yang terasa panas sambil menahan emosi di dadanya. Ia bahkan kembali teringat dengan pria yang sok jagoan tadi, saat papanya membahas tembakan yang mengenai Galuh.

__ADS_1


" Galuh minta cerai, dan itu yang harus terjadi!"


Adi tertunduk, entah mengapa melihat Galuh yang di tolong oleh pria tadi, membuat sejumput rasa tak rela menyelinap ke dalam hatinya.


"Ingat Di, jika suatu saat kamu menyesal, jangan pernah kamu datang kepada Papa. Karena meskipun kamu bersujud sekalipun, Galuh tetap tidak akan pernah menjadi menantu papa lagi!"


" Ayo Ma, kita pergi dari sini sebelum kepala papa pecah!" Ucap Pak Hendra dengan geram. Benar-benar kecewa dengan perilaku putranya.


Pak Hendra dan Bu Sevi sempat melayangkan tatapan tajam ke arah Maya yang sedari tadi berdiri sembari menunduk, demi menyaksikan suaminya yang di tempeleng oleh orang tuanya.


Menegaskan jika Maya sama sekali tak memiliki tempat di hati dua manusia tua itu.


.


.


...🌺🌺🌺...


Galuh


Ia bersyukur sebab apa yang di takutkannya perihal kesehatan Bapak tidak terjadi, Pak Noer baik-baik saja meski pria itu kini terlihat murung sebab telah mengetahui kebenaran yang menampar dirinya.


" Maafin Galuh Pak!" Galuh akhirnya berani berbicara saat ia kini mulai memijat lembut kaki bapaknya. Sesak menyeruak memenuhi rongga-rongga di hatinya.


Pak Noer kini menoleh ke arah anak-nya yang berwajah layu. " Bapak yang minta maaf nduk!" Suara serak bapak kini terdengar. Menegaskan jika pria itu juga sangat bersedih " Karena keegoisan Bapak kamu jadi sengsara seperti ini!"


Hembusan sepi merobek kedua hati yang benar-benar rapuh itu. " Bapak cuma pingin kamu hidup enak, karena Hendra benar-benar orang baik dan kami sudah kenal sangat lama!"


Pak Noer berbicara dengan tatapan menerawang demi mengingat jika mereka merupakan sahabat baik sewaktu bekerja di pertambangan semasa muda dulu. Tak di nyana, penyakit yang di derita Pak Noer membuat karirnya harus meredup terlebih dulu, saat Dinda dan Galuh masih membutuhkan biaya.


" Kalau memang ini memang sudah jalan hidup kamu...yang sabar ya nduk. Maafin Bapak yang enggak berguna ini!" Pak Noer menangis dalam penyesalan yang mendalam.


Pria itu sejatinya hanya ingin membuat Galuh memiliki masa depan yang baik, dengan menikahkan anaknya pada putra sahabatnya.


Membuat Galuh kini merengkuh lesu tubuh ringkih pria yang menjadi alasan utama dirinya bisa berada di dunia yang fana ini.


" Jangan bilang gitu Pak. Ini sudah nasib Galuh. Jangan pernah menyalahkan Bapak dalam hal ini, Galuh udah terima apa yang sudah di gariskan dalam hidup Galuh Pak!"


Mereka berdua berpelukan, saling melingkupi, saling melebur kesedihan yang terasa menyengsarakan. Mereka berdua memeluk dalam tubuh yang sama bergetarnya itu. Membuat dua wanita yang tengah berada di luar gawang kamar itu, turut menangis pilu.


Manusia di berikan cobaan tidaklah melampaui batas kemampuannya.


.


.


.


.


To be continued....

__ADS_1


__ADS_2