
Kholil_PoV
*
Begitu Adzan berkumandang kami baru sampai di rumah. Aku segera keluar dari mobil setelah mobil terparkir sempurna di garasi, aku segera membantu istriku membukakan pintu dari samping.
" Segitunya kalau hati lagi senang ya?" Ejek Anna sengaja menyindirku, dan aku sama sekali tidak marah justru merasa baik-baik saja, sebab hari ini aku memang sangat senang sekali.
" Iya dong." Jawabku dengan rasa bahagia.
Tak hanya karena istriku sudah kembali pulang, tapi karena ingat dengan pembahasan kami tadi sewaktu di rumah Mbak Anniyah bahwa kami akan fokus untuk memiliki momongan mulai malam ini, siapa yang tidak merasa bahagia coba?
" Ayo cepat sayang. Aku sudah sangat lapar." Ajakku menggandeng sebelah tangannya dengan begitu semangat, Anna justru tersenyum geli padaku.
Entah dia sadar atau tidak dengan kodeku barusan, yang penting malam ini harus dapat, aku sudah menahannya seminggu lebih, rasanya kepalaku hampir pecah jika tadi Anna tidak mau ikut pulang denganku, dan aku tidak akan menyia-nyiakan kesempatan malam ini.
Apalagi ini saat-saat yang aku tunggu sudah hampir satu tahun lamanya, rasanya sungguh tidak sabar lagi untuk mengajak istriku untuk olah raga malam ini di atas ranjang sekarang juga.
" Assalamulaikum,," Ucap kami secara bersamaan.
Baru saja kami masuk ke dalam rumah ingin segera masuk ke dalam kamar, Ayah dan Ibu ternyata sudah menunggu kedatangan kami berdua. Aduh, sepertinya kami harus menunda ritual enak kami beberapa menit.
" Waalaikumsalam, akhirnya kamu pulang An, Ibu sangat khawatir sekali lho kamu nggak pulang-pulang, kamu baik-baik saja 'kan? Harusnya kamu bilang sama Ibu kalau Kholil membuat ulah, biar Ibu nanti yang kasih pelajaran sama anak badung ini!" Desis Ibuku mengamuk dan memukuliku. " Kurang apa Ibu mendidik kamu Kholil!!" Hardik Ibu yang kembali memukul pundak juga kepalaku.
" Ampun Buk, maafkan Kholil. Kan Kholil sudah bilang ini semua hanya salah paham saja, Anna juga sudah tahu semuanya, ya 'kan sayang?" Tanyaku berusaha meminta bantuan darinya.
" Iya benar kok Bu. Maafkan Bang Kholil ya, sudah Ibu tenang saja." Ujar Anna yang akhirnya mau membela suaminya ini.
" Sudah Bu, sudah. Kamu sudah denger sendiri 'kan apa kata mereka. Sudah biarkan mereka bicara berdua dan beristirahat. Ayo kita juga masuk. Oh, iya Lil, ajak istrimu makan dulu, baru istirahat. Kami tinggal dulu ya." Pamit Ayah yang mengajak Ibu masuk ke dalam kamar, membuatku senang akhirnya mereka tidak lagi mengusik kami.
__ADS_1
" Ya sudah, kalian habiskan saja makanannya, Ayah sama Ibu tadi sudah makan kok." Imbuh Ibu sebelum melangkah pergi, kami hanya mengangguk sebagai jawaban.
" Sayang kita bersih-bersih dan sholat dulu yuk." Ujarku mengajaknya untuk membersihlan diri dan beribadah terlebih dahulu sebelum makan.
Beberapa saat kemudian Anna terlihat akan melangkah keluar dari kamar, sementara aku baru saja memakai pakaian ganti." Sayang mau kemana?" Tanyaku sebelum ia mencapai pintu.
" Aku siapkan makan dulu, katanya kamu lapar tadi." Sahutnya yang akan melangkah pergi, namun sebelum ia pergi, aku berhasil menghadangnya, sehingga aku berada di depan pintu.
" Tunggu dulu. Iya aku memang sangat lapar tapi bukan masakan Ibu yang ingin aku makan." Sahutku memutar tubuhnya yang kini bersandar di daun pintu sementara aku menghimpitnya untuk mencegahnya keluar dan mengerti dengan kode yang aku berikan ini.
" Oh, kamu mau makan masakanku?" Tanyanya yang tidak paham justru menawarlan masakannya sekarang padaku.
" Bukan sayang, tapi aku ingin memakanmu. Please, aku sudah nggak tahan lagi." Ujarku yang kini menampilkan raut sedih.
" Ya Allah Abang! Kirain laper beneran, nggak tahunya malah otong Abang yang lapar. Makan dulu ya, Anna sudah lapar ini." Rengeknya sembari berusaha melepaskan diri dari kungkunganku.
Akhirnya aku pun pasrah dan harus bersabar lagi, istriku mungkin memang sangat lapar sekali. " Baiklah ayo, sekalian menambah energi agar kamu bisa mengimbangi permainan Abang nanti." Seruku mengajaknya keluar kamar dan berjalan menuju meja makan, dimana makanan masih terhidang di atas meja.
Beberapa saat kemudian kami berdua sudah masuk kembali ke dalam kamar. Setelah menggosok gigi dan mencuci muka, aku segera naik ke atas ranjang, menunggu istriku yang sedang berada di kamar mandi. Aku pun semakin tidak sabar menunggunya.
Begitu Anna sudah keluar dan berjalan ke arahku, aku segera menariknya ke atas ranjang, membuatnya tentu saja terkejut." Ish, Abang sabar dulu!" Gerutunya yang tak kuindahkan.
Aku segera mengukung tubuhnya, menatapnya dalam, kedua manik kami saling mengunci satu sama lain. Detik berikutnya aku langsung mencium lembut bibirnya, mengul*m dan menyesap rasa manis darinya.
" Kamu semakin cantik sayang, aku mulai ya." Aku setengah berdiri segera melepaskan kaos tipis juga celana trainingku, dan juga membantu melepaskan piyama tidurnya, hingga tubuh kami hanya menyisakan dalam4n kami saja.
Kucumbu lagi dari atas hingga sampai bawah, sekalian membuka kaca mata hitamnya juga segitiga emas miliknya begitupun milikku, hingga tubuh kami tidak lagi memakai sehelai benang pun, sejenak ku pandangi betapa cantiknya tubuh putih istriku ini.
" Kamu siap sayang? Aku akan pelan-pelan okay." Ujarku yang kembali mencumbunya, menyesap kulit di seluruh tubuhnya hingga ia menggelinjang tidak karuan.
__ADS_1
" Oh, Bang masukin." Desis Anna yang sepertinya sudah tidak sabar. Begitu pun denganku, aku segera menu tun kepala otongku ke bibir bawahnya, dengan sekali hentakan otongku langsung tenggelam ke dalam tubuhnya, terasa hangat dan seperti di remas-remas.
" Aahh.."
" Ouughh.. Nikmat sekali sayang." Lirihku memejam menikmati rasa yang sangat aku rindukan dalam beberapa hari ini.
Sementara istriku yang sedang di bawahku sudah tak lagi bisa menjawab, tubuhnya ikut bergerak seiring hentakkan yang aku berikan, bahkan kedua matanya merem melek menikmati rasa yang tak bisa di ungkapkan dengan kata-kata, namun mulutnya setengah terbuka mendes4h juga mendesis seperti ular.
" Bang cepetan aku hampir sampai." Des4hnya manja karena gelombangnya akan segera tiba, aku pun segera mempercepat gerakan memompaku ke tubuhnya.
Hingga tak lama Anna mendapatkan puncak pertamanya, membuatku bangga pada diriku sendiri telah memberikan kebahagiaan. Aku memberikan dia waktu untuk menikmati rasa itu, setelah cukup aku memintanya bangkit duduk dengan membungkukkan tubuhnya, dan aku segera menyesakkan otongku dari belakang.
" Emmhh,, ini sangat luar biasa sayang." Aku kembali menghentakkan milikku semakin dalam, hingga terasa menyentuh dinding dalamnya." Ssshh,, kamu selalu nikmat."
Hingga beberapa saat kemudian aku merasa akan sampai, gerakanku semakin cepat dan keras, membuat tubuhnya terdorong-dorong ke depan. Tak lama lolongan panjang keluar dari mulut kami berdua secara bersamaan, ya Anna mencapai puncak keduanya, aku semakin bangga pada diriku sendiri karena telah memberikan kepuasan besar untuk istriku malam ini, begitu pun dengan istriku yang memberikan servis maksimalnya padaku.
" Sujud sayang, dan tahan sebentar agar cepat di buai benihku di dalam sana." Ujarku yang memintanya menuruti permintaanku.
Setelah sama-sama lelah, kami beristirahat sejenak, hingga entah pukul berapa aku merasa otongku kembali bangun, bahkan sudah berdiri tegak seperti tiang listrik. Tanpa membangunkan istriku aku kembali mencumbunya, dan melesakkan kembali otong ke dalam inti tubuhnya.
Ternyata tidur istriku terusik, aku pun *****4* bibirnya lembut di sela hentakkanku. " Ronde kedua sayang." Bisikku dengan suara berat dan serak.
.
.
.
.tbc
__ADS_1
Mohon dukungan dari semuanya, tekan like dan favoritenya,, dan juga hadiahnya jangan lupa..🌷🌷🌷
Terima kasih sudah mampir membaca, maaf kalau masih banyak typo dimana-mana.