
Anniyah_PoV
*
" Niyah kamu mau kebelakang? Tolong sekalian bawa gelas bekas minum Bapak ini ya." Titah Ibu, saat aku hendak berjalan melintasi kedua orangtuaku yang sedang duduk di kursi ruang tamu.
" Iya sini, Niyah juga mau ambil wudhu." Sahutku sekaligus menerima gelas kosong dari tangan beliau.
Aku berjalan ke arah dapur lebih dulu, tanpa sadar aku meletakkan gelas itu di tepian meja, dan aku terkejut saat melihat gelas itu tiba-tiba meluncur bebas ke bawah hingga akhirnya gelas itu pun hancur berkeping-keping.
Pyaarrrr...
" Astagfirullah, Ya Allah ada apa ini..? Kenapa perasaanku tiba-tiba tidak nyaman sekali..!" Lirihku benar-benar terkejut dengan apa yang terjadi.
" Niyah ada apa? Suara apa itu barusan?" Teriak Ibu dari dalam rumah, yang sepertinya telah mendengar bunyi pecahan dari gelas tadi.
" Nggak apa-apa kok Bu, ini gelasnya jatuh." Sahutku seraya berjalan mengambil sapu dan segera membersihkan percahan kaca tersebut agar tidak sampai melukai kakiku atau kaki orang lain.
Setelah membuang bekas pecahan gelas tadi ke dalam tong sampah, aku segera berjalan menuju kamar mandi untuk berwudhu, tapi tidak di pungkiri saat ini perasaanku benar-benar tidak nyaman dan juga gelisah. Entah apa yang terjadi, semoga semua anggota keluarku baik-baik saja, terlebih suamiku yang masih berada di kota saat ini. Namun aku juga bingung karena merasa ingin sekali menangis atau menjerit untuk meluapkan emosi yang tiba-tiba naik.
Setelah selesai berwudhu aku segera beranjak masuk ke dalam rumah kembali untuk menunaikan ibadah sholat Isya'. " Titip anak-anak dulu ya Pak, Bu. Niyah mau sembahyang sebentar." Ujarku kepada keduanya yang sedang bermain bersama ketiga cucunya.
Selesai beribadah aku langsung mengajak Zia makan malam yang saat ini sedang aku suapi terlebih dahulu, aku sedang duduk di atas karpet, sembari menemani anak-anak bermain.
" Kok aku merasa malam ini rasanya dingin sekali ya Mbak? Mbak juga ngerasa nggak? Padahal 'kan nggak musim hujan, 'kan aneh ya?!" Tanya Anna dengan rasa penasarannya itu.
" Mungkin bunga kopi mulai mekar Dek. Jadi pasti dingin-lah atau kalau nggak pohon randu yang mulai berbunga." Celetukku menanggapi pertanyaannya.
" Kok aneh ya, lalu apa hubungannya dingin sama bunga-bunga itu Mbak?" Tanyanya dengan penasaran.
__ADS_1
" Entah, orang kampung sini 'kan bilangnya seperti itu ya Mbak ngikutin ajalah kata mereka." Memang terdengar aneh, tapi begitulah kebanyakan kata orang kampung sini.
" Kamu nggak makan An?" Tanyaku saat ia terus saja bermain ponsel, padahal sinyal di rumah agak sulit, mungkin dia sedang main game atau apalah.
" Nanti sajalah Mbak, sekalian mau gendutin badan lagi, hehe.." Ujarnya asal.
" Segini masih kurang gendut kamu Dek? Mbak aja pengap lho lihatnya." Memang badanku dan badan Anna hampir sama, tapi 'kan ini karena aku yang tengah hamil, sedangkan dia 'kan tidak.
" Biar di lihat orang kalau aku ini janda yang sehat Mbak, nggak banyak pikiran karena nggak punya pasangan, hahaha rada aneh ya?" Selorohnya benar-benar garing. Tapi ya sudahlah terserah dia, asal dia senang.
" Oh ya, kapan kamu mau berangkat ke kotanya?" Tanyaku yang baru ingat jika Anna sebentar lagi akan pergi ke tempat yayasan, tempat dia belajar menjadi seorang baby sitter, sebelum mendapatkan pekerjaan.
" Senin depan, kenapa Mba?" Tanyanya balik seraya menatap ke arahku.
" Ya nggak apa-apa Mbak cuma tanya aja, ini kamu sendirian dari sini, atau ada teman lain kesananya?"
Kulihat Zia melepeh makanannya yang itu berarti dia sudah kenyang, aku pun menyodorkan segelas air untuknya yang langsung di habisin oleh putriku.
" Ya baguslah kalau ada temannya dari sini jadi kamu tidak sendirian ke kotanya. Takutnya kamu ketemu sama mantan lagi." Celetukku yang tiba-tiba mengingat Kholil mantan suaminya yang entah bagaimana kabarnya saat ini.
Kholil itu sebenarnya baik, juga penyayang kepada semua keluarga terutama dia sangat sayang kepada anaknya, hingga sampai tega membentak istrinya hanya demi anaknya. Bisa kulihat Kholil itu sangat mencintai Anna, juga putrinya Erika. Hanya saja sikap kasar juga amarahnya yang tak terkontrol itulah yang sangat di sayangkan. Sedangkan Anna sendiri dia orang yang tidak sabaran dari dulu, mungkin itulah yang membuat hubungan mereka berakhir, sebab Anna-nya yang tidak tahan dengan sikap kasar suaminya itu. Bukankah tidak ada manusia yang sempurna hidup di dunia ini?
" Mau kemana Mbak?" Tanyanya saat melihatku beranjak berdiri.
" Ya ambil makanlah, sekalian habisin nasinya Zia." Tunjukku nasi sisa yang hanya tinggal sedikit saja di dalam piring.
" Oh, ya sudah gantian aku juga mau ambil makanlah."
Aku berjalan ke belakang mengambil nasi juga sayur dan lauk, tak lama aku balik dan duduk di samping Anna kembali, lalu giliran dia yang juga mnegambil makanannya sendiri.
__ADS_1
Di saat tengah asik menikmati makanannya, tiba-tiba saja aku tersedak oleh makanan yang sedang aku makan. Tenggorokanku terasa panas juga terbakar sebab aku sedang makan pecel ayam saat ini.
Anna yang sedang duduk di sampingku segera menyodorkan segelas air putih yang langsung aku terima dan menenggaknya hingga habis tak tersisa. Walaupun rasa panas itu masih terasa di tenggorokan bahkan terasa sampai ke hidungku.
" Mbak Nggak apa-apa? Sedang mikirin apa sih, sampai kesedak gitu? Pasti sakit sekali itu tenggorokannya! " Seloroh Anna merasa prihatin melihatku.
" Sudah pastilah Dek. Nggak tahu ini kenapa, padahal Mbak nggak lagi mikirin apa-apa lho." Sahutku seraya menggosok-gosok tenggorokanku yang masih terasa panas.
" Bisa jadi ada seseorang yang sedang membicarakan kamu, atau sedang memikirkan kamu Nduk." Celetuk Ibu tiba-tiba yang baru saja keluar dari kamarnya dan bergabung bersama kami seraya menggendong Erika.
" Cie.. ada yang lagi kangen ternyata.. Itu pasti yayang Aziz yang sedang merindukan istrinya ini? Secara sudah hampir semingguan dia tidak pulang. Jangan-jangan dia masih di rumah Istri tuanya lagi." Celetuk Anna yang tanpa di filter terlebih dulu, bahkan ia tidak melihat di sekitarnya, hingga aku spontan melototinya kesal.
Bagaimana tidak kesal, ini adalah rahasia di antara kami mengenai Bang Aziz yang belum bisa pulang karena putranya yang sedang sakit. Anna justru keceplosan mengatakan hal itu, terlebih ada Ibu di samping kami. Entah yang dia ucapkan itu adalah benar atau salah, tapi setidaknya dia tidak mengatakannya di hadapan Ibu.
Bagaimana kalau Ibu curiga?
" Aziz di rumah istri tuanya? Maksud kamu apa An?" Tanya Ibu menatap curiga kepada Anna.
Tepat sekali bukan dengan dugaanku, baru saja aku selesai membatin, Ibu sudah angkat bicara..
.
.
.
.tbc
Minta dukungan dari semuanya ya, tekan like dan favoritenya,, dan juga hadiahnya jangan lupa..🌷🌷🌷
__ADS_1
Terima kasih sudah mampir membaca, maaf kalau masih banyak typo dimana-mana.