Menjadi Yang Kedua

Menjadi Yang Kedua
Baby Blues.


__ADS_3

Anniyah_PoV


*


Sekitar empat sore kami baru saja tiba di rumah setelah pergi berjalan-jalan berempat tadi. Ya aku dan anak-anak cukup merasa senang bisa melihat indahnya dunia luar. Terlebih Zia yang tadi terlihat sangat senang sekali bisa puas bermain di taman bersama teman-teman baru yang ia temui hari ini.


Ya di taman kota yang jaraknya lumayan jauh dari rumah banyak wahana permainan yang memang khusus di persiapkan untuk anak-anak yang mau bermain sepuasnya yang tentunya gratis, tanpa di pungut biaya. Mungkin kita hanya perlu membayar parkir kendaraan saja, tak hanya itu saja disana juga banyak penjual kaki lima yang berjejeran di pinggir jalan, kita tentunya bisa sekaligus menikmati berbagai cemilan juga aneka macam kudapan lainnya.


Puas bermain di taman juga di beberapa tempat permainan lalu kami juga pergi berenang setelah selesai beribadah yang tempatnya memang tidak terlalu jauh dari taman, untungnya tadi aku siap membawa pakaian ganti untuk mereka, juga pakaian ganti suamiku yang menemani Zia berenang, bergantian dengan si kecil yang juga di ajarin berenang oleh Abinya. Setelahnya kami pun pergi berkeliling berbelanja kebutuhan sehari-hari juga pakaian untuk kedua putriku, lalu kamu pun memutuskan untuk pulang karena hari sudah sore.


" Alhamdulillah, Zia senang tidak jalan-jalan bersama Abi? " Tanya suamiku sembari kami semua baru turun dari motor.


" Seneng dong Bi, nanti Zia mau jalan-jalan lagi ya."


" Insya Allah sayang, lain kali Abi akan ajak Zia jalan-jalan lagi kalau Abi sudah pulang dari bekerja ya. Doakan rejeki Abi lancar agar bisa mengajak Zia pergi lagi." Sahutnya kembali, sementara aku hanya tersenyum menatap keduanya.


" Lho sayang, sepertinya ada Bapak di dalam. Ayo kita masuk." Ajak suamiku seraya menggendong Zia masuk ke dalam rumah, di ikuti olehku.


Begitu sampai di dalam, ternyata bukan Bapak yang datang, melainkan Mas Anton. " Assalamulaikum.." Ucapku bersamaan dengan suamiku, membuat keduanya kompak menoleh ke arah kami. Kulihat dia sedang mengobrol serius dengan Nenek bahkan wajah keduanya terlihat tegang begitu melihat kepulangan kami, sebenarnya apa yang sedang mereka bahas?


" Waalaikumsalam."


" Nah itu Adikmu sudah pulang, sebaiknya kamu bicarakan saja langsung dengannya. Nenek jadi serba salah kalau begini Le." Keluh Nenek yang terdengar lirih. Dan ini semakin membuatku bingung juga penasaran.


" Mas Anton, tumben datang sore-sore begini? Ada apa ini, Mas tidak bekerja hari ini?" Tanyaku sembari memangku Zaheera di pangkuanku. Sementara Zia sudah bermain sendiri di karpet bawah.


" Iya ada yang ingin aku bicarakan denganmu An." Tandasnya. Lantas Mas Anton pun berdiri dan menghampiri Zia yang ada di bawah." Wah ponakan cantiknya Poh tadi habis jalan-jalan ya? Kok Apoh nggak di ajak sih?!" Serunya menggoda putriku dengan berpura-pura memperlihatkan wajah sedihnya.

__ADS_1


" Yah,, Apoh sih datangnya telat, jadinya ya Zia tinggal dengan Abi dan Ami. Tadi Zia banyak bermain lho Poh, teman Zia juga jadi banyak sekali." Sahut putriku yang menceritakan tentang acara jalan-jalannya dengan antusias, membuat kami semua pun tersenyum mendengar celotehannya.


" Oh iya, aduh kok tadi Apoh telat ya, nanti kalau Zia jalan-jalan Apoh ikut ya, 'kan Apoh juga mau bermain bersama Zia, boleh ikutan 'kan?" Terlihat mata bulatnya mengerjap bingung, terlihat lucu sekali.


" Bolehkan Abi, nanti Apoh ikut jalan-jalan bersama kita?" Tanyany dengan polos menatap Abinya.


" Tentu dong sayang, kenapa nggak. 'Kan jadi rame nanti kalau semuanya ikut."


" Nenek Uyut juga ikut?" Selorohnya kembali yang kini menatap ke arah Nenek.


" Nenek? Oh tidak sayang, mana mungkin Nenek ikut bermain, nanti yang ada pinggang Nenek Uyut encok nggak bisa menjaga Zia dan Adek, leboh baik Nenek Uyut di rumah sajalah." Jawab Nenek yang seakan merasa ajakan cicitnya ini sebuah jebakan yang bisa saja membuat tubuh rentanya tumbang sebelum waktunya.


Mendengar itu aku, suami, juga Mas Anton kompak menertawakan kepolosan Zia. " Sudah-sudah ayo mandi dulu sayang, nanti keburu sore lho." Ajakku seraya memberikan Zaheera kepada Abinya.


" Ya ayo mandi dulu sayang itu Nenek Uyut sudah masakin air untuk mandi, mungkin sudah hangat An coba kamu lihat." Timpal si.Nenek, aku mengangguk segera beranjak ke belakang untuk menyiapkan air di bak mandi.


" An sini Mas mau ngomong serius, ini masalah Ibu dan Mbak Iparmu, pasti kamu sudah mendengarnya langsung dari Ibu 'kan? Kalau begitu aku langsung ke intinya saja ya." Ujarnya yang ternyata sedang membahas masalah keributan istrinya dengan Ibu.


" Ya katakan saja Mas, Anni akan mendengarkannya, dan mungkin saja bisa memberi masukan jika di perlukan." Sahutku, ya aku harus bicara apalagi jika istrinya dan Ibu sama-sama tidak ada yang mau mengalah hanya sekedar untuk meminta maaf.


" Baiklah, jadi begini An, Mbakmu dan Ibu ini 'kan saat ini sedang diam-diaman di rumah tidak saling menegur, ya aku mana bisa bersikap demikian, aku serba salah lho harus membela yang mana Ibu atau istriku." Keluhnya.


Huft..


" Sudah kuduga masalah ini akan berdampak panjang. Mbak Najwa juga kenapa seperti anak kecil sih, tidak mau mengalah saja. Ibu sendiri juga, tidak biasanya Ibu bersikap seperti ini Mas. Ibu 'kan biasanya selalu mengalah kepada orang lain, karena menghindari perdebatan. Aneh nggak sih Mas sama Ibu? Atau jangan-jangan Mbak Najwa sudah ngomong sesuatu sama Ibu, sehingga Ibu jadi seperti sekarang ini!" Terangku panjang lebar dengan terus berpikit.


Tak di pungkiri aku pun heran, Ibu yang ku kenal anti bertengkar dan selalu mengalah kepada orang lain, tapi sekarang justru seakan menantangnya, menantang menantunya sendiri.

__ADS_1


" Ami!! Nggak boleh suudzon!" Tegur suamiku menggelengkan kepalanya juga seraya menatapku sedikit tajam, yang membuatku menyengir kuda karena keceplosan.


" Iya maaf Bi."


Kulihat Mas Anton terdiam sesaat, sepertinya dia juga tengah memikirkan hal yang sama denganku. Lalu ku dengar ia menghela nafas panjangnya dan kembali menatapku. Sementara Nenek pergi ke teras seraya menggendong Zaheera yang terlihat rewel karena mengantuk, untungnya tadi sudah aku kasih Asi sesudah mandi.


" Aduh Mas pusing lho, sumpah! Kmau juga tahu sendiri Mbakmu itu habis selesai lahiran. Air asinya bahkan tidak bisa keluar, kata bidan Mbakmu kena apa itu namanya, Baby,,,"


" Baby Blues Mas." Selaku membenarkan ucaannya.


" Ya itu maksudnya. Kamu 'kan tahu sendiri dua hari semalam dia mengalami kontraksi sebelum akhirnya Nino lahir. Yang pasti itu sangat sakit sekali baginya mungkin itu membuatnya mengalami hal seperti itu." Lirihnya terlihat semakin bersedih.


" Yang ku dengar dari teman-teman juga Mbah gugel, katanya Ibu yang mengalami sindrom ini cenderung mengalami gangguan suasana hati atau gangguan psikologis yang dapat dialami oleh Ibu yang baru saja melahirkan, merasa sedih yang berlebihan, menjadi mudah marah, sedih, menangis, dan kelelahan tanpa penyebab yang jelas. Begitulah kira-kira, jadi Mas dan Ibu maupun semua orang harus banyak bersabar dalam menghadapi Mbak Najwa sekarang ini." Jelas suamiku yang entah darimana dia tahu.


" Ya itulah yang aku lihat Zia. Jadi An, tujuanku datang kesini itu, kamu mau nggak kita tukeran tempat tinggal?" Ujar Mas Anton kepada suamiku yang terlihat menyedihkan sekali karena memikirkan istri juga Ibu, lalu pertanyaannya ini membuatku bingung?


" Maksudnya gimana Mas?"


.


.


.


.tbc


Minta dukungan dari semuanya ya, tekan like dan favoritenya,, dan juga hadiahnya jangan lupa..🌷🌷🌷

__ADS_1


Terima kasih sudah mampir membaca, maaf kalau masih banyak typo dimana-mana.


__ADS_2